Share

110| Jejak Basah

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2026-01-25 19:53:53

Mobil memasuki area basement apartemen, berhenti di slot parkir pribadi milik Jagara. Mesin dimatikan, tapi Jagara tak langsung turun. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik, lelah yang belum sepenuhnya luruh setelah hari panjang.

Begitu pintu terbuka dan kakinya menapak lantai semen dingin basement, sesuatu terasa… berbeda.

Biasanya tempat itu sunyi dan hambar. Tapi malam ini, lorong menuju lift tampak lebih terang. Bukan karena lampunya, melainkan karena sesuatu yang menunggunya di atas san
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   128| Tidak Bisa Keluar Lagi

    Jagara benar-benar mengacau.Bar itu penuh cahaya temaram dan suara musik rendah yang bergetar di dada, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya. Gelas di tangannya sudah berganti entah ke berapa kali, es mencair, alkohol menggerus kesadarannya perlahan. Jas mahalnya tergeletak sembarangan di kursi sebelah, dasinya sudah tak beraturan. Jagara menunduk di meja bar, bahunya naik turun, napasnya berat, seolah setiap tarikan udara adalah beban yang tak sanggup lagi ia pikul.Ponsel di sakunya bergetar berkali-kali yang tentu tak dihiraukan.Getaran itu akhirnya berhenti, lalu kembali menyala—lebih lama kali ini. Baim, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghela napas sebelum meraih ponsel itu. Nama 'Mama' terpampang di layar. Jantungnya berdegup tak nyaman.“Gara kamu—” suara Ratna terdengar tajam bahkan sebelum Baim sempat menyapa.“Maaf, Ibu,” Baim memotong dengan sopan, suaranya ditahan agar tetap stabil. Matanya melirik Jagara yang kini benar-benar terkulai di atas mej

  • Sehangat Dekapan Mantan   127| Keruntuhan

    Jagara tidak pernah bermain dengan ucapannya.Sekali ia berniat menghancurkan sesuatu, maka yang tersisa hanyalah puing. Tak peduli apakah itu musuhnya, sistem yang ia bangun sendiri, atau dirinya sendiri.Dan kali ini, kehancuran itu ia arahkan ke satu titik yang paling ia kenal: hidupnya sendiri.Dalam sepekan terakhir, nama Jagara Raksa Baskarana berkali-kali muncul di pemberitaan ekonomi nasional. Judul-judul besar menyoroti keputusan sepihaknya membatalkan sejumlah kerja sama strategis dengan mitra lama, proyek-proyek yang selama ini dianggap sebagai fondasi stabil Kinara Motors. Angka kerugian yang beredar bukan lagi sekadar spekulasi kecil. Para analis memperkirakan kerugian menembus satu triliun rupiah, dan itu belum termasuk dampak jangka panjang terhadap kepercayaan investor.Ratna membaca semua itu dengan tangan gemetar.Bagi perempuan itu, Kinara Motors adalah bukti keberhasilannya sebagai ibu, sebuah mahakarya yang ia yakini telah mengubah hidup mereka sekeluarga. Ia sel

  • Sehangat Dekapan Mantan   126| Dua Opsi

    Suasana rumah orang tua Jagara terasa semakin sunyi ketika jarum jam merayap melewati pukul dua belas malam. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin, seolah ikut menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan. Mobil hitam yang ditumpangi Jagara melambat saat memasuki kawasan perumahan elit itu, hingga akhirnya dihentikan oleh satpam yang berjaga di pos depan. Lelaki paruh baya itu sempat menegakkan tubuhnya, memberi isyarat agar kaca jendela diturunkan, namun begitu sorot matanya menangkap wajah Jagara di balik kaca gelap, tubuhnya langsung menegang. Tanpa banyak tanya, ia menunduk hormat dan segera membuka palang, memberi akses masuk seolah tahu bahwa tidak ada satu pun yang bisa menghalangi Jagara malam ini.Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan gerbang rumah besar bergaya klasik itu. Gerbang besi berwarna hitam tampak tertutup rapat, sunyi, seakan penghuni di dalamnya memilih berpura-pura tidak mendengar

  • Sehangat Dekapan Mantan   125| CCTV

    Lampu-lampu temaram bar itu memantul redup di permukaan meja marmer hitam, menciptakan bayangan panjang yang jatuh ke lantai kayu gelap. Udara di dalamnya beraroma alkohol mahal, kayu bakar, dan kesepian yang tidak pernah benar-benar pergi. Jagara duduk sendiri di ujung bar, bahunya sedikit membungkuk, dasi yang biasa melingkar rapi di lehernya kini tergeletak kusut di atas meja. Kancing atas kemeja putihnya terbuka, memperlihatkan dada yang naik-turun tidak beraturan.Di tangannya, segelas minuman beralkohol tinggi berwarna amber digenggam erat. Ia meneguknya tanpa benar-benar mengecap rasa, hanya membiarkan cairan panas itu meluncur kasar ke tenggorokannya, seolah berharap sensasi terbakar itu bisa menutupi nyeri yang jauh lebih dalam.Bar itu nyaris kosong.Bukan karena jam operasionalnya aneh, melainkan karena tempat ini memang tidak diperuntukkan bagi sembarang orang. Tidak ada papan nama mencolok di luar, tidak ada musik keras, tidak ada keramaian murahan. Hanya orang-orang te

  • Sehangat Dekapan Mantan   124| Tanpa Kesempatan

    Wangi kopi menyusup lebih dulu sebelum Jagara benar-benar sadar.Bukan cahaya matahari yang membangunkannya pagi itu. Bukan silau putih dari balik tirai, bukan pula alarm ponsel yang biasa memaksanya membuka mata. Yang datang justru aroma hangat—kopi hitam yang baru diseduh, bercampur dengan bau roti bakar dan sedikit mentega yang meleleh. Aroma rumah. Aroma pagi yang tenang.Kelopak mata Jagara terbuka perlahan, terasa berat, tapi bibirnya sudah lebih dulu melengkung membentuk senyum kecil yang refleks. Ada perasaan nyaman yang menjalar di dadanya. Ia mengangkat tangan, menyibakkan selimut, lalu duduk di tepi ranjang. Rambutnya berantakan, napasnya masih sedikit dalam. Tangannya meraba kaos putih polos yang tergeletak asal di kursi, lalu memakainya tanpa repot merapikan. Kakinya melangkah keluar kamar, mengikuti aroma yang semakin jelas.Di dapur, Raya berdiri membelakanginya.Pemandangan itu membuat Jagara berhenti melangkah.Raya mengenakan pakaian yang sederhana, rambutnya terika

  • Sehangat Dekapan Mantan   123| Film Favorit

    Malam datang dengan cara yang pelan namun pasti. Dari balik pintu-pintu kaca besar yang mengelilingi ruang tengah, Raya merapatkan bathrobe putih yang membungkus tubuhnya. Uap hangat dari kulitnya masih terasa, sisa mandi air panas yang ia nikmati lebih lama dari biasanya—seolah ingin menunda dunia di luar kamar mandi, menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat.Ia duduk di sofa panjang berwarna krem, segelas es kopi susu berada di tangannya. Es di dalam gelas beradu pelan, mengeluarkan bunyi kecil yang samar. Kopi itu ia pesan secara daring, keputusan impulsif yang terasa tepat untuk malam seperti ini. Di hadapannya, pantulan cahaya lampu taman menari di permukaan kolam renang. Airnya berkilau, memantulkan warna keemasan dari lampu-lampu kecil yang terpasang rapi di sekitar pekarangan.Malam membuat segalanya terlihat berbeda. Lebih tenang, lebih intim. Angin berembus lembut, menggerakkan tirai tipis yang menggantung dari langit-langit. Gerimis mulai turun perlahan, menimbulka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status