Beranda / Romansa / Sekarang, Giliranku! / 11. Tumben Pinter

Share

11. Tumben Pinter

Penulis: Perfect Wife
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 22:37:38

Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Hazel tetap memejamkan mata, otot-otot wajahnya menegang, bersiap menerima hantaman keras yang akan membakar pipinya.

Namun, rasa sakit yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Udara di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru napasnya sendiri yang memburu.

Padahal, Hazel sangat yakin papanya sudah berdiri tepat di hadapannya.

Didorong rasa penasaran, Hazel perlahan membuka sepasang matanya. Pemandangan di depannya seketik
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sekarang, Giliranku!    surprise

    Mobil SUV hitam milik Arlo membelah kepadatan jalan raya dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu kontras. Arlo mengemudi dengan santai, sementara Hazel duduk tegak di kursi penumpang dengan wajah merah padam menahan gemas.Hazel terus mendesak Arlo agar mengaku, mencecar pria itu tanpa ampun. "Arlo! Katakan sekarang! Ada apa dengan butikku? Apakah ada kebocoran pipa? Apakah ada supplier yang membatalkan kain sutra kita? Atau... atau Yaya pingsan karena kelelahan?!"Namun Arlo tetap tidak akan memberitahu. Pria itu hanya menatap lurus ke depan, sesekali menyesuaikan pegangannya pada lingkar kemudi, lalu mengulas senyum tipis yang amat misterius. Ketenangan Arlo justru membuat tingkat kepanikan Hazel melonjak ke ubun-ubun. Rasa-rasanya Hazel ingin sekali mencubit lengan tegap pria di sampingnya itu agar mau membuka suara.Hingga akhirnya mereka tiba di butik Hazel. Mobil berhenti sempurna di pelataran parkir yang biasanya terang benderang oleh pendar lampu neon

  • Sekarang, Giliranku!    ada apa

    John terdiam sejenak. Kata 'Luna' yang meluncur dari bibir Hazel bagaikan paku bumi yang menancap tepat di tengah ruang geraknya. Pria paruh baya itu berdiri mematung di tengah ruangan, mulutnya teratup rapat dengan raut wajah yang mendadak linglung dan penuh keraguan. "Kenapa Papa diam? Apa lagi yang Papa inginkan?!" desak Hazel yang sudah tidak tahan lahi.John menggeleng, "Pergilah!" Tanpa melontarkan sepatah kata pembelaan, John pun membiarkan Hazel pergi begitu saja melintasi pintu kayu jati eksekutif tersebut.Begitu pintu ruangan papanya terkatup rapat di belakang punggungnya, Hazel menghembuskan napas panjang yang amat lega. Akhirnya Hazel bisa bebas dari rasa stres luar biasa setelah baru saja menghadapi dua pria paruh baya yang sangat bebal dan keras kepala. Menghadapi konfrontasi bisnis yang rumit rasanya jauh lebih mudah ketimbang meladeni dua orang tua yang matanya sudah tertutup oleh ambisi dan ego masing-masing.Hazel berjalan menyusuri koridor utama kantornya yang

  • Sekarang, Giliranku!    mengesampingkan ego

    Keheningan yang pekat merayap di antara mereka bertiga. Hazel menatap cangkir teh Tuan Baron yang memancarkan sisa-sisa uap tipis, berusaha mengurai benang kusut yang makin membelenggu pikirannya.Lagi-lagi Hazel harus mengesampingkan egonya terlebih dahulu demi menjaga masa depan perusahaannya.Jika ia mengamuk saat ini dan membeberkan semua borok Axel, harga diri Om Baron mungkin akan terluka hebat, dan dampaknya bisa menjalar pada pencabutan suntikan dana di perusahaan peninggalan almarhumah ibunya. Kepentingan bisnis yang rapat dengan urusan asmara memang selalu menjadi kombinasi yang memuaskan untuk membuat kepala Hazel terasa mau pecah.Akhirnya, setelah bercakap-cakap dengan Om Baron dan mendengarkan berbagai bujukan serta wejangan pria paruh baya itu, Hazel memilih mengalah secara taktis. Hazel tidak mau berdebat dan menghabiskan tenaganya untuk berurusan dengan keluarga Axel."Baiklah, Om Baron, Hazel mengerti," ucap Hazel dengan nada suara yang begitu manis, teratur, dan di

  • Sekarang, Giliranku!    diminta berpikir lagi

    Ruangan kerja berukuran luas itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara terasa menyengat kulit, berbanding terbalik dengan tatapan intens dari dua pria paruh baya yang kini tertuju sepenuhnya pada Hazel.Baron tentu saja ingin tahu alasannya. Sorot mata pengusaha senior itu menuntut penjelasan yang masuk akal dan tak bantah.Hazel menghela napas halus. Jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan meremas pelan. Karena Hazel tak ingin terjadi keributan yang lebih besar, tentu saja Hazel tidak mengatakan kebenarannya 100%, termasuk mengenai Axel yang terus memihak Luna. Jika ia membongkar seluruh kelakuan busuk Axel dan manipulasi Luna di sini, papanya pasti akan langsung murka tanpa arah, dan urusan ini akan melebar ke mana-mana. Bagaimanapun juga, perusahaan Tuan Baron merupakan salah satu penanam saham yang besar dan berpengaruh di perusahaan mama Hazel. Satu tindakan gegabah bisa berakibat fatal bagi warisan almarhumah ibunya.Dengan raut wajah yang tetap tenang d

  • Sekarang, Giliranku!    tidak berani bertemu

    Pintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, mengungkapkan atmosfer tegang yang menyerbak di dalam ruangan kerja John. Hazel sempat menyatukan kedua alisnya, mencoba mencerna pemandangan di hadapannya sebelum matanya mengenali raut wajah pria paruh baya bertubuh tegap di atas sofa.Rupanya yang datang adalah Tuan Baron, yakni papa dari Axel.Sebuah kedutan sinis muncul di sudut bibir Hazel. Semula, Hazel pikir Axel yang akan datang mencarinya dengan segala drama dan raungan emosionalnya. Namun ternyata, Axel benar-benar tidak punya nyali sama sekali untuk berhadapan langsung dengannya. Pria itu justru sembunyi di balik ketiak ayahnya dan menyuruh sang papa yang menyelesaikan kekacauan ini. "Sangat tipikal Axel! Tidak pernah bisa mengatasi masalah dengan cara dewasa! Benar-benar kekanakak!" batin Hazel sembari menahan dorongan untuk memutar bola matanya keras-keras.Hazel pun masuk lalu duduk berseberangan dengan Baron, menegakkan punggungnya tanpa memperlihatkan sedikit pun keragu

  • Sekarang, Giliranku!    dipanggil

    Hazel memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak boleh membiarkan pikirannya terus-menerus digerogoti oleh bayang-bayang Axel. Ini adalah dunia kerja, tempat di mana dedikasi dan reputasinya dipertaruhkan, bukan panggung drama picisan tempat ia harus meratapi nasib. Hazel sadar betul, dirinya tidak boleh seperti ini hanya karena masalah Axel. Bagaimanapun situasinya, ia tetap harus bersikap profesional dan memisahkan secara tegas antara urusan pribadi yang berantakan dan tanggung jawab pekerjaan.Hazel memutar posisi duduknya menghadap Bu Senja. Ia menyunggingkan senyum tipis yang diusahakan sealami mungkin, meski raut lelah di matanya tak sepenuhnya bisa disembunyikan."Saya cuma sedikit kelelahan saja, Bu Senja," ucap Hazel halus, berusaha menenangkan raut khawatir di wajah atasan sekaligus mentornya itu. "Semalam ada beberapa urusan yang cukup menyita waktu dan pikiran, jadi kurang tidur."Bu Senja menatap Hazel intens selama beber

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status