LOGIN“Sesuai hasil pemeriksaan MRI dan biopsi, memang ada tumor ganas di otak Anda. Tipe pertumbuhannya sangat agresif, dan terletak di posisi yang rumit.”
Deg! Ellena terpaku dengan tangan gemetar. Dia berkedip-kedip menahan air matanya. Dua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Padahal sejak kemarin sudah tahu, tapi tetap saja rasanya menyakitkan. "Apa masih bisa disembuhkan?" Mata itu berkaca-kaca, tapi bibirnya membuat simpul senyum menahan nyeri. “Tumor ini sifatnya ganas, sel-selnya cepat menyebar, dan menekan jaringan di sekitarnya. Sebagai dokter, saya hanya bisa melakukan yang terbaik.” Wajah dokter itu seperti berat. “Kalau saya menolak rangkaian pengobatan, berapa lama lagi bisa bertahan, Dok?” tanya Ellena lirih. Tangan wanita itu meremas kuat dan gemetar saat mendengar apa yang dokter katakan. Entah kenapa, dia tak punya semangat untuk hidup lebih lama lagi, jadi enggan melakukan operasi atau lainnya. “Seperti yang dikatakan dokter sebelumnya. Kemungkinan bertahan hanya beberapa bulan lagi. Tidak sampai enam bulan.” Ellena mengatup matanya sekejap. “Terima kasih, Dok. Saya akan datang kembali nanti.” Setelah Ellena keluar dari ruangan. Dokter itu langsung tersenyum culas dengan tatapan puas. Lalu, dia menghubungi seseorang. “Perfect! Wanita itu sudah aku tangani seperti yang kamu mau. Dan dia benar-benar memilih hanya minum obat, seperti dugaanmu. Tapi obat saja cukup. Kamu hanya tinggal menunggu waktu saja.” Sedang Ellena, kini dia berjalan lunglai menyusuri koridor rumah sakit dengan tatapan kosong. Ponselnya bergetar, ada panggilan masuk, tapi dia tak tertarik untuk menjawabnya. Pikirannya sedang kalut, hatinya sedang remuk. ‘Tidak sampai enam bulan? Baiklah, enam bulan ini, buat dirimu bahagia, Ellen. Jangan mau ditindas atau dikendalikan orang lain. Setidaknya saat nanti kamu mati, tidak dalam penyesalan,’ batinnya bermonolog. Tapak kaki bergemuruh mendekat pada Ellena. “Waaahh … ada wanita miskin, ngapain kamu di sini? Jangan bilang habis periksa dokter dan ternyata hampir mati karena penyakit kronis. Seperti dalam drama yang lagi aku tonton. Wanita miskin yang pengen kaya secara instan, tiba-tiba mati. Ha ha ha ha ha,” ucap seorang wanita dengan gaya angkuh, sambil tertawa remeh dan menutup mulutnya. Ellena tersadar dari lamunannya. Dia menatap dua wanita beda usia yang sama-sama sombong, licik, bermulut pedas, dan penampilan glamor. Mereka Olivia, anak dari adik mendiang ayahnya Alan, beserta Dena–Ibu anak itu. ‘Apa mereka tahu soal penyakitku? Aku sudah minta dokter dan pihak rumah sakit untuk merahasiakannya,’ batin Ellena. Dena memicing tajam penampilan Ellena. “Benar yang dikatakan Olivia, Ellen? Keluarga Adhinata itu nggak sudi punya menantu miskin, sekarang malah ditambah penyakitan. Jangan sampai kamu hamil. Aku nggak mau ada keturunan Adhinata yang cacat dan penyakitan.” Oh, ternyata hanya tebakan dan kebetulan saja benar. Lalu, Ellena tersenyum tipis dengan wajah datar. “Aku habis dari psikiater untuk konsultasi kesehatan mental, karena baru saja masuk dalam keluarga kalian. Dan sekalian minta resep obat untuk menjaga kewarasan.” Dena dan Olivia sontak melotot. “Kamu! Wanita miskin saja berani bicara lancang seperti itu!” pekik Dena dengan wajah murka. Ellena membalas dengan senyuman lebar. “Ya, aku juga disarankan untuk lancang pada kalian!” Langsung melenggang pergi menerjang dua bahu wanita itu. Olivia meradang. Dia melotot tajam pada punggung Ellena yang baru saja melewatinya. “Tamat riwayatmu nanti, Ellen. Aku akan membuatmu benar-benar merasakan kegilaan keluarga Adhinata.” Ellena hanya membalas dengan senyum tipis miris tanpa menoleh. Hari ini, hari pertama dia jadi istri Alan Adhinata, tapi dia tetap harus tetap masuk kerja dengan gestur seperti biasanya. Begitu masuk pintu utama perusahaan dan melewati resepsionis, jadi dia jadi pusat tatapan mata tajam. Bisik-bisik langsung merambat ke segala penjuru divisi. [Ellena sudah datang.] Bahkan pesan itu diteruskan ratusan kali. Saat Ellena baru keluar dari lift, tangannya ditarik kuat oleh seseorang. “Akhh!” Dia ditarik ke tangga darurat oleh beberapa karyawan beda divisi. “Diam! Sekretaris bodoh!” bentak salah satunya. Ellena ditekan kuat pada dinding, dikelilingi para wanita dengan tatapan nyalang yang siap mengulitinya. “Katakan! Benarkah wanita yang ada di pangkuan Pak Alan saat siaran langsung itu kamu?!” bentaknya. Yang lain, wajahnya sudah makin merah tak sabar menunggu jawaban Ellena. Deru napas mereka amat berat. “Ayo cepat ngaku! Kamu kan wanita licik itu!” “Kita lempar saja dia ke jembatan. Dia nggak bakalan mau ngaku!” “Aku masih ingat benar sama baju yang dia pakai pas berangkat. Mirip banget sama yang ada di siaran langsung itu!” Ellena makin sesak. Dua tangannya dipegang kuat, dadanya ditekan. Bahkan dia dihimpit kuat, hingga tak punya ruang untuk bergerak. Dadanya bergemuruh kuat, rasanya ingin melawan mereka semua, tapi dia tak berdaya saat ini. “Bisa kalian lepaskan dulu? Dan jangan main pengecut pakai cara keroyokan seperti ini.” Ellena meringis menahan nyeri. “Lepas? Jangan mimpi! Selama ini kami sudah mengawasimu, dan cuma sama kamu pak Alan mau didekati wanita. Jadi kami yakin, wanita jalang itu memang kamu!” Lehernya malah dicekik oleh salah satunya. “Cepat jawab! Wanita kegatelan itu kamu, kan?” sentaknya tepat di depan wajah Ellena. Ellena mengatup matanya mencari rangkaian kata penyelamat. “Bukannya kalian sudah mendengar kalau pimpinan kita itu-” PLAKKK Sebuah tamparan mendarat pada pipi Ellena, hingga wajah wanita itu terhempas ke samping. “Buang omong kosong itu! CEO kita bukan penyuka sesama jenis!” Lalu, Ellena tertawa kecil dan menatap wajah mereka satu persatu. “Kalau aku bilang, baju itu dipakai seseorang, dan wanita yang berada di pangkuan pak Alan itu bukan aku. Masih nggak percaya, kan?” Mendengar jawaban seperti itu, mereka malah semakin meradang. “Dia memang nggak mau ngaku!” teriak salah satunya. Satu wanita menarik rambut Ellena sangat kuat. “Dasar jalang! Kami tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun!” “Auwwhh!” Ellena memegang kuat rambut panjangnya. Dua wanita memukul punggung Ellena membabi buta. Hingga Ellena merasakan tubuhnya remuk redam. Satunya menyambar tas Ellena dan menghamburkan isinya ke lantai. “Jangan!” pekik Ellena ingin meraih isi tas yang sudah berserakan itu.“Nyonya Adhinata, bisa mengganggu waktu Anda sebentar?”Joanna sontak menoleh dan menyunggingkan senyum lebar nan ramah. Sungguh dia tak percaya kalau benar-benar dianggap istrinya Alan yang pernikahannya dirahasiakan itu.“Ehmm, boleh.” Joanna menanggapi para karyawan yang hendak menjilat itu.Beberapa merapat.“Boleh kami mengenal lebih jauh dengan Anda?”“Ehm, Anda seperti asing dan tak pernah muncul di sekitar Pak Alan. Tapi malam ini malah membuat kejutan besar. erja tanggapan Anda soal vidio yang diputar tadi dan kenapa Anda yang cantik dan anggun ini harus menyembunyikan diri?”Joanna tersenyum dengan tawa lirih. Dia masih menampung pertanyaan.“Apa kami boleh tahu Anda bekerja di mana?”“Nyonya bos. Apa Anda tahu kalau sektretaris penggoda itu berbahaya kalau masih terus bekerja di sisi pak Alan? Bagaimana kalau Anda menggunakan kekuasaan Anda untuk memecatnya.”“Oh, benar. Setuju. Kami juga sudah muak dengan Ellena. Pecat saja dia!!”Sekian banyak pertanyaan, Joanna tentu saj
“Maafkan aku, Alan. Maaf baru bisa kembali. Aku tahu kamu kecewa, marah, dan akan menolakku, tapi aku tetap harus menemuimu dan bilang kalau Papa baru saja membebaskanku.” Suaranya melirih, seperti memelas.Alan hanya mengatup matanya dan membuang napas. Mungkin, kalau tidak sedang di tengah pesta, dia akan merespon berbeda.Joanna–wanita itu hendak memegang tangan Alan. “Aku–”Alan menatap tajam dan langsung menepis tanpa kata. Lalu, memalingkan tatapannya pada arah pintu yang di mana punggung Ellena baru saja menghilang.Dadanya bergemuruh tak karuan, menahan gejolak rasa sakit yang dia pendam bertahun-tahun. Sampai dia tak punya kata-kata untuk wanita itu saat kembali.Joanna mengambil napas dalam. Wajahnya tampak lesu, ternyata Alan benar-benar marah padanya. “Aku berusaha keras mencetak prestasi hingga sekarang ini jadi Direktur hotel mewah. Demi apa? Demi agar aku bisa bebas dari aturan Papa dan bebas menemuimu, membahas tetang kita yang … belum berakhir.”Satu sudut bibir Alan
Gejolak emosi dan rasa miris makin meluap, hingga dada Ellena seakan tak sanggup lagi menahan buncahan rasa dihina itu. Sorot matanya tajam dan kosong, dua tangannya gemetar dan terkepal kuat. Tatapan kosong itu makin tajam … sangat tajam …. Lalu, Ellena mengangkat dagu dan melangkah anggun penuh percaya diri ke tengah ruang ballroom itu. Matanya nanar menatap semua tamu undangan, terlebih pada keluarga Alan dan semua yang menghinanya. “Aku, istri sah Alan Adhinata!” lantangnya dengan mata berkaca-kaca. Semua terdiam seketika. Sungguh, rasanya sangat puas bisa melantangkan kata-kata itu. Rasa sesak di dadanya kian berkurang. Tak ada yang percaya dengan apa yang dia katakan. “Orang gila! Kamu sudah merusak kesenangan pesta ini, Ellen!” teriak wanita dengan makeup tebal-hanya seorang manager yang selalu berseteru dengannya. “Jangan karena vidio itu, kamu jadi membuat pengakuan gila, kalau kamulah istrinya Pak Alan.” “Jangan buat omong kosong, Ellen. Cepat pergi, jang
“Jangan!”Yang lain langsung melotot dengan senyum lebar saat melihat ada obat yang berceceran. “Lihat! Dia penyakitan! Ha ha ha ha ha ha ….”“Biar cepat mati, kita hancurkan obatnya!”“Ha ha ha ha ha! Ayo hancurkan!” Salah satunya mulai menginjak-injak obat itu.Yang lainnya dengan senang hati ikut menghancurkan obat-obatan itu.“Jangan!” teriak Ellena, mencoba melepaskan diri dan ingin menyelamatkan obat-obatannya. Akan tetapi, mereka terus menginjak sambil tertawa puas, hingga tak tersisa.“Lepaskan dia!”BrukkkEllena dihempas begitu saja di lantai. Salah satu dari mereka berjongkok di sisi Ellena. “Berani mengadu, hidupmu akan hancur!”Mereka pergi begitu saja. Ellena tersenyum miris akan nasibnya. Lalu, dia memungut obatnya yang sudah tak tersisa lagi. Hah …. Dia meremas dadanya kuat. Rasanya begitu nyeri dan menyakitkan bertahan hidup selama ini. Dia enggan menangis, karena buat apa?Cepat-cepat dia membenarkan penampilannya dan kembali ke kursi kerja.Baru saja duduk. S
“Sesuai hasil pemeriksaan MRI dan biopsi, memang ada tumor ganas di otak Anda. Tipe pertumbuhannya sangat agresif, dan terletak di posisi yang rumit.”Deg! Ellena terpaku dengan tangan gemetar. Dia berkedip-kedip menahan air matanya. Dua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Padahal sejak kemarin sudah tahu, tapi tetap saja rasanya menyakitkan."Apa masih bisa disembuhkan?" Mata itu berkaca-kaca, tapi bibirnya membuat simpul senyum menahan nyeri.“Tumor ini sifatnya ganas, sel-selnya cepat menyebar, dan menekan jaringan di sekitarnya. Sebagai dokter, saya hanya bisa melakukan yang terbaik.” Wajah dokter itu seperti berat.“Kalau saya menolak rangkaian pengobatan, berapa lama lagi bisa bertahan, Dok?” tanya Ellena lirih. Tangan wanita itu meremas kuat dan gemetar saat mendengar apa yang dokter katakan. Entah kenapa, dia tak punya semangat untuk hidup lebih lama lagi, jadi enggan melakukan operasi atau lainnya.“Seperti yang dikatakan dokter sebelumnya. Kemungkinan bertahan hanya
Wanita itu mundur pelan seiring langkah Alan yang terus mendekat. Dia berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya, gugup dan gelisah bercampur jadi tak karuan. Sungguhkah Alan akan melakukannya?Napas wanita itu makin pendek-pendek. “Alan, Pernikahan kita ini cuma mutualisme, jadi nggak ada yang namanya malam pertama. Dan jangan lupa kalau aku ini seorang wanita. Bukan pria seperti seleramu.”Astaga, Ellena makin membuat Alan meradang. Pria itu tak menjawab lagi, kakinya terus melangkah makin dekat.Dua langkah lagi …. Deru napas Alan bahkan bisa terdengar samar di telinga Ellena, memuat bulu halus wanita itu pun merinding. “Akhh!” Hingga akhirnya Ellena terpojok pada sofa panjang di sisi ruang. Tak bisa mundur lagi.Kini, Alan sudah ada tepat di depannya. Aroma maskulin menyeruak membuat Ellena gemetar. Enam bulan dia ada di sekitar Alan, tapi belum pernah sedekat ini.Pria itu mencondongkan wajahnya. “Malam pertama? Sepertinya menarik, apalagi dengan yang BUKAN PRIA d







