登入"Tundukkan kepalamu lebih dalam, Meghan! Kau ingin kita semua dihukum gantung sebelum acara dimulai?" bisik Baron Valerius dengan tangannya yang mencengkeram lengan Meghan hingga kain sutra gaunnya berkerut.
Suara terompet kerajaan membahana, memekakkan telinga saat pintu ganda aula utama terbuka lebar. Bau kemenyan dan lilin lebah yang mahal menyeruak, menyambut kedatangan mereka sebagai tamu di atas kertas seharusnya dihormati karena membawa persembahan bagi keluarga istana. Namun, suasana di dalam sana sama sekali tidak terasa seperti penyambutan hangat. Para pengawal istana yang mengenakan zirah mengkilap berdiri kaku di sepanjang karpet merah, memegang tombak yang ujungnya berkilau tajam tertimpa cahaya obor. Setiap langkah Meghan dan ayahnya diiringi oleh tatapan menilai dari para bangsawan yang berbaris di sisi kiri dan kanan. Mereka berbisik di balik kipas sutra dan gelas-gelas kristal, suara mereka terdengar seperti desis ular. "Lihatlah si Baron miskin itu! Dia begitu putus asa sampai harus menyerahkan putri tunggalnya pada anak selir demi melunasi utang-utangnya di distrik dagang," cemooh seorang wanita paruh baya dengan mahkota perak kecil di kepalanya. "Gadis itu cantik! Sayang sekali, kecantikannya hanya akan berakhir di ranjang seorang anak haram. Benar-benar pemborosan darah biru," balas rekannya dengan nada yang lebih kejam. Meghan mendengar setiap kata itu. Nadira di dalam dirinya merasa mual karena muak. Di kehidupan lalu, ia dihancurkan oleh penyakit. Di sini, ia dihancurkan oleh kasta. Mereka tiba di depan singgasana kecil di sisi aula, tempat Carl sudah menunggu dengan senyum yang dipaksakan. Namun, langkah Baron Valerius mendadak terhenti ketika seorang bentara kerajaan melangkah maju, menghalangi jalan mereka menuju Carl. "Berhenti di sana, Baron Valerius! Ada perubahan dalam protokol jamuan malam ini. Atas perintah Pangeran Mahkota, posisi duduk Anda dan putri Anda telah dipindahkan," perintah sang bentara dengan suara yang menggelegar. Baron Valerius mengerutkan kening, bingung sekaligus cemas. "Dipindahkan? Ke mana? Ini adalah malam pertunangan putriku dengan Tuan Carl." Bentara itu menunjuk ke arah meja panjang di depan singgasana utama. Tempat yang hanya disediakan bagi keluarga inti raja dan penasihat tertinggi. Di sana, Ralph sedang duduk dengan santai, memutar-mutar pisau kecil di atas meja marmer sambil menatap Meghan dengan tatapan yang tak terbaca. "Nona Meghan Valerius tidak akan duduk di samping calon tunangannya. Pangeran Mahkota ingin dia duduk di sisi kanan kursinya.” Baron Valerius menegang, wajahnya mendadak sepucat kertas. Tangannya yang semula mencengkeram lengan Meghan kini gemetar hebat. Ia menatap ke arah Carl yang juga tampak terkejut, bahkan tak berdaya di atas singgasana kecilnya. Carl hanya bisa mengepalkan tangan, tidak berani membantah titah sang kakak, sang Pangeran Mahkota yang memegang kendali penuh atas hukum di ruangan ini. "Tapi ... tapi ini melanggar adat," ujar Baron Valerius dengan suara nyaris hilang, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada bentara tersebut. Namun, bentara itu tidak peduli. Dengan isyarat dagu, dua pengawal maju, memaksa Baron untuk terus melangkah menuju meja utama yang megah. Meghan hanya diam. Bibirnya terkatup rapat, tidak ada satu kata pun protes yang keluar. Ia membiarkan ayahnya menuntunnya melewati barisan bangsawan yang kini semakin riuh dengan bisikan jahat. Baginya, setiap langkah di atas karpet merah ini terasa seperti berjalan menuju tiang eksekusi yang dihias dengan emas. Nadira di dalam dirinya sedang mengamati, menghitung, dan merekam setiap wajah yang menghinanya. Saat mereka tiba di depan meja marmer yang dingin, Baron Valerius membungkuk sangat dalam, hingga dahinya sedikit lagi menyentuh lantai. Ia menyerahkan tangan Meghan ke arah Ralph. "Yang Mulia Pangeran Mahkota, hamba membawa putri hamba, Meghan, untuk ... untuk memenuhi pinangan dari Tuan Muda Carl." Ralph menyandarkan punggungnya pada singgasana megah itu, menyesap anggur fermentasi dengan gerakan yang sangat lambat. Matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari sosok Meghan yang berdiri mematung di hadapannya. Ia mengabaikan Baron Valerius yang masih bersujud, seolah pria tua itu hanyalah serangga yang tak sengaja tersangkut di kaki. "Berdirilah, Meghan Valerius," perintah Ralph. Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat napas para bangsawan di sekitar mereka tertahan. "Biarkan aku melihat apakah rumor tentang kecantikan dan ketenangan keluarga Valerius itu benar, atau kau hanya sekadar pajangan yang ketakutan." Meghan mendongak perlahan. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, tidak juga menunjukkan kemarahan. Ia berdiri tegak. Ia menatap lurus ke dalam iris gelap Ralph, membiarkan pria itu mencari celah ketakutan yang biasanya ia temukan pada mangsanya. Ralph mengerutkan kening tipis. Ia memperhatikan bagaimana Meghan menjaga postur tubuhnya. punggung yang tegak lurus, tangan yang bertaut tenang di depan gaunnya, dan napas yang teratur. Tidak ada getaran di jarinya, tidak ada keringat dingin di pelipisnya. "Kau memiliki mata yang tidak pantas untuk seorang putri Baron miskin," puji Ralph. Namun, nada bicaranya lebih terdengar seperti sebuah ancaman. Ia meletakkan piala emasnya dan bangkit dari duduknya, berjalan mengitari Meghan seperti seekor predator yang sedang memeriksa kualitas buruannya. Ralph berhenti tepat di belakang Meghan. Ia menghirup aroma mawar dan kemenyan yang samar dari rambut Meghan. Di kejauhan, Carl tampak ingin berdiri, tapi tatapan tajam dari para penasihat raja membuatnya kembali tertanam di kursinya. "Carl bilang kau adalah wanita yang lembut dan penurut, tapi aku melihat sesuatu yang lain di sini. Katakan padaku, Meghan, apakah kau sedang mencoba merayuku agar aku merestui pernikahanmu dengan adikku yang lemah itu?"Malam semakin melarut di Istana Agung. Angin utara yang bertiup dari puncak pegunungan membawa serpihan es halus yang menempel di selasar batu luar. Di dalam Ruang Balai Utama, perapian batu berukuran besar masih membara tebal, memancarkan kehangatan yang mengusir hawa dingin abad ke-13 yang menusuk tulang.Bapa Anselm melangkah masuk dengan mengapit sebuah kotak kayu jati tua yang dilapisi besi tempa. Di belakangnya, dua juru tulis muda membawa pundi-pundi kulit berisi dokumen sensus wilayah terbaru yang baru saja diselesaikan oleh para pengawas tanah (bailiff)."Paduka Raja, Ratu Meghan," Bapa Anselm membungkuk hormat sebelum meletakkan perkamen sensus di atas meja oak. "Ini adalah catatan lengkap mengenai jumlah populasi serf, pengrajin, serta alokasi lahan pertanian di seluruh lima distrik utama pasca-pemulihan musim dingin."Meghan mengambil naskah terbesar, membuka lipatan kulit lembu yang wangi minyak cengkeh itu di bawah temaram cahaya lilin. Matanya dengan cepat memindai
Di Ruang Kerja Utama, Meghan duduk di depan tumpukan peta batas lahan bersama Lord Silas. Di hadapan mereka, dua orang perwakilan dari serikat pemotong kayu (woodcutters guild) berdiri canggung dengan tangan kasar yang terlipat di depan dada."Kalian meminta penambahan kuota tebang di kawasan Hutan Barat," ujar Meghan, suarasa tenang namun penuh penekanan. Matanya menatap berkas laporan kuota tahunan. "Namun laporan dari pengawas hutan menyebutkan bahwa penebangan di sektor tiga telah melebihi batas yang diizinkan dalam Piagam 1293."salah satu perwakilan serikat membungkuk pelan. "Ratu Meghan, permintaan kayu oak tebal dari galangan kapal di Selat Selatan meningkat dua kali lipat musim ini. Jika kami tidak menambah kuota tebang, galangan kapal akan kekurangan bahan baku.""Permintaan pasar tidak serta-merta menggugurkan hukum konservasi wilayah diraja," sela Meghan tanpa getaran sedikit pun. "Jika kalian menebak habis sektor tiga sekarang, dalam lima tahun mendatang Hutan Barat
Keesokan harinya, sebelum fajar sepenuhnya menyingsing di ufuk timur, kabut tebal menyelimuti dinding-dinding granit Istana Agung. Salju tipis mengendap di atas bahu baju zirah para prajurit yang berjaga di sepanjang selasar benteng.Sesuai janji, Ralph membawa Ashton ke pelataran pertahanan luar di Menara Barat. Di sana, empat puluh prajurit pemanah yang mengenakan jubah wol tebal berlogo naga tengah bersiap di balik celah tembok benteng. Di hadapan mereka, jajaran busur silang dan busur tegap tertata rapi di atas peti kayu oak."Di benteng seluas ini, Ashton," ujar Ralph, suaranya dalam dan tenang di tengah tiupan angin dingin, "prajurit pemanah adalah mata dan garis pertahanan pertamamu. Seorang penguasa harus paham berapa lama waktu yang dibutuhkan prajuritnya untuk mengisi ulang anak panah dalam kondisi jemari yang membeku."Ashton memperhatikan seorang pemanah veteran yang tengah melumasi tali busur silang dengan lemak sapi. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis
Memasuki akhir tahun, konsolidasi wilayah tidak lagi sebatas mengamankan perbatasan, melainkan memperkuat jalur komunikasi antar-kastil penopang. Di wilayah perbukitan barat, akses jalan menuju Benteng Batu Hitam kerap terhalang oleh erosi salju dan serangan penyamun lokal yang memanfaatkan celah hutan tebal.Di Ruang Arsip Istana, Ralph memeriksa peta topografi bersama Panglima Gomund. Cahaya lilin memantulkan binar pada baju zirah tempa yang masih melekat di bahu Sang Raja."Penyamun di Hutan Barat bukan tentara terorganisir," ujar Gomund seraya menunjuk titik persimpangan di peta. "Mereka adalah sisa-sisa petani liar dan desertir perang yang menolak membayar pajak tanah. Mereka menyerang kereta pasokan yang tidak dikawal ketat.""Bukan masalah besar, tapi merusak reputasi keamanan yang baru kita bangun," pangkas Ralph dingin. "Gomund, kirim dua unit kavaleri ringan untuk patroli rutin setiap tiga hari. Jika ada penyamun yang tertangkap, jangan dipenjara di ibu kota. Hukum lan
Lonceng Katedral Agung berdentang tujuh kali, gaungnya memecah kesunyian fajar musim dingin. Asap tipis membumbung dari cerobong-cerobong batu di sepanjang pemukiman di bawah benteng, menandakan aktivitas pagi warga kota yang mulai menggeliat di bawah naungan kedamaian yang stabil.Di dalam Balai Penilaian Feodal Istana Agung, meja oak raksasa dipenuhi oleh gulungan perkamen berkulit lembu, timbangan perak untuk keping uang emas florin, serta stempel-stempel wilayah dari seluruh kadipaten bawahan. Hari ini adalah Michaelmas Assessment, hari di mana seluruh vassal, lord, dan kepala guild (serikat pengrajin dan pedagang) berkumpul untuk menyerahkan kewajiban pajak tanah, upeti tahunan, serta memperbarui sumpah feodal (fealty) di hadapan takhta.Ralph duduk di atas kursi kayu berukir naga, mengenakan jubah beludru tebal bersulam benang perak dan baju zirah rantai (hauberk) tebal di bagian dada. Di sisinya, Meghan tampil anggun dalam gaun wol tebal berwarna hijau zamrud, mahkota tiara
Pangeran Ashton yang kini menginjak usia sembilan tahun duduk di samping meja oak besar di Ruang Studi Diraja. Di hadapannya terbentang naskah perkamen kulit lembu yang ditulis dengan tinta empedu. Ia sedang mempelajari daftar kewajiban upeti dan pajak tanah (tithe) dari para penguasa lahan (landlord) di perbatasan."Ashton," panggil Meghan seraya meletakkan segel lilin merah di atas meja. "Jika seorang baron di wilayah barat menolak mengirimkan kavaleri berkuda saat panggilan perang dibunyikan, apa langkah hukum feodal yang harus kau ambil?"Ashton mendongak. Matanya yang berwarna kelabu menatap ibunya tanpa ragu. "Sesuai Piagam Diraja tahun 1292, hak atas tanah (fiefdom) miliknya dicabut. Tanah itu kembali menjadi milik Mahkota, dan ia bisa dijatuhi hukuman pengasingan atas tindakan pembangkangan (felony)."Ralph, yang sedang memeriksa mata pedang besi tempa milik garda depan di dekat perapian besar, mengangguk setuju."Bagus," ujar Ralph dengan suara beratnya. "Di era ini, t
Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman gen
“Aku menolak!” Setelah jamuan makan malam yang menyesakkan itu usai, ketegangan beralih ke ruang yang lebih privat tapi tetap disaksikan oleh para petinggi istana. Di sana, Meghan berdiri dengan punggung tegak, mengabaikan tatapan memohon dari ayahnya yang sudah berkeringat dingin. Nadira, dal
"Meghan! Jawab Ayah!"Suara itu berat dan menggema di ruangan berbatu yang dingin. Meghan tersentak, kepalanya yang sedari tadi menunduk lemas mendadak tegak. Rasa kantuk yang luar biasa berat seketika sirna, berganti dengan keterkejutan yang menghantam dada.Hal pertama yang ia rasakan adalah paru
Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rum







