Mag-log inAyahku menatapku dengan tatapan lembut namun tegas. "Nggak apa-apa. Fondasi Grup Loranka nggak akan terguncang oleh sedikit uang itu. Tapi, Ayah mau beri tahu kamu bahwa Ayah sudah setuju untuk membiarkanmu melanjutkan penelitianmu. Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Ayah akan mendukungmu." Air mataku langsung mengalir. Aku telah menyakiti mereka begitu dalam demi apa yang disebut cita-cita dan cinta. Namun, mulai sekarang, itu tidak akan pernah terjadi lagi.Aku kembali fokus pada penelitian dan memimpin timku untuk menangani topik penelitian baru.Vera bercerita bahwa setelah kejadian di hotel, dia sudah sepenuhnya meningkatkan sistem manajemen keamanan dan verifikasi identitas pelanggan. Dengan begitu, penipuan identitas tidak mungkin terjadi lagi.Dengan sedikit rasa bersalah, aku bertanya padanya apakah kejadian itu berdampak signifikan pada citra hotel.Dia tertawa terbahak-bahak, "Jangan khawatir. Yang salah adalah pasangan bajingan itu, bukan kamu. Sekarang, hotel kami t
"Kamu nggak punya pilihan." Aku memejamkan mata dan menolak untuk melihat wajahnya yang menjijikkan. "Itu bukan keputusanmu." Kemudian, Lionel dan Melly dibawa pergi oleh polisi.Selama aku dirawat di rumah sakit, orang tuaku dan Vera bergantian menjagaku. Mereka sangat berhati-hati dan tidak pernah mengungkit tentang Lionel. Mereka hanya berusaha sebaik mungkin untuk menghiburku karena takut kejadian ini akan meninggalkan trauma.Pada hari aku keluar dari rumah sakit, ibuku menggenggam tanganku dan berkata dengan mata sedikit memerah, "Hannah, pulanglah. Ayahmu ... sangat merindukanmu. Kita sekeluarga kumpul kembali, ya?" Melihat garis-garis halus baru di sekitar mata ibuku, hatiku terasa pahit. Aku sangat berterima kasih kepada mereka. Dari kecil hingga dewasa, aku tidak pernah kekurangan apa pun. Satu-satunya keinginan mereka adalah aku hidup dengan sehat dan bahagia.Namun, seiring bertambahnya usia, aku menjadi sangat keras kepala dan hanya fokus pada penelitian ilmiah. Terkadan
Aku membaca mutasi rekening yang jelas di layar ponsel, lalu menatap Lionel dengan terkejut. "Kamu berani menggelapkan dana perusahaan?""Nggak!" Lionel sudah sepenuhnya panik. Suaranya juga melengking."Apa itu fitnah atau bukan, kita akan segera tahu." Sebuah suara tegas terdengar dari ambang pintu.Ayahku berdiri di sana dengan ekspresi muram. Dia diikuti oleh dua petugas polisi yang berseragam. Pandangannya menyapu Lionel dan Melly, lalu akhirnya tertuju padaku. Dia menatapku dengan sedih."Pak Polisi, buktinya sudah diserahkan. Kalian boleh tangani orang-orang yang bersangkutan sesuai prosedur." Lionel akhirnya menunjukkan rasa takut. Kemunafikannya runtuh dalam seketika dan digantikan oleh kepanikan. Dia menerjang ke arah Melly, lalu mencoba menarik kalung berlian dan jam tangan mahalnya dengan panik. Gerakannya begitu kasar sehingga hampir membuat Melly jatuh."Hannah! Hannah, percayalah padaku!" Suaranya bergetar dan terdengar tercekat. "Aku benar-benar nggak tahu apa-apa. Aku
Aku memaksakan seulas senyum. Namun, sebelum aku sempat berbicara, pintu kamarku didobrak.Lionel berdiri di ambang pintu dengan tampang suram. Matanya sama sekali tidak mengandung rasa bersalah, malah penuh tuduhan.Dia menerjang ke samping tempat tidur dan menunjukku sambil berseru, "Hannah, kenapa kamu nggak beri tahu aku dari awal bahwa orang tuamu adalah bos Grup Loranka? Kalau kamu beri tahu aku dari awal, aku nggak akan menyinggung Grup Loranka dan Grup Sorana. Lihat apa yang terjadi sekarang! Aku sudah dipecat dari perusahaan dan hidupku jadi hancur! Apa kamu sudah puas?"Lionel yang begitu tidak tahu malu benar-benar membuatku jijik."Aku pernah ngomong." Aku berujar dengan jelas, "Lebih dari sekali. Kamu sendiri yang nggak pernah sabar untuk mendengarnya. Kamu merasa masalah keluargaku nggak penting. Lionel, kamu bisa berakhir begini akibat perbuatanmu sendiri!" Berhubung merasa terpukul oleh kata-kataku, dia menjadi makin histeris dan malah menyalahkanku, "Kamu salahkan aku
Melihat keraguan di mata Lionel, Melly melanjutkan, "Lagian, aku pernah lihat postingan media sosial Bu Vera dan nggak temukan foto Kak Hannah. Apa Kak Hannah yang pakai entah cara apa untuk menipu Bu Vera?" Tatapan Lionel ke arahku kembali dipenuhi kecurigaan. Dia berkata pada Vera dengan sok pintar, "Bu Vera, kamu pasti sudah tertipu sama wanita ini. Dia paling jago pasang tampang kasihan untuk dapatkan simpati. Jangan sampai kamu tertipu! Mana mungkin dia itu sahabatmu?" Untuk lebih meyakinkan, Lionel bahkan mendorong Melly ke depan. "Bu Vera, ini Melly Wijaya. Dia sebenarnya putri Pak Ardi dari Grup Loranka. Kamu pasti pernah bertemu dengannya. Dia bisa bersaksi bahwa kamu sama sekali nggak mengenal Hannah!" Mendengar ini, bukan hanya aku yang terkejut, bahkan Vera juga tertawa kesal.Putri Grup Loranka? Aku adalah satu-satunya putri Grup Loranka. Berhubung aku bersikeras ingin melakukan penelitian, aku bersitegang dengan ayahku. Setelah itu, aku meninggalkan rumah untuk sementa
Panggilan itu sudah sepenuhnya mengonfirmasi identitas sahabatku sebagai investor. Para penonton yang tadinya mengejekku saling bertukar pandang dengan terkejut dan merasa malu."Astaga ... dia nggak berbohong?""Jadi, memang suaminya yang suruh selingkuhannya nyamar jadi istri sah? Apa pria ini masih manusiawi?""Ya Tuhan, dia bukan cuma bantu selingkuhannya menindas istrinya, tapi juga memukul orang! Berengsek banget!""Dasar pasangan pezina! Kalian benar-benar menjijikkan!"Opini publik langsung berubah.Orang yang berlibur bersama anak-anak atau pasangan sangat membenci perselingkuhan. Mereka pun mulai memaki dengan makin kasar.Para satpam melepaskan cengkeraman mereka dengan malu dan tidak berani menyentuhku lagi.Sahabatku sangat kasihan padaku dan hendak berlutut untuk membantuku berdiri. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuhku, Lionel langsung meraihnya.Dia menunjukkan senyum menjilat namun gugup, lalu menjabat tangan sahabatku secara paksa dan berkata, "Halo, Bu Vera. Ma