LOGINMalam yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Pelataran kediaman John tampak lebih terang dari biasanya, diselimuti atmosfer formal yang megah.Tepat pukul tujuh malam, Axel benar-benar membuktikan ucapannya. Pria itu datang tidak sendirian, melainkan didampingi oleh kedua orang tuanya. Di belakang mereka, beberapa asisten tampak membawa deretan kotak hantaran beludru merah maroon berisi mahar yang telah disiapkan sedemikian rupa, perhiasan berkilau, kain-kain premium, dan kelengkapan lamaran kelas atas yang menunjukkan keseriusan keluarga mereka.Malam ini, Axel mengenakan setelan jas formal rancangan desainer yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Potongan rambutnya yang rapi ditambah binar percaya diri di matanya membuat pria itu memang terlihat jauh lebih tampan dan karismatik dari biasanya."Harusnya Hazel senang bukan? Ditambah malam ini aku sudah berdandan semaksimal mungkin sampai ganti setelan jas sebanyak 13 kali!" batin Axel yang sangat percaya diri. Namun, alih-alih t
"Zel, aku serius! Jangan hanya diam saja!" Yaya kembali mendesak, mencengkeram kedua bahu Hazel dengan tatapan yang menuntut penjelasan pelan namun tajam. "Katakan padaku apa alasan sebenarnya kamu mau menikah dengan Axel? Kamu tidak sebodoh itu untuk masuk ke lubang yang sama dua kali, kan?"Hazel membuka mulutnya, bersiap merangkai kata yang bisa menenangkan sahabatnya tanpa harus membongkar rahasia tentang lini masa kehidupannya. Namun, belum sempat seuntai kalimat lolos dari bibirnya, sebuah bayangan tinggi mendadak bergeser, memayungi mereka dari terik sore."Halo, Hazel! Kebetulan sekali kita bertemu lagi," sebuah suara berat meredam bising jalanan.Hazel tersentak karena Arlo selalu saja muncul dengan cara seperti itu. Tiba-tiba datang tanpa diundang seperti hantu saja. "Astaga! Dia ini kenapa bisa ada di mana-mana, sih?! Heran deh!" ucap Hazel dalam hati yang sedikit kesal. Sementara itu Yaya langsung berbalik dengan rahang mengeras. Sosok pria jangkung berjaket denim hitam
Siska dan Sarah, dua antek setia Luna, berdiri menjulang dengan tatapan meremehkan. Tanpa basa-basi, Siska langsung menghempaskan bahu Hazel, membuat tubuh gadis itu tersentak di kursinya. "Masih sempat-sempatnya kamu duduk santai di sini, hah?" Siska memaki dengan nada tinggi yang sontak menarik perhatian pengunjung lain. "Enggak puas gangguin Luna? Kamu itu harusnya sadar diri, jangan jadi benalu yang terus menggatal sama Axel. Dia itu sudah milih Luna, jadi berhenti jadi orang munafik!" Yaya tidak tinggal diam. Darahnya mendidih melihat sahabatnya diperlakukan seperti barang rongsokan. Ia beranjak berdiri dengan gerakan cepat, lalu membalas mendorong Siska hingga gadis itu terhuyung mundur. "Jaga mulut kalian!" bentak Yaya sengit. "Kalian itu cuma pionnya Luna, kan? Enggak tahu apa-apa soal masalahnya, enggak usah sok tahu dan nuduh sembarangan! Keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan!" Di tengah keriuhan itu, Hazel tetap tenang. Ia bahkan menyunggingkan senyum tipis, buk
"Baik, aku setuju! Kita menikah tiga bulan lagi!" jawab Hazel, suaranya terdengar tenang tanpa getaran emosi yang berarti.Seketika itu juga, gurat kecemasan di wajah Axel menguap, digantikan oleh binar kebahagiaan yang meledak-ledak. Pria itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit, nyaris tidak percaya bahwa desakannya membuahkan hasil secepat ini. "Zel! Kamu serius? Ya ampun, terima kasih! Aku... aku senang banget!" seru Axel antusias, menatap Hazel seolah gadis itu adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.Hazel mencoba untuk tetap tenang, ia hanya diam memperhatikan tingkah pria di hadapannya itu. Hazel membiarkan Axel bersorak penuh kemenangan terlebih dahulu. "Menikah denganmu? Harusnya kamu mengajak Luna, kan?" batin Hazel tersenyum getir. Tanpa membuang waktu, Axel langsung melirik jam tangannya dengan gugup sekaligus bersemangat. "Kalau begitu, aku harus buru-buru pulang sekarang. Aku perlu mempersiapkan segalanya dan memberi tahu Papa dan Mama. Aku akan minta mereka unt
Axel baru saja hendak membuka mulut untuk merangkai untaian maaf, namun gerakannya terhenti seketika. Tanpa diduga, Hazel melangkah maju dan menyodorkan sebuah botol kecil obat merah tepat di depan dada Axel."Obati luka Luna baik-baik," ujar Hazel, suaranya terdengar begitu lempeng dan tenang, tanpa ada nada sarkasme sama sekali. Ia menatap Axel datar. "Rawat dia sampai benar-benar sembuh. Jangan sampai ada luka yang tertinggal!"Axel memperhatikan raut wajah Hazel yang begitu tenang. Akhir-akhir ini Axel memperhatikan Hazel yang terasa semakin jauh darinya. Seperti dekat, namun tak tersentuh. Seolah Axel bisa saja kehilangan Hazel sewaktu-waktu jika ia tidak mengikat Hazel di sisinya. Axel menggeleng cepat, menolak menerima botol itu. Wajahnya tampak frustrasi. "Enggak, Zel. Aku enggak mau. Urusan Luna bisa nanti, ada pelayan di rumah ini. Sekarang aku mau minta maaf sama kamu, aku mau tebus semua kesalahanku di butik tadi. Tolong kasih aku kesempatan, Zel..."Luna tampak begitu m
Hazel hanya terdiam di kursinya. Pandangannya lurus pada dua sosok di ambang pintu, sementara kedua tangannya mengepal erat di balik lipatan gaun. Rasa risih dan muak bergejolak hebat di dalam dadanya melihat sepasang manusia munafik yang sedang mempertontonkan kemesraan murahan itu.Namun, Hazel tidak membiarkan emosinya mengambil alih. Wajahnya tetap tenang, tanpa riak amarah yang meledak-ledak seperti di kehidupan sebelumnya. Ia menarik sudut bibirnya tipis, menanggapi kepanikan mereka dengan seringai santai yang teramat dingin.Hazel perlahan bangkit dari sofa, merapikan pakaiannya tanpa tergesa-gesa. "Lanjutkan saja," ujarnya, nadanya begitu ringan seolah adegan di depannya hanyalah angin lalu. "Aku mau kembali ke kamar. Silakan nikmati waktu kalian."Melihat Hazel yang berbalik dengan begitu acuh, Axel langsung diserang kepanikan hebat. "Zel! Tunggu, Zel! Ini enggak seperti yang kamu lihat!" seru Axel, suaranya naik satu oktav. Tanpa memedulikan kenyamanan, ia langsung menurun
Langkah kaki Hazel terhenti seketika. Bahunya menegang. Ia mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya memutar tubuhnya ke belakang untuk melihat siapa yang berani mengusik ketenangannya lagi.Dan benar saja. Sosok jangkung dengan jaket denim hitam itu berdiri di sana. Arlo.Hazel memijat pelipisnya
"Telepon Kak Axel sekarang! Berpura-puralah kalau kamu baru saja mengalami kecelakaan atau terluka parah di jalan. Buat suaramu seolah-olah kamu sedang berada di ambang maut!"Luna tertegun sesaat. Kalimat Siska seolah menyalakan lampu di dalam kepalanya. Kecelakaan palsu. Luna hampir saja lupa pad
Axel mengembuskan napas panjang sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Suasana hatinya saat ini benar-benar hancur setelah pertengkarannya dengan Hazel. Dadanya sesak oleh rasa frustrasi yang campur aduk. "Aku enggak marah sama kamu, Luna," ujar Axel, suaranya terdengar letih dan d
Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Hazel tetap memejamkan mata, otot-otot wajahnya menegang, bersiap menerima hantaman keras yang akan membakar pipinya. Namun, rasa sakit yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Udara di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru







