Share

Safe House

Penulis: Die-din
last update Tanggal publikasi: 2025-12-25 06:08:22

Keheningan di ruangan CEO yang mewah itu dipecahkan oleh sang pemilik ruangan. Ardi Pradana berbalik, wajah tampannya yang selalu dingin kini mengeras saat berkata. "Itu sebabnya kalian berdua harus pergi dari sini. Sekarang juga."

"Pergi?" tanya Cindy bingung menanggapi.

"Publik dan dewan direksi sedang menuntut kepala seseorang sebagai pelaku. Jika kamu tetap berada di kantor, mereka akan memaksaku untuk menyerahkan kamu ke polisi demi menyelamatkan harga saham," jelas Ardi.

"Jadi, saya akan dijadikan kambing hitam?"

"Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Percayalah padaku, Cin." Ardi berhenti sejenak dan nada suaranya berubah lebih halus.

"Aku sudah menyiapkan mobil. Kalian berdua akan diantar Bambang ke sebuah apartemen milikku yang tidak terdaftar atas nama Pradana Group. Di sana, Kresna akan membantu kamu melacak siapa yang sebenarnya telah meminjam identitas digitalmu."

"Saya? Harus bekerja sama dengan dia?" Cindy menatap Kresna dengan pandangan jijik. "Tapi dia yang penyebab semua kekacauan ini!"

"Dia adalah orang yang bisa menyelamatkanmu. Satu-satunya orang yang bisa membuktikan kamu tidak bersalah, Cindy," potong Ardi tegas.

"Dan Kresna, ingat kalau kamu berutang padaku karena telah mengeluarkanmu dari masalah di Singapura tahun lalu. Maka selesaikan ini."

"Siap, Bos!" Kresna langsung menyanggupi.

Cindy memandang bergantian antara Ardi dan Kresna. Sekarang dia tahu kenapa seorang hacker yang biasanya bekerja di balik layar mau bekerja untuk sang CEO Pradana. Jadi karena Ardi sudah menyelamatkannya, mungkin masalah hukum. Dan kejadiannya di Singapura yang memiliki sistem hukum yang sangat ketat.

"Bersembunyilah, sampai keadaan sedikit reda."

Tanpa memberikan jawaban kepada Ardi, Kresna berjalan mendahului Cindy keluar dari ruangan. Membuat Cindy mau tidak mau harus mengikuti langkah panjang pria itu. Setelah menggangguk sopan kepada Ardi sebagai ganti kata pamitnya.

Di luar ruangan, Bambang sudah menunggu mereka dengan wajah gelisah. "Mbak Cindy, apa yang sebenarnya telah ter... "

"Kita harus pergi!" Kresna memotong ucapan Bambang. Membuat pria itu tidak jadi bertanya. Ia pun menggiring Cindy dan Kresna ke lift eksekutif yang langsung membawa ke parkiran mobil. Sebuah mobil sedan hitam yang mewah telah menanti di sana.

Perjalanan menuju safe house di pinggiran Jakarta Selatan berlangsung dalam kebisuan yang kaku. Bambang yang menyetir terus-menerus melirik kaca spion dengan wajah khawatir, sementara Cindy duduk di bangku belakang, mengambil jarak sejauh mungkin dari Kresna yang sibuk dengan ponselnya.

"Mbak Cindy... maaf ya, jangan-jangan masalah ini ada hubunganya dengan sifat saya yang ceroboh?" Bambang memecah keheningan dengan suara pelan.

Cindy tidak menjawab. Terlalu malas untuk meladeni Bambang saat ini.

"Makanya punya otak dipakai. Jangan ditaruh dengkul." Diluar dugaan, Kresna yang menjawab dengan sini mewakili isi hati Cindy.

"Apa? Sialan kamu!" Bambang bersungut marah. Dan Kresna kembali diam sambil tersenyum puas.

Cindy menghiraukan pertengkaran mereka, ia menatap keluar jendela, melihat papan reklame besar Pradana Group yang kini terasa seperti ejekan. Segala yang dia miliki, apartemen mewahnya, reputasinya, masa depannya kini bergantung pada seorang peretas yang bahkan tidak menyisir rambutnya untuk ke kantor.

Mereka tiba di sebuah unit apartemen yang terlihat mewah namun sepi. Begitu pintu tertutup dan Bambang memberikan tumpukan berkas dari kantor, lalu berpamitan kepada mereka berdua.

"Saya harus kembali ke kantor, kalau butuh apa-apa Mbak Cindy bisa menghubungi saya."

"Lalu tempat persembunyian ini akan ketahuan karena kebodohan kamu?" Kresna kembali menjawab mewakili Cindy. Ia tidak ingin mengambil resiko dalam situasi yang sudah genting ini.

"Tapi? Aku tidak... " jawab Bambang gelagapan.

"Sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah menghubungi Cindy atau datang ke sini sampai semuanya aman."

Tanpa menjawab ucapan Kresna, Bambang memalingkan muka dan segera beranjak meninggalkan mereka berdua.

Cindy menatap pintu apartemen yang tertutup setelah kepergian Bambang. Lalu mengalihkan pandangan kepada Kresna. "Kamu tidak harus sekasar itu kepada Bambang."

"Kasar? Aku bicara jujur." Kresna menjawab cuek.

Cindy menghela napas panjang, sekarang hanya tinggal dirinya berdua dengan Kresna di apartemen. Dengan pria paling menyebalkan yang selama ini Cindy hindari untuk berinteraksi dengannya. Dan sekarang setelah berinteraksi, ternyata Kresna jauh lebih menyebalkan lagi.

Cindy berdiri kaku di tengah ruang tamu yang elegan namun terasa seperti penjara kaca. Ia masih tidak percaya bahwa hidupnya yang tertata rapi kini terlempar ke dalam ketidakpastian bersama pria yang sedang sibuk membongkar ranselnya di sofa.

Cindy melangkah masuk lebih dalam untuk menginspeksi "wilayah" barunya. Apartemen itu memang mewah, namun hanya memiliki satu kamar tidur utama yang membuatnya dilema.

'Bagaimana ini? Apa aku bisa meminta kamar itu untukku? Lalu dia tidur di mana?'

'Lho kenapa aku jadi mikirin dia tidur di mana? Bodoh amat dia tidur di mana yang penting aku tidur di kamar yang nyaman.'

"Aku tidur di kamar," cetus Cindy cepat, suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa diganggu gugat. "Dan kamu... kamu bisa cari tempat lain."

Kresna tidak mendebat. Ia justru sibuk menggeser kursi meja makan kayu jati di ruang tengah dan mulai mengeluarkan "senjatanya".

Dalam hitungan menit, meja makan yang seharusnya bersih itu berubah menjadi pusat teknologi yang kacau. Tiga laptop, dua monitor portabel, kabel-kabel LAN yang melilit seperti tentakel hitam, hingga beberapa perangkat keras aneh yang Cindy tidak tahu namanya, kini memenuhi permukaan meja.

"Meja makan itu untuk makan, bukan untuk laboratorium siber," protes Cindy sambil melipat tangan di dada.

Kresna mendengus, memastikan sambungan kabel-kabelnya sudah terpasang dengan benar. "Meja ini kantorku sekarang, dan sofa itu untuk tidurku, Mbak Sekretaris. Aku tidak butuh kamar. Aku cuma butuh listrik dan asupan kafein."

"Bagus kalau begitu."

"Silakan nikmati kamarmu, pakai masker wajahmu, atau apa pun yang biasa dilakukan wanita perfeksionis sepertimu. Jangan ganggu aku kalau tidak mau berakhir di penjara."

Cindy menggeram rendah dan mengerutu dalam hati. 'Fix, Kresna sangat menyebalkan!'

'Bagaimana aku bisa tinggal bersamanya? Dan berapa lama?'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Rapat terus berlanjut

    Lampu di ruang rapat eksekutif Menara Pradana masih menyala terang, meski jarum jam sudah melampaui angka dua belas malam. Di luar, Jakarta mulai meredup, namun di dalam ruangan ini, denyut nadi kreativitas baru saja dimulai. Ardi Pradana, sang CEO yang biasanya tak gentar menghadapi fluktuasi pasar saham, kini tampak tak berdaya di depan meja jatinya."Bagaimana? Ada ide?" Ardi menagih dengan nada mendesak kepada keempat staf andalannya. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak memelas. Sebagai pria yang terbiasa berpikir logis dan strategis, urusan asmara ternyata menjadi titik buta yang membuatnya mentok total. Ia ingin melamar Ella, namun ia tak ingin acara itu terasa seperti sekadar transaksi bisnis yang kaku.Bambang, Kresna, dan Gery saling bertukar pandangan dalam keheningan yang canggung. Kresna lebih paham cara menjebol firewall daripada menyusun buket bunga. Gery lebih mahir menyusun pasal-pasal hukum daripada skenario romantis. Sementara Bambang? Ia hanya bisa memikirkan mak

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Rapat Strategi

    Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu. Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40." Hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Gery? Kamu juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombol lift. Semakin penasar

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Panggilan Darurat

    Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu; Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40. Keamanan tertinggi," hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Pak Gery? Anda juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombo

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Kencan Yang Terganggu

    Setelah berbulan-bulan terjebak dalam labirin kode, ancaman spionase industri, dan sandiwara profesional di koridor Menara Pradana, hari Sabtu ini terasa seperti sebuah anomali yang indah. Untuk pertama kalinya, ponsel Kresna tidak memuntahkan barisan log peringatan merah, dan agenda Cindy bersih dari jadwal rapat koordinasi Perusahaan Pradana. Apartemen Cindy terletak di lantai dua puluh delapan, sebuah ruang minimalis yang didominasi warna krem dan abu-abu lembut, sangat kontras dengan kepribadiannya yang tajam di kantor. Di sini, tidak ada sekretaris eksekutif yang kaku atau peretas yang waspada. Yang ada hanyalah dua manusia yang mencoba merebut kembali kemanusiaan mereka dari cengkeraman korporat. Siang itu Kresna sengaja berkunjung ke apartemen Cindy sebagai ganti kencan mereka. Mereka menghabiskan hari minggu dengan suasana kesederhanaan yang tenang. Mereka tidak pergi ke mal mewah atau restoran berbintang. Kresna, yang biasanya menghabiskan akhir pekan di depan ti

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Setelah Badai

    Lobi Menara Pradana yang biasanya riuh oleh langkah kaki tergesa, pagi ini terasa seperti hamparan air tenang pasca badai. Kasus sabotase siber yang sempat mengguncang gedung itu berakhir dengan antiklimaks yang mengejutkan. Karna Nugroho, sang peretas yang sempat dianggap sebagai ancaman maut, kini duduk di lobi dengan kemeja kasual, menyesap kopi hitam tanpa beban. Tidak ada borgol, tidak ada pengawalan ketat. Di hadapannya, Cindy duduk dengan punggung tegak, sementara Kresna berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di dada, matanya masih memancarkan aura permusuhan yang tidak ditutupi. "Jadi," Kresna memecah keheningan, suaranya rendah dan tajam. "Semua drama pemerasan, foto Anyer, dan penyadapan itu hanya... audisi?" Karna terkekeh pelan, meletakkan cangkirnya. "Bisa dibilang begitu. Pak Irza punya obsesi kecil untuk menemukan 'tulang punggung' terbaik di industri ini. Dia tidak butuh orang pintar, karena orang pin

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Skakmat

    Pagi itu, suasana di lantai 40 Menara Pradana terasa mencekam, setidaknya bagi mereka yang peka terhadap getaran frekuensi rendah ketegangan siber. Kresna tidak tidur semalaman. Matanya yang merah tersembunyi di balik tudung hoodie, jemarinya masih bergetar kecil karena kelelahan kafein dan amarah yang dingin.Di meja sekretariat, Cindy duduk tegak, memaksakan senyum sopan kepada setiap staf yang lewat. Namun, di bawah meja, jemarinya meremas ponselnya kuat-kuat. Foto infra-merah dari nomor tak dikenal itu masih menghantui galerinya. Ancaman Karna bukan sekadar gertakan; itu adalah serangan presisi pada titik buta emosionalnya.Tepat pukul 09.00, Karna melangkah keluar dari lift. Ia tidak langsung menuju ruang rapat. Ia berhenti di depan meja Cindy, meletakkan sebuah cangkir kopi latte dengan seni latte art berbentuk kunci."Pagi, Mbak Cindy. Sudah siap untuk presentasi audit hari ini?" tanya Karna, suaranya halus seperti sutra yang menyembunyikan sembilu. "Saya harap 'modul' yang ki

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Kalah Telak

    "Ayo kita buktikan, jangan nyesel lho ya kalau nanti aku minta beliin makan yang banyak." Cindy berjalan mendahului Kresna ke mesin snipper. "Ok deh." Kresna akhirnya mengalah saja menuruti keinginan Cindy itu. Malas berdebat. Keduanya berdiri bersebelahan menghada

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Memaki di depan orangnya

    Hari minggu adalah hari yang paling dinantikan oleh Cindy. Setelah seminggu penuh dari senin sampai sabtu sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur operasional Pradana. Di hari minggu Cindy dapat bangun tidur siang, bangun tanpa beban pekerjaan atau tanggungan yang harus diselesaikan olehnya.

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Pesona Misterius

    Hari-hari di Menara Pradana kini memiliki ritme baru bagi Cindy. Jika dulu tantangan terbesarnya adalah memastikan jadwal Ardi Pradana tidak meleset satu detik pun, kini tantangan terbesarnya adalah menahan diri agar tidak melempar stapler ke arah kerumunan staf wanita yang tiba-tiba memiliki "ma

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Dunia Terang

    Sebulan telah berlalu sejak malam di kedai kopi remang-remang itu. Bagi Cindy, tiga puluh hari terakhir adalah masa transisi yang penuh dengan rasa harap-harap cemas. Ia kembali menjadi sekretaris Ardi Pradana yang efisien, namun ada binar berbeda di matanya. Ia tidak lagi menatap kursi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status