登入Pintu kamar Elanor terbuka tanpa ketukan, dan langkah kaki tegap itu mendekat dengan keangkuhan yang sudah menjadi bagian dari udara istana. Ralph datang ke kamarnya. Pria itu tidak membawa kehangatan seorang ayah yang baru saja kehilangan darah dagingnya.
Ia hanya membawa selembar vonis dingin yang siap dijatuhkan."Tabib bilang kau tidak akan bisa mengandung lagi. Organmu cacat karena dipaksa mengejan sebelum aba-aba."Hantaman kata-kata itu membuat Elanor meremCengkeraman Petter di pergelangan tangan Meghan mendadak berubah. Rasa panik yang semula melumpuhkannya kini bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Menyadari dirinya telah dikepung oleh sang monster, Petter menarik tubuh Meghan dengan satu sentakan kasar, memosisikan wanita itu di depannya sebagai perisai hidup.Satu lengan Petter mengunci leher Meghan dari belakang, sementara tangan kanannya bergerak cepat menarik belati perak dari balik pinggangnya, menempelkan mata pisau yang dingin itu tepat di urat nadi tengkuk Meghan. Tepat di atas tato nama Ralph."Mundur, Tiran!" raung Petter, suaranya bergetar antara ketakutan dan nekat. Napasnya yang memburu terasa panas di telinga Meghan.Ralph menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang hancur. Sepasang matanya melirik sekilas pada belati yang menekan kulit Meghan, lalu pandangannya naik, mengunci tatapan Petter dengan tatapan yang luar biasa tenang. Ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah."Kau pi
Meghan terdiam.Tawaran itu terlampau menggiurkan untuk ditolak. Sebuah tiket menuju kebebasan yang selama ini ia impikan, bertaruh pada nyawa seorang selir lain yang menjadi korban kegilaan Ralph. Meghan baru saja hendak membuka mulut untuk menetapkan syarat tambahan ketika tiba-tiba, keheningan mereka dipecahkan oleh suara gaduh dari arah luar.BRAK!Pintu kayu ek tebal itu tidak lagi dibuka dengan sopan, melainkan dihantam hingga engsel bawahnya terlepas. Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah yang compang-camping merosot di ambang pintu. Napasnya putus-putus, dan noda darah segar merembes cepat dari luka tebasan di bahu kirinya."Yang Mulia Petter ...," bisik prajurit itu, terbatuk darah. "Mereka ... mereka sudah menembus pertahanan luar."Petter tersentak, mencengkeram kerah baju bawahannya dengan kasar. "Siapa? Pasukan reguler Alistair? Bagaimana bisa mereka melewati perbatasan secepat ini tanpa terdeteksi?!""Bukan ... bukan pasukan kerajaan!" Prajurit itu menggeleng lema
Terhitung sudah tiga hari Meghan disekap di dalam istana asing ini. Selama itu pula, Petter terus mengawasinya seperti seekor elang yang mengintai mangsa, mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan oleh wanita berwajah tenang di hadapannya. Hingga sore itu, ketika Meghan sedang dipaksa duduk di sudut ruangan, gerakan rambutnya yang tersibak tanpa sengaja menyingkap kulit di balik lehernya.Mata Petter langsung terpaku pada guratan tinta hitam di sana. Sontak, rahang pria itu mengeras, menyadari arti dari simbol kasar yang terlukis di tengkuk sang tawanan."Kau bukan seorang Ratu," desis Petter, langkah kakinya mendekat dengan aura intimidasi yang pekat.Meghan tidak berkedip. Ia hanya menatap Petter dengan pandangan sangsi dan bibir yang mengulas senyum tipis, seolah kebingungan pria itu adalah hiburan baginya."Kapan aku mengaku sebagai Ratu?" tanya Meghan balik."Selir rendahan," maki Petter, setengah menahan amarah yang mendadak meluap ke dada. Rasa tertipu membuat
Vespara.Nama itu bergaung di kepala Meghan, menghidupkan kembali memori setahun yang lalu. Selir baru yang dibawa Ralph dengan angkuh ke dalam istana Alistair sebagai upeti atas kemenangan mutlak di medan perang.Dan yang paling menjijikkan dari semuanya ... Vespara adalah wanita yang dipaksa menonton adegan keintiman Ralph dengan dirinya, di kamar tidur mereka sendiri. Ralph dengan sengaja merancang skenario itu untuk menghancurkan harga diri sang upeti perang, sekaligus mengikat Meghan dalam permainan berdarah yang ia ciptakan.Meghan meremas kain gaunnya hingga meninggalkan bekas kusut yang dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena takut pada Petter, melainkan karena rasa muak yang kembali naik ke permukaan.Ini bukan salahnya. Meghan bahkan tidak pernah tahu kapan atau bagaimana prosesnya sampai Ralph mengangkat Vespara menjadi selir. Tahu-tahu, wanita malang itu sudah dilempar ke hadapannya dengan kondisi tengkuk yang telah berlukiskan tato, nama yang sama pers
"Tidak akan ada perbincangan nyaman di sebuah ranjang."Meghan menatap Petter tanpa secercah pun ketakutan di matanya. Sepasang manik matanya yang tajam mengunci pandangan pria itu, mengirimkan sinyal penolakan yang begitu mutlak. Ia tidak bergerak mundur setidapun, meski jarak di antara wajah mereka kini begitu dekat hingga ia bisa membaui aroma tembakau dari napas Petter.Satu hal yang tidak dipahami Petter. Meghan telah ditempa oleh kegilaan seorang tiran seperti Ralph. Ancaman atau godaan dari pria lain seperti Petter tidak lebih dari sekadar angin lalu yang menggelikan baginya.Petter tertegun sejenak, senyum jenakanya membeku di sudut bibir. Ketegaran wanita di hadapannya ini sama sekali tidak sinkron dengan statusnya sebagai seorang tawanan yang tak berdaya. Bukannya menangis atau memohon belas kasihan, Meghan justru menatapnya seolah Petter-lah yang berada di posisi bawah angin.Sedetik, dua detik, keheningan mencekam menyelimuti ruang batu itu.Hingga akhirnya, Petter perl
Meghan tidak pernah bercanda ketika mengatakan kalimat itu di depan wajah sang Raja. Tatapan matanya malam itu begitu tajam, menusuk langsung ke sepasang manik abu-abu milik Ralph saat ia berbisik, "Kau harus tahu, anak yang nanti lahir dari rahim ini tidak akan pernah memanggilmu 'Ayah'."Ralph mungkin mengira itu hanyalah letupan amarah dari selir pembangkangnya yang sedang merajuk setelah pertengkaran hebat mereka. Namun, Ralph salah besar. Meghan tidak sedang menggertak, karena jauh di dalam kepalanya, ia sudah menyusun rencana pelariannya sendiri dengan teramat rapi.Ia bukan wanita bodoh yang pasrah menerima takdir sebagai pemuas nafsu sang Tiran. Kepingan koin Ducat dan Groshen bernilai tinggi yang selalu diberikan Ralph sebagai uang saku, yang biasanya digunakan selir lain untuk membeli gaun sutra atau perhiasan mahal, diam-diam Meghan kumpulkan dan sembunyi di tempat paling aman. Koin-koin itu adalah tiket kebebasannya.Kesempatan ema
"Bertahanlah, Yang Mulia! Demi Tuhan, kumohon bertahanlah!" Meghan memeluk tubuh Elanor dari belakang dengan sisa-sisa kekuatannya yang hampir habis. Dada Meghan bergetar hebat. Rasa dingin danau yang masih tersisa di tulang-tulangnya seketika menguap, digantikan oleh rasa panas yang membakar sa
Meghan merasa harga dirinya sudah tidak bersisa lagi. Kejadian semalam bukan sekadar merenggut paksa kesucian raganya, melainkan menghancurkan berkeping-keping psikisnya hingga ke dasar yang paling kelam. Sebagai seorang selir, ia sudah tahu bahwa khalayak umum tidak akan pernah menaruh hormat
Ralph tidak memberi Meghan waktu untuk memikirkan skenario pembunuhan di kepalanya. Sentakan pria itu begitu kuat hingga punggung polos Meghan menghantam kasur sutra dengan keras, menyisakan sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuh Ralph yang membakar. Pria itu mengungkung Meghan sepenuhnya.
"Se-seperti ini caranya melayani Paduka." Suara Meghan bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar paviliun Utara yang mencekam. Jemarinya yang dingin bergerak ke arah ikatan terakhir dari gaun pelayannya yang sudah compang-camping. Dengan satu tarikan napas yang terasa mencekik teng







