Share

Batas Waktu

Penulis: Die-din
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 13:59:01

Setelah masuk kamar tidur, Cindy langsung mengunci pintunya dari dalam. Ruangan yang luas dengan dekorasi minimalis putih dan abu-abu seharusnya terasa mewah, tapi kini hanya membuatnya merasa terkurung. Dia menjelajahi lemari besar yang ternyata sudah diisi dengan beberapa set pakaian kasual—semua dalam ukuran yang pas padanya.

Cindy tersenyum samar, ini pasti hadiah kecil dari Ardi untuknya. Ardi, atasannya itu memang orang yang selalu berpikir jauh ke depan.

Tanpa mood untuk mengganti pakaian, Cindy kembali memutup pintu lemari. Dia beranjak ke kasur dan duduk di sana, bersandar di ranjang empuk, menatap langit-langit tinggi.

Pikirannya berputar kencang, berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkelebat di kepalamya. 'Bagaimana bisa identitas digitalku dipakai untuk melakukan hal yang bisa merusak Pradana Group?'

'Siapa yang punya motif untuk menjatuhkanku?'

Dan yang pertanyaan terakhir yang paling membuatnya gelisah, 'Bisakah benar-benar mempercayakan diriku pada Kresna?'

Setelah beberapa saat, suara dering ponsel membuat Cindy terkejut. Layarnya menunjukkan nama Pak Ardi yang menelepon.

"Halo, Pak." Sapa Cindy setelah panggilan terhubung.

"Cindy, bagaimna keadaan di sana?" Suara Ardi terdengar tenang tapi penuh perhatian.

"Baik saja, Pak. Saya sudah sampai di apartemen."

"Oke. Dewan baru saja melakukan rapat darurat. Mereka sudah mulai menyusun laporan untuk polisi tentang kasus penyalahgunaan data perusahaan. Aku masih bisa menunda selama tiga hari saja. Lebih dari itu, aku tidak bisa lagi melindungimu."

Tiga hari. Hanya tiga hari untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Cindy merasa dada terjepit dinding yang tebal.

"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanyanya pasrah. Otaknya benar-benar penuh, tidak tahu apa yang harus dilkukan.

"Serahkan saja semuanya pada Kresna. Dia memang memiliki sifat dan peragai yang tidak menyenangkan, tapi dia adalah yang terbaik di bidangnya. Jangan ganggu kerjanya dan beri dia apa saja yang dia butuhkan."

"Baik, Pak." Lagi-lagi Cindy hanya bisa menuruti perintan sang atasan.

'Kenapa Pak Ardi bisa begitu percaya kepada hacker menyebalkan itu sih?'

Setelah telepon terputus, Cindy duduk tegak di ranjang. Dia tahu Ardi benar. Walau tidak suka, dia tidak punya pilihan lain selain bekerja sama dengan Kresna.

Dengan hati yang berat, dia membuka kunci pintu dan keluar ke ruang tengah. Kresna sudah menguasai meja makan dengan tumpukan perangkat keras yang kabel-kabelnya menjulur seperti tentakel gurita. Ia duduk bersila di kursi kayu jati yang mahal, sementara jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Bau rokok yang menempel di jaketnya kini bercampur dengan aroma mie instan cup yang baru saja ia seduh—bau yang sangat asing di penciuman Cindy yang terbiasa dengan aroma essential oil lavender.

"Bisa kau singkirkan sampah itu dari meja makan?" Cindy berdiri dua meter dari meja makan, melipat tangan di dada dengan tatapan menghakimi.

Kresna menyeruput kuah mienya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Ini bukan meja makan sekarang, Mbak Sekretaris. Ini pusat komando."

"Dan mie ini adalah bahan bakarku. Kalau mau bersih-bersih, silakan tata bantal di sofa itu sesuai warna pelangi. Itu keahlianmu, kan?"

Cindy menggeram rendah. Ia ingin sekali menyiramkan segelas air ke kepala pria itu, namun bayangan wajah Ardi Pradana dan ancaman penjara sepuluh tahun menahannya. Ia harus bisa menahan diri. Karirnya, namanya, dan hidupnya bergantung pada kemampuan pria menyebalkan ini untuk membedah kode-kode rumit di hadapan mereka.

"Jangan merajuk, ayo mulai bekerja karena kau sudah tahu batas waktumu." Kresna tidak melihat ke arahnya, tetap fokus pada salah satu layar yang penuh dengan baris kode.

Cindy terkejut, dia berjalan mendekat ke arah meja makan. "Kamu mendengar teleponku?"

"Aku bisa menangkap sinyal frekuensi ponsel dari sepuluh meter jauhnya. Tiga hari, kan? Cukup jika kamu tidak mengganggu pekerjaanku."

"Kau tidak perlu bersikap sekeras itu. Aku juga ingin kasus ini cepat selesai!"

Kresna akhirnya menoleh, matanya yang merah karena kurang tidur menatapnya tajam. "Kalau benar ingin cepat selesai, berikan aku semua akses ke akun digitalmu. Email kantor, akun sistem perusahaan, bahkan media sosialmu pribadi."

"Jangan ada yang tersembunyi, karena jika ada satu pun celah yang aku lewatkan, kamu akan benar-benar terjebak di balik jeruji besi."

Cindy menahan napas. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya yang tampak letih di bola mata Kresna. Ada dilema besar yang berkecamuk di dadanya. Memberikan kata sandi pribadinya kepada seorang peretas adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini. Itu seperti menyerahkan kunci jiwanya kepada orang asing.

"Kenapa diam? Takut aku melihat koleksi foto seksimumu? Atau email cintamu yang gagal?" ejek Kresna, namun kali ini nadanya sedikit lebih lembut.

"Enak saja! Mana ada yang begituan!" Hardik Cindy cepat-cepat.

"Yah sayang sekali tidak ada... " Kresna pura-pura kecewa. Kemudian dia melanjutkan, "Kalau begitu tidak masalah kan aku melihatnya? Akan bebahaya jika ada hal kecil yang terlewat. Kamu bisa meringkuk di penjara."

"Aku... aku hanya benci situasi ini," aku Cindy jujur, suaranya nyaris berbisik. "Aku benci harus bergantung padamu. Aku benci fakta bahwa hidupku berantakan karena kesalahan yang bahkan tidak pernah kulakukan."

Kresna terdiam sejenak. Ia melihat gurat kelelahan yang nyata di wajah wanita yang biasanya selalu tampil sempurna itu. Untuk sesaat, ia tidak melihat "Iron Lady" dari Pradana Group, melainkan seorang wanita yang sedang ketakutan kehilangan segalanya.

'Ternyata kamu bisa ketakutan juga, Mbak Sekretaris?' batin Kresna dalam hati. Dan entah mengapa dia lebih menyukai sisi lemah Cindy yang terlihat manusiawi daripada sisi sekuat iron lady yang tidak memiliki perasaan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Mencari Bukti

    Salah satu perangkat keras di meja tiba-tiba berbunyi bip keras. Layar menunjukkan bahwa mereka berhasil menyeberangi lapisan keamanan pelaku. "Kita mendapatkan lokasi terakhir dari siapa yang menyebarkan data rahasia!" seru Kresna dengan mata yang bersinar. "Di sebuah ruang kosong di gedung perkantoran sebelah kantor Pradana Group. Dan mereka sedang aktif sekarang!" Cindy langsung berdiri. "Kita harus pergi ke sana!" "Tidak bisa. Kalau kamu keluar sekarang, kamu akan langsung terdeteksi oleh pihak keamanan gedung atau bahkan polisi yang mungkin sudah sedang diawasi." "Jadi apa yang kita lakukan? Biarkan mereka terus menyebarkan data?" Kresna mengeluarkan headset kecil dan sebuah modul GPS. "Aku akan mengakses sistem keamanan gedung itu dan menghentikan aktivitas mereka dari sini. Tapi aku butuh seseorang yang tahu tata letak gedung itu untuk memberitahuku jalur terbaik agar aku bisa mengganggu koneksi mereka tanpa terdeteksi." Cindy mengambil headset dan melihat peta gedu

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Bekerja Sama

    "Hei," Kresna menyentuh lengan Cindy perlahan—sebuah kontak fisik pertama yang membuat Cindy tersentak kecil. "Aku tidak peduli pada rahasia pribadimu. Aku hanya peduli pada siapa yang sudah berani mengotori kode buatanku dengan namamu. Kita selesaikan ini, lalu kamu bisa kembali jadi sekretaris kaku, dan aku kembali jadi orang asing. Deal?" Cindy menatap jemari Kresna di lengannya, lalu kembali menatap mata pria itu. Rasa kesal itu masih ada, namun terselip rasa percaya yang mulai tumbuh secara terpaksa. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa egonya. "Deal," jawab Cindy tegas. "Kata sandinya adalah PradanaIntegritas2025. Jangan tertawa." Kresna benar-benar tertawa, suara tawa rendah yang entah mengapa membuat jantung Cindy berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Sangat orisinal, Mbak Sekretaris. Sangat orisinal." Cindy merengut karena reaksi berlebihan pria itu, namun dia menahan diri untuk tidak mendebat. "Ayo duduk!" Kresna menarik sebuah kursi dan me

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Batas Waktu

    Setelah masuk kamar tidur, Cindy langsung mengunci pintunya dari dalam. Ruangan yang luas dengan dekorasi minimalis putih dan abu-abu seharusnya terasa mewah, tapi kini hanya membuatnya merasa terkurung. Dia menjelajahi lemari besar yang ternyata sudah diisi dengan beberapa set pakaian kasual—semua dalam ukuran yang pas padanya. Cindy tersenyum samar, ini pasti hadiah kecil dari Ardi untuknya. Ardi, atasannya itu memang orang yang selalu berpikir jauh ke depan. Tanpa mood untuk mengganti pakaian, Cindy kembali memutup pintu lemari. Dia beranjak ke kasur dan duduk di sana, bersandar di ranjang empuk, menatap langit-langit tinggi. Pikirannya berputar kencang, berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkelebat di kepalamya. 'Bagaimana bisa identitas digitalku dipakai untuk melakukan hal yang bisa merusak Pradana Group?' 'Siapa yang punya motif untuk menjatuhkanku?' Dan yang pertanyaan terakhir yang paling membuatnya gelisah, 'Bisakah benar-benar mempercayakan diriku pada Kresna?'

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Safe House

    Keheningan di ruangan CEO yang mewah itu dipecahkan oleh sang pemilik ruangan. Ardi Pradana berbalik, wajah tampannya yang selalu dingin kini mengeras saat berkata. "Itu sebabnya kalian berdua harus pergi dari sini. Sekarang juga." "Pergi?" tanya Cindy bingung menanggapi. "Publik dan dewan direksi sedang menuntut kepala seseorang sebagai pelaku. Jika kamu tetap berada di kantor, mereka akan memaksaku untuk menyerahkan kamu ke polisi demi menyelamatkan harga saham," jelas Ardi. "Jadi, saya akan dujadikan kambing hitam?""Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu tetjadi. Percayalah padaku, Cin." Ardi berhenti sejenak dan nada suaranya berubah lebih halus. "Aku sudah menyiapkan mobil. Kalian berdua akan diantar Bambang ke sebuah apartemen milikku yang tidak terdaftar atas nama Pradana Group. Di sana, Kresna akan membantu kamu melacak siapa yang sebenarnya telah meminjam identitas digitalmu." "Saya? Bekerja sama dengan dia?" Cindy menatap Kresna dengan pandangan jijik. "Dia penye

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Seorang Hacker

    "Tidak. Semua itu fitnah! Saya tidak pernah melakukan kecurangan!" Cindy mencoba membela diri. "Bukan hanya itu, Cind." sela Gery dengan suara bernada serius, jauh berbeda dengan kesehariannya yang suka menggoda Cindy.GeryI mengangkat sebuah tablet dan menunjukkan sebuah situs berita finansial. "Tadi dini hari, dokumen rincian transaksi ini bocor ke publik melalui akun tanpa nama. Dan sekarang kamu, Cindy, sedang menjadi topik utama sebagai otak di balik penggelapan dana Pradana Group.""Akibatnya eputasi perusahaan sedang dipertaruhkan di bursa saham pagi ini. Nilai saham kita turun pada pembukaan bursa saham." Cindy terngaga mendengarnga, namun kesadarannya segera pulih karena getaran ponsel di saku roknya. Dia mendapati notifikasi pesan dari grup kantor, telepon dari nomor tidak dikenal, bahkan tag di media sosial masuk bertubi-tubi. 'Ya Tuhanku, apa-apaan ini?' batij Cindy sambil melirik layar televisi di sudut ruangan yang selalu menayangkan berita bisnis kilat. Dia me

  • Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker   Awal Kehancuran

    Cindy menggerakkan jemarinya yang lentik di atas meja kerja berbahan kayu mahoni mengilap, untuk memastikan tidak ada kotoran, bahkan sebutir debu pun yang berani hinggap di sana. Bagi Cindy, meja itu adalah dunia dan tempatnya menjujukkan eksistensi diri. Sebagai sekretaris andalan dari Ardi Pradana, sang pemimpin tertinggi Pradana Group, Cindy bukan sekadar pengolah data. Ia adalah gerbang, benteng, sekaligus otak di balik efisiensi sang CEO yang melegenda. Ardi Pradana memang dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Dan di balik segala kesuksesan Ardi, ada Cindy yang bertindak di balik layar untuk mengatur segalanya. Bagi Cindy kebanggaan adalah integritas dan kepercayaan diri adalah perisai. Jam di salah satu sisi dinding sudah menunjuk pukul 07.00 pagi. Cindy berdiri tegak dengan rok pensil abu-abu dan kemeja putih yang disetrika kaku hingga sudut kerah. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan jadwal Ardi yang padat untuk hati ini hingga detik terakhir. Ia mencat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status