LOGINChelsea bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam, dia membuka seluruh pakaiannya dan memperhatikan badannya. Tak ada jejak sedikitpun atas tindakan pelecehan. Dia juga tak merasakan apa pun.
"Seperti yang aku dengar dari teman di kampung, katanya saat pertama melakukan sakit. Tapi aku tak merasakan apa pun. Apakah benar kalau Nathan tak berbuat sesuatu denganku?" tanya Chelsea pada dirinya sendiri.
Dia kembali berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Mencoba mencari sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Namun, tak ada sedikit pun perbedaan yang dia rasakan.
"Aku tadi telah menuduhnya yang bukan-bukan. Sepertinya dia hanya membalurkan minyak angin ke tubuhku," ucap Chelsea bermonolog pada dirinya sendiri.
Chelsea kembali mengancingkan kemeja yang dia pakai. Wajahnya kembali ceria dengan senyuman sumringah.
"Eh ... tunggu dulu. Kalau dia yang membalurkan minyak angin ke seluruh tubuh ini, berarti dia telah melihat badan ini dalam keadaan polos ... aahhhh ... tidakkk," ucap Chelsea pada dirinya sendiri.
"Apa yang akan aku katakan saat bertemu lagi. Aku malu," ucap Chelsea sambil memukul jidatnya pelan.
Chelsea melangkah kembali menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Beberapa saat kemudian dia telah terlelap.
Matahari bersinar dengan cahaya yang lembut di pagi hari, menyinari wajah Chelsea yang sedang tidur. Dia masih terlihat lelah, tapi wajahnya yang ceria dan senyuman sumringah masih terpancar di wajahnya.
Chelsea terbangun beberapa jam kemudian, merasa segar dan siap untuk menghadapi hari baru. Dia bangun dari tempat tidur, meregangkan tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat dia sedang membersihkan diri, dia tidak bisa menghilangkan pikiran tentang kejadian sebelumnya. Dia masih merasa malu dan tidak tahu apa yang harus dikatakan saat bertemu lagi dengan orang yang telah membalurkan minyak angin ke tubuhnya.
Chelsea mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan diri. Dia tidak ingin membiarkan rasa malu dan tidak percaya diri menguasai dirinya. Dia akan menghadapi situasi ini dengan kepala yang dingin dan hati yang terbuka.
Setelah membersihkan diri, Chelsea keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju dapur. Dia memakai kembali bajunya walau dalam keadaan lembab. Dia berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang baik dan bahwa dia akan bisa menghadapi situasi yang tidak terduga dengan baik.
"Masak apa, Bi? Biar aku bantu," ucap Chelsea.
"Jangan, Non. Duduk saja. Biar bibi siapkan sarapan."
"Tak apa, Bi. Aku bantu sedikit aja," balas Chelsea dengan keras kepalanya.
Chelsea lalu mengambil bawang dan ingin mengupasnya. Namun, bibi mengambil dari tangan gadis itu.
"Non, kami mohon, duduk saja. Jika non membantu, takutnya Pak Nathan marah. Masa tamunya disuruh kerja," ucap salah satu dari mereka.
Chelsea memandangi wajah bibi tersebut dengan tatapan keheranan. Dia lalu menghentikan kegiatannya. Takut apa yang dia lakukan berimbas pada pelayan lainnya di rumah ini.
"Bi, sebenarnya aku senang bisa membantu. Tapi jika itu bisa membuat Bibi jadi bermasalah, lebih baik aku hentikan," ucap Chelsea.
"Iya, Non..Duduk saja, sebentar lagi pasti Pak Nathan keluar dari kamarnya," ucap Bibi. Setelah itu bibi kembali memasak.
Nathan yang telah rapi, keluar dari kamar. Dia melihat Chelsea yang memakai bajunya kembali. Dia berjalan cepat menuju tempat gadis itu duduk. Sampai di samping gadis tersebut, dia langsung tersenyum.
Saat tepat berada di samping Chelsea, tanpa aba-aba Nathan meremas pakaian gadis itu. Tentu saja membuat dia jadi terkejut.
"Kamu mau apa?" tanya Chelsea dengan suara pelan karena ada bibi. Dia takut nanti para pekerja jadi salah paham.
"Buka bajumu ...!" seru Nathan dengan suara yang cukup keras.
Chelsea jadi mengerutkan dahinya. Di depan para pekerja saja Nathan berani terang-terangan ingin melakukan pelecehan.
Dengan gerakan cepat Chelsea bangun dari duduknya. Dia balas menatap pria itu. Dalam hatinya berkata, jika dia harus berani menghadapi Nathan.
"Apa kamu tak malu, Tuan Nathan? Di depan para pekerja memintaku membuka baju. Apakah kau mau melecehkan aku di depan mereka?" tanya Chelsea dengan wajah memerah menahan malu.
Tanpa di duga oleh gadis itu, kepalanya di toyor oleh Nathan. Chelsea jadi tampak makin marah dan keheranan.
"Berapa usiamu? Kenapa isi pikiranmu itu hanya pelecehan saja? Apa kau dah kebelet kawin?" tanya Nathan dengan suara yang penuh penekanan.
Chelsea tampak sedikit malu. Dia duduk kembali. Dan bertanya dengan suara pelan, "Jadi apa maksudmu memintaku membuka baju?" tanya Chelsea.
Nathan tak menjawab pertanyaan gadis itu. Dia justru memanggil nama seseorang. Tak begitu lama datang seorang pemuda menghadapnya.
"Mana pesananku?" tanya Nathan dengan suara datar.
"Ini, Pak!" Pria itu menyerahkan paperbag pada Nathan. Chelsea menatap tanpa kedip.
Setelah menyerahkan paperbag, pria itu langsung pergi. Nathan kembali mendekati Chelsea dan memberikan paperbag tersebut padanya.
"Apa ini ...?" tanya Chelsea. Dia lalu membukanya. Melihat ada baju di dalamnya.
"Ganti bajumu. Bau banget. Masih basah langsung pakai. Nanti tubuhmu jadi ada panu dan kurap. Tidak mulus lagi seperti yang aku lihat kemarin," ucap Nathan dengan berbisik ke telinga Chelsea.
Mendengar ucapan Nathan, gadis itu jadi teringat tentang kejadian kemarin. Pasti pria itu yang telah membalur minyak kayu putih ke tubuhnya. Itu artinya dia sempat melihat lama bagian tubuhnya.
Dengan refleks Chelsea memukul tubuh Nathan menggunakan paperbag. Dia menjadi malu. Wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Kenapa ...? Jangan pura-pura malu. Kamu pasti senang karena tubuhmu telah di sentuh pria setampan diriku!" seru Nathan sambil tersenyum simpul. Entah mengapa, dia begitu senangnya menggoda gadis itu. Padahal biasanya dia paling tak mau bicara dengan lawan jenis jika tak ada yang perlu diomongin.
"Kamu pikir aku gadis apa?" tanya Chelsea dengan wajah cemberut.
Chelsea kembali memukul lengan Nathan dengan tangannya. Dia membayangkan tubuhnya dielus, diraba dan diperhatikan begitu lama oleh pria itu. Mungkin juga di sentuh dan entah apa lagi yang pria itu lakukan.
"Dasar pria mesum ...!"
Setelah mengucapkan itu, Chelsea lalu berdiri dan berjalan meninggalkan pria itu. Dia masuk ke kamar lagi. Nathan tersenyum melihat gadis itu yang berjalan sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Seperti bocah yang marah karena tak mendapatkan mainan.
"Menarik ... mulai hari ini kau adalah milikku! Salah sendiri kau masuk ke sini. Tak ada seorangpun yang bisa memiliki kamu selain aku," ucap Nathan dalam hatinya.
Chelsea keluar dengan membawa satu tas saja. Sepertinya barang miliknya memang tidak banyak."Bu, Kak Desy, tolong katakan sama ayah, aku pindah ke apartemen. Mulai besok aku kerja di perusahaan Bang Nathan. Kalau ada yang mau ayah tanyakan, bisa cari aku ke sana," ucap Chelsea."Kenapa kamu nggak langsung pamit sama ayah. Apa kamu takut tak diizinkan?" tanya Desy."Tak ada alasan Pak Chandra tak mengizinkan Chelsea bekerja di perusahaan milikku!" ucap Nathan dengan suara tegas.Desy tampak menarik napas dalam. Dia tak berani terlalu banyak bicara. Takut mengundang kemarahan Nathan."Nak Nathan, apa tidak sebaiknya menunggu ayahnya pulang dulu. Atau besok saja Chelsea pindah ke apartemen. Bagaimana manapun dia anak gadis. Masih tanggung jawab ayahnya," ucap Tante Erna.Tante Erna berusaha menahan Chelsea. Dia harus tahu, apa yang dilakukan di rumah Neneknya Nathan, sehingga dia bisa langsung diterima bekerja dia perusahaan pria itu. Selama ini yang dia tahu, antara Nathan dan Yendra t
"Kenapa banyak banget belinya?" tanya Chelsea saat berada di dalam mobil."Apa masih kurang? Kamu mau kita beli lagi? Mau dibeli dengan butiknya sekalian?" tanya Nathan dengan suara datar.Chelsea mengambil majalah yang ada di dalam mobil dan memukulnya ke lengan Nathan. Merasa kesal dengan pertanyaan pria itu."Ini sudah kebanyakan. Kenapa harus beli lagi?" Chelsea bertanya dengan cemberut."Biasanya yang protes itu karena kurang. Kalau kelebihan, kenapa komplain?" tanya Nathan lagi."Aku harus jawab apa kalau ayah dan ibu bertanya, dari mana semua baju ini," ucap Chelsea."Kenapa mereka bertanya?""Kamu ini ngerti nggak, sih. Kamu beli baju terlalu banyak. Pasti ayah akan bertanya, karena aku tak memiliki uang. Apa lagi ibu dan Kak Desy. Mereka akan bertanya sampai dapat jawaban pasti," jawab Chelsea."Kamu tak perlu menjawab dan kedua orang tuamu tak akan bertanya. Karena kamu tak akan bawa baju-baju ini pulang. Kamu akan tinggal di apartemen dekat perusahaan'ku. Aku akan mengantar
Setelah sarapan, Chelsea pamit dengan nenek. Tadi dia sempat menolak untuk bekerja di perusahaan Nathan, tapi nenek tetap memaksa. Dia bertanya, apa alasan dirinya tak mau bekerja di perusahaan Nathan. Tak mungkin memberikan alasan sebenarnya, akhirnya Chelsea menerima tawaran itu.Chelsea mengikuti langkah kaki Nathan menuju garasi mobil. Berhenti saat Nathan membuka pintu mobil. Gadis itu memilih duduk di belakang, sehingga pria itu kesal."Duduk depan ...!" perintah Nathan sambil membuka pintu belakang agar gadis itu keluar."Aku di sini saja," jawab Chelsea."Aku bukan supir'mu!" seru Nathan dengan sedikit membentak.Chelsea sedikit takut mendengar bentakan Nathan. Tapi, gadis itu masih belum bergerak. Dia masih tetap duduk di bangku belakang. Hal itu membuat kesabaran Nathan yang setipis tisu menjadi geram. Dia lalu menarik sedikit tangan gadis itu agar mendekat ke pintu. Setelah itu menggendongnya."Nathan, turunkan aku! Nanti ada yang lihat," ucap Chelsea.Nathan tak mau menden
Pagi harinya, Chelsea terbangun. Dia langsung menuju kamar mandi. Gadis itu ingin segera pulang. Dia harus mencari kerja. Ayahnya tak ada memberikan uang buat pegangan.Chelsea tak mau membuat kesalahan yang sama. Dia tak mandi, karena takut tak ada baju ganti. Tapi saat dia akan mengambil tas di atas meja, dia melihat paperbag dan ada tulisan tangan. "Untuk calon adik ipar tercinta."Chelsea membukanya dan melihat ada gaun yang sangat manis. Gaun lengan pendek dan dalamnya selutut. Tak sek'si. Seperti yang dia pakai saat ini.Di dalamnya juga lengkap dengan pakaian dalam. Gadis itu menarik napas dalam."Kenapa Nathan bisa tau ukuran pakaian dalamku? Apakah dia melihat dari pakaian dalamku dan bajuku yang tertinggal?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea membuka bajunya. Dia ingin mandi karena sudah memiliki pakaian ganti. Saat dia membuka baju, jadi teringat jika seluruh bagian tubuhnya, sudah pernah dilihat oleh Nathan."Bajuku masih berada di rumah Nathan. Takutnya pria itu menyimp
Chelsea menjadi ketakutan. Dia tak akan menyerah begitu saja."Jika kamu berani melakukan pelecehan padaku, aku akan berteriak dan mengatakan pada nenek," ancam Chelsea."Memang kamu pikir aku akan melakukan apa?" Nathan balik bertanya.Nathan lalu bangun dan duduk di samping Chelsea. Gadis itu pun langsung bangun. Dia takut jika pria itu benar-benar ingin melecehkannya."Aku ... aku, tak suka caramu," ucap Chelsea terbata. Tak tahu harus mengatakan apa."Makanya, pikiran itu jangan kotor aja. Aku sudah pernah bilang, kalau aku tak akan melakukan hubungan dengan paksaan. Aku mau wanita itu yang menginginkan. Jatuh dong harga diriku yang ganteng paripurna ini, jika sampai memaksa seorang wanita untuk melakukan hal tersebut," ucap Nathan.Chelsea tampak menarik napas lega. Dia sedikit percaya jika Nathan tak akan memaksa. Buktinya, di saat dia pingsan, jika pria itu ingin melakukan hal tak baik, bisa saja dia lakukan saat itu."Sini, aku olesi lehermu. Biar hilang tandanya. Biar nanti a
Chelsea berjalan dengan cepat menuju tempat mobil sang terparkir. Tak ingin pria itu marah dan . memakinya lagi.Tanpa Chelsea sadari, Nathan mengikuti dari belakang. Dia ingin memastikan jika gadis itu tak akan kabur."Ayah, aku mau menginap di sini," ucap Chelsea pelan. Dia takut ayahnya akan marah."Apa-apaan sih kamu, kayak wanita tak bener aja. Baru kenalan dah menginap di rumah pria," ucap Desy."Ada nenek. Lagi pula tak ada Yendra, mereka sudah pulang," ucap Chelsea."Baiklah. Tapi, jangan buat malu nama keluarga!" jawab ayah Candra.Chelsea tersenyum karena telah diizinkan. Padahal dalam hatinya berharap sang ayah memaksanya pulang. Biar ayahnya yang berdebat dengan Nathan.Nathan tersenyum mendengar jawaban sang ayah. Pria itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.Di dalam mobil, Desy langsung protes atas keputusan sang ayah. Dia tadi melihat Nathan tersenyum saat ayah mengizinkan. Dia curiga dengan mereka berdua."Kenapa Ayah izinkan Chelsea menginap. A
Tante Erna masuk ke kamar Chelsea. Dia mendekati gadis itu yang sedang melamun di dekat jendela.Chelsea teringat saat neneknya meninggal. Ayahnya datang menjemput dan membujuknya pulang. Selama dua hari di kampung, sang ayah bersikap baik. Sehingga dia pikir, ayahnya mungkin telah menyesal dan ing
Chelsea keluar dari taksi setelah membayar uangnya. Dia berjalan memasuki halaman rumah dengan santainya. Saat sampai depan pintu rumah, dia mendengar perdebatan papa dan ibu tirinya. Mereka masih menginginkan dirinya bertunangan dengan anak orang kaya itu."Apa tidak sebaiknya aku menerima perjodo
Setelah mengganti bajunya, Chelsea bermaksud keluar dari kamar. Dengan kaos crop top dan celana pendek jeans sepaha. Dia kembali bercermin untuk mematut pakaiannya."Ukurannya pas banget. Kenapa Nathan bisa tau, apakah dia mengukurnya saat aku pingsan?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea menggele
Salah seorang wanita yang bekerja di rumah Nathan, mengantar Chelsea ke kamar tamu. Dia memandangi jalanan. Tampak hujan mulai turun."Apakah Ayah akan mencari ku? Tak mungkinlah. Ayah pasti tak tau jika aku kabur dari rumah. Tapi, aku rasa memang sebaiknya aku terima saja pertunangan ini. Bukankah







