Masuk"Tidak. Semua itu fitnah! Saya tidak pernah melakukan kecurangan!" Cindy mencoba membela diri.
"Bukan hanya itu, Cindy." sela Gery dengan suara bernada serius. Jauh berbeda dengan kesehariannya yang suka menggoda Cindy. GeryI mengangkat sebuah tablet dan menunjukkan sebuah situs berita finansial. "Tadi dini hari, dokumen rincian transaksi ini bocor ke publik melalui akun tanpa nama. Dan sekarang kamu, Cindy, sedang menjadi topik utama sebagai otak di balik penggelapan dana Pradana Group." "Akibatnya reputasi perusahaan sedang dipertaruhkan di bursa saham pagi ini. Nilai saham kita turun pada pembukaan bursa saham." Cindy terngaga mendengarnga, namun kesadarannya segera pulih karena getaran ponsel di saku roknya. Dia mendapati notifikasi pesan dari grup kantor, telepon dari nomor tidak dikenal, bahkan tag di media sosial masuk bertubi-tubi. 'Ya Tuhanku, apa-apaan ini?' batin Cindy sambil melirik layar televisi di sudut ruangan yang selalu menayangkan berita bisnis kilat. Dia membaca headline merah berjalan di bagian bawah layar: "Skandal Korupsi Pradana Group: Sekretaris Kepercayaan Ardi Pradana Diduga Dalang Penggelapan Lima Puluh Miliar." Dunia Cindy seolah runtuh. Kebanggaan yang ia bangun dengan tetesan keringat dan air mata selama bertahun-tahun, reputasi sebagai sekretaris kepercayaan CEO yang tanpa celah, hancur hanya dalam hitungan detik. Oleh deretan angka tidak nyata di layar laptop seorang pria yang bahkan tidak memakai kemeja formal. Cindy menatap Kresna dengan tatapan tajam yang penuh kebencian dan penghinaan. "Kamu... kamu sengaja melakukan ini, kan? Kamu meretas sistem untuk menjatuhkanku, karena aku selalu menolak permintaan aksesmu bulan lalu? Kresna hanya mengangkat bahu pelan, lalu menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tajam. "Tidak ada masalah personal. Aku hanya pembawa pesan, Mbak Sekretaris. Aku mencari fakta, dan fakta digital tidak punya perasaan." Pria miaterius itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan penekanan. "Lalu saat ini, fakta itu mengatakan bahwa kamu pelakunya." Cindy berdiri terpaku di tengah ruangan, dikelilingi oleh pria-pria yang kini menatapnya dengan berbagai macam arti. Dia menyadari bahwa hidupnya yang sempurna baru saja berakhir dan berganti dengan kekacauan hebat. Keheningan di ruangan CEO Pradana Group terasa lebih menyesakkan daripada tuduhan Kresna. Cindy masih berdiri mematung, menatap nanar ke arah televisi yang masih menampilkan namanya dalam barisan teks berita. Ia merasa seperti baru saja didorong dari puncak menara Pradana Group tanpa parasut. "Pak Ardi," suara Cindy bergetar, namun ia berusaha keras mempertahankan ketenangan. "Anda tahu saya. Saya tidak mungkin mengkhianati anda dan perusahaan ini. Demi Tuhan, saya tidak pernah pergi ke Cayman, saya bahkan tidak tahu tempat itu di mana. Lalu bagaimana saya bisa punya rekening di sana?" Ardi Pradana bangkit dari singasananya. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar yang menampilkan panorama Jakarta yang berkabut. "Aku tahu, Cindy. Jika aku percaya kamu pelakunya, kamu tidak akan berdiri di sini sekarang. Gery sudah akan memborgolmu bersama tim kepolisian di lobi." Gery mengangguk kaku, meski matanya tetap menatap Cindy dengan saksama. "Secara hukum, posisimu sangat sulit, Cindy. Jejak digital itu otentik. Jika ini sampai ke meja hijau sekarang, kamu akan kalah sebelum bertanding." "Lalu apa?" Cindy menyalak, rasa frustrasinya memuncak. Ia menunjuk Kresna yang sedang asyik memainkan kunci motor. "Kenapa kita mendengarkan maniak komputer ini? Dia yang katanya menemukan datanya, tapi bisa saja dia juga yang memalsukannya!" Kresna mendengus, bangkit dari sofa dengan gerakan malas. "Dengar, Mbak Sekretaris. Kalau aku mau menjatuhkanmu, aku tidak akan repot-repot datang ke sini pagi-pagi. Aku lebih suka tidur atau meretas bank sungguhan. "Kamu? Kamu apa?... Siapa kamu sebenarnya?" Kedua mata Cindy melebar demi mendengar kalimat terakhir Kresna. "Aku adalah seorang hacker." Kresna menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri. "Hacker? Ya Tuhan, bagaimana bisa penjahat cyber sepertimu ada di sini?" Cindy bergidik mengetahui siapa sebenarnya Kresna. Dan rasa tidak sukanya kepada pria itu semakin meningkat beberap derajat. "Aku yang membawa Kresna ke sini, sebagai staff bagian IT." Ardi menengahi dengan tenang. "Lalu tentang keahliannya sebagai seorang hacker, adalah sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh kita bertiga dan Bambang." "Tapi Pak Ardi, anda tahu kan bagaimana cara kerja seorang hacker? Bagaimana kalau dia meretas sistem perusahaan kita?" Cindy tidak dapat percaya bahwa bosnya yang cerdas mau berhubungan dengan orang di dunia gelap seperti Kresna. "Tidak, aku tidak akan melakukannya." Kresna menjawab cepat. "Oh ya? Apa jaminannya?" tanya Cindy sinis. Kresna terdiam tanpa bisa memberikan jawaban. Karena dia tahu benar resiko pekerjaan yang dia geluti, yang memaksanya harus bertaruh dengan jeratan hukum setiap saat. "Aku yang membawa Kresna ke sini. Aku percaya kepadanya." Ardi yang akhirnya menjawab, ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Di era serba digital ini, seorang hacker sangat dibutuhkan sebagai anjing penjaga perusahaan." Cindy terdiam tanpa berani memprotes lagi. Sebagai sekretaris Ardi, ia sudah sering mendapati keputusan atasannya itu yang sangat berani bahkan kontroversial. Tapi ia juga tahu bahwa Ardi sangat cerdas dan memiliki insting bisnis yang tajam. "Kegiatan hacking memang ilegal." Gery sebagai seorang yang paham akan hukum ikut memberi penjelasan. Memperjelas ucapan Ardi yang singkat, padat dan tidak jelas. "Itu jika dilakukan untuk tujuan perusakan sistem atau pencurian, baik dalam bentuk data maupun finansial." "Meski ilegal, kegiatan hacking juga bisa memberi banyak manfaat. Terutama untuk Pradana Group yang memiliki banyak cabang perusahaan. Dia bisa digunakan untuk penjagaan atau pengawasan di segala sistem perusahaan." "Juga untuk menemukan hal-hal yang tidak bisa didapatkan dengan cara legal." Gery beralih kepada Kresna, "Apa yang kamu temukan?" "Aku menemukan sebuah algoritma aneh." Kresna memberikan jawaban, namun segera melanjutkan saat mendapati tatapan tidak mengerti dari ketiga orang di sekitarnya. "Intinya... data itu ada di sana karena ada yang menaruhnya dengan sengaja. Sangat rapi, sampai-sampai hampir terlihat seperti pekerjaan... orang dalam yang sangat pintar." Ruangan kembali hening mendengar penjelasan Kresna. Dan Cindy dapat sedikit bernapas lega karena terhindar dari posisi sebagai tersangka.Lantai 40 Menara Pradana seketika berubah menjadi medan magnet dengan kutub yang saling menolak. Di balik pintu kayu jati yang kedap suara, udara terasa statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah diionisasi oleh ketegangan yang dibawa oleh dua tamu tak diundang dari Wismail Group. Kresna berjalan menyusuri lorong marmer dengan langkah yang tidak biasanya ragu. Pesan singkat dari Ardi bukan sekadar instruksi; itu adalah perintah siaga satu. Ia merapikan jaket hoodie hitamnya, mencoba menutupi noda kopi kecil di kaosnya—sisa dari kepanikan serangan dua hari lalu. Di sampingnya, Cindy berjalan dengan langkah tegap, tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan irama yang menenangkan sekaligus mengancam. "Kresna," bisik Cindy pelan sebelum mereka mencapai pintu ganda ruang eksekutif. "Pasang firewall di wajahmu. Jangan biarkan mereka membaca emosimu." Kresna hanya mengangguk tipis. Ia tahu siapa yang ada di dalam. Ia telah menelusuri jejak digital "si penyerang" selama
Pagi itu, atmosfer di lobi Menara Pradana tidak lagi membawa sisa-sisa aroma laut Anyer yang santai. Udara seolah terkompresi, menjadi lebih padat, formal, dan dingin. Pendingin ruangan sentral terasa menusuk hingga ke tulang, sejalan dengan ketegangan yang merayap di antara pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter.Dua sosok pria melangkah masuk melalui pintu putar kaca dengan langkah yang membelah keheningan lobi. Kehadiran mereka segera memedot perhatian para resepsionis yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing. Pria pertama, yang berjalan di depan, adalah perwujudan dari otoritas yang dipoles dengan kemewahan: Irza Wismail, seorang priq yang tinggi, muda dan tampan. Ia mengenakan setelan jas custom-made seharga mobil kelas menengah, dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya—sebuah senyum yang dikalkulasi secara matematis.Di belakangnya, mengikuti seperti bayangan yang lebih gelap, adalah seorang pria berusia awal tiga puluhan. Ia mengenakan kacamata berbingka
Dua hari telah berlalu. Empat puluh delapan jam tanpa tidur penuh. CERBERUS akhirnya menunjukkan sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik kabut kode yang berubah-ubah.Kresna menyadari adanya pola yang konsisten. Bukan di bentuk malware-nya. Bukan di struktur enkripsinya. Melainkan di gaya penulisan payload. indentasi, urutan fungsi, dan cara menyamarkan loop rekursif.“Itu tanda tangan,” gumam Kresna pelan.Ia membuka arsip lama. Beberapa bulan lalu, timnya pernah menganalisis percobaan penetrasi sistem dari kompetitor lama—perusahaan teknologi bernama Wismail Corporation.Saat itu hanya uji coba agresif. Tidak pernah terbukti. Namun struktur coding-nya… Sama.Kresna memperbesar layer terakhir hasil dekripsi parsial. Di salah satu modul tersembunyi, ada komentar kecil yang nyaris tak terlihat://wm:rev17Wismail. Revision 17.“I got you,” bisiknya dalam senyum kemenangan.Sore itu, Kresna kembali menggunakan ponsel terenkripsi untuk memberikan laporan kepada sang atasan. Pada der
Kresna duduk ke meja kerjanya menghadap tiga layar monitor sekaligus, melancarkan jurus-jurus hacking tingkat tinggi untuk membobol beberapa sistem keamanan perusahaan Pradana. Beberapa jam berlalu dan baru separuhnya saja proses hacking selesai. Terlalu banyak nama dan instansi yang berhubungan dengan server. Terlalu banyak riwayat invasi yang harus dipilah dan disorting sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Kresna sebagai kode hacking. Bagi Kresna tak ada satu sistem keamanan pun yang tidak mungkin dia masuki. Meskipun tentu tidak mudah dan memerlukan banyak waktu agar tidak tertangkap dan dianggap sebagai cyber crime. Ponsel di meja Kresna berdering dan nama 'Big boz' yang terpampang disana. Pak Ardi? Ada apa lagi? Buru-buru Kresna mengangkat dan menerima pangilan itu. "Halo Kresna..." sapa Ardi buru-buru. "Ya pak?" "Kres, kamu bisa tahu lokasi seseorang dari sinyal ponselnya kan?" "Bisa." "Aku pengen kamu lacak dan laporkan tentang keberadaan seseorang setiap jam s
Euforia liburan Anyer masih menggantung di udara Menara Pradana seperti sisa wangi laut yang menempel pada pakaian. Namun, di balik tawa para karyawan yang masih sibuk memamerkan foto matahari terbenam di grup W******p kantor, sebuah predator sedang mengintai dalam kegelapan siber. Pukul 10.00 pagi. Kresna sedang duduk di ruang IT-nya, menyesap kopi hitam ketiga hari itu. Matanya yang sedikit merah menatap layar utama yang menampilkan grafik lalu lintas data perusahaan. Semuanya tampak hijau. Normal. Terlalu normal. Tiba-tiba, sebuah titik merah berkedip di pojok bawah monitor kirinya. Itu adalah honeypot—sebuah server jebakan yang sengaja dipasang Kresna untuk menarik perhatian penyusup amatir. Namun, titik itu tidak hanya berkedip; ia meledak menjadi ribuan baris perintah yang mencoba mereplikasi diri secara eksponensial. "Sial," umpat Kresna, kopinya nyaris tumpah. "Ini bukan serangan brute force biasa. Ini serangan Polymorphic Code." Kresna segera menekan tombol darurat di meja
Senin pagi di Menara Pradana pasca-liburan Anyer terasa seperti mesin yang baru saja diminyaki; segalanya berjalan terlalu mulus hingga terasa mencurigakan. Di lobi, para karyawan masih sibuk bertukar cerita tentang serunya permainan Blind Navigation atau betapa cantiknya Dokter Ella malam itu. Namun, bagi Bambang, setiap langkah yang ia ambil di koridor lantai eksekutif terasa seperti berjalan di atas hamparan kulit telur.Bambang masuk ke dalam lift dengan napas yang tertahan. Di dalam, sudah ada Cindy yang tampil sempurna dengan setelan blazer hitam dan rok pensil, serta Kresna yang—seperti biasa—bersembunyi di balik jaket hoodie gelap dan aroma kopi hitam yang kuat."Pagi, Mbak Cindy... Pak Kresna," sapa Bambang dengan nada suara yang sedikit melengking karena gugup."Pagi, Bambang," sahut Cindy tanpa menoleh dari layar tabletnya.Kresna hanya mengangguk singkat. Suasana lift yang sempit itu mendadak terasa seperti ruang interogasi b







