Share

122| Rumah Masa Depan

Penulis: sidonsky
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-15 22:42:29

Mata Raya hampir tak pernah lepas dari cincin berlian yang kini melingkar manis di jari manis kirinya.

Berlian itu kecil namun berkilau, memantulkan cahaya setiap kali ia menggerakkan tangannya. Senyum Raya merekah tanpa sadar, bertahan sejak pagi hingga siang, seolah wajahnya lupa bagaimana caranya kembali netral.

Satu tangannya digenggam erat oleh Jagara, sementara tangan lainnya sesekali ia angkat, memandangi cincin itu lagi dan lagi, seperti takut semua ini hanya ilusi yang akan lenyap ji
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sehangat Dekapan Mantan   127| Keruntuhan

    Jagara tidak pernah bermain dengan ucapannya.Sekali ia berniat menghancurkan sesuatu, maka yang tersisa hanyalah puing. Tak peduli apakah itu musuhnya, sistem yang ia bangun sendiri, atau dirinya sendiri.Dan kali ini, kehancuran itu ia arahkan ke satu titik yang paling ia kenal: hidupnya sendiri.Dalam sepekan terakhir, nama Jagara Raksa Baskarana berkali-kali muncul di pemberitaan ekonomi nasional. Judul-judul besar menyoroti keputusan sepihaknya membatalkan sejumlah kerja sama strategis dengan mitra lama, proyek-proyek yang selama ini dianggap sebagai fondasi stabil Kinara Motors. Angka kerugian yang beredar bukan lagi sekadar spekulasi kecil. Para analis memperkirakan kerugian menembus satu triliun rupiah, dan itu belum termasuk dampak jangka panjang terhadap kepercayaan investor.Ratna membaca semua itu dengan tangan gemetar.Bagi perempuan itu, Kinara Motors adalah bukti keberhasilannya sebagai ibu, sebuah mahakarya yang ia yakini telah mengubah hidup mereka sekeluarga. Ia sel

  • Sehangat Dekapan Mantan   126| Dua Opsi

    Suasana rumah orang tua Jagara terasa semakin sunyi ketika jarum jam merayap melewati pukul dua belas malam. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin, seolah ikut menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan. Mobil hitam yang ditumpangi Jagara melambat saat memasuki kawasan perumahan elit itu, hingga akhirnya dihentikan oleh satpam yang berjaga di pos depan. Lelaki paruh baya itu sempat menegakkan tubuhnya, memberi isyarat agar kaca jendela diturunkan, namun begitu sorot matanya menangkap wajah Jagara di balik kaca gelap, tubuhnya langsung menegang. Tanpa banyak tanya, ia menunduk hormat dan segera membuka palang, memberi akses masuk seolah tahu bahwa tidak ada satu pun yang bisa menghalangi Jagara malam ini.Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan gerbang rumah besar bergaya klasik itu. Gerbang besi berwarna hitam tampak tertutup rapat, sunyi, seakan penghuni di dalamnya memilih berpura-pura tidak mendengar

  • Sehangat Dekapan Mantan   125| CCTV

    Lampu-lampu temaram bar itu memantul redup di permukaan meja marmer hitam, menciptakan bayangan panjang yang jatuh ke lantai kayu gelap. Udara di dalamnya beraroma alkohol mahal, kayu bakar, dan kesepian yang tidak pernah benar-benar pergi. Jagara duduk sendiri di ujung bar, bahunya sedikit membungkuk, dasi yang biasa melingkar rapi di lehernya kini tergeletak kusut di atas meja. Kancing atas kemeja putihnya terbuka, memperlihatkan dada yang naik-turun tidak beraturan.Di tangannya, segelas minuman beralkohol tinggi berwarna amber digenggam erat. Ia meneguknya tanpa benar-benar mengecap rasa, hanya membiarkan cairan panas itu meluncur kasar ke tenggorokannya, seolah berharap sensasi terbakar itu bisa menutupi nyeri yang jauh lebih dalam.Bar itu nyaris kosong.Bukan karena jam operasionalnya aneh, melainkan karena tempat ini memang tidak diperuntukkan bagi sembarang orang. Tidak ada papan nama mencolok di luar, tidak ada musik keras, tidak ada keramaian murahan. Hanya orang-orang te

  • Sehangat Dekapan Mantan   124| Tanpa Kesempatan

    Wangi kopi menyusup lebih dulu sebelum Jagara benar-benar sadar.Bukan cahaya matahari yang membangunkannya pagi itu. Bukan silau putih dari balik tirai, bukan pula alarm ponsel yang biasa memaksanya membuka mata. Yang datang justru aroma hangat—kopi hitam yang baru diseduh, bercampur dengan bau roti bakar dan sedikit mentega yang meleleh. Aroma rumah. Aroma pagi yang tenang.Kelopak mata Jagara terbuka perlahan, terasa berat, tapi bibirnya sudah lebih dulu melengkung membentuk senyum kecil yang refleks. Ada perasaan nyaman yang menjalar di dadanya. Ia mengangkat tangan, menyibakkan selimut, lalu duduk di tepi ranjang. Rambutnya berantakan, napasnya masih sedikit dalam. Tangannya meraba kaos putih polos yang tergeletak asal di kursi, lalu memakainya tanpa repot merapikan. Kakinya melangkah keluar kamar, mengikuti aroma yang semakin jelas.Di dapur, Raya berdiri membelakanginya.Pemandangan itu membuat Jagara berhenti melangkah.Raya mengenakan pakaian yang sederhana, rambutnya terika

  • Sehangat Dekapan Mantan   123| Film Favorit

    Malam datang dengan cara yang pelan namun pasti. Dari balik pintu-pintu kaca besar yang mengelilingi ruang tengah, Raya merapatkan bathrobe putih yang membungkus tubuhnya. Uap hangat dari kulitnya masih terasa, sisa mandi air panas yang ia nikmati lebih lama dari biasanya—seolah ingin menunda dunia di luar kamar mandi, menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat.Ia duduk di sofa panjang berwarna krem, segelas es kopi susu berada di tangannya. Es di dalam gelas beradu pelan, mengeluarkan bunyi kecil yang samar. Kopi itu ia pesan secara daring, keputusan impulsif yang terasa tepat untuk malam seperti ini. Di hadapannya, pantulan cahaya lampu taman menari di permukaan kolam renang. Airnya berkilau, memantulkan warna keemasan dari lampu-lampu kecil yang terpasang rapi di sekitar pekarangan.Malam membuat segalanya terlihat berbeda. Lebih tenang, lebih intim. Angin berembus lembut, menggerakkan tirai tipis yang menggantung dari langit-langit. Gerimis mulai turun perlahan, menimbulka

  • Sehangat Dekapan Mantan   122| Rumah Masa Depan

    Mata Raya hampir tak pernah lepas dari cincin berlian yang kini melingkar manis di jari manis kirinya. Berlian itu kecil namun berkilau, memantulkan cahaya setiap kali ia menggerakkan tangannya. Senyum Raya merekah tanpa sadar, bertahan sejak pagi hingga siang, seolah wajahnya lupa bagaimana caranya kembali netral. Satu tangannya digenggam erat oleh Jagara, sementara tangan lainnya sesekali ia angkat, memandangi cincin itu lagi dan lagi, seperti takut semua ini hanya ilusi yang akan lenyap jika ia berhenti menatap.Sepanjang lorong bandara, menuju pintu kedatangan, Raya berjalan dengan langkah ringan. Jagara tak melepaskan genggamannya sedetik pun, seolah ingin memastikan Raya benar-benar di sisinya. Dua pengawal berjalan sedikit di belakang, sibuk membawa paper bag dan kotak-kotak belanjaan yang sebagian bahkan Raya sendiri tak ingat kapan membelinya—atau lebih tepatnya, kapan Jagara memaksanya membeli. Beijing kemarin terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya usai, dan kini Jaka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status