LOGINSalah seorang wanita yang bekerja di rumah Nathan, mengantar Chelsea ke kamar tamu. Dia memandangi jalanan. Tampak hujan mulai turun.
"Apakah Ayah akan mencari ku? Tak mungkinlah. Ayah pasti tak tau jika aku kabur dari rumah. Tapi, aku rasa memang sebaiknya aku terima saja pertunangan ini. Bukankah dengan menikahi pria kaya, aku akan dianggap. Tak diremehkan lagi," ucap Chelsea pada dirinya sendiri.
Gadis itu lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang terasa gerah karena keringat, saat tadi kabur dari para penjahat.
Setelah mandi, dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang ada dikamar mandi, barulah dia sadar jika tak memiliki pakaian pengganti. Bajunya juga telah basah.
"Aduh ... bagaimana ini? Aku harus pakai baju apa?" tanya Chelsea pada dirinya sendiri.
Chelsea berjalan menuju lemari yang ada di kamar itu. Tapi, ternyata lemari di kunci. Dia lalu mondar mandir di dalam kamar, memikirkan mau pakai baju apa.
Tak ada jalan lain, dia bermaksud mau meminjam baju salah satu pelayan di rumah ini. Walau mungkin agak kebesaran, itu lebih baik dari pada dia harus bertelan'jang.
Chelsea lalu keluar kamar hanya dengan memakai handuk. Saat bertepatan dia menginjakan kakinya di pintu luar, Nathan juga berada di sana. Pria itu bermaksud mengecek keadaan. Masih meragukan apakah gadis itu memang wanita baik-baik saja atau hanya berpura-pura baik.
Chelsea yang berjalan sambil menunduk tak melihat ada Nathan. Dia menabrak pria itu, sehingga tubuhnya oleng dan hampir jatuh.
Nathan dengan refleks menarik handuk Chelsea, bermaksud ingin menolong agar tak jatuh. Handuk yang itu tertarik dari tubuh gadis itu sehingga dia menjadi polos. Tentu saja dia terkejut dan berteriak.
"Aww ... Kamu mau apa ...?" teriak Chelsea.
Nathan langsung menutupi tubuh Chelsea dan mendorongnya masuk ke kamar. Takut ada salah seorang pelayan atau pekerja melihat dan menjadi salah sangka.
"Kamu mau apa?" Chelsea kembali bertanya. Dia memegang erat handuk yang tadi telah dipasangkan kembali.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kamu kenapa keluar kamar hanya dengan menggunakan handuk? Kamu sengaja ingin menggoda salah satu pekerja sini?" tanya Nathan dengan suara tinggi.
"Bukan ... untuk apa aku menggoda pekerja ini. Aku ini gadis baik-baik dan masih perawan!" seru Chelsea.
Nathan tersenyum simpul mendengar jawaban dari gadis itu. Dia lalu mendekati Chelsea.
Gadis itu menjadi takut karena tatapan mata Nathan yang tajam. Dia lalu mundur hingga membentur dinding. Chelsea benar-benar takut. Dia berpikir pria itu akan melecehkannya.
"Bagaimana aku bisa yakin jika kamu memang masih perawan?" tanya Nathan menggoda.
"Kamu lihat saja wajahku. Aku ini gadis baik-baik," ucap Chelsea dengan terbata karena ketakutan.
Nathan menaik alisnya dan mengerutkan dahi. Dia tampak tersenyum miring. Menatap wajah Chelsea dengan intens.
"Bagaimana kalau aku melakukan tes untuk membuktikan ucapanmu?" tanya Nathan dengan suara serak.
Sebagai pria dia tentu saja sudah mulai terbawa emosi. Dia tersenyum dengan licik. Chelsea yang melihat itu menjadi semakin ketakutan.
"Kamu jangan macam-macam. Aku akan berteriak jika kamu melakukan hal tak terpuji!"
Nathan tertawa. Membuat Chelsea makin takut. Wajahnya tampak pucat. Dia menyesal kenapa harus menginap di sini jika pada akhirnya akan dilecehkan juga.
"Kamu pikir mereka akan peduli. Apa lagi jika mereka tau kamu ada bersama denganku. Sampai suaramu habis pun tak akan ada yang mau menolong," balas Nathan.
Chelsea menjadi makin ketakutan. Dia tak bisa lagi menahan air matanya. Saat dia hampir putus asa, terdengar suara petir menggelegar. Dia yang sangat trauma dengan suara tersebut, langsung berlari memeluk pria itu.
"Bunda ...," teriak Chelsea. Dia memeluk erat Nathan, lupa jika pria itu tadi menggodanya.
"Bunda ... aku takut," ucap Chelsea lagi.
Nathan menjadi heran melihat gadis itu yang ketakutan. Tubuhnya sampai menggigil. Akhirnya tak sadarkan diri.
Melihat tubuh wanita itu lunglai karena pingsan, Nathan lalu menggendong dan meletakan di atas kasur dengan pelan.
"Kenapa dia takut dengan suara petir hingga pingsan? Apa sebenarnya yang telah dia alami? Siapa gadis ini? Dia sangat menarik," ucap Nathan.
Selama ini Nathan tak pernah tertarik dengan wanita manapun. Jika banyak pria tampan dan mapan mempermainkan wanita, beda dengannya. Dia justru menolak siapapun gadis yang ingin mendekatinya.
Dia tak gampang jatuh cinta. Jika pun pernah dekat, itu hanya dengan satu wanita. Dan dia telah lama tak berhubungan dengan wanita tersebut.
Setelah menidurkan di atas ranjang, Nathan lalu keluar dari kamar. Dia masuk ke kamarnya. Mengambil kemeja dan celana pendek olah raga miliknya yang ukuran paling kecil.
Nathan lalu memakai kemeja itu ke tubuh Chelsea. Sebagai pria dewasa, dia mencoba menahan napsunya.
Sebelum memakaikan baju, dia tadi telah membalurkan minyak angin ke seluruh tubuh Chelsea. Agar tubuhnya hangat dan segera sadar.
Nathan yang telah mengantuk ikut membaringkan tubuh di samping gadis itu. Beberapa saat kemudian, matanya ikut terpejam dan terlelap dalam mimpi.
Dua jam kemudian, Chelsea tersadar. Dia membuka matanya. Teringat kejadian tadi sebelum dia pingsan.
Chelsea lalu memandang ke samping. Melihat Nathan yang terlelap, dia menjadi bertanya-tanya, apa yang telah pria itu lakukan padanya.
Chelsea lalu memandangi tubuhnya. Melihat baju kemeja yang dia kenakan. Pakaian itu sangat kebesaran di tubuh mungilnya. Dia juga merasa pakaian dalamnya kebesaran. Tiba-tiba dia jadi tersadar.
Dengan sekuat tenaga Chelsea mendorong tubuh Nathan. Hingga terjatuh ke lantai.
"Apa yang telah kamu lakukan padaku?" tanya Chelsea dengan wajah memerah menahan amarah.
Nathan yang terkejut karena sedang enak terlelap dan terjatuh, belum bisa mencerna pertanyaan gadis itu. Dia merasa tubuhnya sedikit sakit karena terjatuh.
"Dasar gadis gi'la! Kenapa kau mendorong tubuhku?" Bukannya menjawab pertanyaan Chelsea, justru Nathan balik bertanya.
"Seharusnya aku yang harus marah. Kenapa kamu yang jadi marah. Apa yang kamu lakukan? Apa kamu telah melecehkan aku?" tanya Chelsea dengan suara pelan.
Tanpa bisa dicegah air mata turun membasahi pipinya. Membayangkan apa yang telah pria itu lakukan padanya. Nathan baru tersadar dengan pertanyaan Chelsea.
"Memangnya kamu pikir aku melakukan apa? Aku bisa membeli tubuh wanita manapun. Tak perlu melakukan dengan paksaan. Satu lagi yang perlu kamu ketahui, aku tak akan mau berhubungan jika bukan dilakukan atas suka sama suka!" seru Nathan.
Setelah mengucapkan itu, Nathan lalu berjalan keluar dari kamar. Tinggal Chelsea sendirian. Dia merenungi atas ucapan Nathan. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Apa benar dia tak melakukan apa-apa padaku?" tanya Chelsea dalam hatinya.
Chelsea keluar dengan membawa satu tas saja. Sepertinya barang miliknya memang tidak banyak."Bu, Kak Desy, tolong katakan sama ayah, aku pindah ke apartemen. Mulai besok aku kerja di perusahaan Bang Nathan. Kalau ada yang mau ayah tanyakan, bisa cari aku ke sana," ucap Chelsea."Kenapa kamu nggak langsung pamit sama ayah. Apa kamu takut tak diizinkan?" tanya Desy."Tak ada alasan Pak Chandra tak mengizinkan Chelsea bekerja di perusahaan milikku!" ucap Nathan dengan suara tegas.Desy tampak menarik napas dalam. Dia tak berani terlalu banyak bicara. Takut mengundang kemarahan Nathan."Nak Nathan, apa tidak sebaiknya menunggu ayahnya pulang dulu. Atau besok saja Chelsea pindah ke apartemen. Bagaimana manapun dia anak gadis. Masih tanggung jawab ayahnya," ucap Tante Erna.Tante Erna berusaha menahan Chelsea. Dia harus tahu, apa yang dilakukan di rumah Neneknya Nathan, sehingga dia bisa langsung diterima bekerja dia perusahaan pria itu. Selama ini yang dia tahu, antara Nathan dan Yendra t
"Kenapa banyak banget belinya?" tanya Chelsea saat berada di dalam mobil."Apa masih kurang? Kamu mau kita beli lagi? Mau dibeli dengan butiknya sekalian?" tanya Nathan dengan suara datar.Chelsea mengambil majalah yang ada di dalam mobil dan memukulnya ke lengan Nathan. Merasa kesal dengan pertanyaan pria itu."Ini sudah kebanyakan. Kenapa harus beli lagi?" Chelsea bertanya dengan cemberut."Biasanya yang protes itu karena kurang. Kalau kelebihan, kenapa komplain?" tanya Nathan lagi."Aku harus jawab apa kalau ayah dan ibu bertanya, dari mana semua baju ini," ucap Chelsea."Kenapa mereka bertanya?""Kamu ini ngerti nggak, sih. Kamu beli baju terlalu banyak. Pasti ayah akan bertanya, karena aku tak memiliki uang. Apa lagi ibu dan Kak Desy. Mereka akan bertanya sampai dapat jawaban pasti," jawab Chelsea."Kamu tak perlu menjawab dan kedua orang tuamu tak akan bertanya. Karena kamu tak akan bawa baju-baju ini pulang. Kamu akan tinggal di apartemen dekat perusahaan'ku. Aku akan mengantar
Setelah sarapan, Chelsea pamit dengan nenek. Tadi dia sempat menolak untuk bekerja di perusahaan Nathan, tapi nenek tetap memaksa. Dia bertanya, apa alasan dirinya tak mau bekerja di perusahaan Nathan. Tak mungkin memberikan alasan sebenarnya, akhirnya Chelsea menerima tawaran itu.Chelsea mengikuti langkah kaki Nathan menuju garasi mobil. Berhenti saat Nathan membuka pintu mobil. Gadis itu memilih duduk di belakang, sehingga pria itu kesal."Duduk depan ...!" perintah Nathan sambil membuka pintu belakang agar gadis itu keluar."Aku di sini saja," jawab Chelsea."Aku bukan supir'mu!" seru Nathan dengan sedikit membentak.Chelsea sedikit takut mendengar bentakan Nathan. Tapi, gadis itu masih belum bergerak. Dia masih tetap duduk di bangku belakang. Hal itu membuat kesabaran Nathan yang setipis tisu menjadi geram. Dia lalu menarik sedikit tangan gadis itu agar mendekat ke pintu. Setelah itu menggendongnya."Nathan, turunkan aku! Nanti ada yang lihat," ucap Chelsea.Nathan tak mau menden
Pagi harinya, Chelsea terbangun. Dia langsung menuju kamar mandi. Gadis itu ingin segera pulang. Dia harus mencari kerja. Ayahnya tak ada memberikan uang buat pegangan.Chelsea tak mau membuat kesalahan yang sama. Dia tak mandi, karena takut tak ada baju ganti. Tapi saat dia akan mengambil tas di atas meja, dia melihat paperbag dan ada tulisan tangan. "Untuk calon adik ipar tercinta."Chelsea membukanya dan melihat ada gaun yang sangat manis. Gaun lengan pendek dan dalamnya selutut. Tak sek'si. Seperti yang dia pakai saat ini.Di dalamnya juga lengkap dengan pakaian dalam. Gadis itu menarik napas dalam."Kenapa Nathan bisa tau ukuran pakaian dalamku? Apakah dia melihat dari pakaian dalamku dan bajuku yang tertinggal?" tanya Chelsea dalam hatinya.Chelsea membuka bajunya. Dia ingin mandi karena sudah memiliki pakaian ganti. Saat dia membuka baju, jadi teringat jika seluruh bagian tubuhnya, sudah pernah dilihat oleh Nathan."Bajuku masih berada di rumah Nathan. Takutnya pria itu menyimp
Chelsea menjadi ketakutan. Dia tak akan menyerah begitu saja."Jika kamu berani melakukan pelecehan padaku, aku akan berteriak dan mengatakan pada nenek," ancam Chelsea."Memang kamu pikir aku akan melakukan apa?" Nathan balik bertanya.Nathan lalu bangun dan duduk di samping Chelsea. Gadis itu pun langsung bangun. Dia takut jika pria itu benar-benar ingin melecehkannya."Aku ... aku, tak suka caramu," ucap Chelsea terbata. Tak tahu harus mengatakan apa."Makanya, pikiran itu jangan kotor aja. Aku sudah pernah bilang, kalau aku tak akan melakukan hubungan dengan paksaan. Aku mau wanita itu yang menginginkan. Jatuh dong harga diriku yang ganteng paripurna ini, jika sampai memaksa seorang wanita untuk melakukan hal tersebut," ucap Nathan.Chelsea tampak menarik napas lega. Dia sedikit percaya jika Nathan tak akan memaksa. Buktinya, di saat dia pingsan, jika pria itu ingin melakukan hal tak baik, bisa saja dia lakukan saat itu."Sini, aku olesi lehermu. Biar hilang tandanya. Biar nanti a
Chelsea berjalan dengan cepat menuju tempat mobil sang terparkir. Tak ingin pria itu marah dan . memakinya lagi.Tanpa Chelsea sadari, Nathan mengikuti dari belakang. Dia ingin memastikan jika gadis itu tak akan kabur."Ayah, aku mau menginap di sini," ucap Chelsea pelan. Dia takut ayahnya akan marah."Apa-apaan sih kamu, kayak wanita tak bener aja. Baru kenalan dah menginap di rumah pria," ucap Desy."Ada nenek. Lagi pula tak ada Yendra, mereka sudah pulang," ucap Chelsea."Baiklah. Tapi, jangan buat malu nama keluarga!" jawab ayah Candra.Chelsea tersenyum karena telah diizinkan. Padahal dalam hatinya berharap sang ayah memaksanya pulang. Biar ayahnya yang berdebat dengan Nathan.Nathan tersenyum mendengar jawaban sang ayah. Pria itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.Di dalam mobil, Desy langsung protes atas keputusan sang ayah. Dia tadi melihat Nathan tersenyum saat ayah mengizinkan. Dia curiga dengan mereka berdua."Kenapa Ayah izinkan Chelsea menginap. A
Tante Erna masuk ke kamar Chelsea. Dia mendekati gadis itu yang sedang melamun di dekat jendela.Chelsea teringat saat neneknya meninggal. Ayahnya datang menjemput dan membujuknya pulang. Selama dua hari di kampung, sang ayah bersikap baik. Sehingga dia pikir, ayahnya mungkin telah menyesal dan ing
Chelsea keluar dari taksi setelah membayar uangnya. Dia berjalan memasuki halaman rumah dengan santainya. Saat sampai depan pintu rumah, dia mendengar perdebatan papa dan ibu tirinya. Mereka masih menginginkan dirinya bertunangan dengan anak orang kaya itu."Apa tidak sebaiknya aku menerima perjodo
"Sekarang katakan padaku kenapa kamu bisa ada dijalanan itu?" Kembali pria itu bertanya.Chelsea menarik napas dalam. Dia masih berpikir untuk menjawab apa. Tak mungkin jujur dengan mengatakan jika dia sedang kabur dari rumah karena marah dengan kedua orang tuanya."Aku lapar. Jika perutku kosong,
Chelsea yang sedang kesal dengan kedua orang tuanya, berjalan pelan menyusuri jalanan kota. Dia belum bisa menerima keputusan mereka yang menjodohkan dirinya dengan anak sahabatnya.Saat sedang berjalan, tiba-tiba muncul dua orang pria. Salah seorang dari mereka langsung menarik tas milik Chelsea.







