Teilen

Cium

last update Veröffentlichungsdatum: 07.05.2026 21:26:11

Di dalam kamar paviliun yang baru, keheningan hanya dipecahkan oleh suara sikat yang menyisir rambut pirang keemasan Meghan. Saat pelayan mencabut jepit perak, rambut itu tergerai jatuh seperti aliran emas murni hingga mencapai pinggangnya.

Pintu terbuka. Ralph melangkah masuk, membiarkan langkah botnya bergema di lantai marmer. Para pelayan segera membungkuk dan undur diri, meninggalkan Meghan sendirian dengan pria yang telah menjadikannya alat pembalas dendam.

Ralph berdiri di belakangnya, me
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Posisi

    Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentuman yang menggema, mengunci kebisingan dari pelataran luar. Ralph menyeret Meghan menuju tengah ruangan, di mana cahaya matahari pagi hanya masuk melalui celah-celah jendela tinggi."Berlutut," perintah Ralph.Meghan bersimpuh tanpa suara. Gaun sutra tipisnya menyapu lantai, sementara rambut emasnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya yang tetap tenang. Ia menatap lantai dengan patuh, tapi di dalam kepalanya, bayangan wajah Ralph terus berputarWajah pria masa lalunya yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan penuh amarah.Ralph melangkah menuju sebuah lemari kecil, mengambil seutas tali kain sutra hitam yang halus dan kuat. Ia kembali berdiri di depan Meghan, lalu dengan kasar menarik wajah wanita itu agar mendongak."Ah, aku mulai benci ketika Selirku melihat lelaki lain," bisik Ralph sambil melingkarkan tali itu di kepala Meghan. Ia menariknya kencang, menutupi kedua mata Meghan dengan kain hitam tersebut, mengikatnya denga

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Raupan Ralph

    "Rapikan rambutmu, Meghan. Aku tidak ingin anak selir itu mengira aku tidak memberimu waktu untuk sekadar bernapas," ucap Ralph dingin tanpa menoleh.Mereka menuju balkon batu yang menghadap ke pelataran dalam paviliun. Di bawah sana, Carl berdiri mematung di bawah pengawasan dua ksatria penjaga Raja. Kehadiran penjaga pribadi tersebut menandakan bahwa Raja telah merestui pertemuan singkat ini sebagai bentuk belas kasihan terakhir bagi putra bungsunya.Carl mendongak. Wajahnya yang semula penuh harap seketika mengeras saat melihat Meghan muncul dengan rambut pirang keemasan yang terurai bebas hingga ke punggung. Sebuah tanda keintiman yang hanya terjadi di balik pintu tertutup."Kakakku Pangeran Ralph, terima kasih telah mengijinkanku berbicara dengannya." Suara Carl berat, ia membungkuk singkat tapi matanya tetap tertuju pada Meghan.Ralph tertawa rendah, bersandar pada pagar balkon dengan gaya merendahkan. "Bicaralah, Carl."Carl melangkah maju, sedekat yang diizinkan oleh ujung

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Cium

    Di dalam kamar paviliun yang baru, keheningan hanya dipecahkan oleh suara sikat yang menyisir rambut pirang keemasan Meghan. Saat pelayan mencabut jepit perak, rambut itu tergerai jatuh seperti aliran emas murni hingga mencapai pinggangnya.Pintu terbuka. Ralph melangkah masuk, membiarkan langkah botnya bergema di lantai marmer. Para pelayan segera membungkuk dan undur diri, meninggalkan Meghan sendirian dengan pria yang telah menjadikannya alat pembalas dendam.Ralph berdiri di belakangnya, menatap pantulan Meghan di cermin. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar membelai helai pirang keemasan itu sebelum menariknya dengan sentakan kecil, memaksa Meghan mendongak menatapnya."Jangan bergerak, Meghan. Biarkan aku menikmati pemandangan jatuhnya martabat," bisik Ralph tepat di telinganya.Begitu jepit rambut terakhir dilepas, rambut pirang keemasan Meghan terurai jatuh seperti air terjun emas, menutupi punggungnya yang kini hanya dibalut sutra tipis. Meghan menatap pantulan dirinya

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Awal Mula

    "Aku sudah menyelesaikan semuanya, Tuan," jawab Meghan serak. Ia menyerahkan tumpukan laporan pajak yang sudah ia salin dengan tangan gemetar. Semalam, selain meminta membersihkan sepatunya, Ralph juga menyuruh Meghan untuk memeriksa perkamen para Baron dari Utara.Ralph menyeringai, tapi sebelum ia sempat membalas, suara terompet dari arah gerbang utama menggelegar. "Raja telah kembali, mari kita sambut ayahku. Jangan berani-berani merapihkan rambutmu, Meghan. Biarkan mereka berpikir bagaimana buasnya malam kita," gumam Ralph. Ia menarik dagu Meghan, memaksanya berdiri dengan sentakan pelan.Aula utama dipenuhi kemegahan saat pintu besar terbuka. Permaisuri melangkah maju dengan keanggunan yang kaku, menyambut Raja Rowan yang baru saja tiba dari perjalanan panjang. "Selamat datang kembali, suamiku," ucap Sang Permaisuri sembari membungkuk hormat, mencoba mencuri perhatian pria yang telah lama meninggalkannya.Namun, langkah kaki Sang Raja terhenti. Matanya mengabaikan sambutan is

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ralph yang Jahil

    "Kau seharusnya tidak berada di lorong ini, Nona Valerius," ucap Carl. Suaranya rendah, tertahan oleh protokol yang mencekik lehernya sendiri. Ia berdiri kaku, menjaga jarak dua langkah sesuai aturan kesopanan antara seorang bangsawan dan selir saudaranya. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Ia menatap gaun beludru biru tinggi itu dengan luka yang dalam, menyadari bahwa pakaian tertutup itu adalah tanda bahwa Meghan kini adalah wilayah terlarang bagi siapa pun kecuali kakaknya.Meghan berhenti, tapi tidak berbalik sepenuhnya. Ia membiarkan profil wajahnya terlihat di bawah cahaya obor. "Tuan Muda Carl, saya hanya sedang mengikuti perintah untuk kembali ke paviliun.""Perintah." Carl mendesiskan kata itu, tapi segera menundukkan kepalanya saat seorang pengawal melintas di ujung lorong. Ia harus menjaga sapaannya tetap formal. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau diperlakukan dengan pantas. Sebagai pria yang pernah meminta tanganmu pada Baron Valerius, melihatmu berdiri di kaki s

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Protokol Selir

    Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rumit agar tidak ada satu helai pun yang menutupi tengkuknya. Tujuannya hanya satu, membiarkan nama RALPH di atas kulitnya menjadi pusat perhatian, sebuah segel kepemilikan yang harus terbaca jelas oleh siapa pun yang berdiri di belakangnya. Namun, ketika tiba saatnya memilih busana, para pelayan tidak membawakan gaun sutra transparan atau pakaian yang menyingkap dada sebagaimana biasanya selir kerajaan di masa lalu dipersiapkan. Sebaliknya, mereka membentangkan sebuah gaun indah dari kain beludru tebal berwarna biru gelap, dengan kerah tinggi yang dihiasi renda kaku dan lengan panjang yang menyempit hingga ke pergelangan tangan. Ini adalah busana yang setara dengan status istri seorang Vis

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status