تسجيل الدخولChelsea keluar dari taksi setelah membayar uangnya. Dia berjalan memasuki halaman rumah dengan santainya. Saat sampai depan pintu rumah, dia mendengar perdebatan papa dan ibu tirinya. Mereka masih menginginkan dirinya bertunangan dengan anak orang kaya itu.
"Apa tidak sebaiknya aku menerima perjodohan ini saja? Siapa tau dia pria baik," gumam Chelsea.
Chelsea lalu masuk ke rumah. Dia melihat ayah dan ibu tirinya langsung berhenti berdebat.
"Dari mana aja kamu? Semakin liar saja kelakuanmu!" seru sang ayah dengan nada yang tinggi.
"Aku menginap di rumah teman," jawab Chelsea dengan pelan.
"Apa kau tak bisa mengabari orang rumah?" tanya ayahnya lagi.
"Dengan apa aku mengabari? Apa Ayah lupa jika putrimu ini tak memiliki ponsel?" Chelsea balik bertanya.
"Bisanya menjawab saja. Kau kan bisa mengatakan pada ayah sebelum pergi atau dengan ibumu," balas ayahnya Chelsea.
Chelsea tampak menarik napas, tak menjawab lagi ucapan ayahnya. Dia lalu berjalan menuju kamar. Belum sempat dia masuk, ibu tirinya sudah menghadang.
"Baju siapa yang kau pakai? Setahuku kau tak memiliki baju seperti ini," ucap ibu tirinya Chelsea. Wanita itu lalu memegang baju gadis itu. Dia membaca merek yang ada disamping baju tersebut.
Ibu tirinya Chelsea yang bernama Erna jadi terkejut hingga mulutnya terbuka. Dia lalu membaca sekali lagi.
"Dari mana kau dapatkan baju ini?" tanya Erna sekali lagi.
Doni, ayahnya Chelsea yang mendengar ucapan sang istri lalu berdiri dan mendekati anak gadisnya tersebut. Dia juga ikut menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penampilan sang putri memang tampak berbeda.
"Apa kau menjual dirimu?" tanya ayahnya dengan sinis.
Chelsea sangat terkejut dengan pertanyaan sang ayah. Tak menyangka jika ayah kandungnya bisa berpikir seperti itu.
"Apakah ayah pikir aku serendah itu? Aku ini putrimu, kenapa ayah bisa berpikir buruk begitu denganku?" tanya Chelsea dengan suara pelan. Dia kecewa sekali mendengar apa yang ayahnya pertanyakan.
"Siapapun akan berpikir sama dengan ayahmu. Dari mana kau bisa dapatkan baju dengan harga jutaan begitu juga dengan celana dan sepatu yang kau pakai. Ditotalkan harganya hingga jutaan," ucap Tante Erna.
Sepertinya ucapan Tante Erna mampu membuat ayah Chelsea menjadi berpikir. Dia lalu mendekati gadis itu.
"Katakan dengan jujur ... siapa yang membelikan kamu baju?" tanya Ayah dengan nada suara yang tinggi.
Chelsea memandangi baju kaos yang dia pakai. Modelnya biasa saja. Memang bahannya halus sehingga di tubuh terasa nyaman. Jika memang harganya jutaan, sayang sekali pikir gadis itu.
"Temanku yang belikan karena aku tak memiliki baju ganti," jawab Chelsea.
"Pasti tak sembarang teman. Mas, bukankah Chelsea sudah kita jodohkan dengan Yandra anaknya Pak Rizal dan Bu Tia. Kalau mereka tau anakmu sudah ada kekasih, nanti bisa batal pertunangan ini," ucap Tante Erna.
"Kau tak diizinkan keluar rumah mulai hari ini. Besok malam ada pertemuan dengan keluarga Yandra untuk membahas pertunangan kalian. Ayah harap, kau tak melakukan kesalahan lagi!" seru Chandra, ayahnya Chelsea.
"Apa Ayah tak mengerti juga, aku tak mau menikah dengan orang yang tak aku kenal!"
"Kau tak ada pilihan. Kau harus menerima semua ini. Jangan buat aku makin marah!" seru Chandra dengan suara keras.
"Kenapa Ayah selalu saja memaksaku? Apakah sebagai anak aku tak memiliki pilihan?" tanya Chelsea. Air mata sudah mulai jatuh membasahi pipinya.
Ibunya meninggal saat dia masih berusia dua tahun. Sejak kecil dia dijaga sang nenek. Sang ayah hanya melihat sesekali. Hingga akhirnya dia harus tinggal di sini karena neneknya telah meninggal.
"Tidak ...! Kau harus ikuti kataku. Aku ini ayahmu. Orang tuamu!"
"Sekarang saja ayah mengaku sebagai orang tuaku. Kemana saja selama ini? Kenapa bukan Desy, anak kesayanganmu yang kau jodohkan dengan mereka. Kenapa harus aku?"
"Karena keluarga mereka menginginkan kamu. Mereka kenal dekat dengan ibumu," jawab ayah Chelsea.
"Omong kosong. Ayah hanya ingin menumbalkan aku sebagai penopang hidup kalian. Aku hanya dijadikan sebagai alat untuk memenuhi keinginan kalian. Aku hanyalah tumbal bagi keluarga ini!" teriak Chelsea lagi.
"Jaga ucapanmu, Chelsea!"
"Apa salah ucapanku, aku memiliki ayah tapi seperti anak yatim piatu. Tak ada kasih sayang darimu. Ayah hanya menyayangi Desy dan ibunya. Padahal yang anak kandungmu itu aku!" teriak Chelsea.
Mendengar suara Chelsea yang berteriak, tanpa sadar Ayah mengangkat tangannya dan menampar dengan keras pipi putrinya. Chelsea merasakan darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.
"Kenapa ayah tak membunuhku saja. Sejak ibu meninggal, tidak pernah sekalipun Ayah memeluk aku lagi walau aku sakit. Mengapa aku dibiarkan hidup? Seandainya aku mati, sekarang ini aku sudah tenang, tertidur dan beristirahat. Tidak merasakan penderitaan hidup ini!" teriak Chelsea.
Chelsea menghapus air matanya yang mengalir. Dia menjeda ucapannya. Mengusap pipinya yang terasa sakit dan panas.
"Andai aku dapat memilih! Mau menjadi siapa dan melakukan apa. Aku akan memilih tidak untuk dilahirkan. Aku tidak ingin menjalani hidup tanpa kejelasan dan tidak ingin menjadi beban bagi siapapun yang ku kenal. Terutama beban bagi kamu, Ayah. Pernahkah Ayah bertanya, kenapa aku tidak makan, kenapa aku tidak pulang, kenapa aku begini, kenapa aku menjadi seperti saat ini. Aku benci, Ayah."
Air mata Chelsea makin jatuh membasahi pipinya. Tangisan yang dari tadi dia tahan, tak bisa di bendung lagi. Mendengar ucapan putrinya Ayah merasa sedikit bersalah. Dia maju ingin memeluk putrinya tapi tangannya di tahan sang istri, ibu tirinya Chelsea, sehingga dia berhenti.
"Ayah, di banyak cerita yang kudengar, di banyak film yang aku tonton, anak perempuan akan menyandarkan kepalanya pada bahu tegas milik ayahnya, membiarkan air matanya membasahi bahu milik ayahnya. Tapi Ayah, kenapa bahumu itu terlalu jauh untukku bersandar?" tanya Chelsea dengan suara pelan karena menangis.
"Aku selalu mendengar orang berkata, jika Ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuan, tapi apa yang aku dapat, Ayahku adalah pria pertama yang membuat hatiku terluka dan hancur berkeping-keping," ucap Chelsea lagi dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Setelah mengucapkan itu, tanpa mau mendengar jawaban dari ayahnya, Chelsea masuk kamar dan menguncinya.
Ayah Chelsea ingin mengejar putrinya, kembali tangannya di tahan.
"Biarkan saja. Mulai hari ini sampai hari pertunangan, kita harus menjaganya. Jangan Mas pikirkan ucapannya. Itu hanya karena dia sedang emosi. Jika Mas membujuknya, dia akan jadi ngelunjak. Apa Mas mau pertunangan ini gagal?" tanya Tante Erna.
Ayah Chelsea tampak menarik napas dalam. Tentu saja dia tak mau jika sampai pertunangan ini gagal. Dia butuh suntikan dana untuk perusahaan yang hampir bangkrut. Ayah Chelsea lalu berjalan menuju sofa, tak jadi membujuk sang putri. Tante Erna tampak tersenyum karena bujukannya berhasil.
Chelsea keluar dengan membawa satu tas saja. Sepertinya barang miliknya memang tidak banyak."Bu, Kak Desy, tolong katakan sama ayah, aku pindah ke apartemen. Mulai besok aku kerja di perusahaan Bang Nathan. Kalau ada yang mau ayah tanyakan, bisa cari aku ke sana," ucap Chelsea."Kenapa kamu nggak langsung pamit sama ayah. Apa kamu takut tak diizinkan?" tanya Desy."Tak ada alasan Pak Chandra tak mengizinkan Chelsea bekerja di perusahaan milikku!" ucap Nathan dengan suara tegas.Desy tampak menarik napas dalam. Dia tak berani terlalu banyak bicara. Takut mengundang kemarahan Nathan."Nak Nathan, apa tidak sebaiknya menunggu ayahnya pulang dulu. Atau besok saja Chelsea pindah ke apartemen. Bagaimana manapun dia anak gadis. Masih tanggung jawab ayahnya," ucap Tante Erna.Tante Erna berusaha menahan Chelsea. Dia harus tahu, apa yang dilakukan di rumah Neneknya Nathan, sehingga dia bisa langsung diterima bekerja dia perusahaan pria itu. Selama ini yang dia tahu, antara Nathan dan Yendra t
"Kenapa banyak banget belinya?" tanya Chelsea saat berada di dalam mobil."Apa masih kurang? Kamu mau kita beli lagi? Mau dibeli dengan butiknya sekalian?" tanya Nathan dengan suara datar.Chelsea mengambil majalah yang ada di dalam mobil dan memukulnya ke lengan Nathan. Merasa kesal dengan pertanyaan pria itu."Ini sudah kebanyakan. Kenapa harus beli lagi?" Chelsea bertanya dengan cemberut."Biasanya yang protes itu karena kurang. Kalau kelebihan, kenapa komplain?" tanya Nathan lagi."Aku harus jawab apa kalau ayah dan ibu bertanya, dari mana semua baju ini," ucap Chelsea."Kenapa mereka bertanya?""Kamu ini ngerti nggak, sih. Kamu beli baju terlalu banyak. Pasti ayah akan bertanya, karena aku tak memiliki uang. Apa lagi ibu dan Kak Desy. Mereka akan bertanya sampai dapat jawaban pasti," jawab Chelsea."Kamu tak perlu menjawab dan kedua orang tuamu tak akan bertanya. Karena kamu tak akan bawa baju-baju ini pulang. Kamu akan tinggal di apartemen dekat perusahaan'ku. Aku akan mengantar
Setelah sarapan, Chelsea pamit dengan nenek. Tadi dia sempat menolak untuk bekerja di perusahaan Nathan, tapi nenek tetap memaksa. Dia bertanya, apa alasan dirinya tak mau bekerja di perusahaan Nathan. Tak mungkin memberikan alasan sebenarnya, akhirnya Chelsea menerima tawaran itu.Chelsea mengikuti langkah kaki Nathan menuju garasi mobil. Berhenti saat Nathan membuka pintu mobil. Gadis itu memilih duduk di belakang, sehingga pria itu kesal."Duduk depan ...!" perintah Nathan sambil membuka pintu belakang agar gadis itu keluar."Aku di sini saja," jawab Chelsea."Aku bukan supir'mu!" seru Nathan dengan sedikit membentak.Chelsea sedikit takut mendengar bentakan Nathan. Tapi, gadis itu masih belum bergerak. Dia masih tetap duduk di bangku belakang. Hal itu membuat kesabaran Nathan yang setipis tisu menjadi geram. Dia lalu menarik sedikit tangan gadis itu agar mendekat ke pintu. Setelah itu menggendongnya."Nathan, turunkan aku! Nanti ada yang lihat," ucap Chelsea.Nathan tak mau menden
Pagi harinya, Chelsea terbangun. Dia langsung menuju kamar mandi. Gadis itu ingin segera pulang. Dia harus mencari kerja. Ayahnya tak ada memberikan uang buat pegangan.Chelsea tak mau membuat kesalahan yang sama. Dia tak mandi, karena takut tak ada baju ganti. Tapi saat dia akan mengambil tas di atas meja, dia melihat paperbag dan ada tulisan tangan. "Untuk calon adik ipar tercinta."Chelsea membukanya dan melihat ada gaun yang sangat manis. Gaun lengan pendek dan dalamnya selutut. Tak sek'si. Seperti yang dia pakai saat ini.Di dalamnya juga lengkap dengan pakaian dalam. Gadis itu menarik napas dalam."Kenapa Nathan bisa tau ukuran pakaian dalamku? Apakah dia melihat dari pakaian dalamku dan bajuku yang tertinggal?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea membuka bajunya. Dia ingin mandi karena sudah memiliki pakaian ganti. Saat dia membuka baju, jadi teringat jika seluruh bagian tubuhnya, sudah pernah dilihat oleh Nathan."Bajuku masih berada di rumah Nathan. Takutnya pria itu menyimp
Chelsea menjadi ketakutan. Dia tak akan menyerah begitu saja."Jika kamu berani melakukan pelecehan padaku, aku akan berteriak dan mengatakan pada nenek," ancam Chelsea."Memang kamu pikir aku akan melakukan apa?" Nathan balik bertanya.Nathan lalu bangun dan duduk di samping Chelsea. Gadis itu pun langsung bangun. Dia takut jika pria itu benar-benar ingin melecehkannya."Aku ... aku, tak suka caramu," ucap Chelsea terbata. Tak tahu harus mengatakan apa."Makanya, pikiran itu jangan kotor aja. Aku sudah pernah bilang, kalau aku tak akan melakukan hubungan dengan paksaan. Aku mau wanita itu yang menginginkan. Jatuh dong harga diriku yang ganteng paripurna ini, jika sampai memaksa seorang wanita untuk melakukan hal tersebut," ucap Nathan.Chelsea tampak menarik napas lega. Dia sedikit percaya jika Nathan tak akan memaksa. Buktinya, di saat dia pingsan, jika pria itu ingin melakukan hal tak baik, bisa saja dia lakukan saat itu."Sini, aku olesi lehermu. Biar hilang tandanya. Biar nanti a
Chelsea berjalan dengan cepat menuju tempat mobil sang terparkir. Tak ingin pria itu marah dan . memakinya lagi.Tanpa Chelsea sadari, Nathan mengikuti dari belakang. Dia ingin memastikan jika gadis itu tak akan kabur."Ayah, aku mau menginap di sini," ucap Chelsea pelan. Dia takut ayahnya akan marah."Apa-apaan sih kamu, kayak wanita tak bener aja. Baru kenalan dah menginap di rumah pria," ucap Desy."Ada nenek. Lagi pula tak ada Yendra, mereka sudah pulang," ucap Chelsea."Baiklah. Tapi, jangan buat malu nama keluarga!" jawab ayah Candra.Chelsea tersenyum karena telah diizinkan. Padahal dalam hatinya berharap sang ayah memaksanya pulang. Biar ayahnya yang berdebat dengan Nathan.Nathan tersenyum mendengar jawaban sang ayah. Pria itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.Di dalam mobil, Desy langsung protes atas keputusan sang ayah. Dia tadi melihat Nathan tersenyum saat ayah mengizinkan. Dia curiga dengan mereka berdua."Kenapa Ayah izinkan Chelsea menginap. A
Tante Erna masuk ke kamar Chelsea. Dia mendekati gadis itu yang sedang melamun di dekat jendela.Chelsea teringat saat neneknya meninggal. Ayahnya datang menjemput dan membujuknya pulang. Selama dua hari di kampung, sang ayah bersikap baik. Sehingga dia pikir, ayahnya mungkin telah menyesal dan ing
Setelah mengganti bajunya, Chelsea bermaksud keluar dari kamar. Dengan kaos crop top dan celana pendek jeans sepaha. Dia kembali bercermin untuk mematut pakaiannya."Ukurannya pas banget. Kenapa Nathan bisa tau, apakah dia mengukurnya saat aku pingsan?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea menggele
Chelsea bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam, dia membuka seluruh pakaiannya dan memperhatikan badannya. Tak ada jejak sedikitpun atas tindakan pelecehan. Dia juga tak merasakan apa pun."Seperti yang aku dengar dari teman di kampung, katanya saat pertama melakukan sakit. Tapi aku tak m
Salah seorang wanita yang bekerja di rumah Nathan, mengantar Chelsea ke kamar tamu. Dia memandangi jalanan. Tampak hujan mulai turun."Apakah Ayah akan mencari ku? Tak mungkinlah. Ayah pasti tak tau jika aku kabur dari rumah. Tapi, aku rasa memang sebaiknya aku terima saja pertunangan ini. Bukankah







