Share

Bab 51

Author: El khiyori
last update publish date: 2026-09-14 14:03:31

Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang cerah kembali menyapu kawasan pesisir. Namun di ibu kota, berita besar kembali mengguncang jagat media.

Layar televisi di sudut ruang tamu rumah panggung itu menampilkan seorang reporter wanita yang berdiri di depan Rumah Sakit Bhayangkara.

"Berita terkini dari kasus runtuhnya Wijaya Group. Mantan Direktur Utama, Arkan Wijaya, dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan secara drastis di dalam sel tahanan tadi malam. Tekanan darahnya melonjak ting
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 53

    Langit di atas pemakaman umum tampak kelabu, dilapisi awan mendung yang berarak pelan tanpa membawa hujan. Tanah merah yang masih basah itu tertutup oleh taburan bunga mawar dan melati yang memancarkan aroma khas.Prosesi pemakaman Arkan berlangsung sangat tenang dan jauh dari kemewahan. Hanya ada beberapa kolega lama yang masih berbelas kasihan dan beberapa staf hukum yang hadir. Kerajaan bisnis yang dulu ia agungkan telah runtuh, meninggalkan pusara yang sunyi tanpa riuh tepuk tangan kekuasaan.Jena dan Elang berdiri sedikit agak jauh di bawah naungan pohon kamboja yang rindang. Jena mengenakan gaun hitam sederhana, menatap nisan batu pualam bertuliskan nama Arkan dengan tatapan yang sudah sepenuhnya damai. Tidak ada lagi penderitaan atau ketakutan.Setelah tabur bunga selesai dan para pelayat perlahan mulai meninggalkan area pemakaman, Elang menggandeng jemari Jena untuk kembali ke kendaraan mereka."Kita pulang sekarang?" tanya Elang lembut sambil mengusap punggung tangan Jena. Na

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 52

    Koridor Rumah Sakit Bhayangkara terasa begitu dingin dan lengang. Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, membiarkan derap langkah kaki Jena dan Elang bergema pelan di atas lantai yang dingin.Kehadiran Jena di tempat ini bukan atas dorongan egonya sendiri. Elang-lah yang dengan lembut meyakinkannya untuk datang. Elang tahu, sejauh mana pun mereka berlari dan sebahagia apa pun masa depan yang sedang mereka bangun, bayang-bayang Arkan akan tetap menyisakan celah kecil yang belum tuntas jika tidak ditutup secara langsung. Elang ingin Jena melangkah ke masa depan tanpa membawa sisa rasa bersalah, dendam, atau pertanyaan yang belum terjawab. Semua harus benar-benar berakhir.Di depan pintu ruang perawatan intensif, dokter yang bertanggung jawab atas perawatan Arkan, datang menghampiri mereka dengan raut wajah berat."Kondisi Tuan Arkan sudah berada di tahap kritis," ujar dokter itu pelan. Pria itu menatap Jena dan Elang bergantian. "Pembuluh darah utama di otak dan beberapa organ da

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 51

    Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang cerah kembali menyapu kawasan pesisir. Namun di ibu kota, berita besar kembali mengguncang jagat media.Layar televisi di sudut ruang tamu rumah panggung itu menampilkan seorang reporter wanita yang berdiri di depan Rumah Sakit Bhayangkara."Berita terkini dari kasus runtuhnya Wijaya Group. Mantan Direktur Utama, Arkan Wijaya, dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan secara drastis di dalam sel tahanan tadi malam. Tekanan darahnya melonjak tinggi hingga memicu pendarahan internal yang serius. Saat ini, Arkan Wijaya tengah berada dalam kondisi kritis di ruang ICU ...."Sesaat setelahnya, kamera berganti menampilkan lorong rumah sakit yang sepi dan dingin."Yang memprihatinkan, tidak ada satu pun anggota keluarga, kerabat, maupun rekan bisnis yang datang menjenguknya. Pria yang dulunya dikenal sangat berkuasa dan dikelilingi ribuan orang itu kini tergolek sendirian tanpa siapapun di sampingnya. Menurut keterangan tim medis, di tengah ke

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 50

    Seminggu berlalu di rumah panggung dermaga. Waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi Jena untuk menyembuhkan trauma panjang yang selama bertahun-tahun menggerogoti jiwanya.Pagi itu, Elang menggandeng tangan Jena menaiki jalan setapak berumput menuju puncak bukit kecil di belakang dermaga. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan padang rumput. Saat mereka tiba di puncak, pandangan Jena disambut oleh pemandangan yang membuat napasnya tertahan.Di sana, di atas tanah lapang yang menghadap langsung ke laut lepas, tampak pondasi awal sebuah bangunan besar berasitektur hangat yang sedang dikerjakan oleh beberapa tukang lokal terpercaya. Di sampingnya, sebuah area luas telah ditanami bibit bunga matahari dan mawar yang mulai bertunas hijau."Ini..." Jena menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca menatap lanskap impiannya yang kini terhampar nyata di depan mata.Elang berdiri di sampingnya, melingkarkan lengan tegapnya di pinggang Jena dari bel

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 49

    Cahaya matahari pagi memantul sempurna di atas permukaan air laut, membendung kehangatan di teras rumah panggung kayu tempat Jena dan Elang berlindung. Di atas meja kayu teras, Jena sedang duduk mengamati jemari Elang yang cekatan merakit sebuah perangkat komunikasi terenkripsi. Tak ada lagi pakaian formal agen atau jas tebal pengawal. Elang hanya mengenakan kaus polos abu-abu dan celana santai, memperlihatkan guratan otot lengan bawahnya yang kokoh namun terasa sangat menenangkan bagi Jena. Elang mendongak karena menyadari pandangan Jena yang tak beralih darinya sejak tadi. Sebuah senyuman tipis yang hangat dan lembut terukir di bibirnya. "Kenapa menatapku seperti itu Jen?" tanya Elang lembut. Jena tersentak pelan, rona merah tipis merayapi kedua pipinya. "Hanya... masih merasa aneh. Kau tak lagi memanggilku 'Nyonya' atau memakai bahasa formal." Mendengar itu, Elang menghentikan jemarinya. Ia mengikis jarak, berlutut di samping kursi Jena lalu merengkuh kedua telapak tangan wani

  • Selimut Hangat Bodyguard Suamiku    Bab 48

    Sinar matahari pagi menelusuri lantai kayu rumah panggung itu, membawa kehangatan yang tak pernah Jena rasakan selama lima tahun terakhir. Di luar, suara ombak yang menyapu tiang-tiang dermaga menjadi musik alami yang menenangkan jiwa. Sejak hari pertama mereka tiba, Elang tidak pernah membiarkan Jena merasa asing atau cemas. Pria yang dulunya berdiri kaku dengan jas hitam dan tatapan dingin itu, kini berubah menjadi sosok pelindung yang teramat sabar. Pagi itu, Jena terbangun oleh aroma sangrai kopi dan roti panggang yang harum. Saat ia melangkah keluar dari kamar, ia menemukan Elang sedang berdiri di dapur kecil, menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Di atas meja makan sederhana dari kayu jati, telah tertata sarapan hangat lengkap dengan segelas susu dan buah-buahan segar. "Kau bangun lebih awal lagi?" bisik Jena seraya mendekat, menyandarkan dagunya di bahu bidang Elang dari belakang. Elang menghentikan gerakannya, lalu berbalik dan melingkarkan tangannya di pinggan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status