Share

Bab 2

Author: Kayla
Suaraku menggema di seluruh lobi. Kerumunan yang tadinya ribut langsung terdiam. Semua mata tertuju pada Melly.

Melly melirik ke sekeliling. Matanya langsung berkaca-kaca. "Kak, apa yang kamu katakan? Karena merasa kasihan setelah melihat betapa kerasnya aku bekerja selama perjalanan bisnis, suamiku baru buatkan aku kartu member hotel ini. Sepatu ini juga hadiah darinya."

"Soal kondom ...." Melly pura-pura malu dan menunduk. "Apa salahnya aku pakai barang itu dengan suamiku?"

Tiba-tiba, Melly menatapku dengan iba. "Kak, apa kamu merasa kesal karena suamimu memperlakukanmu dengan buruk? Apa aku perlu bantu kamu hubungi psikolog?"

Ucapan itu langsung memicu perdebatan orang di sekitar.

"Lihat penampilannya yang lesu dan tua. Suaminya pasti jarang menyentuhnya."

"Pembuatan kartu member itu paling nggak butuh 600 juta. Dinilai dari penampilannya, dia mana mampu melakukannya."

"Kenapa sembarang orang dibiarkan masuk ke tempat semewah ini?"

Hari ini, aku hanya mengenakan pakaian kasual. Penampilanku tidak seburuk yang mereka gambarkan.

Aku malas menanggapi gosip orang. Aku menoleh ke arah Melly dan mencibir, "Kenapa aku nggak pernah tahu kamu begitu pandai bicara?"

Kemudian, aku bertanya kepada resepsionis, "Apa kalian sudah periksa identitas Bu Hannah ini waktu dia check-in?"

Resepsionis itu menjawab dengan tergagap, "Dia bilang dia nggak bawa KTP. Tapi, Pak Lionel adalah pelanggan tetap. Jadi ...."

"Jadi, kalian bisa melanggar aturan?" Aku menyela dengan tajam, "Manajemen keamanan hotel kalian cuma sekadar formalitas?"

Resepsionis itu terdiam.

Melly segera berlagak baik dan berujar, "Kak, dia cuma seorang resepsionis. Buat apa kamu mempersulitnya? Orang menginap di hotel yang sesuai dengan statusnya. Kamu jangan menggila dan buat masalah di sini."

Kata-katanya jelas menyiratkan bahwa statusku tidak cukup tinggi untuk tinggal di tempat ini.

Tepat pada saat ini, ponsel Melly berdering. Layarnya jelas menampilkan kata "suamiku".

"Angkat saja." Aku mencibir, "Aktifkan juga speaker-nya. Biar aku bisa dengar kebohongan apa yang akan Lionel karang."

Melly menjawab telepon dengan angkuh. Dia mengaktifkan speaker, lalu berkata dengan suara menahan tangis,"Sayang, cepat datang ke hotel! Ada wanita gila yang bersikeras bilang aku bukan istrimu dan mau mengusirku ...."

Air mata mengalir di wajahnya. Suara marah Lionel langsung terdengar dari ujung telepon. "Wanita gila mana yang berani menindasmu? Jangan takut, aku akan segera tiba!"

Wanita gila. Ternyata, dia sudah menganggapku gila sejak awal.

Orang-orang di sekitar memandangku dengan tatapan mengejek. Beberapa bahkan menghampiri Melly untuk menghiburnya, "Nggak usah tanggapi orang gila."

Melly berterima kasih dengan lembut, lalu menasihatiku, "Suamiku akan segera datang. Temperamennya kurang baik. Sebaiknya kamu segera pergi. Dia bisa dengan mudahnya kasih aku kartu member yang harganya 600 juta ini. Itu sudah tunjukkan betapa dia manjakan aku. Kalau sampai dia datang, siapa tahu apa yang akan dia lakukan padamu."

Kata-kata ini terdengar seperti nasihat, tetapi sebenarnya adalah provokasi terang-terangan. Saking marahnya, tubuhku gemetar hebat. Aku sangat ingin mencabik-cabik kemunafikannya.

Lionel tiba lebih cepat dari yang kuduga. Begitu masuk ke hotel dan melihatku, tatapannya berubah menjadi galak dan kejam. Dia mendorongku dengan kasar, lalu memeluk Melly dengan erat.

"Jangan takut. Aku ada di sini." Gerakannya mengelus rambut Melly dengan lembut terlihat sangat menusuk mata.

Lantai marmer di hotel berkilauan. Dorongannya membuatku terhuyung mundur dan punggungku membentur sandaran lengan sofa dengan kuat. Jika bukan karena ada sofa, aku mungkin sudah jatuh ke lantai.

Namun, Melly malah berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher Lionel. Mereka langsung berciuman mesra.

"Suamiku, kamu baik banget," ucap Melly dengan terengah-engah. Kemudian, dia merengek dengan manja, "Cepat jelaskan semuanya kepada wanita ini. Dia nggak percaya sepatah kata pun yang kukatakan!"

Lionel akhirnya mengalihkan pandangannya ke arahku. Matanya tidak mengandung sedikit pun rasa bersalah, hanya rasa jijik.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Selingkuh Pakai Identitasku? Aku Akhiri Semuanya   Bab 10

    Ayahku menatapku dengan tatapan lembut namun tegas. "Nggak apa-apa. Fondasi Grup Loranka nggak akan terguncang oleh sedikit uang itu. Tapi, Ayah mau beri tahu kamu bahwa Ayah sudah setuju untuk membiarkanmu melanjutkan penelitianmu. Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Ayah akan mendukungmu." Air mataku langsung mengalir. Aku telah menyakiti mereka begitu dalam demi apa yang disebut cita-cita dan cinta. Namun, mulai sekarang, itu tidak akan pernah terjadi lagi.Aku kembali fokus pada penelitian dan memimpin timku untuk menangani topik penelitian baru.Vera bercerita bahwa setelah kejadian di hotel, dia sudah sepenuhnya meningkatkan sistem manajemen keamanan dan verifikasi identitas pelanggan. Dengan begitu, penipuan identitas tidak mungkin terjadi lagi.Dengan sedikit rasa bersalah, aku bertanya padanya apakah kejadian itu berdampak signifikan pada citra hotel.Dia tertawa terbahak-bahak, "Jangan khawatir. Yang salah adalah pasangan bajingan itu, bukan kamu. Sekarang, hotel kami t

  • Selingkuh Pakai Identitasku? Aku Akhiri Semuanya   Bab 9

    "Kamu nggak punya pilihan." Aku memejamkan mata dan menolak untuk melihat wajahnya yang menjijikkan. "Itu bukan keputusanmu." Kemudian, Lionel dan Melly dibawa pergi oleh polisi.Selama aku dirawat di rumah sakit, orang tuaku dan Vera bergantian menjagaku. Mereka sangat berhati-hati dan tidak pernah mengungkit tentang Lionel. Mereka hanya berusaha sebaik mungkin untuk menghiburku karena takut kejadian ini akan meninggalkan trauma.Pada hari aku keluar dari rumah sakit, ibuku menggenggam tanganku dan berkata dengan mata sedikit memerah, "Hannah, pulanglah. Ayahmu ... sangat merindukanmu. Kita sekeluarga kumpul kembali, ya?" Melihat garis-garis halus baru di sekitar mata ibuku, hatiku terasa pahit. Aku sangat berterima kasih kepada mereka. Dari kecil hingga dewasa, aku tidak pernah kekurangan apa pun. Satu-satunya keinginan mereka adalah aku hidup dengan sehat dan bahagia.Namun, seiring bertambahnya usia, aku menjadi sangat keras kepala dan hanya fokus pada penelitian ilmiah. Terkadan

  • Selingkuh Pakai Identitasku? Aku Akhiri Semuanya   Bab 8 

    Aku membaca mutasi rekening yang jelas di layar ponsel, lalu menatap Lionel dengan terkejut. "Kamu berani menggelapkan dana perusahaan?""Nggak!" Lionel sudah sepenuhnya panik. Suaranya juga melengking."Apa itu fitnah atau bukan, kita akan segera tahu." Sebuah suara tegas terdengar dari ambang pintu.Ayahku berdiri di sana dengan ekspresi muram. Dia diikuti oleh dua petugas polisi yang berseragam. Pandangannya menyapu Lionel dan Melly, lalu akhirnya tertuju padaku. Dia menatapku dengan sedih."Pak Polisi, buktinya sudah diserahkan. Kalian boleh tangani orang-orang yang bersangkutan sesuai prosedur." Lionel akhirnya menunjukkan rasa takut. Kemunafikannya runtuh dalam seketika dan digantikan oleh kepanikan. Dia menerjang ke arah Melly, lalu mencoba menarik kalung berlian dan jam tangan mahalnya dengan panik. Gerakannya begitu kasar sehingga hampir membuat Melly jatuh."Hannah! Hannah, percayalah padaku!" Suaranya bergetar dan terdengar tercekat. "Aku benar-benar nggak tahu apa-apa. Aku

  • Selingkuh Pakai Identitasku? Aku Akhiri Semuanya   Bab 7

    Aku memaksakan seulas senyum. Namun, sebelum aku sempat berbicara, pintu kamarku didobrak.Lionel berdiri di ambang pintu dengan tampang suram. Matanya sama sekali tidak mengandung rasa bersalah, malah penuh tuduhan.Dia menerjang ke samping tempat tidur dan menunjukku sambil berseru, "Hannah, kenapa kamu nggak beri tahu aku dari awal bahwa orang tuamu adalah bos Grup Loranka? Kalau kamu beri tahu aku dari awal, aku nggak akan menyinggung Grup Loranka dan Grup Sorana. Lihat apa yang terjadi sekarang! Aku sudah dipecat dari perusahaan dan hidupku jadi hancur! Apa kamu sudah puas?"Lionel yang begitu tidak tahu malu benar-benar membuatku jijik."Aku pernah ngomong." Aku berujar dengan jelas, "Lebih dari sekali. Kamu sendiri yang nggak pernah sabar untuk mendengarnya. Kamu merasa masalah keluargaku nggak penting. Lionel, kamu bisa berakhir begini akibat perbuatanmu sendiri!" Berhubung merasa terpukul oleh kata-kataku, dia menjadi makin histeris dan malah menyalahkanku, "Kamu salahkan aku

  • Selingkuh Pakai Identitasku? Aku Akhiri Semuanya   Bab 6 

    Melihat keraguan di mata Lionel, Melly melanjutkan, "Lagian, aku pernah lihat postingan media sosial Bu Vera dan nggak temukan foto Kak Hannah. Apa Kak Hannah yang pakai entah cara apa untuk menipu Bu Vera?" Tatapan Lionel ke arahku kembali dipenuhi kecurigaan. Dia berkata pada Vera dengan sok pintar, "Bu Vera, kamu pasti sudah tertipu sama wanita ini. Dia paling jago pasang tampang kasihan untuk dapatkan simpati. Jangan sampai kamu tertipu! Mana mungkin dia itu sahabatmu?" Untuk lebih meyakinkan, Lionel bahkan mendorong Melly ke depan. "Bu Vera, ini Melly Wijaya. Dia sebenarnya putri Pak Ardi dari Grup Loranka. Kamu pasti pernah bertemu dengannya. Dia bisa bersaksi bahwa kamu sama sekali nggak mengenal Hannah!" Mendengar ini, bukan hanya aku yang terkejut, bahkan Vera juga tertawa kesal.Putri Grup Loranka? Aku adalah satu-satunya putri Grup Loranka. Berhubung aku bersikeras ingin melakukan penelitian, aku bersitegang dengan ayahku. Setelah itu, aku meninggalkan rumah untuk sementa

  • Selingkuh Pakai Identitasku? Aku Akhiri Semuanya   Bab 5

    Panggilan itu sudah sepenuhnya mengonfirmasi identitas sahabatku sebagai investor. Para penonton yang tadinya mengejekku saling bertukar pandang dengan terkejut dan merasa malu."Astaga ... dia nggak berbohong?""Jadi, memang suaminya yang suruh selingkuhannya nyamar jadi istri sah? Apa pria ini masih manusiawi?""Ya Tuhan, dia bukan cuma bantu selingkuhannya menindas istrinya, tapi juga memukul orang! Berengsek banget!""Dasar pasangan pezina! Kalian benar-benar menjijikkan!"Opini publik langsung berubah.Orang yang berlibur bersama anak-anak atau pasangan sangat membenci perselingkuhan. Mereka pun mulai memaki dengan makin kasar.Para satpam melepaskan cengkeraman mereka dengan malu dan tidak berani menyentuhku lagi.Sahabatku sangat kasihan padaku dan hendak berlutut untuk membantuku berdiri. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuhku, Lionel langsung meraihnya.Dia menunjukkan senyum menjilat namun gugup, lalu menjabat tangan sahabatku secara paksa dan berkata, "Halo, Bu Vera. Ma

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status