LOGINSetelah masuk kamar tidur, Cindy langsung mengunci pintunya dari dalam. Ruangan yang luas dengan dekorasi minimalis putih dan abu-abu seharusnya terasa mewah, tapi kini hanya membuatnya merasa terkurung. Dia menjelajahi lemari besar yang ternyata sudah diisi dengan beberapa set pakaian kasual—semua dalam ukuran yang pas padanya.
Cindy tersenyum samar, ini pasti hadiah kecil dari Ardi untuknya. Ardi, atasannya itu memang orang yang selalu berpikir jauh ke depan. Tanpa mood untuk mengganti pakaian, Cindy kembali menutup pintu lemari. Dia beranjak ke kasur dan duduk di sana, bersandar di ranjang empuk, menatap langit-langit tinggi. Pikirannya berputar kencang, berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkelebat di kepalamya. 'Bagaimana bisa identitas digitalku dipakai untuk melakukan hal yang bisa merusak Pradana Group?' 'Siapa yang punya motif untuk menjatuhkanku?' Dan yang pertanyaan terakhir yang paling membuatnya gelisah, 'Bisakah benar-benar mempercayakan diriku pada Kresna?' Setelah beberapa saat merenung, suara dering ponsel membuat Cindy terkejut. Layarnya menunjukkan nama Ardi Pradana yang menelepon. "Halo, Pak Ardi." Sapa Cindy setelah panggilan terhubung. "Cindy, bagaimna keadaan di sana?" Suara Ardi terdengar tenang tapi penuh perhatian. "Baik saja, Pak. Saya dan Kresna sudah sampai di apartemen dengan aman." "Oke. Dewan baru saja melakukan rapat darurat. Mereka sudah mulai menyusun laporan untuk polisi tentang kasus penyalahgunaan data perusahaan. Aku masih bisa menunda selama tiga hari saja agar polisi tidak membawamu. Lebih dari itu, aku tidak bisa lagi melindungimu." Tiga hari. Hanya tiga hari untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Cindy merasa dada terjepit dinding yang tebal. "Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanyanya pasrah. Otaknya benar-benar penuh, tidak tahu apa yang harus dilkukan. "Serahkan saja semuanya kepada Kresna. Dia memang memiliki sifat dan peragai yang tidak menyenangkan, tapi dia adalah yang terbaik di bidangnya. Jangan ganggu kerjanya dan beri dia apa saja yang dia butuhkan." "Baik, Pak." Lagi-lagi Cindy hanya bisa menuruti perintan sang atasan. 'Kenapa Pak Ardi bisa begitu percaya kepada hacker menyebalkan itu sih?' Setelah telepon terputus, Cindy duduk tegak di ranjang. Dia tahu Ardi benar. Walau tidak suka, dia tidak punya pilihan lain selain bekerja sama dengan Kresna. Dengan hati yang berat, dia membuka kunci pintu dan keluar ke ruang tengah. Kresna sudah menguasai meja makan dengan tumpukan perangkat keras yang kabel-kabelnya menjulur seperti tentakel gurita. Ia duduk bersila di kursi kayu jati yang mahal, sementara jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Bau rokok yang menempel di jaketnya kini bercampur dengan aroma mie instan cup yang baru saja ia seduh—bau yang sangat asing di penciuman Cindy yang terbiasa dengan aroma essential oil lavender. "Bisa kau singkirkan sampah itu dari meja makan?" Cindy berdiri dua meter dari meja makan, melipat tangan di dada dengan tatapan menghakimi. Kresna menyeruput kuah mienya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Ini bukan meja makan sekarang, Mbak Sekretaris. Ini pusat komando." "Dan mie ini adalah bahan bakarku. Kalau mau bersih-bersih, silakan tata bantal di sofa itu sesuai warna pelangi. Itu keahlianmu, kan?" Cindy menggeram rendah. Ia ingin sekali menyiramkan segelas air ke kepala pria itu, namun bayangan wajah Ardi Pradana dan ancaman penjara sepuluh tahun menahannya. Ia harus bisa menahan diri. Karirnya, namanya, dan hidupnya bergantung pada kemampuan pria menyebalkan ini untuk membedah kode-kode rumit di hadapan mereka. "Jangan merajuk, ayo mulai bekerja karena kau sudah tahu batas waktumu." Kresna tidak melihat ke arahnya, tetap fokus pada salah satu layar yang penuh dengan baris kode. Cindy terkejut, dia berjalan mendekat ke arah meja makan. "Kamu mendengar teleponku?" "Aku bisa menangkap sinyal frekuensi ponsel dari sepuluh meter jauhnya. Tiga hari, kan? Cukup jika kamu tidak mengganggu pekerjaanku." "Kamu tidak perlu bersikap sekeras itu. Aku juga ingin kasus ini cepat selesai!" Kresna akhirnya menoleh, matanya yang merah karena kurang tidur menatapnya tajam. "Kalau benar ingin cepat selesai, berikan aku semua akses ke akun digitalmu. Email kantor, akun sistem perusahaan, bahkan media sosialmu pribadi." "Jangan ada yang tersembunyi, karena jika ada satu pun celah yang aku lewatkan, kamu akan benar-benar terjebak di balik jeruji besi." Cindy menahan napas. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya yang tampak letih di bola mata Kresna. Ada dilema besar yang berkecamuk di dadanya. Memberikan kata sandi pribadinya kepada seorang peretas adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini. Itu seperti menyerahkan kunci jiwanya kepada orang asing. "Kenapa diam? Takut aku melihat koleksi foto seksimu? Atau email cintamu yang gagal?" ejek Kresna, namun kali ini nadanya sedikit lebih lembut. "Enak saja! Mana ada yang begituan!" Hardik Cindy cepat-cepat. "Yah sayang sekali tidak ada... " Kresna pura-pura kecewa. Kemudian dia melanjutkan, "Kalau begitu tidak masalah kan aku melihatnya? Akan bebahaya jika ada hal kecil yang terlewat. Kamu bisa meringkuk di penjara." "Aku... aku hanya benci situasi ini," aku Cindy jujur, suaranya nyaris berbisik. "Aku benci harus bergantung padamu. Aku benci fakta bahwa hidupku berantakan karena kesalahan yang bahkan tidak pernah kulakukan." Kresna terdiam sejenak. Ia melihat gurat kelelahan yang nyata di wajah wanita yang biasanya selalu tampil sempurna itu. Untuk sesaat, ia tidak melihat "Iron Lady" dari Pradana Group, melainkan seorang wanita yang sedang ketakutan kehilangan segalanya. 'Ternyata kamu bisa ketakutan juga, Mbak Sekretaris?' batin Kresna dalam hati. Dan entah mengapa dia lebih menyukai sisi lemah Cindy yang terlihat manusiawi daripada sisi sekuat iron lady yang tidak memiliki perasaan.Lantai 40 Menara Pradana seketika berubah menjadi medan magnet dengan kutub yang saling menolak. Di balik pintu kayu jati yang kedap suara, udara terasa statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah diionisasi oleh ketegangan yang dibawa oleh dua tamu tak diundang dari Wismail Group. Kresna berjalan menyusuri lorong marmer dengan langkah yang tidak biasanya ragu. Pesan singkat dari Ardi bukan sekadar instruksi; itu adalah perintah siaga satu. Ia merapikan jaket hoodie hitamnya, mencoba menutupi noda kopi kecil di kaosnya—sisa dari kepanikan serangan dua hari lalu. Di sampingnya, Cindy berjalan dengan langkah tegap, tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan irama yang menenangkan sekaligus mengancam. "Kresna," bisik Cindy pelan sebelum mereka mencapai pintu ganda ruang eksekutif. "Pasang firewall di wajahmu. Jangan biarkan mereka membaca emosimu." Kresna hanya mengangguk tipis. Ia tahu siapa yang ada di dalam. Ia telah menelusuri jejak digital "si penyerang" selama
Pagi itu, atmosfer di lobi Menara Pradana tidak lagi membawa sisa-sisa aroma laut Anyer yang santai. Udara seolah terkompresi, menjadi lebih padat, formal, dan dingin. Pendingin ruangan sentral terasa menusuk hingga ke tulang, sejalan dengan ketegangan yang merayap di antara pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter.Dua sosok pria melangkah masuk melalui pintu putar kaca dengan langkah yang membelah keheningan lobi. Kehadiran mereka segera memedot perhatian para resepsionis yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing. Pria pertama, yang berjalan di depan, adalah perwujudan dari otoritas yang dipoles dengan kemewahan: Irza Wismail, seorang priq yang tinggi, muda dan tampan. Ia mengenakan setelan jas custom-made seharga mobil kelas menengah, dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya—sebuah senyum yang dikalkulasi secara matematis.Di belakangnya, mengikuti seperti bayangan yang lebih gelap, adalah seorang pria berusia awal tiga puluhan. Ia mengenakan kacamata berbingka
Dua hari telah berlalu. Empat puluh delapan jam tanpa tidur penuh. CERBERUS akhirnya menunjukkan sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik kabut kode yang berubah-ubah.Kresna menyadari adanya pola yang konsisten. Bukan di bentuk malware-nya. Bukan di struktur enkripsinya. Melainkan di gaya penulisan payload. indentasi, urutan fungsi, dan cara menyamarkan loop rekursif.“Itu tanda tangan,” gumam Kresna pelan.Ia membuka arsip lama. Beberapa bulan lalu, timnya pernah menganalisis percobaan penetrasi sistem dari kompetitor lama—perusahaan teknologi bernama Wismail Corporation.Saat itu hanya uji coba agresif. Tidak pernah terbukti. Namun struktur coding-nya… Sama.Kresna memperbesar layer terakhir hasil dekripsi parsial. Di salah satu modul tersembunyi, ada komentar kecil yang nyaris tak terlihat://wm:rev17Wismail. Revision 17.“I got you,” bisiknya dalam senyum kemenangan.Sore itu, Kresna kembali menggunakan ponsel terenkripsi untuk memberikan laporan kepada sang atasan. Pada der
Kresna duduk ke meja kerjanya menghadap tiga layar monitor sekaligus, melancarkan jurus-jurus hacking tingkat tinggi untuk membobol beberapa sistem keamanan perusahaan Pradana. Beberapa jam berlalu dan baru separuhnya saja proses hacking selesai. Terlalu banyak nama dan instansi yang berhubungan dengan server. Terlalu banyak riwayat invasi yang harus dipilah dan disorting sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Kresna sebagai kode hacking. Bagi Kresna tak ada satu sistem keamanan pun yang tidak mungkin dia masuki. Meskipun tentu tidak mudah dan memerlukan banyak waktu agar tidak tertangkap dan dianggap sebagai cyber crime. Ponsel di meja Kresna berdering dan nama 'Big boz' yang terpampang disana. Pak Ardi? Ada apa lagi? Buru-buru Kresna mengangkat dan menerima pangilan itu. "Halo Kresna..." sapa Ardi buru-buru. "Ya pak?" "Kres, kamu bisa tahu lokasi seseorang dari sinyal ponselnya kan?" "Bisa." "Aku pengen kamu lacak dan laporkan tentang keberadaan seseorang setiap jam s
Euforia liburan Anyer masih menggantung di udara Menara Pradana seperti sisa wangi laut yang menempel pada pakaian. Namun, di balik tawa para karyawan yang masih sibuk memamerkan foto matahari terbenam di grup W******p kantor, sebuah predator sedang mengintai dalam kegelapan siber. Pukul 10.00 pagi. Kresna sedang duduk di ruang IT-nya, menyesap kopi hitam ketiga hari itu. Matanya yang sedikit merah menatap layar utama yang menampilkan grafik lalu lintas data perusahaan. Semuanya tampak hijau. Normal. Terlalu normal. Tiba-tiba, sebuah titik merah berkedip di pojok bawah monitor kirinya. Itu adalah honeypot—sebuah server jebakan yang sengaja dipasang Kresna untuk menarik perhatian penyusup amatir. Namun, titik itu tidak hanya berkedip; ia meledak menjadi ribuan baris perintah yang mencoba mereplikasi diri secara eksponensial. "Sial," umpat Kresna, kopinya nyaris tumpah. "Ini bukan serangan brute force biasa. Ini serangan Polymorphic Code." Kresna segera menekan tombol darurat di meja
Senin pagi di Menara Pradana pasca-liburan Anyer terasa seperti mesin yang baru saja diminyaki; segalanya berjalan terlalu mulus hingga terasa mencurigakan. Di lobi, para karyawan masih sibuk bertukar cerita tentang serunya permainan Blind Navigation atau betapa cantiknya Dokter Ella malam itu. Namun, bagi Bambang, setiap langkah yang ia ambil di koridor lantai eksekutif terasa seperti berjalan di atas hamparan kulit telur.Bambang masuk ke dalam lift dengan napas yang tertahan. Di dalam, sudah ada Cindy yang tampil sempurna dengan setelan blazer hitam dan rok pensil, serta Kresna yang—seperti biasa—bersembunyi di balik jaket hoodie gelap dan aroma kopi hitam yang kuat."Pagi, Mbak Cindy... Pak Kresna," sapa Bambang dengan nada suara yang sedikit melengking karena gugup."Pagi, Bambang," sahut Cindy tanpa menoleh dari layar tabletnya.Kresna hanya mengangguk singkat. Suasana lift yang sempit itu mendadak terasa seperti ruang interogasi b







