Beranda / Fantasi / Selir Angkuh Kesayangan Paduka / Perubahan Rencana dari Pangeran

Share

Perubahan Rencana dari Pangeran

Penulis: Ivorybeige
last update Tanggal publikasi: 2026-04-30 18:14:02

"Tundukkan kepalamu lebih dalam, Meghan! Kau ingin kita semua dihukum gantung sebelum acara dimulai?" bisik Baron Valerius dengan tangannya yang mencengkeram lengan Meghan hingga kain sutra gaunnya berkerut.

Suara terompet kerajaan membahana, memekakkan telinga saat pintu ganda aula utama terbuka lebar. Bau kemenyan dan lilin lebah yang mahal menyeruak, menyambut kedatangan mereka sebagai tamu di atas kertas seharusnya dihormati karena membawa persembahan bagi keluarga istana.

Namun, suasana di dalam sana sama sekali tidak terasa seperti penyambutan hangat.

Para pengawal istana yang mengenakan zirah mengkilap berdiri kaku di sepanjang karpet merah, memegang tombak yang ujungnya berkilau tajam tertimpa cahaya obor.

Setiap langkah Meghan dan ayahnya diiringi oleh tatapan menilai dari para bangsawan yang berbaris di sisi kiri dan kanan. Mereka berbisik di balik kipas sutra dan gelas-gelas kristal, suara mereka terdengar seperti desis ular.

"Lihatlah si Baron miskin itu! Dia begitu putus asa sampai harus menyerahkan putri tunggalnya pada anak selir demi melunasi utang-utangnya di distrik dagang," cemooh seorang wanita paruh baya dengan mahkota perak kecil di kepalanya.

"Gadis itu cantik! Sayang sekali, kecantikannya hanya akan berakhir di ranjang seorang anak haram. Benar-benar pemborosan darah biru," balas rekannya dengan nada yang lebih kejam.

Meghan mendengar setiap kata itu. Nadira di dalam dirinya merasa mual karena muak. Di kehidupan lalu, ia dihancurkan oleh penyakit. Di sini, ia dihancurkan oleh kasta.

Mereka tiba di depan singgasana kecil di sisi aula, tempat Carl sudah menunggu dengan senyum yang dipaksakan. Namun, langkah Baron Valerius mendadak terhenti ketika seorang bentara kerajaan melangkah maju, menghalangi jalan mereka menuju Carl.

"Berhenti di sana, Baron Valerius! Ada perubahan dalam protokol jamuan malam ini. Atas perintah Pangeran Mahkota, posisi duduk Anda dan putri Anda telah dipindahkan," perintah sang bentara dengan suara yang menggelegar.

Baron Valerius mengerutkan kening, bingung sekaligus cemas.

"Dipindahkan? Ke mana? Ini adalah malam pertunangan putriku dengan Tuan Carl."

Bentara itu menunjuk ke arah meja panjang di depan singgasana utama. Tempat yang hanya disediakan bagi keluarga inti raja dan penasihat tertinggi.

Di sana, Ralph sedang duduk dengan santai, memutar-mutar pisau kecil di atas meja marmer sambil menatap Meghan dengan tatapan yang tak terbaca.

"Nona Meghan Valerius tidak akan duduk di samping calon tunangannya. Pangeran Mahkota ingin dia duduk di sisi kanan kursinya.”

Baron Valerius menegang, wajahnya mendadak sepucat kertas. Tangannya yang semula mencengkeram lengan Meghan kini gemetar hebat. Ia menatap ke arah Carl yang juga tampak terkejut, bahkan tak berdaya di atas singgasana kecilnya.

Carl hanya bisa mengepalkan tangan, tidak berani membantah titah sang kakak, sang Pangeran Mahkota yang memegang kendali penuh atas hukum di ruangan ini.

​"Tapi ... tapi ini melanggar adat," ujar Baron Valerius dengan suara nyaris hilang, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada bentara tersebut.

Namun, bentara itu tidak peduli. Dengan isyarat dagu, dua pengawal maju, memaksa Baron untuk terus melangkah menuju meja utama yang megah.

​Meghan hanya diam. Bibirnya terkatup rapat, tidak ada satu kata pun protes yang keluar. Ia membiarkan ayahnya menuntunnya melewati barisan bangsawan yang kini semakin riuh dengan bisikan jahat.

Baginya, setiap langkah di atas karpet merah ini terasa seperti berjalan menuju tiang eksekusi yang dihias dengan emas. Nadira di dalam dirinya sedang mengamati, menghitung, dan merekam setiap wajah yang menghinanya.

​Saat mereka tiba di depan meja marmer yang dingin, Baron Valerius membungkuk sangat dalam, hingga dahinya sedikit lagi menyentuh lantai. Ia menyerahkan tangan Meghan ke arah Ralph.

​"Yang Mulia Pangeran Mahkota, hamba membawa putri hamba, Meghan, untuk ... untuk memenuhi pinangan dari Tuan Muda Carl."

Ralph menyandarkan punggungnya pada singgasana megah itu, menyesap anggur fermentasi dengan gerakan yang sangat lambat.

Matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari sosok Meghan yang berdiri mematung di hadapannya. Ia mengabaikan Baron Valerius yang masih bersujud, seolah pria tua itu hanyalah serangga yang tak sengaja tersangkut di kaki.

"Berdirilah, Meghan Valerius," perintah Ralph.

Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat napas para bangsawan di sekitar mereka tertahan.

"Biarkan aku melihat apakah rumor tentang kecantikan dan ketenangan keluarga Valerius itu benar, atau kau hanya sekadar pajangan yang ketakutan."

Meghan mendongak perlahan. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, tidak juga menunjukkan kemarahan. Ia berdiri tegak.

Ia menatap lurus ke dalam iris gelap Ralph, membiarkan pria itu mencari celah ketakutan yang biasanya ia temukan pada mangsanya.

Ralph mengerutkan kening tipis. Ia memperhatikan bagaimana Meghan menjaga postur tubuhnya. punggung yang tegak lurus, tangan yang bertaut tenang di depan gaunnya, dan napas yang teratur.

Tidak ada getaran di jarinya, tidak ada keringat dingin di pelipisnya.

"Kau memiliki mata yang tidak pantas untuk seorang putri Baron miskin," puji Ralph.

Namun, nada bicaranya lebih terdengar seperti sebuah ancaman. Ia meletakkan piala emasnya dan bangkit dari duduknya, berjalan mengitari Meghan seperti seekor predator yang sedang memeriksa kualitas buruannya.

Ralph berhenti tepat di belakang Meghan. Ia menghirup aroma mawar dan kemenyan yang samar dari rambut Meghan.

Di kejauhan, Carl tampak ingin berdiri, tapi tatapan tajam dari para penasihat raja membuatnya kembali tertanam di kursinya.

"Carl bilang kau adalah wanita yang lembut dan penurut, tapi aku melihat sesuatu yang lain di sini. Katakan padaku, Meghan, apakah kau sedang mencoba merayuku agar aku merestui pernikahanmu dengan adikku yang lemah itu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ratumu

    Ralph duduk di tepi ranjang, membelakangi Meghan seraya mengenakan kembali jubah hitamnya yang sempat tanggal. Gerakannya begitu tenang, efisien, dan tanpa beban. Kamar yang beberapa saat lalu dipenuhi kepasrahan yang menyakitkan, kini mendadak berubah sedingin es. Tidak ada sisa kehangatan, tidak ada afeksi. Udara di sekitar mereka terasa seperti medan perang yang baru saja usai, menyisakan jasad-jasad tak kasat mata."Jangan tunjukkan wajah mati seperti itu ke arahku," ucap Ralph dingin tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Suaranya datar, sedikit menuntut. "Aku tidak suka melihat wanita yang baru saja kupeluk terlihat seolah dia sedang bersiap menghadiri pemakamannya sendiri."Meghan perlahan menarik selimut beludru yang kusut untuk menutupi tubuhnya yang pias dan gemetar. Keheningan malam seolah menertawakan kehancurannya. Sebuah senyum getir yang sarat akan racun terukir di bibirnya yang terluka akibat ciuman kasar pria itu."Bukankah ini memang pemakaman, Paduka?" Suara Me

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Calon

    Meghan tersentak. Rasa hangat yang sempat singgah di dadanya seketika menguap, digantikan oleh gelombang hawa dingin yang menjalar ke sekujur tubuh. Kata-kata Ralph barusan bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah perintah mutlak yang merendahkan eksistensinya hingga ke titik terendah."Seorang putra?" Meghan mengulang kalimat itu dengan parau, menyentakkan kepalanya kasar untuk melepaskan diri dari cengkeraman Ralph. Ia mundur dua langkah hingga tumitnya menghantam kaki meja kayu, napasnya memburu naik-turun menahan sesak."Kau mengurungku setahun seperti binatang, membiarkanku gila dalam ketidaktahuan, sementara di luar sana kau bersiap memenggal Elanor karena bayinya meninggal!" Suara Meghan naik satu oktaf, bergetar hebat oleh akumulasi luka dan amarah yang meledak. Air mata kemarahan mengalir deras di pipinya yang kacau. "Dan sekarang ... setelah semua kekejaman itu, kau datang kemari menuntut rahimku? Kau ingin aku melahirkan darah dagingmu? Kau gila! Aku membencimu! Aku l

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Seorang Anak

    Meghan merindukannya.​Di antara seluruh rasa muak, trauma, dan dendam yang ia pelihara dalam setahun isolasi, sebuah kenyataan pahit menghantam dadanya tanpa ampun, hatinya masih berdesir hangat saat namanya dipanggil oleh orang yang dia cintai. Namun di saat yang sama, jantungnya serasa dibelah pedang. Rasa cinta dan benci itu melebur menjadi racun yang mencekik tenggorokannya.​Setelah satu tahun lamanya terkurung dalam radius lima meter, setelah bermusim-musim mereka tidak saling bertemu dan bertukar pandang, hari ini matanya kembali menatap iris abu itu. Iris mata yang selalu menjanjikan surga sekaligus neraka dalam waktu yang bersamaan.​"Meghan," panggil Ralph lagi. Suaranya tidak sekasar setahun lalu, melainkan ada nada rendah yang sarat akan kerinduan yang terpendam.​Meghan mundur selangkah. Kakinya yang bebas dari rantai terasa lemas. Kepalanya mendadak pening saat menyadari sesuatu yang keliru, sesuatu yang merusak semua spekulasi dan ingatan raga yang ia tempati.​Wajah

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Meghan

    Satu tahun. Waktu yang teramat panjang untuk dihabiskan dalam radius lima meter.​Meghan tetaplah Meghan. Jiwa Nadira di dalam raga ini terlalu keras kepala untuk menekur dan memohon ampun pada seorang diktator. Ia menolak untuk bersikap baik pada Ralph, menolak menjadi binal seperti selir ayah pria itu, dan alhasil, di sinilah ia sekarang. Terdampar di sudut kamar dengan satu kaki yang masih setia dibungkus besi bundar berantai tebal.​Ia tidak lagi tahu tentang kabar di istana ini. Dunia luar seolah telah menghapus keberadaannya.​Semua pelayan yang datang mengantar makanan, membersihkan ruangan, dan membantunya berganti baju memiliki satu kesamaan, mereka bisu. Mereka tak pernah dibiarkan berbincang terlalu lama dengan Meghan. Setiap kali Meghan mencoba membuka mulut untuk bertanya, tentang Elanor, tentang politik, atau sekadar hari apa sekarang, para pelayan itu akan langsung gemetar ketakutan dan bergegas pergi.​Awalnya, Meghan marah besar dengan aturan isolasi itu. Ia sering

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Aku Benci Selir

    "Aku tidak perlu untuk memohon apa pun." Suara Meghan terdengar serak, tidak ada nada gentar di dalamnya. Ia mendongak, menantang sepasang mata gelap di balik bayangan obor itu. Ralph menunduk, menatapnya dengan senyum miring yang sarat akan cemoohan. "Tidak ingin bebas? Tidak ingin tahu bagaimana hukum berjalan?" Pertanyaan itu sempat membuat pertahanan Meghan goyah. Jiwa Nadira di dalam dirinya menjerit, ingin tahu apakah Elanor masih bernapas di paviliun seberang, atau apakah hukum gantung telah merenggut nyawa Ratu malang itu. Namun, melihat binar manipulatif di mata Ralph, Meghan lekas menarik kembali egonya. Ia mengeraskan rahang, kembali bersikap angkuh. "Tidak perlu. Kebengisanmu sudah terbaca olehku." "Aku bengis bagimu?" Ralph mengangkat sebelah alisnya. Meghan mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Ralph perlahan melangkah maju. Gemerincing rantai di kaki Meghan berbunyi kaku saat wanita itu mencoba menggeser tubuhnya ke belakang. Menjauh hingg

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pahlawan

    Belati di leher Meghan ditarik kembali, menyisakan goresan tipis kemerahan yang terasa perih. Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tubuh ringkih Meghan diseret kasar menjauh dari paviliun Ratu Elanor, melewati lorong-lorong dingin, dan diempaskan begitu saja ke lantai kamarnya sendiri. ​"Aku tidak suka bagaimana selir mencoba mengaturku!" gertak Ralph, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, mengirimkan sensor ketakutan yang instan pada setiap pelayan yang berjaga di luar. ​Mata Meghan merah, wajahnya kacau balau bercampur air mata dan keringat. Ia mendongak, menatap sang tirani dengan napas yang memburu satu-satu. ​Dia memang bukan pemilik tubuh Meghan yang asli. Ingatan-ingatan masa lalu raga ini tidak sepenuhnya Nadira pahami. Karena jika saja Nadira paham, jika saja ia memiliki ketakutan yang sama dengan Meghan yang asli, ia pasti tahu bahwa menaikkan nada tinggi di depan sang Raja akan langsung dihadiahi hukuman mati yang kejam. Meghan yang asli pasti tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status