เข้าสู่ระบบFoto-foto perempuan itu memenuhi galeri telepon seluler Taufik. Baik sedang bergaya sendiri ataupun sedang berdua dengan Taufik. Bahkan ada video Taufik dan perempuan itu yang sedang bercanda di dalam kamar hotel. Video itu sangat vulgar karena pakaian yang mereka gunakan sangat minim. Ia merasa iri dengan perempuan itu karena ia belum pernah melakukan hal itu bersama suaminya.
Sari menggulir layar ke bawah, ternyata terdapat banyak foto-foto Taufik yang membuatnya ingin muntah. Bahkan foto-foto itu dibuat di kamar mandi rumah mereka. Sari menghela napas panjang, ternyata banyak yang Taufik lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Bahkan banyak foto-foto perempuan itu yang membuatnya ingin muntah. Ternyata mereka saling mengirimi foto-foto yang tidak senonoh.
Sari mengakhiri menggulir galeri foto, ia tidak kuat lagi melihat foto-foto mereka yang membuatnya muak dan ingin muntah. Bahkan ia tidak menemukan satu pun foto dirinya di galeri telepon seluler Taufik. Sari merasa sedih dan kecewa. Ternyata selama ini suaminya mengganggapnya tidak pernah ada.
Sari kembali teringat, Taufik jarang mengajaknya hubungan suami istri dengan alasan Taufik merasa kasihan kepadanya karena ia sudah capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Taufik selalu menyuruhnya untuk istirahat. Jika mereka melakukan hubungan suami istri, Taufik melakukannya dengan menggunakan alat kontrasepsi. Ia beralasan, ia masih ingin menikmati bulan madu mereka. Tidak heran, walaupun mereka sudah menikah selama 4 tahun, mereka belum dikaruniai anak.
Sari berlanjut pada aplikasi kirim pesan. Ia mencoba mencari nama Nena di antara daftar nomor kontak. Setelah ia menemukan nama Nena, tapi tidak ada pesan yang tertinggal. ‘Apa A Taufik sudah menghapus semua pesan-pesannya?’ tanya Sari kepada dirinya sendiri.
Sari keluar dari aplikasi tersebut, ia kembali menggulir layar telepon seluler. Keningnya berkerut ketika menemukan sebuah aplikasi yang diaggapnya janggal, yaitu aplikasi novel online. ‘Sejak kapan A Taufik baca novel?’ Selama ini belum pernah melihat suaminya membaca novel.
Sari membuka aplikasi novel online. Akun di aplikasi itu tidak ada foto dan nama akun ditulis dengan tulisan Jepang. Sari tidak tahu arti tulisan itu. Namun, daftar baca di akun tersebut ternyata kosong. Sari membuka kolom yang berada di aplikasi itu satu persatu, hingga ia menemukan kolom kirim pesan. Di kolom itu ia menemukan pesan akun Taufik dengan akun lain yang bertuliskan huruf Jepang juga dan tidak ada foto.
Sari membuka pesan yang dikirim di akun itu. Di sana banyak sekali percakapan Taufik dengan akun lain, yang ternyata akun itu milik seorang perempuan. Bahkan ia menemukan banyak foto-foto yang tidak senonoh mereka kirim melalui pesan di aplikasi itu.
Dada Sari terasa sesak membaca percakapan Taufik dengan perempuan itu. Suaminya sudah keterlaluan, ia sudah membohonginya.
.
.
Beberapa hari kemudian Sari ke rumah sakit untuk melihat keadaan Taufik. Namun, sesampai di rumah sakit ia enggan menemui suaminya. Ia masih sakit hati dengan apa yang telah suaminya lakukan kepadanya. Sari memutuskan untuk duduk di taman yang berada di tengah-tengah rumah sakit.
Sari memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di taman itu. Hatinya merasa terhibur melihat anak-anak bermain. Sudah lama ia ingin memiliki anak, tapi sepertinya keinginannya tidak akan terwujud.
Ketika ia sedang memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di taman, ia melihat Yoko datang ke taman sambil menggendong seorang anak balita. Gadis kecil itu itu menangis meronta-ronta di gedongan Yoko. Yoko kewalahan menggendong gadis kecil itu lalu ia menunjuk ke anak-anak yang sedang bermain di taman. Tanpa sengaja pandangan Sari dan Yoko bertemu. Sari menyapa Yoko dengan angguk kepala. Yoko membalas anggukan kepala Sari.
Gadis kecil itu tidak berhenti menangis, walaupun ia melihat anak-anak seusia dengannya sedang bermain di taman. Sari memutuskan untuk mendekati gadis kecil itu. Ia berjalan menghampiri Yoko. “Hallo anak cantik. Kenapa nangis?” sapa Sari.
Gadis kecil itu menoleh ke Sari. “Hana mau ke Mama,” jawab gadis kecil sambil sesegukan.
“Mama sedang istirahat, nggak boleh diganggu,” ujar Sari. “Mendingan kita main. Tuh, banyak teman-teman yang sedang bermain.” Sari menunjuk ke anak-anak yang sedang menaiki permainan anak. Kepala gadis kecil itu bergerak mengikuti arah tangan Sari.
Sari kembali menoleh ke gadis kecil itu. “Mau nggak?” tanya Sari. Gadis kecil itu menjawab dengan mengangguk.
“Kalau begitu turun, dong! Kasihan Papa nya cape menggendong terus,” kata Sari.
Gadis kecil itu mengikuti apa kata Sari. “Mau turun.” Gadis itu menggerakkan badannya meminta turun. Yoko menurunkan gadis kecil itu.
Sari membungkukan badannya menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu. “Kita kenalan dulu. Siapa namanya?” Sari mengulurkan tangannya mengajak gadis itu bersalaman.
“Hana,” jawab gadis itu tanpa menyalami tangan Sari.
“Ayo Hana kita main.” Sari menuntun tangan Hana, mereka berjalan menuju permainan anak-anak. Sari menaikkan tubuh Hana ke atas ayunan lalu ia mendorong ayunan. Ayunan pun bergerak mengayun-ayun tubuh Hana. Wajah Hana yang tadinya sedih berubah menjadi gembira.
Seorang perempuan muda menghampirinya. Perempuan muda itu adalah pengasuh Hana. “Biar sama saya saja, Bu,” kata perempuan muda itu. Sari mundur, ia membiarkan perempuan itu yang mengayun ayunan.
Sari mencari tempat duduk kosong, kebetulan di sebelah Yoko ada tempat yang kosong. Sari duduk di sebelah Yoko, laki-laki itu sedang memperhatikan Hana. “Hana gadis yang cantik dan pintar,” kata Sari sambil memperhatikan Hana yang sedang bermain ayunan. Yoko menoleh ke Sari lalu ia tersenyum mendengar pujian Sari.
“Dia pasti secantik mamanya,” lanjut Sari sambil menoleh ke Yoko. Yoko tidak mengatakan apa-apa.
“Pak Yoko.” Sari memanggil Yoko.
Yoko menoleh ke Sari, “Ya, Bu Sari?”
Sari mengulurkan telepon seluler miliknya ke Yoko. Di layar telepon seluler ada foto perempuan yang ia temukan di telepon seluler milik Taufik. “Apakah ini foto istri Pak Yoko?”
Yoko sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya di tutupi oleh selimut. Ia menoleh ke samping, Sari sedang tidur dengan nyenyak. Perempuan itu letih karena mereka baru selesai bercinta. Mereka bercinta sebanyak 2 kali. Pertama di kamar mandi ketika mereka mandi bareng, yang kedua di ketika mereka hendak tidur.Yoko tahu apa yang mereka lakukan salah, tapi ia mengajak Sari melakukannya karena ia ingin balas dendam kepada istrinya. Ia dan Sari sama-sama menjadi korban permainan cinta Nena dan Taufik. Namun, dalam hal ini yang benar-benar dirugikan adalah Sari. Ketika mereka sedang bercinta Yoko tidak memakai pengaman, padahal Sari sudah mengingatkannya berkali-kali. Namun, ia tetap dengan pendiriannya. Alasannya balas dendam yang mereka lakukan harus setimpal dengan apa yang dilakukan oleh Nena dan Taufik. Jika Nena dan Taufik memiliki anak dari hasil selingkuh, maka ia dan Sari harus memiliki anak dari hasil selingkuh. Ia berjanji kepada Sari, ia akan bertanggung jawab jika Sari sampai
Sari merebahkan diri di kursi santai sambil menikmati langit senja yang mula tenggelam. Ia baru saja selesai menghabiskan beberapa potong qroquette dan segelas minuman tropical mango mojito. Suasana di kolam renang sudah mulai sepi, hanya tinggal Yoko dan beberapa orang yang masih berenang. Sari heran melihat Yoko masih kuat berenang, padahal udara sudah mulai dingin. Sari membiarkan Yoko berenang sampai puas, ia melanjutkan scroll media sosial. Baru 5 menit Sari menikmati postingan di media sosial, ia mendengar suara Yoko memanggilnya. Sari mengalihan pandangannya dari telepon seluler. Ia melihat Yoko yang berada di pinggir kolam renang sambil memandang ke arahnya. Ternyata kolam renang sudah sepi tinggal Yoko sendiri yang berada di kolam renang. “Sari.” Yoko sekali lagi memanggil Sari. Sari meletakkan telepon seluler di atas meja lalu menghampiri Yoko. “Ada apa, Pak?” tanya Sari. “Tolong ambilkan handuk!” ujar Yoko. Sari kembali ke tempat duduk lalu mengambil hand
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, tandanya Sari keluar dari kamar mandi. Yoko menoleh ke arah kamar mandi, ia sudah penasaran dengan penampilan Sari dengan pakaian rumah dan tidak menggunakan kerudung.Ketika Sari menampakkan dirinya, Yoko terkejut melihat penampilan Sari. Sari menggunakan setelan piama lengan panjang dan memakai hijab instan. Yoko menghela napas kecewa dengan penampilan Sari. “Sayang, kenapa hijabnya nggak dibuka?” tanya Yoko.“Nanti saja dibukanya kalau mau tidur,” jawab Sari.“Ya sudah, kalau maunya begitu. Sini tidur di sini.” Yoko menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.“Nggak, ah. Saya duduk di sofa saja.” Sari berjalan menuju sofa lalu duduk di sofa. Lagi-lagi Yoko menghela napas karena kecewa pada Sari.“Sayang, apa nggak pegel duduk terus?” Yoko memperhatikan Sari yang hendak memainkan telepon seluler. Sari diam tidak menjawab pertanyaan Yoko. Sebenarnya punggungnya merasa pegal, ia ingin berbaring tubuhnya, tapi ia nggak be
Pertanyaan Sari membuat Yoko sedikit terkejut. Ia menoleh ke Sari. Wanita itu sudah menggunakan mukenah, tangannya memegang sajadah. Melihat penampilan Sari menyadarkannya kalau ia juga belum solat dzuhur.Yoko beranjak dari tempatnya berdiri. Ia mencari petunjuk arah kiblat yang biasa ada kamar hotel. Di langit-langit kamar ada stiker berbentuk tanda panah yang bertuliskan kiblat. “Kiblat nya ke arah sana.” Yoko menunjuk ke arah pintu.“Saya solat dulu, Pak. Sebentar lagi dzuhur habis.” Sari menggelar sajadah menghadap ke kiblat lalu memulai solat. Yoko memperhatikan Sari yang sedang solat. Wanita itu berada di dalam kamar berdua dengan pria yang bukan suaminya, tetapi ia masih ingat kepada Tuhan-nya. Yoko melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.Beberapa menit kemudian ketika Sari masih solat, terdengar dering telepon dari dalam tas Sari. Sari cepat-cepat menyelesaikan solatnya, ia takut suara dering teleponnya mengganggu Yoko yang sedang solat dzuhur. Setelah mengucapkan salam Sa
Yoko dan Sari berjalan menuju ke lobi hotel. Ketika masuk ke lobi, Sari takjub melihat lobi hotel. Suasananya yang tenang dan interiornya yang mewah. Baru kali ini Sari menginjakan kaki di hotel bintang lima. Bahkan Taufik belum pernah mengajaknya menginap di hotel.Sari berjalan mengikuti Yoko menuju ke tempat reservasi. Seorang perempuan muda berwajah cantik menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang merekah. Ia adalah pegawai hotel bagian reservasi. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sapa perempuan itu dengan ramah.“Saya sudah pesan kamar atas nama Yoko Ardian,” ujar Yoko.“Sebentar, Pak. Kami cek dulu.” Perempuan itu menunduk, ia seperti sedang mengetik. Sambil menunggu perempuan muda mencari nama Yoko, Sari mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobi hotel. Ada beberapa orang yang sedang duduk di lobi, ada juga yang sedang berlalu lalang keluar masuk lobi. Sari berharap ia tidak bertemu dengan orang yang ia kenal.“Lagi lihat apa, Sayang?” Sebuah kecupan mendarat di p
Yoko selesai membayar makanan, Sari cepat-cepat memalingkan wajahnya agar tidak terlihat sedang memperhatikan Yoko. “Ayo, Sayang. Kita pulang.” Yoko merangkul pinggang Sari. Sari seperti tersengat listrik ketika tangan Yoko menyentuh pinggangnya. Belum pernah ada laki-laki yang menyentuh pinggangnya, bahkan suaminya belum pernah merangkul pinggangnya.Keterkejutan Sari dirasakan oleh Yoko. “Kenapa, Sayang?” tanya Yoko dengan lembut.Sari menggelengkan kepala. “Nggak ada apa-apa,” jawab Sari.Yoko berbisik ke telinga Sari. “Bu Sari tenang saja. Serahkan semuanya kepada saya.” Setelah itu Yoko mengecup pipi Sari. Sari kembali seperti disengat listrik. Ia menoleh ke Yoko dengan mata melotot.“Kenapa, Sayang?” Yoko menanggapinya dengan lembut.“Di sini banyak orang, Pak!” bisik Sari.“Nggak apa-apa, Namanya juga orang pacaran.” Yoko merubah posisi tangannya, ia merangkul pundak Sari. Mereka berjalan ke mobil. Sepanjang langkah menuju mobil, Sari mencium wangi parfum Yoko karena posisi mere







