Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / 11. Tumben Pinter

Share

11. Tumben Pinter

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-06-10 22:37:38

Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Hazel tetap memejamkan mata, otot-otot wajahnya menegang, bersiap menerima hantaman keras yang akan membakar pipinya.

Namun, rasa sakit yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Udara di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru napasnya sendiri yang memburu.

Padahal, Hazel sangat yakin papanya sudah berdiri tepat di hadapannya.

Didorong rasa penasaran, Hazel perlahan membuka sepasang matanya. Pemandangan di depannya seketik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    Mulai Bergerak

    Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca sebuah restoran sederhana di pinggiran kota, menyinari meja kayu tempat Hazel dan Arlo duduk berhadapan. Suasana tempat ini jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, memberikan privasi yang amat mereka butuhkan.Semalam setelah acara lamaran, Hazel langsung menghubungi Arlo dan mengajaknya untuk bertemu esok hari untuk membahas beberapa hal penting.Arlo menyesap kopi hitamnya, lalu menopang dagu dengan satu tangan sembari menatap Hazel jenaka. "Jadi... bagaimana acara lamaran semalam? Lancar?"Hazel mendengus pelan, mengaduk jus jeruknya tanpa minat. "Lancar. Walaupun tebakanku tidak meleset, sempat ada trik pasaran dari adik tiriku yang sok rajin menuangkan teh panas."Usai apa yang terjadi, Luna langsung tak berani berbuat macam-macam. Ia duduk diam dan tak ikut campur ataupun cari muka lagi hingga acara selesai dan Axel beserta kedua orang tuanya kembali ke kediaman mereka. Meskipun Luna diam, tetap saja Hazel yakin jika pasti Luna sudah men

  • Sekarang, Giliranku!    Malam Lamaran

    Malam yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Pelataran kediaman John tampak lebih terang dari biasanya, diselimuti atmosfer formal yang megah.Tepat pukul tujuh malam, Axel benar-benar membuktikan ucapannya. Pria itu datang tidak sendirian, melainkan didampingi oleh kedua orang tuanya. Di belakang mereka, beberapa asisten tampak membawa deretan kotak hantaran beludru merah maroon berisi mahar yang telah disiapkan sedemikian rupa, perhiasan berkilau, kain-kain premium, dan kelengkapan lamaran kelas atas yang menunjukkan keseriusan keluarga mereka.Malam ini, Axel mengenakan setelan jas formal rancangan desainer yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Potongan rambutnya yang rapi ditambah binar percaya diri di matanya membuat pria itu memang terlihat jauh lebih tampan dan karismatik dari biasanya."Harusnya Hazel senang bukan? Ditambah malam ini aku sudah berdandan semaksimal mungkin sampai ganti setelan jas sebanyak 13 kali!" batin Axel yang sangat percaya diri. Namun, alih-alih t

  • Sekarang, Giliranku!    Banyak Gebrakan

    "Zel, aku serius! Jangan hanya diam saja!" Yaya kembali mendesak, mencengkeram kedua bahu Hazel dengan tatapan yang menuntut penjelasan pelan namun tajam. "Katakan padaku apa alasan sebenarnya kamu mau menikah dengan Axel? Kamu tidak sebodoh itu untuk masuk ke lubang yang sama dua kali, kan?"Hazel membuka mulutnya, bersiap merangkai kata yang bisa menenangkan sahabatnya tanpa harus membongkar rahasia tentang lini masa kehidupannya. Namun, belum sempat seuntai kalimat lolos dari bibirnya, sebuah bayangan tinggi mendadak bergeser, memayungi mereka dari terik sore."Halo, Hazel! Kebetulan sekali kita bertemu lagi," sebuah suara berat meredam bising jalanan.Hazel tersentak karena Arlo selalu saja muncul dengan cara seperti itu. Tiba-tiba datang tanpa diundang seperti hantu saja. "Astaga! Dia ini kenapa bisa ada di mana-mana, sih?! Heran deh!" ucap Hazel dalam hati yang sedikit kesal. Sementara itu Yaya langsung berbalik dengan rahang mengeras. Sosok pria jangkung berjaket denim hitam

  • Sekarang, Giliranku!    antek

    Siska dan Sarah, dua antek setia Luna, berdiri menjulang dengan tatapan meremehkan. Tanpa basa-basi, Siska langsung menghempaskan bahu Hazel, membuat tubuh gadis itu tersentak di kursinya. "Masih sempat-sempatnya kamu duduk santai di sini, hah?" Siska memaki dengan nada tinggi yang sontak menarik perhatian pengunjung lain. "Enggak puas gangguin Luna? Kamu itu harusnya sadar diri, jangan jadi benalu yang terus menggatal sama Axel. Dia itu sudah milih Luna, jadi berhenti jadi orang munafik!" Yaya tidak tinggal diam. Darahnya mendidih melihat sahabatnya diperlakukan seperti barang rongsokan. Ia beranjak berdiri dengan gerakan cepat, lalu membalas mendorong Siska hingga gadis itu terhuyung mundur. "Jaga mulut kalian!" bentak Yaya sengit. "Kalian itu cuma pionnya Luna, kan? Enggak tahu apa-apa soal masalahnya, enggak usah sok tahu dan nuduh sembarangan! Keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan!" Di tengah keriuhan itu, Hazel tetap tenang. Ia bahkan menyunggingkan senyum tipis, buk

  • Sekarang, Giliranku!    Setuju?

    "Baik, aku setuju! Kita menikah tiga bulan lagi!" jawab Hazel, suaranya terdengar tenang tanpa getaran emosi yang berarti.Seketika itu juga, gurat kecemasan di wajah Axel menguap, digantikan oleh binar kebahagiaan yang meledak-ledak. Pria itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit, nyaris tidak percaya bahwa desakannya membuahkan hasil secepat ini. "Zel! Kamu serius? Ya ampun, terima kasih! Aku... aku senang banget!" seru Axel antusias, menatap Hazel seolah gadis itu adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.Hazel mencoba untuk tetap tenang, ia hanya diam memperhatikan tingkah pria di hadapannya itu. Hazel membiarkan Axel bersorak penuh kemenangan terlebih dahulu. "Menikah denganmu? Harusnya kamu mengajak Luna, kan?" batin Hazel tersenyum getir. Tanpa membuang waktu, Axel langsung melirik jam tangannya dengan gugup sekaligus bersemangat. "Kalau begitu, aku harus buru-buru pulang sekarang. Aku perlu mempersiapkan segalanya dan memberi tahu Papa dan Mama. Aku akan minta mereka unt

  • Sekarang, Giliranku!    Dipaksa nikah?

    Axel baru saja hendak membuka mulut untuk merangkai untaian maaf, namun gerakannya terhenti seketika. Tanpa diduga, Hazel melangkah maju dan menyodorkan sebuah botol kecil obat merah tepat di depan dada Axel."Obati luka Luna baik-baik," ujar Hazel, suaranya terdengar begitu lempeng dan tenang, tanpa ada nada sarkasme sama sekali. Ia menatap Axel datar. "Rawat dia sampai benar-benar sembuh. Jangan sampai ada luka yang tertinggal!"Axel memperhatikan raut wajah Hazel yang begitu tenang. Akhir-akhir ini Axel memperhatikan Hazel yang terasa semakin jauh darinya. Seperti dekat, namun tak tersentuh. Seolah Axel bisa saja kehilangan Hazel sewaktu-waktu jika ia tidak mengikat Hazel di sisinya. Axel menggeleng cepat, menolak menerima botol itu. Wajahnya tampak frustrasi. "Enggak, Zel. Aku enggak mau. Urusan Luna bisa nanti, ada pelayan di rumah ini. Sekarang aku mau minta maaf sama kamu, aku mau tebus semua kesalahanku di butik tadi. Tolong kasih aku kesempatan, Zel..."Luna tampak begitu m

  • Sekarang, Giliranku!    6. Baru Permulaan

    Aroma familier dari rumah ini mendadak terasa mencekik, memicu kilas balik yang menghantam dada Hazel begitu keras. Jika ini adalah Hazel yang dulu, lututnya pasti sudah gemetar.Ia akan langsung menjatuhkan diri ke lantai, bersujud di kaki papanya, memohon ampun sambil terisak agar tidak dihukum,

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    10. Gagal Mengubah Alur?

    Kilat amarah di mata John terasa begitu familier. Di kehidupan sebelumnya, Hazel juga berdiri di titik yang sama, dihakimi secara sepihak oleh seluruh isi rumah ini. Bedanya, dulu ia dicaci maki karena dianggap egois membiarkan Luna terluka demi melindunginya dari hantaman bola. Hazel mengepalkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status