Share

Selir Angkuh Kesayangan Paduka
Selir Angkuh Kesayangan Paduka
Author: Ivorybeige

Perjodohan

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-04-30 17:50:52

"Meghan! Jawab Ayah!"

Suara itu berat dan menggema di ruangan berbatu yang dingin. Meghan tersentak, kepalanya yang sedari tadi menunduk lemas mendadak tegak. Rasa kantuk yang luar biasa berat seketika sirna, berganti dengan keterkejutan yang menghantam dada.

Hal pertama yang ia rasakan adalah paru-parunya.

Paru-paru itu terasa kosong, ringan, dan tidak menyakitkan. Tidak ada selang oksigen yang menusuk hidungnya, tidak ada bau obat-obatan yang menyesakkan, dan tidak ada bunyi beeping mesin jantung yang selama dua puluh tujuh tahun menjadi melodi kematiannya.

'Aku masih hidup?'

"Meghan! Apa kau mengerti sekarang?!"

Meghan mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lilin yang temaram. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah beludru tebal. Di dada kiri jubah itu, tersemat lencana perak berbentuk burung thrush.

Simbol dari keluarga Baron Valerius, gelar bangsawan rendah kelas tiga yang hanya memiliki sebidang tanah kecil di perbatasan kerajaan.

"Ayah?"

Suara Meghan keluar, terdengar jauh lebih jernih dan kuat dari suara serak Nadira yang biasanya.

Baron Valerius menggebrak meja kayu jati di hadapannya.

"Jangan memasang wajah linglung begitu! Pernikahanmu dengan Carl, adalah satu-satunya cara agar keluarga kita tidak bangkrut. Tidak akan ada lagi bangsawan tinggi yang mau melirik putri seorang Baron miskin sepertiku!"

Meghan terpaku. Pikirannya berputar hebat. Ia ingat saat-saat terakhirnya sebagai Nadira di rumah sakit, saat dengungan mesin terasa pengap di telinga. Lalu kegelapan.

Ia memandangi tangannya. Kulitnya putih, halus, dan tidak ada bekas jarum infus. Ia bukan lagi Nadira yang penyakitan.

'Bagaimana bisa aku hidup lagi?'

"Meghan! Jawab Ayah! Jangan hanya diam seperti patung!"

Suara bentakan itu membuat kepalanya berdenyut hebat. Seketika, serpihan memori yang bukan miliknya merangsek masuk ke dalam benak seperti air bah.

Ia melihat potongan-potongan fragmen kehidupan lain. Sebuah kastel tua yang lembap, gaun-gaun yang mulai usang, dan cermin yang menampakkan wajah seorang gadis muda yang cantik, tapi selalu terlihat tertekan.

Dalam kilasan memori itu, ia mendengar orang-orang memanggilnya dengan satu nama. Meghan.

Ia kini tahu siapa dirinya di dunia ini. Ia adalah Meghan Valerius, putri tunggal dari seorang bangsawan kelas rendah yang gelarnya nyaris tak dianggap di ibu kota.

Melalui memori sisa dari pemilik tubuh aslinya, Nadira menyadari bahwa Meghan baru saja pingsan karena stres memikirkan perjodohan paksa ini, tepat sebelum jiwanya masuk dan mengisi raga yang kosong itu.

Nadira, atau sekarang Meghan, mendongak, menatap pria paruh baya di depannya yang ia kenali melalui memori tubuh ini sebagai ayahnya.

Ia menghirup udara dalam-dalam. Tidak ada aroma antiseptik, hanya bau kayu terbakar dari perapian dan debu yang menempel pada tirai beludru usang di ruangan ini.

"Meghan! Kau mendengarku tidak?!"

Baron Valerius melangkah mendekat, bayangannya yang besar menyelimuti Meghan di bawah cahaya lilin.

"Carl memang anak selir, tapi dia memiliki akses ke perbendaharaan luar. Dengan mahar yang dia tawarkan, kita bisa memperbaiki atap kastel ini dan melunasi utang-utang pada pengumpul pajak."

Meghan masih membisu. Ia tidak sedang memikirkan atap kastel yang bocor atau status Carl. Pikirannya justru tertambat pada memori terakhir sebelum kegelapan merenggutnya. Wajah seorang pria yang menatapnya dengan rasa kasihan sekaligus jijik, menolak cintanya hanya karena ia dianggap sebagai beban yang sebentar lagi akan mati.

'Tuhan, Kau benar-benar mengabulkan doaku?'

"Kapan pertemuan itu akan dilakukan?" tanya Meghan pelan, suaranya terdengar begitu tenang hingga sang Baron sempat tertegun.

"Malam ini. Di pesta perayaan musim gugur kerajaan. Kau harus tampil sempurna," jawab ayahnya.

Baron Valerius mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang tampak sedikit merosot.

"Bagus. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan gaun sutra biru. Itu satu-satunya gaun yang masih terlihat layak untuk bersanding dengan keluarga istana."

Meghan hanya mengangguk kecil, membiarkan ayahnya berlalu keluar dari ruangan batu yang lembap itu. Begitu pintu kayu berat tertutup dengan dentuman pelan, Meghan segera beranjak menuju sebuah cermin besar dengan bingkai perak yang sudah menghitam karena oksidasi.

Ia terpaku menatap pantulan dirinya.Wajah di cermin itu bukanlah wajah Nadira yang pucat dengan kantung mata hitam yang dalam.

Meghan memiliki tulang pipi yang tegas, bibir penuh yang kemerahan, dan sepasang mata tajam yang tampak sangat hidup. Ia menyentuh lehernya, area yang biasanya selalu ditempeli alat medis, kini terasa halus tanpa cela.

"Meghan Valerius. Dua puluh dua tahun. Sehat. Dan sangat jauh dari kematian,” bisiknya mencicipi nama baru itu di lidahnya.

***

Meghan meremas pinggiran jendela kereta hingga buku jarinya memutih, seolah sedang mencekik takdir yang baru saja menyeretnya ke tahun 1290 ini.

Di luar sana, gerbang istana yang menjulang tinggi tampak seperti rahang raksasa yang siap menelannya bulat-bulat. Ia bukan lagi Nadira yang terbaring pasrah menunggu ajal di balik selimut rumah sakit.

Ia adalah Meghan Valerius, dan malam ini ia masuk ke medan perang dengan tubuh yang akhirnya bisa ia perintah sepenuhnya.

Begitu pintu kereta terbuka, ia turun dengan satu tujuan. Memastikan perjodohan hina dengan anak selir itu gagal sebelum fajar menyingsing. Namun, langkah kakinya membeku tepat di ambang pintu aula yang megah.

Di tengah kerumunan bangsawan, berdiri seorang pria yang sedang tertawa dingin. Cahaya lilin yang bergetar memahat garis wajah yang selama ini menghantui mimpi buruk Nadira.

Mata elang itu, cara pria itu memutar gelas perak di tangannya, bahkan seringai tipis yang meremehkan itu. Semuanya identik dengan wajah pria yang telah membunuh harapannya di kehidupan lalu.

"Itu adalah Pangeran Mahkota Ralph. Pemilik takhta yang sesungguhnya. Jangan berani-berani menatap matanya," bisik ayahnya dengan nada hormat yang terselip rasa takut.

Meghan menyipitkan mata.

'Mengapa wajahnya sama dengan lelaki yang menolakku?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ratumu

    Ralph duduk di tepi ranjang, membelakangi Meghan seraya mengenakan kembali jubah hitamnya yang sempat tanggal. Gerakannya begitu tenang, efisien, dan tanpa beban. Kamar yang beberapa saat lalu dipenuhi kepasrahan yang menyakitkan, kini mendadak berubah sedingin es. Tidak ada sisa kehangatan, tidak ada afeksi. Udara di sekitar mereka terasa seperti medan perang yang baru saja usai, menyisakan jasad-jasad tak kasat mata."Jangan tunjukkan wajah mati seperti itu ke arahku," ucap Ralph dingin tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Suaranya datar, sedikit menuntut. "Aku tidak suka melihat wanita yang baru saja kupeluk terlihat seolah dia sedang bersiap menghadiri pemakamannya sendiri."Meghan perlahan menarik selimut beludru yang kusut untuk menutupi tubuhnya yang pias dan gemetar. Keheningan malam seolah menertawakan kehancurannya. Sebuah senyum getir yang sarat akan racun terukir di bibirnya yang terluka akibat ciuman kasar pria itu."Bukankah ini memang pemakaman, Paduka?" Suara Me

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Calon

    Meghan tersentak. Rasa hangat yang sempat singgah di dadanya seketika menguap, digantikan oleh gelombang hawa dingin yang menjalar ke sekujur tubuh. Kata-kata Ralph barusan bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah perintah mutlak yang merendahkan eksistensinya hingga ke titik terendah."Seorang putra?" Meghan mengulang kalimat itu dengan parau, menyentakkan kepalanya kasar untuk melepaskan diri dari cengkeraman Ralph. Ia mundur dua langkah hingga tumitnya menghantam kaki meja kayu, napasnya memburu naik-turun menahan sesak."Kau mengurungku setahun seperti binatang, membiarkanku gila dalam ketidaktahuan, sementara di luar sana kau bersiap memenggal Elanor karena bayinya meninggal!" Suara Meghan naik satu oktaf, bergetar hebat oleh akumulasi luka dan amarah yang meledak. Air mata kemarahan mengalir deras di pipinya yang kacau. "Dan sekarang ... setelah semua kekejaman itu, kau datang kemari menuntut rahimku? Kau ingin aku melahirkan darah dagingmu? Kau gila! Aku membencimu! Aku l

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Seorang Anak

    Meghan merindukannya.​Di antara seluruh rasa muak, trauma, dan dendam yang ia pelihara dalam setahun isolasi, sebuah kenyataan pahit menghantam dadanya tanpa ampun, hatinya masih berdesir hangat saat namanya dipanggil oleh orang yang dia cintai. Namun di saat yang sama, jantungnya serasa dibelah pedang. Rasa cinta dan benci itu melebur menjadi racun yang mencekik tenggorokannya.​Setelah satu tahun lamanya terkurung dalam radius lima meter, setelah bermusim-musim mereka tidak saling bertemu dan bertukar pandang, hari ini matanya kembali menatap iris abu itu. Iris mata yang selalu menjanjikan surga sekaligus neraka dalam waktu yang bersamaan.​"Meghan," panggil Ralph lagi. Suaranya tidak sekasar setahun lalu, melainkan ada nada rendah yang sarat akan kerinduan yang terpendam.​Meghan mundur selangkah. Kakinya yang bebas dari rantai terasa lemas. Kepalanya mendadak pening saat menyadari sesuatu yang keliru, sesuatu yang merusak semua spekulasi dan ingatan raga yang ia tempati.​Wajah

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Meghan

    Satu tahun. Waktu yang teramat panjang untuk dihabiskan dalam radius lima meter.​Meghan tetaplah Meghan. Jiwa Nadira di dalam raga ini terlalu keras kepala untuk menekur dan memohon ampun pada seorang diktator. Ia menolak untuk bersikap baik pada Ralph, menolak menjadi binal seperti selir ayah pria itu, dan alhasil, di sinilah ia sekarang. Terdampar di sudut kamar dengan satu kaki yang masih setia dibungkus besi bundar berantai tebal.​Ia tidak lagi tahu tentang kabar di istana ini. Dunia luar seolah telah menghapus keberadaannya.​Semua pelayan yang datang mengantar makanan, membersihkan ruangan, dan membantunya berganti baju memiliki satu kesamaan, mereka bisu. Mereka tak pernah dibiarkan berbincang terlalu lama dengan Meghan. Setiap kali Meghan mencoba membuka mulut untuk bertanya, tentang Elanor, tentang politik, atau sekadar hari apa sekarang, para pelayan itu akan langsung gemetar ketakutan dan bergegas pergi.​Awalnya, Meghan marah besar dengan aturan isolasi itu. Ia sering

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Aku Benci Selir

    "Aku tidak perlu untuk memohon apa pun." Suara Meghan terdengar serak, tidak ada nada gentar di dalamnya. Ia mendongak, menantang sepasang mata gelap di balik bayangan obor itu. Ralph menunduk, menatapnya dengan senyum miring yang sarat akan cemoohan. "Tidak ingin bebas? Tidak ingin tahu bagaimana hukum berjalan?" Pertanyaan itu sempat membuat pertahanan Meghan goyah. Jiwa Nadira di dalam dirinya menjerit, ingin tahu apakah Elanor masih bernapas di paviliun seberang, atau apakah hukum gantung telah merenggut nyawa Ratu malang itu. Namun, melihat binar manipulatif di mata Ralph, Meghan lekas menarik kembali egonya. Ia mengeraskan rahang, kembali bersikap angkuh. "Tidak perlu. Kebengisanmu sudah terbaca olehku." "Aku bengis bagimu?" Ralph mengangkat sebelah alisnya. Meghan mengangguk mantap, tanpa ragu sedikit pun. Ralph perlahan melangkah maju. Gemerincing rantai di kaki Meghan berbunyi kaku saat wanita itu mencoba menggeser tubuhnya ke belakang. Menjauh hingg

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pahlawan

    Belati di leher Meghan ditarik kembali, menyisakan goresan tipis kemerahan yang terasa perih. Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tubuh ringkih Meghan diseret kasar menjauh dari paviliun Ratu Elanor, melewati lorong-lorong dingin, dan diempaskan begitu saja ke lantai kamarnya sendiri. ​"Aku tidak suka bagaimana selir mencoba mengaturku!" gertak Ralph, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, mengirimkan sensor ketakutan yang instan pada setiap pelayan yang berjaga di luar. ​Mata Meghan merah, wajahnya kacau balau bercampur air mata dan keringat. Ia mendongak, menatap sang tirani dengan napas yang memburu satu-satu. ​Dia memang bukan pemilik tubuh Meghan yang asli. Ingatan-ingatan masa lalu raga ini tidak sepenuhnya Nadira pahami. Karena jika saja Nadira paham, jika saja ia memiliki ketakutan yang sama dengan Meghan yang asli, ia pasti tahu bahwa menaikkan nada tinggi di depan sang Raja akan langsung dihadiahi hukuman mati yang kejam. Meghan yang asli pasti tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status