Teilen

57| Seporsi Mie Ayam

last update Zuletzt aktualisiert: 24.12.2025 21:13:50

Taksi yang Raya pesan dari rumahnya berhenti dengan gesekan ban yang halus di aspal.

Lampu jalan oranye membanjiri interior kabin, menyorot wajahnya yang pucat dan lelah. Ia tidak langsung membayar dan turun. Untuk sesaat, ia hanya duduk di sana, menatap gedung apartemen yang menjulang di hadapannya.

Ini adalah benteng. Ini adalah suaka. Tapi malam ini, ia tidak siap memasukinya. Masuk ke sana terasa seperti menyerah, seperti mengakui bahwa ia benar-benar hancur dan butuh disembunyikan. Dan Raya, setelah malam tadi, menolak untuk menjadi korban yang bersembunyi.

Dengan napas yang masih sedikit tersengal, ia membayar sopir taksi dengan uang pas, tanpa menunggu kembalian. "Sisanya untuk bapak saja," katanya pelan.

Pintu taksi ditutupnya dengan lembut, dan kendaraan itu meluncur pergi, meninggalkannya sendirian di bawah pendar cahaya kota yang redup. Alih-alih berjalan menuju lobi apartemen yang mewah dan terang benderang, Raya berbelok.

Ia menemukan tepi trotoar yang cukup lapang, d
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Sehangat Dekapan Mantan   100| Terciduk

    Raya menutup pintu lokernya perlahan. Ruang ganti tenaga medis sudah mulai sepi, hanya tersisa dengung pendingin ruangan dan bau antiseptik yang melekat di udara. Ia mengganti jas operasinya dengan blazer kerja berwarna netral, merapikan kerah kemeja, lalu mengikat rambutnya sedikit lebih rapi. Gerakannya terlatih, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di sana.Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang terpasang di pintu loker. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya menyimpan kilau lain, sesuatu yang ringan, sesuatu yang ia tunggu sejak siang.Ponselnya bergetar. Raya mengambilnya, dan seketika senyum itu merekah tanpa bisa ia tahan ketika satu nama yang begitu ia rindukan muncul sebagai sang pengirim pesan.Saya di depan. Jangan berlari karena terburu-buru ingin menemui saya.Raya menahan tawa kecil. Jari-jarinya bergerak cepat memasukkan ponsel ke tas. Ia menutup lokernya dengan bunyi klik pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar, langkah yang awalnya terjaga, namu

  • Sehangat Dekapan Mantan   99| Kemenangan Telak

    Mobil hitam yang ditumpangi Jagara berhenti mulus di depan sebuah gedung tinggi berlapis kaca. Logo HELIX & ROWE terpampang jelas di bagian depan, huruf-huruf perak yang memantulkan cahaya senja, menegaskan reputasi firma hukum ternama itu sebagai tempat bernaungnya perkara-perkara besar dan klien-klien berpengaruh.Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Raya, Jagara memasukkan ponselnya ke saku jas. Ekspresinya tenang, nyaris santai, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengusik kendalinya. Baim lebih dulu turun, membukakan pintu mobil.“Silakan, Tuan.” ujar Baim singkat.Jagara melangkah keluar. Sepatu pantofelnya menyentuh lantai marmer pelataran gedung dengan mantap. Seperti yang ia laporkan pada Raya, sore ini ia memang dijadwalkan bertemu pengacara—orang yang ia tunjuk untuk menyelesaikan urusannya dengan Kirani.Begitu memasuki lobi, suasana langsung berubah. Beberapa staf berhenti sejenak dari aktivitas mereka. Sapaan pelan terdengar dari berbagai arah. Ad

  • Sehangat Dekapan Mantan   98| Rutinitas Baru

    Motor Aksara melaju stabil di tengah arus kendaraan pagi. Suara mesin bercampur dengan hiruk pikuk kota yang baru benar-benar bangun, sementara Raya duduk di belakang, kedua tangannya berpegangan ringan pada jaket Aksara. Tidak terlalu erat, tidak juga terlalu jauh, jarak aman yang terasa semakin ganjil bagi Raya sejak pagi itu.Angin menerpa sisi wajahnya. Rambutnya terselip rapi di balik helm, tapi pikirannya justru kusut.Ada satu kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya. Satu pengakuan yang seharusnya ia ucapkan tentang Jagara.Tentang lelaki yang beberapa jam lalu berdiri berhadapan dengan Aksara. Lelaki yang kerah kemejanya sempat ditarik, yang dengan dingin diperingatkan untuk tidak menyentuhnya lagi. Lelaki yang oleh Aksara dianggap ancaman, padahal justru orang yang paling dekat dengan Raya.Bahkan lebih dari kekasih.Raya menelan ludah. Tangannya sedikit mengencang di jaket Aksara, lalu kembali mengendur. Ia membuka mulut, tapi suaranya tertahan. Seolah ada tembo

  • Sehangat Dekapan Mantan   97| Sarapan Orang Ketiga

    Pagi datang perlahan, tanpa tergesa, seperti memberi kesempatan pada Raya untuk mengumpulkan dirinya sendiri. Cahaya matahari menembus sela tirai tipis, membiaskan warna pucat ke dinding apartemen Jagara. Raya keluar dari kamar mandi dengan langkah ringan. Ia sudah berganti pakaian kerja dengan kemeja krem berpotongan rapi yang dimasukkan ke dalam celana bahan gelap, rambutnya diikat rendah dengan beberapa helai sengaja dibiarkan membingkai wajah. Penampilannya sederhana, profesional, dan terlalu menenangkan untuk pagi yang sebenarnya penuh potensi kekacauan.Begitu ia melangkah ke ruang utama, aroma masakan langsung menyambutnya.Raya melangkah pelan ke arah dapur. Dari kejauhan, ia melihat Jagara berdiri di sana, punggungnya menghadap, tubuhnya tegak dengan kemeja putih rapi dan celana bahan gelap. Tangannya sibuk menuangkan jus jeruk ke dalam gelas bening. Di atas meja dapur yang menyatu dengan meja makan, dua buah sandwich tersaji rapi di piring, masih mengepulkan uap tipis.Untu

  • Sehangat Dekapan Mantan   96| Gelora Asmara

    Raya mengerjap, berdiri di depan pintu apartemen Jagara yang keberadaannya tepat di seberang unit miliknya. Namun, ada yang berbeda. Unit milik lelaki itu terasa lebih besar, jauh lebih luas, dua kali lipat ukuran apartemen satu kamar tidur miliknya dengan dapur dan ruang tengah yang menyatu. Ia melangkah masuk, matanya berkeliling, mencatat perbedaan yang jelas."Kenapa unit kamu lebih besar?" tanya Raya, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.Jagara masuk lebih dulu, gerakannya tenang dan terbiasa. Ia melepas sepatunya, berganti dengan sandal rumah berwarna abu-abu, sebelum dengan lembut menarik sandal lain berwarna merah muda dari rak dan meletakkannya di depan Raya. "Kamu tidak tahu kalau apartemen ini memiliki unit dengan ukuran berbeda?"Jelas, Raya menggeleng, "Aku pikir semua ukurannya sama kayak punya aku."Dengan gerakan yang penuh keterpaksaan namun lembut, Jagara menyentil dahi Raya gemas. "Saya yang akan menandatangi kontrak apapun untuk ke depannya," katanya, seolah itu

  • Sehangat Dekapan Mantan   95| Posisi Semula

    Raya berbaring telentang di ranjang apartemennya, tubuhnya setengah tenggelam di sprei berwarna abu pucat yang masih menyimpan aroma sabun. Ia mengenakan kaos putih oversize yang jatuh menutupi pangkal pahanya dan celana pendek tipis di baliknya, membuatnya tampak seolah tak mengenakan apa pun selain kaos itu. Rambutnya dibiarkan terurai setengah basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air yang membasahi bantal. Dadanya naik turun perlahan, napas panjang ia embuskan berkali-kali, seperti mencoba mengusir sisa-sisa hari yang melelahkan.Sejak matahari terbenam beberapa jam lalu, Raya belum menyalakan satu pun lampu di apartemen.Ia membiarkan cahaya temaram dari balkon kecil menyusup masuk, memantul di lantai dan dinding, cukup untuk menerangi garis-garis samar ruangan. Kakinya menggantung di sisi ranjang, telapak kakinya berayun pelan, ritme kecil yang tak benar-benar ia sadari. Saat ia memejamkan mata, wajah Jagara kembali muncul, jelas dan tak terhindarkan. Nada suaranya di mobil,

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status