แชร์

Banyak Gebrakan

ผู้เขียน: Perfect Wife
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-23 00:28:07

"Zel, aku serius! Jangan hanya diam saja!" Yaya kembali mendesak, mencengkeram kedua bahu Hazel dengan tatapan yang menuntut penjelasan pelan namun tajam. "Katakan padaku apa alasan sebenarnya kamu mau menikah dengan Axel? Kamu tidak sebodoh itu untuk masuk ke lubang yang sama dua kali, kan?"

Hazel membuka mulutnya, bersiap merangkai kata yang bisa menenangkan sahabatnya tanpa harus membongkar rahasia tentang lini masa kehidupannya.

Namun, belum sempat seuntai kalimat lolos dari bibirnya, sebu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sekarang, Giliranku!    Ribut di Butik

    Yaya lagi-lagi menanyakan soal Arlo. Hazel mengembuskan napas pendek, menatap sahabatnya yang kini memasang wajah luar biasa penasaran. Sebenarnya, tidak ada masalah jika Yaya tahu tentang Arlo. Toh, Yaya adalah satu-satunya orang yang paling ia percayai di dunia ini. Hanya saja, Hazel sendiri merasa posisinya membingungkan karena ia belum sedekat itu dengan Arlo untuk bisa menjabarkan siapa pria itu sebenarnya.Hazel mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, agak bingung harus mulai dari mana. Sementara itu, Yaya terus saja mencondongkan tubuhnya, mendesak dengan tatapan mata yang seolah mengunci pergerakan Hazel."Ayo, Zel, cepat ceritakan! Jangan membuatku mati penasaran," desak Yaya, menggoyang-goyangkan lengan Hazel.Hazel akhirnya menyerah. Ia menarik napas panjang, bersiap untuk membuka mulut dan bercerita. Namun, belum sempat kata pertama lolos dari bibirnya, pintu kayu ruang kerja pribadi mereka mendadak diketuk dari luar.Tok! Tok!Pintu terbuka sedikit, memunculkan kepala sala

  • Sekarang, Giliranku!    bukan imbalan berbentuk uang

    "Ini bukan tentang menjadi serakah atau tamak, Arlo," ujar Hazel, suaranya mendatar, namun ada ketukan dingin yang begitu tajam di setiap suku katanya. Arlo menyela, "Aku tidak menganggapmu seperti itu, tentu saja kamu bukan tipe orang yang seperti itu! Hanya saja pasti ada alasan lainnya, kan?"Padahal Arlo tidak pernah sekalipun berpikir buruk mengenai Hazel. Tapi entah kenapa Arlo merasa jika Hazel ini selalu berpikir jika Arlo selalu berprasangka buruk padanya. Hazel menatap jus jeruknya yang mulai mencair. "Hmm, aku hanya tidak rela jika harta peninggalan ibuku jatuh ke tangan orang-orang biadab."Hazel menjeda kalimatnya, lalu mendongak, menatap Arlo lurus-lurus. "Aku jauh lebih rela jika seluruh aset itu disumbangkan ke panti asuhan atau diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Tapi untuk mereka? Tidak sudi. Andaikan saja... andaikan dulu ibu tiri dan adik tiriku bersikap baik padaku layaknya keluarga normal, aku bersumpah tidak akan pernah mempermasalahkan

  • Sekarang, Giliranku!    Mulai Bergerak

    Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca sebuah restoran sederhana di pinggiran kota, menyinari meja kayu tempat Hazel dan Arlo duduk berhadapan. Suasana tempat ini jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, memberikan privasi yang amat mereka butuhkan.Semalam setelah acara lamaran, Hazel langsung menghubungi Arlo dan mengajaknya untuk bertemu esok hari untuk membahas beberapa hal penting.Arlo menyesap kopi hitamnya, lalu menopang dagu dengan satu tangan sembari menatap Hazel jenaka. "Jadi... bagaimana acara lamaran semalam? Lancar?"Hazel mendengus pelan, mengaduk jus jeruknya tanpa minat. "Lancar. Walaupun tebakanku tidak meleset, sempat ada trik pasaran dari adik tiriku yang sok rajin menuangkan teh panas."Usai apa yang terjadi, Luna langsung tak berani berbuat macam-macam. Ia duduk diam dan tak ikut campur ataupun cari muka lagi hingga acara selesai dan Axel beserta kedua orang tuanya kembali ke kediaman mereka. Meskipun Luna diam, tetap saja Hazel yakin jika pasti Luna sudah men

  • Sekarang, Giliranku!    Malam Lamaran

    Malam yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Pelataran kediaman John tampak lebih terang dari biasanya, diselimuti atmosfer formal yang megah.Tepat pukul tujuh malam, Axel benar-benar membuktikan ucapannya. Pria itu datang tidak sendirian, melainkan didampingi oleh kedua orang tuanya. Di belakang mereka, beberapa asisten tampak membawa deretan kotak hantaran beludru merah maroon berisi mahar yang telah disiapkan sedemikian rupa, perhiasan berkilau, kain-kain premium, dan kelengkapan lamaran kelas atas yang menunjukkan keseriusan keluarga mereka.Malam ini, Axel mengenakan setelan jas formal rancangan desainer yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Potongan rambutnya yang rapi ditambah binar percaya diri di matanya membuat pria itu memang terlihat jauh lebih tampan dan karismatik dari biasanya."Harusnya Hazel senang bukan? Ditambah malam ini aku sudah berdandan semaksimal mungkin sampai ganti setelan jas sebanyak 13 kali!" batin Axel yang sangat percaya diri. Namun, alih-alih t

  • Sekarang, Giliranku!    Banyak Gebrakan

    "Zel, aku serius! Jangan hanya diam saja!" Yaya kembali mendesak, mencengkeram kedua bahu Hazel dengan tatapan yang menuntut penjelasan pelan namun tajam. "Katakan padaku apa alasan sebenarnya kamu mau menikah dengan Axel? Kamu tidak sebodoh itu untuk masuk ke lubang yang sama dua kali, kan?"Hazel membuka mulutnya, bersiap merangkai kata yang bisa menenangkan sahabatnya tanpa harus membongkar rahasia tentang lini masa kehidupannya. Namun, belum sempat seuntai kalimat lolos dari bibirnya, sebuah bayangan tinggi mendadak bergeser, memayungi mereka dari terik sore."Halo, Hazel! Kebetulan sekali kita bertemu lagi," sebuah suara berat meredam bising jalanan.Hazel tersentak karena Arlo selalu saja muncul dengan cara seperti itu. Tiba-tiba datang tanpa diundang seperti hantu saja. "Astaga! Dia ini kenapa bisa ada di mana-mana, sih?! Heran deh!" ucap Hazel dalam hati yang sedikit kesal. Sementara itu Yaya langsung berbalik dengan rahang mengeras. Sosok pria jangkung berjaket denim hitam

  • Sekarang, Giliranku!    antek

    Siska dan Sarah, dua antek setia Luna, berdiri menjulang dengan tatapan meremehkan. Tanpa basa-basi, Siska langsung menghempaskan bahu Hazel, membuat tubuh gadis itu tersentak di kursinya. "Masih sempat-sempatnya kamu duduk santai di sini, hah?" Siska memaki dengan nada tinggi yang sontak menarik perhatian pengunjung lain. "Enggak puas gangguin Luna? Kamu itu harusnya sadar diri, jangan jadi benalu yang terus menggatal sama Axel. Dia itu sudah milih Luna, jadi berhenti jadi orang munafik!" Yaya tidak tinggal diam. Darahnya mendidih melihat sahabatnya diperlakukan seperti barang rongsokan. Ia beranjak berdiri dengan gerakan cepat, lalu membalas mendorong Siska hingga gadis itu terhuyung mundur. "Jaga mulut kalian!" bentak Yaya sengit. "Kalian itu cuma pionnya Luna, kan? Enggak tahu apa-apa soal masalahnya, enggak usah sok tahu dan nuduh sembarangan! Keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan!" Di tengah keriuhan itu, Hazel tetap tenang. Ia bahkan menyunggingkan senyum tipis, buk

  • Sekarang, Giliranku!    15. Apa Untungnya?

    Langkah kaki Hazel terhenti seketika. Bahunya menegang. Ia mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya memutar tubuhnya ke belakang untuk melihat siapa yang berani mengusik ketenangannya lagi.Dan benar saja. Sosok jangkung dengan jaket denim hitam itu berdiri di sana. Arlo.Hazel memijat pelipisnya

  • Sekarang, Giliranku!    14. Selalu Luna

    "Telepon Kak Axel sekarang! Berpura-puralah kalau kamu baru saja mengalami kecelakaan atau terluka parah di jalan. Buat suaramu seolah-olah kamu sedang berada di ambang maut!"Luna tertegun sesaat. Kalimat Siska seolah menyalakan lampu di dalam kepalanya. Kecelakaan palsu. Luna hampir saja lupa pad

  • Sekarang, Giliranku!    11. Tumben Pinter

    Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Hazel tetap memejamkan mata, otot-otot wajahnya menegang, bersiap menerima hantaman keras yang akan membakar pipinya. Namun, rasa sakit yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang. Udara di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru

  • Sekarang, Giliranku!    10. Gagal Mengubah Alur?

    Kilat amarah di mata John terasa begitu familier. Di kehidupan sebelumnya, Hazel juga berdiri di titik yang sama, dihakimi secara sepihak oleh seluruh isi rumah ini. Bedanya, dulu ia dicaci maki karena dianggap egois membiarkan Luna terluka demi melindunginya dari hantaman bola. Hazel mengepalkan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status