Share

63| Cemilan Malam

Penulis: sidonsky
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 19:21:41

"Ga... Gara?"

Raya mengusap kedua matanya kasar dengan punggung tangannya, mencoba mengusir kabut di benaknya. Entah ia bermimpi karena terlalu merindukan lelaki itu, atau ini adalah halusinasi yang diciptakan oleh kelelahan dan rasa bersalah yang menggerogotinya. Tapi sosok itu tetap di sana, berdiri di ambang pintu seperti patung Yunani yang turun ke bumi, menatapnya dengan intensitas yang membuat udara di ruangan sempit itu terasa terkuras.

"Ini yang kamu bilang jadwal padat?" tanyanya, suaranya rendah dan datar, namun membawa bobot tuduhan yang tak bisa disangkal.

Kalimat itu seperti cambukan yang membuat Raya sontak duduk. Selimut yang menutupi tubuhnya tergelincir, memperlihatkan baju rumah sakit yang kusut. Ia sibuk merangkai kebohongan lain, jaring-jaring kata yang kian lihai ia anyam dalam dua hari terakhir.

"Ini lagi istirahat aja, sebentar lagi aku ke pasien," katanya, suaranya terdengar lebih percaya diri daripada yang ia rasakan.

Raya tahu ia sudah terlalu banyak berboho
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sehangat Dekapan Mantan   100| Terciduk

    Raya menutup pintu lokernya perlahan. Ruang ganti tenaga medis sudah mulai sepi, hanya tersisa dengung pendingin ruangan dan bau antiseptik yang melekat di udara. Ia mengganti jas operasinya dengan blazer kerja berwarna netral, merapikan kerah kemeja, lalu mengikat rambutnya sedikit lebih rapi. Gerakannya terlatih, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di sana.Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang terpasang di pintu loker. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya menyimpan kilau lain, sesuatu yang ringan, sesuatu yang ia tunggu sejak siang.Ponselnya bergetar. Raya mengambilnya, dan seketika senyum itu merekah tanpa bisa ia tahan ketika satu nama yang begitu ia rindukan muncul sebagai sang pengirim pesan.Saya di depan. Jangan berlari karena terburu-buru ingin menemui saya.Raya menahan tawa kecil. Jari-jarinya bergerak cepat memasukkan ponsel ke tas. Ia menutup lokernya dengan bunyi klik pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar, langkah yang awalnya terjaga, namu

  • Sehangat Dekapan Mantan   99| Kemenangan Telak

    Mobil hitam yang ditumpangi Jagara berhenti mulus di depan sebuah gedung tinggi berlapis kaca. Logo HELIX & ROWE terpampang jelas di bagian depan, huruf-huruf perak yang memantulkan cahaya senja, menegaskan reputasi firma hukum ternama itu sebagai tempat bernaungnya perkara-perkara besar dan klien-klien berpengaruh.Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Raya, Jagara memasukkan ponselnya ke saku jas. Ekspresinya tenang, nyaris santai, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengusik kendalinya. Baim lebih dulu turun, membukakan pintu mobil.“Silakan, Tuan.” ujar Baim singkat.Jagara melangkah keluar. Sepatu pantofelnya menyentuh lantai marmer pelataran gedung dengan mantap. Seperti yang ia laporkan pada Raya, sore ini ia memang dijadwalkan bertemu pengacara—orang yang ia tunjuk untuk menyelesaikan urusannya dengan Kirani.Begitu memasuki lobi, suasana langsung berubah. Beberapa staf berhenti sejenak dari aktivitas mereka. Sapaan pelan terdengar dari berbagai arah. Ad

  • Sehangat Dekapan Mantan   98| Rutinitas Baru

    Motor Aksara melaju stabil di tengah arus kendaraan pagi. Suara mesin bercampur dengan hiruk pikuk kota yang baru benar-benar bangun, sementara Raya duduk di belakang, kedua tangannya berpegangan ringan pada jaket Aksara. Tidak terlalu erat, tidak juga terlalu jauh, jarak aman yang terasa semakin ganjil bagi Raya sejak pagi itu.Angin menerpa sisi wajahnya. Rambutnya terselip rapi di balik helm, tapi pikirannya justru kusut.Ada satu kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya. Satu pengakuan yang seharusnya ia ucapkan tentang Jagara.Tentang lelaki yang beberapa jam lalu berdiri berhadapan dengan Aksara. Lelaki yang kerah kemejanya sempat ditarik, yang dengan dingin diperingatkan untuk tidak menyentuhnya lagi. Lelaki yang oleh Aksara dianggap ancaman, padahal justru orang yang paling dekat dengan Raya.Bahkan lebih dari kekasih.Raya menelan ludah. Tangannya sedikit mengencang di jaket Aksara, lalu kembali mengendur. Ia membuka mulut, tapi suaranya tertahan. Seolah ada tembo

  • Sehangat Dekapan Mantan   97| Sarapan Orang Ketiga

    Pagi datang perlahan, tanpa tergesa, seperti memberi kesempatan pada Raya untuk mengumpulkan dirinya sendiri. Cahaya matahari menembus sela tirai tipis, membiaskan warna pucat ke dinding apartemen Jagara. Raya keluar dari kamar mandi dengan langkah ringan. Ia sudah berganti pakaian kerja dengan kemeja krem berpotongan rapi yang dimasukkan ke dalam celana bahan gelap, rambutnya diikat rendah dengan beberapa helai sengaja dibiarkan membingkai wajah. Penampilannya sederhana, profesional, dan terlalu menenangkan untuk pagi yang sebenarnya penuh potensi kekacauan.Begitu ia melangkah ke ruang utama, aroma masakan langsung menyambutnya.Raya melangkah pelan ke arah dapur. Dari kejauhan, ia melihat Jagara berdiri di sana, punggungnya menghadap, tubuhnya tegak dengan kemeja putih rapi dan celana bahan gelap. Tangannya sibuk menuangkan jus jeruk ke dalam gelas bening. Di atas meja dapur yang menyatu dengan meja makan, dua buah sandwich tersaji rapi di piring, masih mengepulkan uap tipis.Untu

  • Sehangat Dekapan Mantan   96| Gelora Asmara

    Raya mengerjap, berdiri di depan pintu apartemen Jagara yang keberadaannya tepat di seberang unit miliknya. Namun, ada yang berbeda. Unit milik lelaki itu terasa lebih besar, jauh lebih luas, dua kali lipat ukuran apartemen satu kamar tidur miliknya dengan dapur dan ruang tengah yang menyatu. Ia melangkah masuk, matanya berkeliling, mencatat perbedaan yang jelas."Kenapa unit kamu lebih besar?" tanya Raya, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.Jagara masuk lebih dulu, gerakannya tenang dan terbiasa. Ia melepas sepatunya, berganti dengan sandal rumah berwarna abu-abu, sebelum dengan lembut menarik sandal lain berwarna merah muda dari rak dan meletakkannya di depan Raya. "Kamu tidak tahu kalau apartemen ini memiliki unit dengan ukuran berbeda?"Jelas, Raya menggeleng, "Aku pikir semua ukurannya sama kayak punya aku."Dengan gerakan yang penuh keterpaksaan namun lembut, Jagara menyentil dahi Raya gemas. "Saya yang akan menandatangi kontrak apapun untuk ke depannya," katanya, seolah itu

  • Sehangat Dekapan Mantan   95| Posisi Semula

    Raya berbaring telentang di ranjang apartemennya, tubuhnya setengah tenggelam di sprei berwarna abu pucat yang masih menyimpan aroma sabun. Ia mengenakan kaos putih oversize yang jatuh menutupi pangkal pahanya dan celana pendek tipis di baliknya, membuatnya tampak seolah tak mengenakan apa pun selain kaos itu. Rambutnya dibiarkan terurai setengah basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air yang membasahi bantal. Dadanya naik turun perlahan, napas panjang ia embuskan berkali-kali, seperti mencoba mengusir sisa-sisa hari yang melelahkan.Sejak matahari terbenam beberapa jam lalu, Raya belum menyalakan satu pun lampu di apartemen.Ia membiarkan cahaya temaram dari balkon kecil menyusup masuk, memantul di lantai dan dinding, cukup untuk menerangi garis-garis samar ruangan. Kakinya menggantung di sisi ranjang, telapak kakinya berayun pelan, ritme kecil yang tak benar-benar ia sadari. Saat ia memejamkan mata, wajah Jagara kembali muncul, jelas dan tak terhindarkan. Nada suaranya di mobil,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status