Home / Rumah Tangga / Sehangat Dekapan Mantan / 86| Insatiable Habits

Share

86| Insatiable Habits

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2026-01-01 23:08:31

Hari terakhir Raya dirawat berjalan tanpa drama berkepanjangan, setidaknya di permukaan.

Tak ada kejadian mendadak, tak ada alarm yang berbunyi terlalu nyaring, tak ada langkah tergesa yang biasanya mengiringi hari-hari sibuknya sebagai dokter. Semua terasa… tenang. Terlalu tenang, sampai keheningan itu sendiri terasa melelahkan.

Rutinitas rumah sakit berjalan seperti biasa. Perawat datang dan pergi, mencatat, mengecek tekanan darah, mengganti cairan infus dengan gerakan efisien yang nyaris otomatis. Seorang dokter jaga menyempatkan diri mampir, membuka berkasnya, lalu menatap Raya dengan ekspresi profesional.

“Kondisinya sudah stabil,” ucapnya sambil menutup map. “Tapi jangan terlalu memaksa diri. Istirahat penuh dulu beberapa hari, hindari begadang, dan tolong… makan teratur.”

Raya mengangguk. Ia mendengar semua itu, mencatatnya dengan kepala, meski tahu sebagian akan sulit ia patuhi. Ada resep yang diselipkan, jadwal kontrol ulang yang dituliskan singkat, dan pesan terakhir yang di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   94| Terasa Lebih Jauh

    Raya membasuh wajahnya di depan cermin wastafel, air dingin mengalir melewati kulit pipinya yang masih terasa hangat. Kemerahan di sana perlahan memudar, meski perasaan di dadanya tidak ikut surut. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, mata yang sedikit berkaca, napas yang belum sepenuhnya stabil. Entah karena malu, atau kesal, atau mungkin perpaduan keduanya yang saling tumpang tindih tanpa mau dipisahkan.Bayangan Jagara berdiri di tengah aula, menyebut namanya dengan suara tenang tapi menusuk, terus berputar di kepalanya. Presentasi yang sudah ia persiapkan dengan matang, yang seharusnya berjalan rapi dan profesional, terasa ternodai oleh satu pertanyaan yang sama sekali tidak ada di slide. Raya memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum semuanya tumpah dalam bentuk emosi yang tidak seharusnya.Ia mengeringkan wajahnya dengan tisu, menepuk-nepuk pelan, lalu melangkah keluar dari ruang kecil itu.Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti seperse

  • Sehangat Dekapan Mantan   93| Nama Yang Dipanggil

    Sebenarnya, Raya tak pernah merasa kemampuannya cukup untuk berdiri sebagai pembicara di depan banyak orang. Ia terbiasa berbicara dengan pasien, dengan suara pelan dan kalimat yang ditata hati-hati, bukan menghadapi ratusan pasang mata yang menunggu setiap kata. Namun janji tetaplah janji. Ketika ia sudah menyanggupi untuk membantu melancarkan seminar hari ini, Raya tahu ia harus melakukannya dengan sepenuh hati, terlepas dari rasa gugup yang berulang kali mengetuk dadanya.Sudah setengah jam berlalu sejak ia diantar Aksara ke area aula salah satu universitas negeri ternama itu. Bangunan tua dengan arsitektur klasik berdiri anggun, lorong-lorongnya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang membawa map dan buku. Raya kini berada di ruang tunggu pembicara, duduk di sofa panjang berwarna abu-abu, sebuah map cokelat terbuka di pangkuannya. Jemarinya membalik halaman demi halaman materi presentasi, meski sebagian besar isinya sudah ia hafal. Sesekali ia menghela napas, meneguk air minera

  • Sehangat Dekapan Mantan   92| Dua Kepribadian

    Perlahan, hiruk-pikuk Jakarta tertinggal di belakang mereka.Gedung-gedung tinggi yang tadi berderet rapat mulai mengecil di kaca spion. Lampu lalu lintas berganti dengan tikungan panjang, suara klakson digantikan desir angin yang menyusup di sela jaket. Raya duduk diam di belakang Aksara, kedua tangannya berpegangan hati-hati, tubuhnya mengikuti irama motor yang melaju stabil. Jalanan menanjak, pepohonan mulai rapat, dan udara terasa berubah—lebih sejuk, lebih bersih, seolah paru-parunya mendapat ruang baru untuk bernapas.Satu setengah jam berlalu tanpa terasa.Motor Triumph Bonneville Speedmaster itu akhirnya melambat, lalu berhenti di sebuah area parkir kecil berbatu. Di hadapan mereka berdiri sebuah coffee shop sederhana dengan bangunan kayu dan kaca lebar. Letaknya sedikit menjorok ke atas perbukitan, menghadap langsung ke hamparan hijau yang luas. Tidak ada musik keras, tidak ada suara ramai.Hanya angin, dedaunan yang bergesekan pelan, dan aroma kopi yang samar terbawa udara.

  • Sehangat Dekapan Mantan   91| Keputusan Spontan

    Pagi datang tanpa tergesa, menyelinap lewat celah tirai dan jatuh lembut di dinding kamar Raya. Ia terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh kesadaran kecil yang menyenangkan—hari ini libur. Tidak ada jadwal operasi, tidak ada rapat mendadak, tidak ada panggilan pasien gawat. Hanya satu agenda yang tertera rapi di kepalanya: sebuah seminar kedokteran gigi di salah satu universitas negeri ternama, siang nanti. Undangan resmi sudah ia terima sejak dua minggu lalu.Namanya tercantum sebagai pembicara tamu untuk sesi diskusi klinis. Bukan hal baru, tapi tetap saja ada rasa tanggung jawab yang membuatnya ingin tampil prima.Raya berguling pelan, duduk di tepi ranjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beberapa hari lalu. Tidak ada pusing yang mengganggu, tidak ada rasa mual samar. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri sebelum berdiri dan menuju kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi bahunya, membawa sisa-sisa lelah y

  • Sehangat Dekapan Mantan   90| Belum Mengenal Jagara

    Malam sudah benar-benar turun ketika Jagara mengemudi sendirian meninggalkan klinik.Kota tampak tenang dari balik kaca mobil, lampu-lampu jalan memantul memanjang, berpendar lembut seolah tak tahu bahwa di dalam dada lelaki itu ada sesuatu yang sedang berpacu cepat. Kertas hasil lab masih berada di tangannya, terlipat rapi namun tak pernah benar-benar ia lepaskan sejak keluar dari ruang dokter. Setiap kali jemarinya menyentuh permukaan kertas itu, ada rasa nyata yang menegaskan bahwa semua ini bukan ilusi. Bukan lagi dugaan, bukan lagi ketakutan yang ia pendam sendirian selama dua bulan terakhir.Jantungnya berdegup tidak teratur, bukan karena kecemasan, melainkan karena antusiasme yang tertahan. Bayangan Raya muncul berulang kali di benaknya, begitu jelas hingga hampir terasa menyakitkan. Cara wanita itu menatapnya di hari terakhir mereka bertemu, tatapan yang tidak marah namun juga tidak berharap. Tatapan seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menunggu penjelasan. Jagara menel

  • Sehangat Dekapan Mantan   89| The Truth Behind the Poison

    Ruang tunggu itu terasa lebih sempit dari ukurannya yang sebenarnya.Lampu putih di langit-langit memantul dingin di lantai keramik, membuat bayangan Jagara jatuh lurus dan kaku di bawah kursinya. Bau antiseptik mengisi udara, menusuk hidung, bercampur dengan aroma kopi dari dispenser sudut ruangan, aroma yang biasanya menenangkan, namun kali ini justru membuat dadanya terasa penuh.Jagara duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya terlipat di depan dada. Sikapnya terlihat tenang, nyaris dingin, namun hanya ia yang tahu betapa keras tubuhnya bekerja menahan diri. Jari-jarinya menekan lengan jasnya sendiri, bukan karena dingin, melainkan karena ia butuh sesuatu untuk digenggam agar pikirannya tidak lepas kendali.Di balik pintu kayu bercat pucat itu, dokter kepercayaannya, seorang pria paruh baya dengan suara tenang dan tatapan objektif—sedang membahas hasil uji laboratorium yang sudah Jagara tunggu selama dua bulan terakhir. Dua bulan penuh penyangkalan. Dua bulan hidup di antara “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status