Share

2. Tidak Jual Diri

Author: Angsa Kecil
last update Last Updated: 2025-07-21 12:26:11

“Kita masih bisa jelaskan soal kesalah pahaman itu. Tapi untuk menikah ….?” Ellena menggeleng tak yakin.

“Menjelaskan? Mereka mau mendengarkan kebenaran? Kamu punya bukti untuk membuat mereka percaya?” Satu sudut bibir Alan terangkat tipis.

Ellena terdiam.

“Dua tahun saja. Berapa kamu minta, sebutkan saja angkanya.” Wajah pria itu tetap tanpa ekspresi.

Tangan Ellena terkepal makin kuat di bawah, dengan senyum getir pada dirinya sendiri.

Dua tahun? Bahkan kalau dia bisa hidup enam bulan lagi saja sudah luar biasa.

Dia tak mau ambil pusing dengan kekacauan itu. Toh sebentar lagi dia juga akan mati, pikirnya.

“Maaf, Pak. Saya tidak menjual diri. Dan hari ini juga akan mengundurkan diri. Nanti saya akan bantu buat klarifikasi publik.”

“Kamu pikir mereka akan percaya dengan klarifikasimu?” Alis Alan terangkat.

Ellena terdiam. Ya, cara itu hanya akan menggiring kekacauan lebih. Itu bukan solusi.

“Tapi saya tetap akan mengundurkan diri, Pak. Saya tidak bisa menerima tawaran itu. Anda bisa cari wanita lain. Permisi.” Ellena ingin cepat keluar dari ruangan itu.

Alan diam sambil merogoh ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Saat bicara dalam sambungan telepon, sorot mata dinginnya terus menatap punggung Ellena yang hilang di balik pintu.

Ellena keluar dengan langkah gontai. Cepat-cepat dia ke meja kerjanya dan mencari sesuatu di tasnya.

Ketemu. Ellena mengeluarkan beberapa butir kapsul dan pil, lalu gegas dia telan.

Lalu, dia duduk bersandar di punggung kursi dengan tatapan kosong ke depan.

Setelah sekian menit. Rasa pening itu kian pudar.

“Dia menikahiku hanya untuk pencitraan dan menutupi skandal gaynya. Dan siapa yang mau menikah dengan pria dingin tak berperasaan sepertinya? Enam bulan jadi sekretarisnya sudah membuatku hampir gila, apalagi jadi istrinya."

Gegas Ellena beranjak dan ingin ke HRD.

Akan tetapi, baru dua langkah dari meja, ponselnya berdering dan langsung diangkat.

“Dengan saudari Ellena? Kami dari kepolisian. Ayah Anda baru saja kami tangkap atas kasus penipuan miliaran rupiah. Dan korban sedang menunggu Anda untuk mediasi. Jika sampai sore nanti tidak ada kejelasan, kami akan langsung memprosesnya ke tahanan pusat.”

Deg!

Lutut Ellena terasa lunglai. Dadanya bak diremas. Bagaimana dia akan mendapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat?

Lagi. Pesan masuk dari ibunya. Sebuah gambar ibunya sedang mencoba gantung diri.

[Kalau kamu tidak menyelamatkan Papamu, lebih baik Mama mati. Dasar anak nggak ada gunanya.]

Dada Ellena makin sesak. Kenapa orang tuanya selalu tega seperti itu padanya? Tak membuatnya menderita.

“Tawaran masih berlaku.” Alan berdiri di belakang Ellena.

Cepat Ellena menoleh dan menatap wajah pria dingin itu lekat-lekat. ‘Sejak kapan Pak Alan ada di sana dan apa dia dengar semuanya?’ batinnya.

Lalu, wanita itu menarik napas dalam-dalam sambil mengatupkan mata.

Ellena memang tak punya jalan lain saat ini. Lagi pula, hidupnya tak lama lagi. Bukan dua tahun, tapi mungkin hanya dua bulan jadi istri Alan, menurutnya.

“Dua tahun? Baiklah. Hanya dua tahun saja. Tapi saya punya sarat, Pak.” Dia menatap manik mata laki-laki itu.

“Katakan!” Ada sedikit perubahan di raut wajah Alan, hanya saja tak ada yang menyadarinya.

Alan mengerutkan dahinya saat Ellena dengan percaya dirinya membuat permintaan kalau Alan harus membuat sekat dan dilarang melewati batas soal sentuhan fisik.

“Dengar. Dalam hidupku, tidak ada yang namanya wanita dan tidak akan ada yang namanya cinta. Dan semua yang kamu katakan itu tidak akan terjadi!” Wajah Alan sedikit merah geram.

Ellena menghembus napas panjang. “Bagus kalau begitu. Saya juga paham kalau Anda memang tidak menyukai wanita.”

'Tidak menyukai wanita?' Mata Alan sontak menegang. Dia tak terima, tapi juga tak peduli dengan penilaian orang lain.

Pria itu mengusap wajahnya mencoba mengurangi tekanan emosi.

Lalu, Alan menarik napas dalam sambil menatap penampilan Ellena. Ada yang harus dilakukan agar sempurna.

“Ikuti aku!” Alan membawa wanita itu kembali masuk ruangannya.

Ellena mengekor tanpa curiga sedikit pun.

Begitu sampai di dalam.

“Masuk ke sana dan lepas bajumu!” Sorot mata Alan menatap sliding door di sebelah rak buku.

Sontak saja mata Ellena membelalak tajam dengan tangan menyilang di depan. “Maaf, Pak. Saya tidak menerima double job. Dan menyetujui pernikahan bukan berarti harus mau dibawa masuk ke kamar istirahat Anda.”

Jelas Alan langsung menaikkan satu sudut bibirnya dan mendecih. “Buang otak kotormu! Aku menyuruhmu ganti baju agar karyawan lain tidak curiga saat pakai cocoklogi, antara bajumu ini dan baju wanita di vidio siaran langsung.”

Pelan Ellena menurunkan tangannya dengan senyum kaku. Ya, meski wajahnya tak nampak, tapi baju itu diketahui banyak rekan kerjanya dan harus diganti.

“Soal tim kameramen, jika ada yang berani buka mulut, mereka akan dibuat diam selamanya oleh kakekku.”

Ellena merinding. Semenakutkan itukah keluarga yang akan dia masuki nanti? Bahkan yang melihat langsung kejadian itu, jadi kutukan buruk seumur hidupnya.

“Ehem! Bajunya … saya harus ganti pakai baju–”

“Bajuku. Yang penting jangan baju itu. Terserah kamu mau pakai seperti apa, di dalam ada kemeja dan setelan jas.” Alan berkata tanpa ekspresi dan bak tanpa dosa.

Wanita itu menelan ludahnya dengan hembusan napas lirih. Kalau tidak sedang ada di kantor ditambah insiden itu, rasanya sangat ingin meremas muka bosnya itu.

Ellena masuk bilik istirahat Alan yang merupakan kamar minimalis dengan fasilitas cukup memadai.

Setelah sekian saat.

“Seperti ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   9. Sakit Jiwa

    “Nyonya Adhinata, bisa mengganggu waktu Anda sebentar?”Joanna sontak menoleh dan menyunggingkan senyum lebar nan ramah. Sungguh dia tak percaya kalau benar-benar dianggap istrinya Alan yang pernikahannya dirahasiakan itu.“Ehmm, boleh.” Joanna menanggapi para karyawan yang hendak menjilat itu.Beberapa merapat.“Boleh kami mengenal lebih jauh dengan Anda?”“Ehm, Anda seperti asing dan tak pernah muncul di sekitar Pak Alan. Tapi malam ini malah membuat kejutan besar. erja tanggapan Anda soal vidio yang diputar tadi dan kenapa Anda yang cantik dan anggun ini harus menyembunyikan diri?”Joanna tersenyum dengan tawa lirih. Dia masih menampung pertanyaan.“Apa kami boleh tahu Anda bekerja di mana?”“Nyonya bos. Apa Anda tahu kalau sektretaris penggoda itu berbahaya kalau masih terus bekerja di sisi pak Alan? Bagaimana kalau Anda menggunakan kekuasaan Anda untuk memecatnya.”“Oh, benar. Setuju. Kami juga sudah muak dengan Ellena. Pecat saja dia!!”Sekian banyak pertanyaan, Joanna tentu saj

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   8. Demi Kamu

    “Maafkan aku, Alan. Maaf baru bisa kembali. Aku tahu kamu kecewa, marah, dan akan menolakku, tapi aku tetap harus menemuimu dan bilang kalau Papa baru saja membebaskanku.” Suaranya melirih, seperti memelas.Alan hanya mengatup matanya dan membuang napas. Mungkin, kalau tidak sedang di tengah pesta, dia akan merespon berbeda.Joanna–wanita itu hendak memegang tangan Alan. “Aku–”Alan menatap tajam dan langsung menepis tanpa kata. Lalu, memalingkan tatapannya pada arah pintu yang di mana punggung Ellena baru saja menghilang.Dadanya bergemuruh tak karuan, menahan gejolak rasa sakit yang dia pendam bertahun-tahun. Sampai dia tak punya kata-kata untuk wanita itu saat kembali.Joanna mengambil napas dalam. Wajahnya tampak lesu, ternyata Alan benar-benar marah padanya. “Aku berusaha keras mencetak prestasi hingga sekarang ini jadi Direktur hotel mewah. Demi apa? Demi agar aku bisa bebas dari aturan Papa dan bebas menemuimu, membahas tetang kita yang … belum berakhir.”Satu sudut bibir Alan

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   7. Istri CEO Datang

    Gejolak emosi dan rasa miris makin meluap, hingga dada Ellena seakan tak sanggup lagi menahan buncahan rasa dihina itu. Sorot matanya tajam dan kosong, dua tangannya gemetar dan terkepal kuat. Tatapan kosong itu makin tajam … sangat tajam …. Lalu, Ellena mengangkat dagu dan melangkah anggun penuh percaya diri ke tengah ruang ballroom itu. Matanya nanar menatap semua tamu undangan, terlebih pada keluarga Alan dan semua yang menghinanya. “Aku, istri sah Alan Adhinata!” lantangnya dengan mata berkaca-kaca. Semua terdiam seketika. Sungguh, rasanya sangat puas bisa melantangkan kata-kata itu. Rasa sesak di dadanya kian berkurang. Tak ada yang percaya dengan apa yang dia katakan. “Orang gila! Kamu sudah merusak kesenangan pesta ini, Ellen!” teriak wanita dengan makeup tebal-hanya seorang manager yang selalu berseteru dengannya. “Jangan karena vidio itu, kamu jadi membuat pengakuan gila, kalau kamulah istrinya Pak Alan.” “Jangan buat omong kosong, Ellen. Cepat pergi, jang

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   6. Vidio Sepuluh Detik

    “Jangan!”Yang lain langsung melotot dengan senyum lebar saat melihat ada obat yang berceceran. “Lihat! Dia penyakitan! Ha ha ha ha ha ha ….”“Biar cepat mati, kita hancurkan obatnya!”“Ha ha ha ha ha! Ayo hancurkan!” Salah satunya mulai menginjak-injak obat itu.Yang lainnya dengan senang hati ikut menghancurkan obat-obatan itu.“Jangan!” teriak Ellena, mencoba melepaskan diri dan ingin menyelamatkan obat-obatannya. Akan tetapi, mereka terus menginjak sambil tertawa puas, hingga tak tersisa.“Lepaskan dia!”BrukkkEllena dihempas begitu saja di lantai. Salah satu dari mereka berjongkok di sisi Ellena. “Berani mengadu, hidupmu akan hancur!”Mereka pergi begitu saja. Ellena tersenyum miris akan nasibnya. Lalu, dia memungut obatnya yang sudah tak tersisa lagi. Hah …. Dia meremas dadanya kuat. Rasanya begitu nyeri dan menyakitkan bertahan hidup selama ini. Dia enggan menangis, karena buat apa?Cepat-cepat dia membenarkan penampilannya dan kembali ke kursi kerja.Baru saja duduk. S

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   5. Tumor Ganas

    “Sesuai hasil pemeriksaan MRI dan biopsi, memang ada tumor ganas di otak Anda. Tipe pertumbuhannya sangat agresif, dan terletak di posisi yang rumit.”Deg! Ellena terpaku dengan tangan gemetar. Dia berkedip-kedip menahan air matanya. Dua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Padahal sejak kemarin sudah tahu, tapi tetap saja rasanya menyakitkan."Apa masih bisa disembuhkan?" Mata itu berkaca-kaca, tapi bibirnya membuat simpul senyum menahan nyeri.“Tumor ini sifatnya ganas, sel-selnya cepat menyebar, dan menekan jaringan di sekitarnya. Sebagai dokter, saya hanya bisa melakukan yang terbaik.” Wajah dokter itu seperti berat.“Kalau saya menolak rangkaian pengobatan, berapa lama lagi bisa bertahan, Dok?” tanya Ellena lirih. Tangan wanita itu meremas kuat dan gemetar saat mendengar apa yang dokter katakan. Entah kenapa, dia tak punya semangat untuk hidup lebih lama lagi, jadi enggan melakukan operasi atau lainnya.“Seperti yang dikatakan dokter sebelumnya. Kemungkinan bertahan hanya

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   4. Sensasi Lain

    Wanita itu mundur pelan seiring langkah Alan yang terus mendekat. Dia berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya, gugup dan gelisah bercampur jadi tak karuan. Sungguhkah Alan akan melakukannya?Napas wanita itu makin pendek-pendek. “Alan, Pernikahan kita ini cuma mutualisme, jadi nggak ada yang namanya malam pertama. Dan jangan lupa kalau aku ini seorang wanita. Bukan pria seperti seleramu.”Astaga, Ellena makin membuat Alan meradang. Pria itu tak menjawab lagi, kakinya terus melangkah makin dekat.Dua langkah lagi …. Deru napas Alan bahkan bisa terdengar samar di telinga Ellena, memuat bulu halus wanita itu pun merinding. “Akhh!” Hingga akhirnya Ellena terpojok pada sofa panjang di sisi ruang. Tak bisa mundur lagi.Kini, Alan sudah ada tepat di depannya. Aroma maskulin menyeruak membuat Ellena gemetar. Enam bulan dia ada di sekitar Alan, tapi belum pernah sedekat ini.Pria itu mencondongkan wajahnya. “Malam pertama? Sepertinya menarik, apalagi dengan yang BUKAN PRIA d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status