Home / Rumah Tangga / Sehangat Dekapan Mantan / 06| Pagi Setelah Dosa

Share

06| Pagi Setelah Dosa

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2025-12-11 14:35:30

Raya terbangun dengan rasa perih yang samar di bagian selangkangannya, sebuah kenangan fisik dari pergulatan liar semalam yang masih tersisa di otot-ototnya.

Rasa tak nyaman itu membuat perlahan Raya membuka kedua matanya, baru menyadari sinar terang yang menyilaukan masuk dari celah jendela kamar hotelnya yang semalam memang tak ia tutup.

Sebuah senyum lebar mengembang di bibirnya saat ingatan semalam kembali menghantam. Ia mengingat bagaimana Jagara tak memberinya ampun, menyerangnya dengan bertubi-tubi di atas kasur, di sofa, bahkan di dinding kamar mandi yang dingin. 

Ia mengingat desahannya, gigitan kecilnya di bahu, dan cara Jagara memanggil namanya di antara rintihan—parau, penuh kerinduan, dan terdengar seperti doa. Jagara telah melampiaskan semua kerinduan tujuh tahunnya dalam satu malam, dan Raya, dalam kegilaannya, telah menyerahkan segalanya.

Namun tunggu. Posisi kasur di sebelahnya kosong. Dingin.

Otomatis, senyum itu menghilang. Gadis itu itu beranjak duduk, selimut yang menutupi tubuh telanjangnya tergelincir, memperlihatkan bekas-bekas merah di kulit sawo matangnya. Ia memperhatikan seisi kamarnya yang luas dan tak menemukan sang pelaku utama di sana.

Bahkan Raya berusaha bangkit dengan kaki yang masih gemetar, mencari di kamar mandi yang mewah dengan lantai marmer yang dingin, dan tetap tidak menemukan siapa pun di sana. Ia sudah pergi? Tanpa pamit? Dengan gerakan lamban dan tertatih, Raya yang masih berbalut selimut mengubrak-abrik tas jinjingnya dan mencari benda pipih yang sudah berhari-hari ia matikan.

Meski ragu di awal, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Raya akhirnya menekan tombol nyala dan menunggu hingga logo apel itu menghilang dari layar. Digantikan dengan wallpaper dirinya dan Ardava saat tengah berdiri di pelaminan, wallpaper yang bahkan belum sempat ia ganti. 

Sebuah pukulan lain. Tak hanya itu, ratusan notifikasi dari tokoh yang sama juga masuk, menanyakan perihal kabar Raya dan keberadaannya, begitu juga dengan puluhan pesan dari Dewi, sang ibunda.

Namun Raya masih belum mau memikirkan itu, ia belum siap. Jadi, setelah menekan tombol archived pada kontak-kontak yang mengganggu itu, matanya berusaha fokus pada satu kontak yang mengiriminya dua pesan dan tujuh panggilan tak terjawab.

Dengan gerakan perlahan, Raya menekan dan membacanya.

Raya, kamu dimana? Kenapa Ponselmu mati?

Raya tersenyum tipis. Ini adalah pesan yang tak terbalas kemarin, pesan yang membawa Jagara menunggunya di depan kamar. Belum sempat ia mengetik balasan, layar kembali menyala: Ardava Calling.

Detik itu juga, tanpa berpikir, Raya mematikan ponselnya lagi. Tak ada ruang bagi suara dunia luar, tidak untuk sekarang. Dia menarik napas panjang. Perutnya melilit, paha dan pinggangnya masih seperti terbakar. Ia butuh waktu. Butuh mandi. Butuh sarapan. Butuh berpikir.

Setelah mandi air hangat cukup lama hingga kulitnya memerah, Raya berdandan seadanya. Dress hitam selutut yang sederhana namun elegan, makeup tipis untuk menyembunyikan mata sembab, dan rambut pendeknya ia ikat seadanya. Lalu ia turun ke area restoran hotel. 

Saat sampai di area sarapan yang luas dan dipenuhi cahaya matahari pagi, matanya langsung menangkap sosok itu. Jagara. Ia sedang duduk di salah satu kursi dekat jendela, dengan santai menghirup tehnya. Senyum Raya kembali mengembang, ia baru berniat melangkah mendekat dan menyapa sebelum sosok lain lebih dahulu datang dan menghampiri Jagara.

Tubuh Raya seketika menegang dan mematung di tempatnya. Senyumnya sirna, lenyap ditelan bumi.

Itu Kirani, tunangan Jagara. Raya hapal betul wajah cantik itu dari internet yang ia lihat beberapa hari lalu, saat ia dengan isengnya mencari tahu tentang Jagara.

Dengan mata berair, Raya memperhatikan bagaimana wanita berparas cantik itu mengusap punggung Jagara dengan lembut dan meletakkan sepotong roti bakar di hadapan sang kekasih. Ia berakhir mengecup pipi Jagara dengan cepat dan ikut duduk di sebelahnya, memakan sarapan bersama dengan penuh tawa dan obrolan yang tampaknya intim.

Apa ini? Mereka sudah baikkan? Gara memaafkan Kirani? Atau mungkin, semua pemikiran Gara hanya kesalahpahaman belaka?

Bisa dibayangkan ratusan pertanyaan yang muncul di benak Raya saat ini. Membuat wanita itu mematung ditempatnya dengan napas tercekat.

"Excuse me?" Raya terlonjak saat seorang wanita bule berada di belakangnya, mengejutkannya. "You're blocking the entrance."

Atas teguran itu, Raya baru sadar bahwa ia berdiri membeku di depan pintu masuk. Jadi, setelah meminta maaf dengan suara serak, Raya bergerak minggir sebelum matanya tanpa sengaja bertemu dengan Jagara yang menatapnya dari kejauhan.

Membuat tubuh Raya otomatis berputar. Ia harus menjauh. Ia butuh tempat privasi untuk melampiaskan kekecewaannya. Namun, ketika ia sampai di lorong belakang yang menuju kamar mandi, seseorang dengan gerakan cepat membawa dirinya menuju pintu belakang area hotel.

Raya mengikuti dengan tertatih saat menyadari Jagara berdiri di sana. Di lorong sepi yang tersembunyi dari pandangan banyak orang. Dengan pandangan tajam yang menatapnya.

"Kamu ngapain, Gara?" Raya bertanya, ia susah payah menahan tangisnya yang hendak pecah.

Sementara Jagara masih menatapnya tajam, suaranya rendah dan penuh ketegangan. "Dia meminta maaf dan berjanji untuk berubah, Raya."

"Aku gak tanya, dan aku gak perlu penjelasan," Raya membalas dengan suara dingin yang ia coba pertahankan. "Terus kenapa kamu kesini? Kamu gak takut dia curiga karna kamu pergi kelamaan?"

Jagara menutup wajahnya dengan satu tangan, frustrasi. “Raya—”

“Kalau kamu mau bilang semalem itu kesalahan,” suara Raya bergetar, “aku bisa terima. Mungkin itu cuma... sisa emosi kamu yang belum selesai. Aku ngerti.”

Jagara menautkan keningnya, merasa apa yang Raya ucapkan tidak masuk akal. "Bukan cuma saya yang ngerasa kalau kita ini belum selesai… kan?"

Raya diam. Ia susah payah membuang wajahnya agar tetesan air mata itu tidak Jagara lihat, meski tetap saja, kepekaan Jagara selalu berada selangkah di depannya. Karena tangan kokoh itu sudah beralih ke wajahnya dan memaksa pandangan Raya agar mau menatapnya.

"It's not a mistake, Raya," bisik Jagara dengan menempelkan dahinya pada dahi Raya. “Dan saya juga belum memaafkan Kirani. Pernikahan kita juga akan di undur sampai waktu yang belum di tentukan.”

Suaranya serak dan penuh dengan keyakinan. Sebelum kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan meletakkannya di tangan Raya. "Pegang ponsel saya. Saya akan menghubungi kamu nanti setelah semuanya aman dan selesai."

Hanya itu. Pesan singkat Jagara sebelum sosok itu enyah dari hadapan Raya, meninggalkannya dengan benda pipih bercase hitam di tangannya. Ponsel Jagara yang menyala, menampilkan wallpaper berwarna hitam polos. Kosong. Seperti sebuah halaman baru, yang menunggu untuk ditulis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   133| Mungkin, Masih Di Sini.

    Kesadaran Raya kembali perlahan, seperti seseorang yang dipaksa bangun dari dasar laut.Awalnya hanya suara—dengung mesin yang ritmis, halus namun konstan. Entah monitor jantung atau alat medis lain, Raya tak langsung tahu. Kepalanya terasa berat, kelopak matanya kaku, dan tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri. Ia mengerjap sekali. Dua kali. Pandangannya masih buram ketika cahaya putih di atas kepalanya menyilaukan, memaksanya memejam lagi.Napasnya terdengar sendiri di telinga.Ketika akhirnya ia membuka mata lebih lebar, siluet seseorang duduk di samping ranjang mulai terbentuk. Sosok itu diam, terlalu diam, dengan postur tegap dan aura yang—bahkan dalam kondisi setengah sadar—terasa begitu familiar.Raya menegang.Indra pendengarannya kembali sepenuhnya bersamaan dengan detak jantungnya yang mendadak memburu.Jagara.Lelaki itu duduk di kursi samping ranjang rumah sakit, kedua tangannya terlipat di depan dada, rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus tertuju padanya. Tatapan yang

  • Sehangat Dekapan Mantan   132| Gelap

    Pagi itu datang tanpa membawa apa pun selain rasa kosong.Raya terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh denyut tumpul di pelipis dan mata yang terasa berat seperti diisi pasir. Ia menatap langit-langit apartemen kecilnya di Jerman cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang berubah sejak malam sebelumnya. Tapi tidak ada. Dadanya masih terasa sesak, napasnya pendek-pendek, dan bayangan wajah Jagara—datar, dingin, penuh jarak—masih berputar tanpa izin di kepalanya.Ia bangun dengan gerakan lambat. Langkahnya menuju kamar mandi pun terasa asing, seakan tubuhnya berjalan sendiri tanpa semangat. Di depan cermin, Raya terdiam. Matanya bengkak, kelopaknya sembap, bagian putihnya memerah. Bekas tangis semalam terlalu jelas untuk disembunyikan. Ia menyalakan keran, membasuh wajah berkali-kali dengan air dingin, berharap bisa menghapus jejak malam yang menghancurkannya. Tapi air hanya membuat kulitnya dingin, tidak menyentuh perasaan.“Harus kerja,” gumamnya pelan, seperti mengingatkan di

  • Sehangat Dekapan Mantan   131| Masih Menunggu

    Raya tahu ia tidak seharusnya melakukan ini.Sejak awal, langkahnya sudah salah. Kebodohan terbesarnya adalah ketika ia berdiri terlalu lama di depan meja informasi rumah sakit sore tadi, lalu—dengan alasan yang ia buat sendiri—menanyakan alamat tempat tinggal Jagara kepada bagian administrasi. Ia bahkan masih ingat bagaimana jemarinya sedikit gemetar saat mengucapkan nama itu, seolah hanya dengan menyebutnya saja ia telah mengkhianati keputusan yang susah payah ia buat berbulan-bulan lalu.Dan kini, kebodohan itu membawanya berdiri di sini.Di depan sebuah hotel mewah di pusat kota, bangunannya menjulang dengan fasad kaca dan batu gelap yang memantulkan cahaya lampu malam Jerman. Nama hotel itu terpampang elegan di atas pintu masuk, huruf-huruf emasnya berkilau tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan yang sedang berputar di dada Raya.Coat hitam panjang milik Jagara masih tersampir di lengannya, satu alasan yang ia miliki untuk bertemu Jagara, mengembalikan coat itu. Ia tahu alasa

  • Sehangat Dekapan Mantan   130| Sudah Seharusnya

    “Ga… Gara?”Nama itu keluar nyaris tanpa suara, seperti napas yang tersangkut di tenggorokan. Jagara tidak langsung menjawab. Ia memutus kontak mata lebih dulu, seolah jika ia terus menatap, ada sesuatu di dadanya yang akan runtuh tanpa bisa diperbaiki lagi.Langkahnya mantap, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipanggil oleh masa lalunya. Ia berjalan ke arah kursi periksa dokter gigi, kursi dental berwarna putih dengan sandaran tinggi—lalu duduk tanpa banyak ekspresi. Tubuhnya bersandar ketika sandaran kursi perlahan direbahkan oleh perawat, lampu sorot bulat di atas kepalanya dinyalakan, memantulkan cahaya terang yang menusuk mata.Perawat mengenakan dental bib—pelindung kain tipis—di dada Jagara agar pakaiannya tidak terkena cairan. Tangannya cekatan, profesional, seolah ini hanyalah pemeriksaan biasa. Jagara membiarkan semua itu terjadi tanpa protes. Pandangannya kosong, menatap langit-langit putih, sementara pikirannya penuh oleh satu wajah yang kini berdiri kaku di sa

  • Sehangat Dekapan Mantan   129| Jerman dan Musim Dingin

    Jagara selalu menyukai negara ini dari kejauhan.Bukan karena ia pernah berjalan di jalanannya, bukan pula karena kenangan personal yang melekat. Ia hanya menyukai gambaran yang selama ini ia lihat, tentang kota-kota yang tertib, musim dingin yang jujur, dan kesunyian yang tidak memaksa siapa pun untuk berpura-pura bahagia.Kini, untuk pertama kalinya, ia datang.Bukan sebagai turis. Bukan sebagai pebisnis. Dan jelas bukan sebagai pria yang hidupnya baik-baik saja.Dengan hanya sebuah tas tenteng kecil yang isinya tidak lebih dari beberapa helai pakaian dan dokumen penting, Jagara melangkah keluar dari bandara. Tidak ada Baim di belakangnya, tidak ada pengawal yang biasa menjaga jarak satu langkah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar sendirian.Udara menyambutnya dengan dingin yang kasar.Angin menusuk sela-sela coat hitam panjang yang ia kenakan, membuatnya refleks merapatkan kain itu ke tubuhnya. Ia tahu ia salah kostum. Musim dingin di negara ini tidak meng

  • Sehangat Dekapan Mantan   128| Tidak Bisa Keluar Lagi

    Jagara benar-benar mengacau.Bar itu penuh cahaya temaram dan suara musik rendah yang bergetar di dada, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya. Gelas di tangannya sudah berganti entah ke berapa kali, es mencair, alkohol menggerus kesadarannya perlahan. Jas mahalnya tergeletak sembarangan di kursi sebelah, dasinya sudah tak beraturan. Jagara menunduk di meja bar, bahunya naik turun, napasnya berat, seolah setiap tarikan udara adalah beban yang tak sanggup lagi ia pikul.Ponsel di sakunya bergetar berkali-kali yang tentu tak dihiraukan.Getaran itu akhirnya berhenti, lalu kembali menyala—lebih lama kali ini. Baim, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghela napas sebelum meraih ponsel itu. Nama 'Mama' terpampang di layar. Jantungnya berdegup tak nyaman.“Gara kamu—” suara Ratna terdengar tajam bahkan sebelum Baim sempat menyapa.“Maaf, Ibu,” Baim memotong dengan sopan, suaranya ditahan agar tetap stabil. Matanya melirik Jagara yang kini benar-benar terkulai di atas mej

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status