LOGINTante Erna masuk ke kamar Chelsea. Dia mendekati gadis itu yang sedang melamun di dekat jendela.
Chelsea teringat saat neneknya meninggal. Ayahnya datang menjemput dan membujuknya pulang. Selama dua hari di kampung, sang ayah bersikap baik. Sehingga dia pikir, ayahnya mungkin telah menyesal dan ingin memperbaiki hubungan mereka.
Ternyata dugaannya salah. Ayahnya datang menjemput hanya untuk menjodohkan dirinya. Sebenarnya dia tak sepenuhnya menentang perjodohan ini. Cuma yang membuat dia marah dan kesal, karena ini semua atas ide ibunya agar bisa menyelamatkan perusahaan.
Chelsea berpikir perjodohan ini memang karena ayahnya peduli, ternyata hanya untuk kesenangan mereka. Bukannya untuk kebahagiaan dirinya.
"Ini bajumu ...!" Tante Erna melempar baju ke arah Chelsea.
"Jika aku tak mau memakainya, kau mau apa? Apa kau akan membunuhku?" tanya Chelsea dengan suara penuh penekanan.
"Aku akan membuat kamu cacat. Jika kematian itu begitu ringan untukmu. Kau akan merasakan hidup segan mati tak mau!" seru Tante Erna.
"Apakah ini wajah aslimu?" Chelsea tersenyum miris mendengar ancaman wanita itu.
"Ini bukan ancaman. Hanya pemberitahuan, itulah yang akan terjadi jika kamu tak patuh," jawab Tante Erna.
"Kenapa bukan anakmu saja yang kau jadikan tumbal?" Kembali Chelsea bertanya.
"Jika saja nenek tua itu mau, sudah pasti aku akan menjodohkan anakku. Sayangnya Nenek Yendra hanya mau menjodohkan cucunya dengan kau!" jawab Tante Erna.
Chelsea terdiam dan berpikir. Kenapa keluarga itu hanya mau dirinya bukan saudara tirinya, Desy.
"Mungkin sebaiknya aku datang saja. Siapa tau keluarga itu baik dan aku bisa berlindung dengan mereka," gumam Chelsea dalam hatinya.
"Keluarlah ...! Aku mau mengganti bajuku," ujar Chelsea dengan suara sedikit keras.
Tante Erna mengepalkan tangannya menahan amarah. Jika saja mereka tak membutuhkan Chelsea, mungkin dia telah mengusir gadis itu.
"Awas kalau kau berniat kabur. Kemana pun pergi, kami pasti akan menemukan kamu!"
Tante Erna lalu pergi meninggalkan kamar Chelsea. Dia juga ingin berdandan, agar nanti tak memalukan saat pertemuan kedua keluarga itu.
Saat Tante Erna sedang merias wajahnya, sang putri masuk. Sepertinya dia telah siap dengan dandanannya.
"Ma, apakah pertunangan ini tak bisa dibatalkan? Pasti Chelsea akan sangat sombong saat telah menikah dengan Yendra. Kenapa bukan aku saja yang bertunangan dan menikah dengannya?" tanya Desy.
Siapa yang tak mengenal Yendra. Anak dari konglomerat di kota mereka. Dari dulu Desy sudah berangan-angan menikah dengan salah satu anak mereka.
"Jika saja Mama bisa, pasti telah Mama lakukan. Pasti akan sangat bangga menjadi besan dari keluarga mereka," ucap Erna.
"Ma, coba dekati nenek tua itu. Buat dia menggagalkan pertunangan itu. Atau kalau perlu buat dia mau menjodohkan aku dengan Nathan. Jika aku jadi istrinya, apa pun yang Mama inginkan pasti akan bisa dibeli. Kemana pun Mama ingin liburan, akan bisa terwujud," ucap Desy.
Dari pertama bertemu Nathan, dia sudah menyukai pria itu. Sayangnya, dia tak merespon.
"Nanti mama usahakan mendekati nenek tua itu. Yang cucu kandungnya Nathan, pasti akan lebih membanggakan jika kamu bersanding dengannya," ucap Tante Erna. Pandangannya menerawang entah kemana. Sepertinya mengkhayal menjadi besan dari keluarga Nathan.
Di dalam kamarnya, Chelsea memperhatikan tubuhnya yang di balut gaun merah yang cukup pendek. Sejengkal di atas lutut. Punggung terbuka. Entah apa maksud ibu tirinya memberikan gaun yang terbuka begini.
Chelsea hanya berdandan seadanya saja. Dengan sapuan bedak tipis dan lipstik warna pink muda. Serasi dengan kulitnya yang putih.
Setelah yakin tak ada yang salah dengan bajunya, Chelsea memutuskan keluar dari kamar. Ternyata Ayah, ibu dan Kak Desy telah menunggu.
"Apa kau tak punya baju yang lebih sopan?" tanya Ayah begitu melihat Chelsea keluar dari kamar.
"Aku memang tak memiliki baju. Ini juga diberikan Ibu. Ayah tanyakan saja sama Ibu, kenapa meminjamkan baju seperti ini untukku?" Chelsea balik bertanya.
"Hanya itu baju Desy yang pas untuk Chelsea, Mas. Yang lain pasti kebesaran. Badan Desy lebih besar'kan dari Chelsea," ucap Tante Erna.
Mendengar penjelasan dari sang istri, ayahnya Chelsea tak bersuara lagi. Dia berbalik dan berjalan menuju mobil. Erna dan Desy tampak berbisik di belakang ayahnya.
"Kenapa baju itu tampak sangat pas dan cantik di tubuh gadis itu?" tanya Erna dengan Desy sang putri.
"Mama aja yang melihatnya bagus, menurutku dia seperti kupu-kupu malam," ucap Desy.
Mereka masuk ke mobil dan ayah menjalankan dengan kecepatan sedang menuju rumah kediamannya nenek Nathan.
Chelsea belum mengetahui jika pria yang akan di jodohkan dengan dirinya adalah adik sepupu atau adik tiri dari Nathan. Begitu juga pria itu, belum mengetahui jika gadis yang dia sukai lah yang akan dijodohkan dengan Yendra.
Awalnya pertemuan atau makan malam akan diadakan di rumah papanya Nathan, tapi saran dari neneknya minta dirumahnya saja. Mereka akhirnya setuju. Hubungan nenek Nathan dengan Tia, ibu tirinya sudah membaik.
Walau awalnya sangat kecewa karena ponakannya tega merebut suami anaknya. Tapi, sejak beberapa tahun lalu akhirnya membaik. Tia selalu datang meminta maaf. Mengatakan jika semua juga karena mamanya Nathan yang tak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya, makanya pria itu selingkuh. Lagi pula semua sudah terjadi, terpaksa sang ibu mengikhlaskan dan merelakan semua yang pernah terjadi.
Semua juga karena sang adik, ibunya Tia, selalu datang meminta maaf atas apa yang dilakukan sang putri. Dia merasa malu, tapi semua sudah terjadi. Apa lagi mereka sudah tak bisa dipisahkan lagi.
Sampai di rumah kediaman neneknya Nathan, Desy tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada rumah mewah itu.
"Ma, ini rumahnya nenek Nathan, ya?" bisik Desy.
"Ya ...," jawab Tante Erna singkat.
Mereka masuk setelah dipersilahkan pelayan rumah itu. Neneknya Nathan sudah menunggu di ruang keluarga. Begitu juga dengan kedua orang tuanya dan Yendra sendiri.
Saat akan duduk, Chelsea menyalami dan mencium tangan mereka satu persatu kecuali Yendra. Berbeda dengannya, Desy langsung duduk dekat mamanya.
"Kampungan banget, salam sambil cium tangan," bisik Desy pada mamanya. Tante Erna tersenyum mendengar ucapan sang putri.
"Ini pasti anaknya Rahayu, siapa nama kamu, Nak?" tanya Nenek.
"Chelsea, Nek," jawab Chelsea sambil tersenyum.
"Kamu cantik banget, seperti ibumu," ucap Nenek lagi.
Desy dan Tante Erna tampak mencibir mendengar pujian neneknya Nathan. Di seberang gadis itu, Yendra tak lepas memandangi wajah Chelsea.
"Ternyata dia cantik banget. Beruntung aku menerima perjodohan ini," gumam Yendra dalam hatinya.
"Sebelum perkenalan lebih lanjut, sebaiknya kita makan dulu. Nanti lauknya keburu dingin," ucap Nenek. Dia langsung berdiri. Chelsea membantu nenek itu berjalan dengan memegang lengannya. Nenek tampak tersenyum melihat gadis itu membimbing jalannya.
Semua telah duduk di kursi masing-masing. Semua lauk telah tersedia. Nenek pun meminta mereka untuk mulai makan. Saat semua larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Wah, kejutan. Rupanya ada banyak tamu," ucap Nathan.
Suaranya membuat Chelsea yang sedang menyuapi makanan menjadi terkejut. Dia merasa sangat mengenal suaranya. Gadis itu lalu mengangkat wajahnya dan betapa terkejut saat melihat siapa yang datang itu.
Nathan juga tak kalah terkejut dengan gadis itu. Pandangan keduanya bertemu. Setelah beberapa saat saling tatap, Chelsea kembali menunduk.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Chelsea dalam hatinya.
Yendra dan Chelsea berjalan berdampingan menuju ke ruang keluarga. Ternyata benar, semua telah berkumpul di sana.Chelsea tersenyum dan berjalan dengan menunduk menuju sofa yang kosong. Begitu juga dengan Yendra."Dari mana kamu? Sudah ibu bilang, jaga sikapmu. Jangan samakan dengan di desa. Maaf, Bu Ambarwati. Chelsea ini dibesarkan di desa sehingga kurang tau tata Krama," ucap Tante Erna."Bagiku justru Chelsea yang sopan. Kamu lihat putrimu yang satu lagi. Tadi datang tak salaman dan kenalan. Dan duduk dengan kaki di angkat ke paha di depan orang banyak. Ini bukan kedai kopi," ucap Nenek.Desy langsung menurunkan kakinya. Dia kembali cemberut mendengar ucapan nenek. Niat hati mau mempermalukan Chelsea, justru dia yang jadi malu sendiri."Chelsea, tadi nenek sudah bicara dengan ayahmu. Kami sepakat pertunangan kalian akan diadakan bulan depan, apakah kamu setuju?" tanya Nenek.Chelsea terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Pertunangan ini terasa begitu cepat. Tapi jika dia mengundurn
Nenek tersenyum melihat cucu kesayangannya datang. Dia lalu meminta Nathan bergabung dengan mereka. Tidak biasanya cucunya pulang di jam segini."Nathan, kebetulan kamu datang. Mari gabung sini," ajak Nenek.Nathan berjalan menuju meja makan tanpa suara. Dia langsung duduk di samping Chelsea yang kebetulan kursinya kosong. Dia masih menatap tajam ke arah gadis itu."Acara apa ini?" tanya Nathan dengan suara datar."Kamu ingat, nenek pernah mengatakan ingin menjodohkan kamu dengan salah satu cucu teman nenek. Karna kamu menolak, nenek bermaksud menjodohkannya dengan Yendra. Kami makan malam untuk menentukan tanggal pertunangan mereka," ucap Nenek berusaha menjelaskan."Siapa wanitanya?" tanya Nathan lagi dengan suara yang tetap datar. Dia lalu mengambil nasi yang ada dihadapannya."Chelsea, ini dia ...," ucap Nenek sambil menunjuk ke arah gadis itu. Chelsea berusaha tersenyum sewajar mungkin agar tak terlihat gugup dan canggung."Oh ...," jawab Nathan singkat."Papa sudah mengatakan ke
Tante Erna masuk ke kamar Chelsea. Dia mendekati gadis itu yang sedang melamun di dekat jendela.Chelsea teringat saat neneknya meninggal. Ayahnya datang menjemput dan membujuknya pulang. Selama dua hari di kampung, sang ayah bersikap baik. Sehingga dia pikir, ayahnya mungkin telah menyesal dan ingin memperbaiki hubungan mereka.Ternyata dugaannya salah. Ayahnya datang menjemput hanya untuk menjodohkan dirinya. Sebenarnya dia tak sepenuhnya menentang perjodohan ini. Cuma yang membuat dia marah dan kesal, karena ini semua atas ide ibunya agar bisa menyelamatkan perusahaan.Chelsea berpikir perjodohan ini memang karena ayahnya peduli, ternyata hanya untuk kesenangan mereka. Bukannya untuk kebahagiaan dirinya."Ini bajumu ...!" Tante Erna melempar baju ke arah Chelsea."Jika aku tak mau memakainya, kau mau apa? Apa kau akan membunuhku?" tanya Chelsea dengan suara penuh penekanan."Aku akan membuat kamu cacat. Jika kematian itu begitu ringan untukmu. Kau akan merasakan hidup segan mati ta
Chelsea keluar dari taksi setelah membayar uangnya. Dia berjalan memasuki halaman rumah dengan santainya. Saat sampai depan pintu rumah, dia mendengar perdebatan papa dan ibu tirinya. Mereka masih menginginkan dirinya bertunangan dengan anak orang kaya itu."Apa tidak sebaiknya aku menerima perjodohan ini saja? Siapa tau dia pria baik," gumam Chelsea.Chelsea lalu masuk ke rumah. Dia melihat ayah dan ibu tirinya langsung berhenti berdebat."Dari mana aja kamu? Semakin liar saja kelakuanmu!" seru sang ayah dengan nada yang tinggi."Aku menginap di rumah teman," jawab Chelsea dengan pelan."Apa kau tak bisa mengabari orang rumah?" tanya ayahnya lagi."Dengan apa aku mengabari? Apa Ayah lupa jika putrimu ini tak memiliki ponsel?" Chelsea balik bertanya."Bisanya menjawab saja. Kau kan bisa mengatakan pada ayah sebelum pergi atau dengan ibumu," balas ayahnya Chelsea.Chelsea tampak menarik napas, tak menjawab lagi ucapan ayahnya. Dia lalu berjalan menuju kamar. Belum sempat dia masuk, ibu
Setelah mengganti bajunya, Chelsea bermaksud keluar dari kamar. Dengan kaos crop top dan celana pendek jeans sepaha. Dia kembali bercermin untuk mematut pakaiannya."Ukurannya pas banget. Kenapa Nathan bisa tau, apakah dia mengukurnya saat aku pingsan?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea menggelengkan kepala untuk menepis pikirannya tentang Nathan. Dia tak mau peduli lagi, apakah pria itu telah melihat seluruh bagian tubuhnya atau bukan. Dia juga akan segera pergi dan tak akan kembali lagi. Mungkin tak akan bertemu lagi.Saat kakinya akan melangkah keluar kamar, mata Chelsea melihat ada dompet di bawah ranjang. Dia berjongkok untuk mengambilnya."Oh, dompet Nathan. Pasti jatuh saat dia tidur di sini tadi malam," ucap Chelsea.Chelsea meraih dompet dan melihat isinya. Ada foto dan beberapa kartu saja. Dia memeriksa bagian dalam. Ada beberapa lembar uang kertas seratus ribu."Aku ambil saja. Dia tak akan tau. Lain kali jika bertemu akan aku kembalikan. Saat ini aku butuh buat pegangan
Chelsea bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam, dia membuka seluruh pakaiannya dan memperhatikan badannya. Tak ada jejak sedikitpun atas tindakan pelecehan. Dia juga tak merasakan apa pun."Seperti yang aku dengar dari teman di kampung, katanya saat pertama melakukan sakit. Tapi aku tak merasakan apa pun. Apakah benar kalau Nathan tak berbuat sesuatu denganku?" tanya Chelsea pada dirinya sendiri.Dia kembali berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Mencoba mencari sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Namun, tak ada sedikit pun perbedaan yang dia rasakan."Aku tadi telah menuduhnya yang bukan-bukan. Sepertinya dia hanya membalurkan minyak angin ke tubuhku," ucap Chelsea bermonolog pada dirinya sendiri.Chelsea kembali mengancingkan kemeja yang dia pakai. Wajahnya kembali ceria dengan senyuman sumringah."Eh ... tunggu dulu. Kalau dia yang membalurkan minyak angin ke seluruh tubuh ini, berarti dia telah melihat badan ini dalam keadaan polos ... aahhhh ... tidakkk," ucap Chelse







