เข้าสู่ระบบDavid menghentikan pekerjaannya setelah mendengar pertanyaan lalu ia menjawab, “Memang suami Ibu mengalami kecelakaan tunggal, tetapi suami ibu tidak sendirian si mobil. Ada orang lain di dalam mobil selain suami Ibu.”
Tubuh Sari seketika seperti tersengat listrik mendengar jawaban David karena setahu Sari suaminya pergi sendiri. ‘Siapa yang berada di mobil A Taufik? Apakah dia teman kantor A Taufik?’ tanya Sari kepada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka, seorang laki-laki berdiri di depan pintu. David langsung menoleh ke pintu. “Ah, Pak Yoko sudah datang. Silahkan masuk, Pak!”
Sari ikut menoleh ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki berpakaian rapih masuk ke ruangan. Ia perhatikan wajah laki-laki itu, sepertinya ia pernah lihat. Ternyata laki-laki itu adalah laki-laki yang pernah pernah datang ke ruang IGD untuk menemui David. ‘Mau apa dia ke sini?’ tanya Sari di dalam hati.
Laki-laki itu berdiri di belakang kursi yang berada di sebelah tempat duduk Sari. “Bu Sari, kenalkan ini Pak Yoko suami dari Ibu Nena. Ketika kecelakaan terjadi, Ibu Nena berada di mobil suami IBu,” ujar David.
Sari berdiri dari tempat duduk, Yoko menarik kedua sudut bibirnya dengan terpaksa. Setelah itu, mereka berdua bersalaman dengan hanya sebatas sampai ujung jari mereka saling bersentuhan, kemudian mereka menarik kembali telapak tangan mereka.
“Silahkan duduk, Pak Bu,” ujar David sambil menunjuk ke bangku yang berada di depannya dengan sopan. Sari kembali duduk di tempatnya semula, sedangkan Yoko duduk di sebelah Sari.
Setelah itu, David membacakan hasil penyelidikan. David membaca tahap-tahap penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian, serta bukti-bukti apa saja yang mereka dapatkan di lapangan. Hingga akhirnya sampai pada bagian yang ditunggu oleh Sari dan Yoko.
“Mohon maaf Bapak dan Ibu, terpaksa saya harus memberitahu ini. Hasil penyelidikan menunjukkan kalau kecelakaan terjadi akibat human error.” David berhenti sebentar lalu menarik napas. Sari dan Yoko menatap David lekad-lekad, mereka sudah tidak sabar menunggu kelanjutan hasil penyelidikan.
“Dengan berat hati saya mengatakan.” David mengecilkan suaranya agar tidak terdengar orang lain di ruangan itu selain mereka bertiga. “Suami Ibu Sari dan istri Pak Yoko sudah melakukan hal yang tidak terpuji di dalam mobil ketika mobil sedang melaju kencang.”
Ucapan David bagaikan petir di siang bolong. Suami yang selama ini ia cintai melakukan hal yang tidak senonoh dengan perempuan lain. Tidak! Itu tidak mungkin! A Taufik tidak mungkin selingkuh dengan perempuan lain. Sari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Anda jangan asal menuduh! Apa buktinya kalau istri saya melakukan hal yang tidak senonoh dengan suami Ibu ini?” Yoko menunjuk ke Sari. Sari menoleh ke Yoko. Wajah Yoko memerah kedua telapak tangannya mengepal.
“Kami tidak asal menuduh, Pak Yoko. Kami punya semua bukti-bukti,” jawab David. “Saya ijin melanjutkan membacakan hasil penyelidikan.” Yoko pun diam, ia duduk kembali. David melanjutkan membacakan hasil penyelidikan. Ia menyebutkan bukti-bukti yang ditemukan di dalam mobil Taufik.
Bukti-bukti yang disebutkan oleh David membuat Sari merasa malu.Ternyata suaminya berzina dengan peremuan lain di dalam mobil. Sari seperti ia ditikam dari belakang oleh suaminya. Ia pun menangis tersedu-sedu.
Pembacaan hasil penyelidikan selesai dibacakan. David memberikan barang-barang milik Taufik dan Nena kepada Sari dan Yoko. Sebelum Sari pulang ia bertanya kepada Yoko, “Pak Yoko, apakah istri Bapak bekerja di ... . “ Sari menyebutkan instansi tempat suaminya bekerja.
Yoko menoleh ke Sari. “Istri saya tidak bekerja. Ia seorang ibu rumah tangga.” Sari bingung mendengar jawaban Yoko. ‘Bagaimana A Taufik mengenal istri Pak Yoko? Dan mengapa mereka bisa berada dalam satu mobil?’ tanya Sari di dalam hati. ‘Aku harus segera menemukan jawabannya.’
Sari membawa pulang ke rumah barang yang diberikan oleh polisi. Salah satunya adalah telepon seluler milik Taufik. Ia penasaran dengan isi telepon seluler milik Taufik. Selama ini, ia belum pernah membuka telepon seluler milik suaminya. Layar telepon seluler Taufik selalu terkunci, ia bahkan tidak tahu cara membuka layarnya.
Sesampai di rumah, ia langsung mengisi daya baterai telepon seluler milik Taufik sebab daya baterainya habis. Sambil menunggu daya baterai penuh, ia membuka tas travel milik suaminya lalu mengeluarkan pakaian dari dalam tas satu persatu.
Ia menemukan alat kontrasepsi di antara tumpukan baju. Dadanya bertambah sakit melihat alat kontrasepsi. Ternyata tugas dinas luar dijadikan kesempatan Taufik untuk selingkuh dengan perempuan lain. Sari kembali menangis meratapi nasibnya.
Setelah puas menangis, Sari pergi ke tempat service telepon seluler. Ia butuh bantuan teknisi untuk membuka kunci layar seluler. “Pak, tolong bukakan kunci layar telepon seluler ini. Ini telepon seluler milik suami saya.” Sari memberikan telepon seluler Taufik kepada tehnisi. “Saya perlu mengakses telepon seluler ini, sedangkan suami saya sedang dalam keadaan koma.”
“Baik, Bu. Saya coba cek dulu.” Tehnisi mengambil telepon seluler Taufik lalu ia mencoba membuka kunci layar.
Tanpa harus menunggu lama tehnisi itu memanggil Sari. ”Sudah selesai, Bu.” Tehnisi memberikan telepon seluler kepada Sari.
Sari gembira mendengarnya. Ia mencoba untuk menggulir layar, ternyata layar sudah bisa digulir. Sari memberikan sejumlah uang yang diminta tehnisi lalu ia meninggalkan tempat service telepon seluler.
Sesampai di rumah ia langsung membuka telepon seluler Taufik. Pertama yang ia buka adalah galeri foto. Di galeri foto terdapat foto-foto dokumentasi kantor. Di antara dokumentasi kantor ia menemukan foto perempuan yang tidak ia kenal. Wajahnya cantik sekali, ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perempuan itu. ‘Apakah ini Ibu Nena istri Pak Yoko?’ Sari bertanya kepada dirinya sendiri.
Yoko mengeluarkan sejumlah uang dari dalam pouch. Jumlahnya lumayan banyak. Ia memberikan uang itu kepada Sari. “Ini uang untukmu selama kamu di Ancol.” Namun, Sari tidak mengambil uang itu. “Saya masih ada uang yang diberikan Kang Yoko beri minggu kemarin, “ kata Sari.“Sayang, uang itu untuk keperluan kamu. Kalau uang ini untuk kamu senang-senang selama kamu berada di Ancol, “ ujar Yoko. “Di sini serba mahal. Bagaimana kalau uang kamu sampai habis? Nanti kamu nggak punya uang.“Sari berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Yoko, nanti pulang dari Ancol dia makan dengan apa? Sari mengambil uang itu dari tangan Yoko dengan ragu-ragu. “Jumlahnya 3 juta rupiah. Kalau kurang kamu minta lagi ke aku, “ ujar Yoko.Sari terkejut mendengar perkataan Yoko. “Banyak sekali, “ kata Sari.Yoko tersenyum mendengar perkataan Sari. “Nggak apa-apa. Yang penting kamu senang, “ ujar Yoko sambil mengusap kerudung Sari. “Kita turun, yuk. “ Yoko mematikan mesin mobil.Sari turun dari mobil, ia m
Sari memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yoko. Yoko mendekati Sari, tanpa mengatakan apa-apa ia mengecup bibir Sari dengan lembut . Sari terkejut ketika Yoko tiba-tiba mengecup bibirnya. Namun, Yoko melakukannya tidak lama-lama. “Udah, ah. Jangan lama-lama, nanti nggak jadi pergi ke Jakarta.” Yoko mengecup kening Sari lalu kembali ke posisi semula. Ia memakai sabuk pengaman lalu menjalankan mobilnya. Sari sempat melongo dengan apa yang dilakukan Yoko. Namun, ia menundukkan kepala lalu tersenyum. Ia senang Yoko menciumnya.Pukul 6.30 mereka sudah sampai di Ancol. “Kita cari sarapan dulu,” kata Yoko usai membayar tiket masuk.“Tidak usah cari sarapan. Saya sudah siapkan makanan untuk sarapan kita berdua,” kata Sari.Yoko langsung menoleh ke Sari. “Kamu masak?” tanya Yoko. Sari tersenyum lalu mengangguk.“Kapan masaknya?” tanya Yoko sambil menyetir mobil.“Kemarin sore, Kang,” jawab Sari.“Kenapa masak? Padahal kita beli sarapan saja,” ujar Yoko.“Saya ingin masak untuk Yoko,” jawab Sar
Yoko menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Ia menatap rumah yang berukuran minimalis itu. Nomor rumah yang menempel di tembok pagar sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pemiliknya. Yoko pun menelepon pemilik rumah itu.Tanpa menunggu beberapa lama, pemilik rumah itu pun menjawab telepon Yoko. “Hallo.” Terdengar suara merdu Sari di seberang telepon. Rumah yang di datangi Yoko adalah rumah Sari.“Hallo, Sayang. Aku sudah sampai di depan rumah kamu,” sapa Yoko.“Baiklah, Kang. Saya akan segera keluar,” kata Sari lalu menutup telepon.Yoko menaruh telepon di bagian ticket holder di dasboard. Ia memperhatikan ke sekeliling rumah Sari yang terlihat masih sepi, tidak ada satu orang pun yang lewat. Ini pertama kalinya ia datang ke rumah Sari. Sebuah perumahan yang terletak di pinggiran kota Bandung. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Yoko.Yoko kembali menoleh ke rumah Sari. Ia melihat Sari sudah berada di depan rumah, ia sedang mengunci pintu rumah. Yoko turun dari mob
Sari cepat-cepat mengumpet di balik tembok agar tidak terlihat oleh Yoko. Ia memperhatikan Yoko dari balik tembok. Wajah Yoko terlihat ceria ketika hendak menjenguk istrinya. Entah mengapa Sari merasa sedih ketika melihat Yoko yang hendak menjenguk Nena. Yoko yang ceria seolah Yoko senang karena hendak bertemu dengan istrinya. Sari cuma bisa menatap Yoko dari balik tembok dengan wajah sedih.Setelah Yoko terlihat jauh barulah Sari keluar dari tempat persembunyiannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata. ‘Mengapa Nena bisa mendapatkan cinta dari Taufik dan Yoko? Sedangkan dia, tidak ada satu laki-laki yang mau mencintainya.’Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Ia mengusap air mata lalu berjalan gontai meninggalkan rumah sakit. Semenjak pertemuan terakhir dengan Yoko, Yoko belum meneleponnya. Ia merasa Yoko sudah melupakannya dan kembali kepada istrinya. Sari hanya bisa pasrah pada kenyataan yang ia hadapi...Sari baru saja selesai solat. Ia membuka mukenah yang ia pakai lal
Yoko sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya di tutupi oleh selimut. Ia menoleh ke samping, Sari sedang tidur dengan nyenyak. Perempuan itu letih karena mereka baru selesai bercinta. Mereka bercinta sebanyak 2 kali. Pertama di kamar mandi ketika mereka mandi bareng, yang kedua di ketika mereka hendak tidur.Yoko tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi ia mengajak Sari melakukannya karena ia ingin balas dendam kepada istrinya. Ia dan Sari sama-sama menjadi korban permainan cinta Nena dan Taufik. Namun, dalam hal ini yang benar-benar dirugikan adalah Sari. Ketika mereka sedang bercinta Yoko tidak memakai pengaman, padahal Sari sudah mengingatkannya berkali-kali. Namun, ia tetap dengan pendiriannya. Alasannya balas dendam yang mereka lakukan harus setimpal dengan apa yang dilakukan oleh Nena dan Taufik. Jika Nena dan Taufik memiliki anak dari hasil selingkuh, maka ia dan Sari harus memiliki anak dari hasil selingkuh. Ia berjanji kepada Sari, ia akan bertanggung jawab jika Sari sampai
Sari merebahkan diri di kursi santai sambil menikmati langit senja yang mula tenggelam. Ia baru saja selesai menghabiskan beberapa potong qroquette dan segelas minuman tropical mango mojito. Suasana di kolam renang sudah mulai sepi, hanya tinggal Yoko dan beberapa orang yang masih berenang. Sari heran melihat Yoko masih kuat berenang, padahal udara sudah mulai dingin. Sari membiarkan Yoko berenang sampai puas, ia melanjutkan scroll media sosial. Baru 5 menit Sari menikmati postingan di media sosial, ia mendengar suara Yoko memanggilnya. Sari mengalihan pandangannya dari telepon seluler. Ia melihat Yoko yang berada di pinggir kolam renang sambil memandang ke arahnya. Ternyata kolam renang sudah sepi tinggal Yoko sendiri yang berada di kolam renang. “Sari.” Yoko sekali lagi memanggil Sari. Sari meletakkan telepon seluler di atas meja lalu menghampiri Yoko. “Ada apa, Pak?” tanya Sari. “Tolong ambilkan handuk!” ujar Yoko. Sari kembali ke tempat duduk lalu mengambil hand







