LOGINMata Alan menegang, ada laju ludah pelan di tenggorokannya.
Ellena keluar dengan kemeja putih milik CEO-nya yang dikancingkan tinggi hingga menutupi leher. Sementara lengan kemeja panjang itu digulung rapi hingga ke siku. Dasi hitam Alan dijadikan sabuk untuk mengecilkan bagian pinggang. Lalu, jas kedodoran milik Alan hanya disampirkan di bahu dengan gaya elegan, membuat penampilannya tampak berkelas. Soal celana, warna hitam akan tampak netral dari kecurigaan. Alan terpaku sekian detik. Sekretarisnya itu memang selalu membuat kejutan untuknya. Selama ini, tidak ada yang kuat bertahan jadi sekretarisnya lebih dari 3 bulan. Hanya Ellena, wanita yang selalu berpenampilan sederhana, make-up natural dan tak punya tujuan lain, yang bisa bertahan. Oh, ada lagi. Wanita itu juga cerdas dan cekatan, Alan suka kinerjanya. “Ehem! Lumayan. Kalau begitu, jaga sikapmu di depan kakek.” Tangan Alan menyambar lengan Ellena. Dia harus menyelesaikan kekacauan ini sebelum kakeknya membuat ancaman mematikan. Alan benar-benar membawa Ellena ke depan kakeknya. Dia tak mau apa yang sejak dulu dia bangun, hilang begitu saja. “Dia sudah kubawa, dan sudah kuputuskan kalau aku akan menikahinya. Tidak ada yang boleh protes soal urusan asmara dan pernikahanku. Cepat Kakek Katakan apa maumu.” “Dia bisa kamu bawa masuk ke pintu rumah ini, tapi untuk masuk dalam keluarga Adhinata, …. apa kamu mau menghina keluarga ini? Wanita seperti dia tak pantas jadi menantu Adhinata.” “Kalau begitu akan kubuat dia pantas jadi istriku.” Tatapan Alan tajam menahan gemuruh emosi pada sang kakek. Ellena menelan ludah. Alan membelanya. Jika saja itu bukan karena tujuan untuk mutualisme, dia pasti sudah terharu. Lalu, kakek Adhinata memberi beberapa sarat kalau Alan memang mau menikahi wanita itu. [Tidak boleh mempublikasikan diri apapun yang terjadi. Tidak boleh menuntut cerai sebelum 2 tahun. Menjaga nama baik keluarga Adhinata. Hal-hal lainnya, Alan yang akan mengatur. Jika Ellena melanggar, akan dikenakan denda 10 miliar dan proses hukum.] Sang kakek menurunkan kacamatanya dan memicing tajam Ellena. “Kamu paham ‘kan sarat jadi nyonya Adhinata?” Ellena mengangguk kecil dengan senyum miris. “Ya, Tuan besar Adhinata.” Dia tidak berpikir panjang karena dalam pikirannya, hidupnya tidak akan lama lagi. Lalu, selang beberapa hari, berita pernikahan Alan menjadi tranding topik. Tidak hanya menutup masalah siaran langsung itu, tapi juga menutup skandal gay-nya. Tak ada pesta mewah. Identitas istri Alan disembunyikan. Wajah Ellena pun di-blur di media sosial. Akan tetapi, Ellena tak peduli. Yang terpenting baginya, sang ayah benar-benar dikeluarkan dari penjara, ibunya tak jadi bunuh diri. Lalu, diberi uang tutup mulut yang lumayan besar agar mau menyembunyikan soal pernikahan itu. Uang memang jadi masalah utama keluarga Ellena selama ini. Jadi, asal ada banyak uang, kedua orang tuanya pasti mau melakukan apa pun. Hal itu yang jadi siksaan terberat hidup Ellena selama ini. “Akhirnya kamu berguna juga, Ellena. Ingat, setelah jadi istri istri Alan. Kamu harus transfer tiga kali lipat dari biasanya, atau kamu tahu akibatnya.” Ibunya tertawa kegirangan karena akan ada sumber uang yang lebih besar. “Akhirnya kita punya modal judi lagi. Besok, uang ini akan jadi sepuluh kali lipat! Ha ha ha ha ha …..” Ayah Ellena menatap binar lembaran cek itu. “Jangan lupa pakai tubuhmu untuk mendapatkan banyak harta dari Alan! Ingat, kamu masih punya banyak hutang budi sama kami!” bentak Ibunya dengan mata melotot. Ellena mengatup matanya kuat-kuat. Itu yang dikatakan dua orang tuanya setelah dia menikah. Tak ada ucapan terima kasih, apalagi tanya soal kebahagiaannya. Mereka menganggap Ellena sumber uang yang bisa terus-terusan diperah. Yang lebih miris lagi, setelah pernikahannya. Ada pernyataan tegas pada media kalau keluarga Adhinata hanya akan menerima menantu dari keluarga sepadan, dan meminta publik untuk bijak dalam berpikir. Jadi, para karyawan perusahaan dan publik mengira, kalau pengantin wanitanya bukan Ellena yang hanya anak orang miskin. Pasca pernikahan, Ellena diharuskan tinggal di rumah Alan. Itu termasuk dalam aturan. Kini, Ellena berada di kamar Alan. Matanya menegang saat membaca kertas di tangannya. [Tidur satu kamar, satu ranjang. Menyiapkan segala keperluan suami. Bersikap layaknya suami istri saat di depan keluarga Adhinata saja. Dan harus seperti pasangan romantis.] “Se-semua ini? Tunggu! Saya itu bisa dikatakan korban, Pak. Kenapa malah diikat dengan aturan seperti ini?” Dia tak habis pikir. Sedang Alan berdiri dengan dua tangan masuk saku. Seperti biasa, wajahnya tanpa ekspresi dan tak peduli dengan reaksi orang di depannya. “Korban? Kamu punya bukti kalau benar-benar korban? Bukannya kamu sendiri yang sengaja naik ke pangkuanku?” Ellena terdiam, dia pun tak tahu siapa yang mendorongnya waktu itu. Ah, sudahlah. Dia tak mau lebih pusing lagi. “Jangan ceroboh lagi. Panggil aku suami atau namaku. Jangan pakai saya, Anda lagi!” “Saya … ehm, aku keberatan dengan poin ini, Alan.” Ellena menunjuk poin yang sangat merugikan menurutnya. “Kita suami istri, kenapa nggak boleh tidur satu ranjang?” Alis Alan terangkat dengan senyum heran. Ellena membuang napasnya. “Meski aku tahu kalau kamu ini penyuka sesama batang dan tidak bernafsu dengan wanita secantik apa pun, aku tetap menolak.” Alan diam dengan mata lebar tajam dan rahang mengeras. Bukan penolakan itu yang membuatnya kesal, tapi lagi-lagi Ellena menegaskan pemikiran kalau dia itu penyuka sesama jenis Sungguh itu melukai harga dirinya. Lalu, sebuah ide dari luapan rasa jengkel, terbesit di benaknya. Perasaan Ellena mendadak tak enak. “Kamu … kamu mau apa? Jangan mendekat!” Mata Ellena membeliak tegang dengan degup jantung tak karuan. Seringaian tipis muncul di bibir Alan. Sorot matanya tajam dengan aura dominasinya. Pelan pria itu mengikis jarak pada Ellena. “Masih tanya aku mau apa? Bukannya kamu nggak mau tidur di ranjang bersamaku?” “Alan, jangan main-main. Sudah kukatakan sejak awal kalau nggak akan ada kontak fisik berlebihan di antara kita.” Dada Ellena bergetar, jantungnya berdegup cepat, napasnya pendek-pendek.“Nyonya Adhinata, bisa mengganggu waktu Anda sebentar?”Joanna sontak menoleh dan menyunggingkan senyum lebar nan ramah. Sungguh dia tak percaya kalau benar-benar dianggap istrinya Alan yang pernikahannya dirahasiakan itu.“Ehmm, boleh.” Joanna menanggapi para karyawan yang hendak menjilat itu.Beberapa merapat.“Boleh kami mengenal lebih jauh dengan Anda?”“Ehm, Anda seperti asing dan tak pernah muncul di sekitar Pak Alan. Tapi malam ini malah membuat kejutan besar. erja tanggapan Anda soal vidio yang diputar tadi dan kenapa Anda yang cantik dan anggun ini harus menyembunyikan diri?”Joanna tersenyum dengan tawa lirih. Dia masih menampung pertanyaan.“Apa kami boleh tahu Anda bekerja di mana?”“Nyonya bos. Apa Anda tahu kalau sektretaris penggoda itu berbahaya kalau masih terus bekerja di sisi pak Alan? Bagaimana kalau Anda menggunakan kekuasaan Anda untuk memecatnya.”“Oh, benar. Setuju. Kami juga sudah muak dengan Ellena. Pecat saja dia!!”Sekian banyak pertanyaan, Joanna tentu saj
“Maafkan aku, Alan. Maaf baru bisa kembali. Aku tahu kamu kecewa, marah, dan akan menolakku, tapi aku tetap harus menemuimu dan bilang kalau Papa baru saja membebaskanku.” Suaranya melirih, seperti memelas.Alan hanya mengatup matanya dan membuang napas. Mungkin, kalau tidak sedang di tengah pesta, dia akan merespon berbeda.Joanna–wanita itu hendak memegang tangan Alan. “Aku–”Alan menatap tajam dan langsung menepis tanpa kata. Lalu, memalingkan tatapannya pada arah pintu yang di mana punggung Ellena baru saja menghilang.Dadanya bergemuruh tak karuan, menahan gejolak rasa sakit yang dia pendam bertahun-tahun. Sampai dia tak punya kata-kata untuk wanita itu saat kembali.Joanna mengambil napas dalam. Wajahnya tampak lesu, ternyata Alan benar-benar marah padanya. “Aku berusaha keras mencetak prestasi hingga sekarang ini jadi Direktur hotel mewah. Demi apa? Demi agar aku bisa bebas dari aturan Papa dan bebas menemuimu, membahas tetang kita yang … belum berakhir.”Satu sudut bibir Alan
Gejolak emosi dan rasa miris makin meluap, hingga dada Ellena seakan tak sanggup lagi menahan buncahan rasa dihina itu. Sorot matanya tajam dan kosong, dua tangannya gemetar dan terkepal kuat. Tatapan kosong itu makin tajam … sangat tajam …. Lalu, Ellena mengangkat dagu dan melangkah anggun penuh percaya diri ke tengah ruang ballroom itu. Matanya nanar menatap semua tamu undangan, terlebih pada keluarga Alan dan semua yang menghinanya. “Aku, istri sah Alan Adhinata!” lantangnya dengan mata berkaca-kaca. Semua terdiam seketika. Sungguh, rasanya sangat puas bisa melantangkan kata-kata itu. Rasa sesak di dadanya kian berkurang. Tak ada yang percaya dengan apa yang dia katakan. “Orang gila! Kamu sudah merusak kesenangan pesta ini, Ellen!” teriak wanita dengan makeup tebal-hanya seorang manager yang selalu berseteru dengannya. “Jangan karena vidio itu, kamu jadi membuat pengakuan gila, kalau kamulah istrinya Pak Alan.” “Jangan buat omong kosong, Ellen. Cepat pergi, jang
“Jangan!”Yang lain langsung melotot dengan senyum lebar saat melihat ada obat yang berceceran. “Lihat! Dia penyakitan! Ha ha ha ha ha ha ….”“Biar cepat mati, kita hancurkan obatnya!”“Ha ha ha ha ha! Ayo hancurkan!” Salah satunya mulai menginjak-injak obat itu.Yang lainnya dengan senang hati ikut menghancurkan obat-obatan itu.“Jangan!” teriak Ellena, mencoba melepaskan diri dan ingin menyelamatkan obat-obatannya. Akan tetapi, mereka terus menginjak sambil tertawa puas, hingga tak tersisa.“Lepaskan dia!”BrukkkEllena dihempas begitu saja di lantai. Salah satu dari mereka berjongkok di sisi Ellena. “Berani mengadu, hidupmu akan hancur!”Mereka pergi begitu saja. Ellena tersenyum miris akan nasibnya. Lalu, dia memungut obatnya yang sudah tak tersisa lagi. Hah …. Dia meremas dadanya kuat. Rasanya begitu nyeri dan menyakitkan bertahan hidup selama ini. Dia enggan menangis, karena buat apa?Cepat-cepat dia membenarkan penampilannya dan kembali ke kursi kerja.Baru saja duduk. S
“Sesuai hasil pemeriksaan MRI dan biopsi, memang ada tumor ganas di otak Anda. Tipe pertumbuhannya sangat agresif, dan terletak di posisi yang rumit.”Deg! Ellena terpaku dengan tangan gemetar. Dia berkedip-kedip menahan air matanya. Dua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Padahal sejak kemarin sudah tahu, tapi tetap saja rasanya menyakitkan."Apa masih bisa disembuhkan?" Mata itu berkaca-kaca, tapi bibirnya membuat simpul senyum menahan nyeri.“Tumor ini sifatnya ganas, sel-selnya cepat menyebar, dan menekan jaringan di sekitarnya. Sebagai dokter, saya hanya bisa melakukan yang terbaik.” Wajah dokter itu seperti berat.“Kalau saya menolak rangkaian pengobatan, berapa lama lagi bisa bertahan, Dok?” tanya Ellena lirih. Tangan wanita itu meremas kuat dan gemetar saat mendengar apa yang dokter katakan. Entah kenapa, dia tak punya semangat untuk hidup lebih lama lagi, jadi enggan melakukan operasi atau lainnya.“Seperti yang dikatakan dokter sebelumnya. Kemungkinan bertahan hanya
Wanita itu mundur pelan seiring langkah Alan yang terus mendekat. Dia berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya, gugup dan gelisah bercampur jadi tak karuan. Sungguhkah Alan akan melakukannya?Napas wanita itu makin pendek-pendek. “Alan, Pernikahan kita ini cuma mutualisme, jadi nggak ada yang namanya malam pertama. Dan jangan lupa kalau aku ini seorang wanita. Bukan pria seperti seleramu.”Astaga, Ellena makin membuat Alan meradang. Pria itu tak menjawab lagi, kakinya terus melangkah makin dekat.Dua langkah lagi …. Deru napas Alan bahkan bisa terdengar samar di telinga Ellena, memuat bulu halus wanita itu pun merinding. “Akhh!” Hingga akhirnya Ellena terpojok pada sofa panjang di sisi ruang. Tak bisa mundur lagi.Kini, Alan sudah ada tepat di depannya. Aroma maskulin menyeruak membuat Ellena gemetar. Enam bulan dia ada di sekitar Alan, tapi belum pernah sedekat ini.Pria itu mencondongkan wajahnya. “Malam pertama? Sepertinya menarik, apalagi dengan yang BUKAN PRIA d







