Share

4. Sensasi Lain

Author: Angsa Kecil
last update Last Updated: 2025-07-21 12:28:00

Wanita itu mundur pelan seiring langkah Alan yang terus mendekat. Dia berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya, gugup dan gelisah bercampur jadi tak karuan. Sungguhkah Alan akan melakukannya?

Napas wanita itu makin pendek-pendek. “Alan, Pernikahan kita ini cuma mutualisme, jadi nggak ada yang namanya malam pertama. Dan jangan lupa kalau aku ini seorang wanita. Bukan pria seperti seleramu.”

Astaga, Ellena makin membuat Alan meradang. Pria itu tak menjawab lagi, kakinya terus melangkah makin dekat.

Dua langkah lagi …. Deru napas Alan bahkan bisa terdengar samar di telinga Ellena, memuat bulu halus wanita itu pun merinding.

“Akhh!” Hingga akhirnya Ellena terpojok pada sofa panjang di sisi ruang. Tak bisa mundur lagi.

Kini, Alan sudah ada tepat di depannya. Aroma maskulin menyeruak membuat Ellena gemetar. Enam bulan dia ada di sekitar Alan, tapi belum pernah sedekat ini.

Pria itu mencondongkan wajahnya. “Malam pertama? Sepertinya menarik, apalagi dengan yang BUKAN PRIA dan bukan seleraku.”

Deg! Ellena terduduk di sofa itu, dia mendongak menatap wajah Alan yang kini hanya sekian senti saja dari wajahnya.

Tak bisa berkata apa-apa lagi, bibir Ellena terbuka, tapi rangkaian kata telah menguap.

Alan makin mendekatkan wajahnya. “Bukannya kamu bilang aku ini penyuka sesama batang? …. Dan tidak suka wanita cantik? Bagaimana kalau aku coba sensasi lain malam ini?” Suara pria itu rendah ditekan.

Dadanya bergetar. “Ehm … bu-bukan seperti itu ….” Wajah Ellena sudah memerah gugup.

Akh, bagaimana ini? Alan dengan percaya dirinya makin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir menyentuh.

Ellena memejamkan matanya kuat-kuat dan pasrah. Dua tangannya yang gemetar telah mencengkram sisi sofa.

Sedang Alan tersenyum dalam hati melihat ekspresi wajah wanita yang biasanya keras kepala itu.

Jantung Ellena hampir lepas, cengkramannya makin kuat saat dia merasakan hembusan napas Alan menerpa lehernya.

Wajah Alan kini tepat ada di sebelah telinga Ellena. “Nggak mau tidur di ranjangku? Kamu bisa di sofa atau di lantai. Terserah!” ketusnya.

Lalu, pria itu menarik wajahnya dan berdiri tegak. Tanpa kata lagi dia naik ke ranjang.

Sedang Ellena sontak membuka matanya. Dia makin tegang dengan wajah merah karena malu. ‘Apa dia bilang?’ batinnya.

Dia melihat Alan yang tanpa dosa malah berbaring dan menarik selimut. Tanpa kata lagi, Ellena cepat membenamkan diri pada sofa panjang membelakangi Alan.

‘Ahhh, dia memang gila. Pasti sedang menertawakanku sekarang,’ jerit batin wanita itu.

‘Memang benar, dia itu manusia tanpa perasaan. Yang dipikirkan cuma dirinya sendiri dan senang menindas orang. Akh, kenapa aku sampai berpikir kalau libidonya naik gara-gara sekamar denganku. Hish, bodoh kamu Ellena, bodoh …. Memalukan …,’ gerutu Ellena dalam hati.

Ya, yang dikatakan Ellena bisa dikatakan benar. Pria satu ini memang seperti sudah mati rasa. Cinta, ketertarikan, bahkan hasratnya pada wanita seakan sudah mati. Semenjak kejadian saat itu.

‘Wanita bodoh. Siapa yang akan tertarik padanya. Tidak akan ada yang namanya wanita atau cinta, masuk dalam hati dan perhitungan hidupku,’ batin Alan.

Alan benar-benar merasa biasa saja. Tidak ada getaran di dadanya. Dia memejamkan mata dan berharap bisa keluar dari kesadarannya.

Terlelap. Tiap malam, itu sulit baginya. Jika pun bisa terlelap, hanya akan muncul mimpi buruk yang menyiksanya.

Detik berdetak di tengah kesunyian. Malam itu terasa sangat panjang.

Ellena tidak bisa lepas dari kesadarannya. Jelas karena belum pernah berada satu kamar dengan pria lain, apalagi setelah kejadian tadi.

Berbeda dengan Alan. Ada fenomena aneh yang datang malam itu. Cahaya gelap yang setiap malam membelenggunya, tiba-tiba memudar.

‘Dia tidur? Gila!’ umpat Ellena dalam batin.

Hingga, pagi harinya.

Ellena yang baru bisa terlelap sekian puluh menit, terjatuh dari sofa.

Brukk!

“Auwhhh!” pekik Ellena.

Dia bangkit dan merasa kepalanya sangat pening.

“Darah?” Ellena mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Cepat-cepat dia ke kamar mandi tanpa menoleh ke sisi ranjang.

Hal seperti itu sudah dia alami berkali-kali. Hingga kemarin, dia mencoba ke rumah sakit untuk tahu kondisinya yang sebenarnya.

Hasilnya? Entah itu kabar baik atau kabar buruk baginya. Karena selama ini hidupnya tak ada terpaan bahagia, dan mungkin kematian bisa dikatakan cara instan dalam mengakhiri penderitaannya.

Sekian putaran waktu.

Bunyi deringan ponsel telah membangunkan pria itu.

“Hah!” Alan langsung beranjak duduk dengan mata tegang. Dia menatap arah jendela, di mana matahari sudah naik. Dahinya berkerut. “Aku bisa tidur?”

Pria itu sedang mencoba memahami situasi dan mengingat soal semalam. Kapan dia tertidur dan seperti apa prosesnya.

Sungguh itu fenomena langka dalam hidupnya selama ini. Kalau sangat lelah, dia harus minum obat tidur dosis tinggi agar bisa tidur.

Dia tidak bisa dia ingat sepenuhnya. Namun, Alan masih ingat kalau sekitar jam 10 malam masih bermain-main dengan Ellena, lalu agak lama dia terjaga dan setelah itu ….

“Aku akan sedikit terlambat ke kantor, ada sedikit urusan.”

Tatapan Alan kini tajam pada wanita di depannya. Otaknya sedang berpikir keras dan merangkai banyak tanya.

Ellena yang sudah memakai pakaian office mendekat pada Alan. Dia cepat memalingkan wajahnya, tak mau menatap sorot mata Alan karena ingat soal kejadian semalam. Rasa kesalnya masih tersisa.

“Aku berangkat.”

Alan tak menjawab. Dia hanya menatap Ellena yang tampak buru-buru.

Ellena juga tak peduli dengan wajah dingin yang sudah jadi makanan sehari-harinya itu. Dia berbalik tanpa menunggu jawaban, dan ingin cepat pergi ke rumah sakit.

Alan memang dijadwalkan tidak masuk ke kantor 2 hari karena pernikahannya, tapi untuk Ellena?

Ellena harus tetap masuk untuk membuat ketegasan persepsi karyawan dan publik, kalau dia bukanlah mempelai wanita. Dia tetap harus masuk kerja, tapi khusus hari ini Alan sudah mengatur kalau Ellena ada pekerjaan di luar dan masuk ke kantor siang hari.

Sepeninggal Ellena. Alan menghubungi Eric.

“Buatkan aku jadwal dengan psikolog biasanya hari ini.”

Alan langsung mematikan sambungan teleponnya. Lalu, memegang kuat ponselnya. Dia harus tahu bagaimana bisa tidur tadi malam, tanpa obat tidur.

Sedang Ellena telah sampai di rumah sakit.

“Atas nama Ellena Majla. Anda dialihkan pada dokter Januar dan untuk pemeriksaan selanjutnya, karena dokter yang menangani Anda sebelumnya sudah dimutasi. Bagaimana?”

Ellena mengangguk untuk konfirmasi.

Sesuai yang direncanakan, Ellena pergi menemui dokter baru yang diatur untuknya.

“Sesuai hasil pemeriksaan MRI dan biopsi, memang ada tumor ganas di otak Anda. Tipe pertumbuhannya sangat agresif, dan terletak di posisi yang rumit.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   9. Sakit Jiwa

    “Nyonya Adhinata, bisa mengganggu waktu Anda sebentar?”Joanna sontak menoleh dan menyunggingkan senyum lebar nan ramah. Sungguh dia tak percaya kalau benar-benar dianggap istrinya Alan yang pernikahannya dirahasiakan itu.“Ehmm, boleh.” Joanna menanggapi para karyawan yang hendak menjilat itu.Beberapa merapat.“Boleh kami mengenal lebih jauh dengan Anda?”“Ehm, Anda seperti asing dan tak pernah muncul di sekitar Pak Alan. Tapi malam ini malah membuat kejutan besar. erja tanggapan Anda soal vidio yang diputar tadi dan kenapa Anda yang cantik dan anggun ini harus menyembunyikan diri?”Joanna tersenyum dengan tawa lirih. Dia masih menampung pertanyaan.“Apa kami boleh tahu Anda bekerja di mana?”“Nyonya bos. Apa Anda tahu kalau sektretaris penggoda itu berbahaya kalau masih terus bekerja di sisi pak Alan? Bagaimana kalau Anda menggunakan kekuasaan Anda untuk memecatnya.”“Oh, benar. Setuju. Kami juga sudah muak dengan Ellena. Pecat saja dia!!”Sekian banyak pertanyaan, Joanna tentu saj

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   8. Demi Kamu

    “Maafkan aku, Alan. Maaf baru bisa kembali. Aku tahu kamu kecewa, marah, dan akan menolakku, tapi aku tetap harus menemuimu dan bilang kalau Papa baru saja membebaskanku.” Suaranya melirih, seperti memelas.Alan hanya mengatup matanya dan membuang napas. Mungkin, kalau tidak sedang di tengah pesta, dia akan merespon berbeda.Joanna–wanita itu hendak memegang tangan Alan. “Aku–”Alan menatap tajam dan langsung menepis tanpa kata. Lalu, memalingkan tatapannya pada arah pintu yang di mana punggung Ellena baru saja menghilang.Dadanya bergemuruh tak karuan, menahan gejolak rasa sakit yang dia pendam bertahun-tahun. Sampai dia tak punya kata-kata untuk wanita itu saat kembali.Joanna mengambil napas dalam. Wajahnya tampak lesu, ternyata Alan benar-benar marah padanya. “Aku berusaha keras mencetak prestasi hingga sekarang ini jadi Direktur hotel mewah. Demi apa? Demi agar aku bisa bebas dari aturan Papa dan bebas menemuimu, membahas tetang kita yang … belum berakhir.”Satu sudut bibir Alan

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   7. Istri CEO Datang

    Gejolak emosi dan rasa miris makin meluap, hingga dada Ellena seakan tak sanggup lagi menahan buncahan rasa dihina itu. Sorot matanya tajam dan kosong, dua tangannya gemetar dan terkepal kuat. Tatapan kosong itu makin tajam … sangat tajam …. Lalu, Ellena mengangkat dagu dan melangkah anggun penuh percaya diri ke tengah ruang ballroom itu. Matanya nanar menatap semua tamu undangan, terlebih pada keluarga Alan dan semua yang menghinanya. “Aku, istri sah Alan Adhinata!” lantangnya dengan mata berkaca-kaca. Semua terdiam seketika. Sungguh, rasanya sangat puas bisa melantangkan kata-kata itu. Rasa sesak di dadanya kian berkurang. Tak ada yang percaya dengan apa yang dia katakan. “Orang gila! Kamu sudah merusak kesenangan pesta ini, Ellen!” teriak wanita dengan makeup tebal-hanya seorang manager yang selalu berseteru dengannya. “Jangan karena vidio itu, kamu jadi membuat pengakuan gila, kalau kamulah istrinya Pak Alan.” “Jangan buat omong kosong, Ellen. Cepat pergi, jang

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   6. Vidio Sepuluh Detik

    “Jangan!”Yang lain langsung melotot dengan senyum lebar saat melihat ada obat yang berceceran. “Lihat! Dia penyakitan! Ha ha ha ha ha ha ….”“Biar cepat mati, kita hancurkan obatnya!”“Ha ha ha ha ha! Ayo hancurkan!” Salah satunya mulai menginjak-injak obat itu.Yang lainnya dengan senang hati ikut menghancurkan obat-obatan itu.“Jangan!” teriak Ellena, mencoba melepaskan diri dan ingin menyelamatkan obat-obatannya. Akan tetapi, mereka terus menginjak sambil tertawa puas, hingga tak tersisa.“Lepaskan dia!”BrukkkEllena dihempas begitu saja di lantai. Salah satu dari mereka berjongkok di sisi Ellena. “Berani mengadu, hidupmu akan hancur!”Mereka pergi begitu saja. Ellena tersenyum miris akan nasibnya. Lalu, dia memungut obatnya yang sudah tak tersisa lagi. Hah …. Dia meremas dadanya kuat. Rasanya begitu nyeri dan menyakitkan bertahan hidup selama ini. Dia enggan menangis, karena buat apa?Cepat-cepat dia membenarkan penampilannya dan kembali ke kursi kerja.Baru saja duduk. S

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   5. Tumor Ganas

    “Sesuai hasil pemeriksaan MRI dan biopsi, memang ada tumor ganas di otak Anda. Tipe pertumbuhannya sangat agresif, dan terletak di posisi yang rumit.”Deg! Ellena terpaku dengan tangan gemetar. Dia berkedip-kedip menahan air matanya. Dua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Padahal sejak kemarin sudah tahu, tapi tetap saja rasanya menyakitkan."Apa masih bisa disembuhkan?" Mata itu berkaca-kaca, tapi bibirnya membuat simpul senyum menahan nyeri.“Tumor ini sifatnya ganas, sel-selnya cepat menyebar, dan menekan jaringan di sekitarnya. Sebagai dokter, saya hanya bisa melakukan yang terbaik.” Wajah dokter itu seperti berat.“Kalau saya menolak rangkaian pengobatan, berapa lama lagi bisa bertahan, Dok?” tanya Ellena lirih. Tangan wanita itu meremas kuat dan gemetar saat mendengar apa yang dokter katakan. Entah kenapa, dia tak punya semangat untuk hidup lebih lama lagi, jadi enggan melakukan operasi atau lainnya.“Seperti yang dikatakan dokter sebelumnya. Kemungkinan bertahan hanya

  • Sekretaris Terhina itu Istri sang Pewaris   4. Sensasi Lain

    Wanita itu mundur pelan seiring langkah Alan yang terus mendekat. Dia berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya, gugup dan gelisah bercampur jadi tak karuan. Sungguhkah Alan akan melakukannya?Napas wanita itu makin pendek-pendek. “Alan, Pernikahan kita ini cuma mutualisme, jadi nggak ada yang namanya malam pertama. Dan jangan lupa kalau aku ini seorang wanita. Bukan pria seperti seleramu.”Astaga, Ellena makin membuat Alan meradang. Pria itu tak menjawab lagi, kakinya terus melangkah makin dekat.Dua langkah lagi …. Deru napas Alan bahkan bisa terdengar samar di telinga Ellena, memuat bulu halus wanita itu pun merinding. “Akhh!” Hingga akhirnya Ellena terpojok pada sofa panjang di sisi ruang. Tak bisa mundur lagi.Kini, Alan sudah ada tepat di depannya. Aroma maskulin menyeruak membuat Ellena gemetar. Enam bulan dia ada di sekitar Alan, tapi belum pernah sedekat ini.Pria itu mencondongkan wajahnya. “Malam pertama? Sepertinya menarik, apalagi dengan yang BUKAN PRIA d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status