Share

Mahkota Hina

Penulis: Ivorybeige
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 14:18:56

Ralph tidak memberi Meghan waktu untuk memikirkan skenario pembunuhan di kepalanya. Sentakan pria itu begitu kuat hingga punggung polos Meghan menghantam kasur sutra dengan keras, menyisakan sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuh Ralph yang membakar.

Pria itu mengungkung Meghan sepenuhnya.

Kedua tangan kekarnya langsung mengunci pergelangan tangan Meghan ke atas kepala, menekan urat nadinya begitu erat hingga jemari Meghan yang semula berniat meraih tusuk rambut perak itu mati kutu, t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Pahlawan

    Belati di leher Meghan ditarik kembali, menyisakan goresan tipis kemerahan yang terasa perih. Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tubuh ringkih Meghan diseret kasar menjauh dari paviliun Ratu Elanor, melewati lorong-lorong dingin, dan diempaskan begitu saja ke lantai kamarnya sendiri. ​"Aku tidak suka bagaimana selir mencoba mengaturku!" gertak Ralph, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, mengirimkan sensor ketakutan yang instan pada setiap pelayan yang berjaga di luar. ​Mata Meghan merah, wajahnya kacau balau bercampur air mata dan keringat. Ia mendongak, menatap sang tirani dengan napas yang memburu satu-satu. ​Dia memang bukan pemilik tubuh Meghan yang asli. Ingatan-ingatan masa lalu raga ini tidak sepenuhnya Nadira pahami. Karena jika saja Nadira paham, jika saja ia memiliki ketakutan yang sama dengan Meghan yang asli, ia pasti tahu bahwa menaikkan nada tinggi di depan sang Raja akan langsung dihadiahi hukuman mati yang kejam. Meghan yang asli pasti tidak

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Biar Aku Mati

    "Paduka! Yang Mulia Putri Anneliese ... napasnya telah berhenti!" Pekikan panik dari pelayan senior itu memecah keheningan paviliun utama seperti sambaran petir. Tak butuh waktu lama bagi langkah kaki yang berat dan berwibawa untuk bergema di sepanjang koridor batu. Ralph datang dengan jubah hitamnya yang berkibar, membawa atmosfer kematian yang pekat. Wajahnya datar, tapi sepasang matanya berkilat kejam, siap menjatuhkan titah hukuman mati bagi Elanor atas kegagalan melahirkan penerus yang tangguh. Namun, tepat di ambang pintu kamar Ratu, langkah sang Raja terhenti. Sosok Meghan berdiri di sana, pasang badan dengan kedua tangan terentang, menghalangi jalan masuk Ralph. "Paduka, Ratu Elanor tidak bersalah," ucap Meghan, suaranya bergetar hebat menahan rasa takut yang luar biasa. Namun sepasang matanya menatap lurus ke dalam manik mata gelap sang Raja tanpa beralih sedikit pun. "Jika Paduka membutuhkan nyawa sebagai ganti atas kegagalan ini, ambil nyawaku. Jadikan aku kambing

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Hukuman Mati

    Satu minggu berlalu seperti kabut tebal yang mencekik paviliun utama. Pagi itu, Meghan berdiri di koridor yang sunyi saat pintu ek besar kamar Ratu Elanor terbuka. Sosok tegap Ralph melangkah keluar. Pria itu menampilkan raut wajah yang datar, sedingin dinding batu kastil tua, seolah tidak baru saja menjenguk istri dan anak kandungnya sendiri. Saat berpapasan, sepasang mata gelap Ralph sempat bergulir ke arah Meghan. Namun, tidak ada sapaan, tidak ada kata, bahkan tidak ada binar kejam seperti malam terkutuk itu. Ralph melangkah pergi begitu saja, mengabaikannya sepenuhnya. Meghan mengembuskan napas pelan, ia justru sangat senang diabaikan oleh sang tirani. Hubungan mereka memang paling benar jika tetap sekaku belati. Meghan segera mengetuk pintu dan menyelinap masuk ke dalam kamar. Hawa hangat bercampur aroma ramuan obat langsung menyergap indra penciumannya. Hubungan Elanor dan Meghan sebenarnya tidak terlalu hangat, ada sekat tak kasat mata antara sang Ratu dan seorang

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Tidak Berguna

    "Bertahanlah, Yang Mulia! Demi Tuhan, kumohon bertahanlah!" Meghan memeluk tubuh Elanor dari belakang dengan sisa-sisa kekuatannya yang hampir habis. Dada Meghan bergetar hebat. Rasa dingin danau yang masih tersisa di tulang-tulangnya seketika menguap, digantikan oleh rasa panas yang membakar saat kulitnya bersentuhan dengan tubuh Elanor yang bersimbah keringat dan darah. Pakaian pelayan Meghan yang baru diganti kini mulai ternoda oleh darah persalinan sang Ratu, namun ia tidak peduli. Tidak sedikit pun. Elanor mengerang mengerikan, sebuah jeritan parau yang menyayat hati terdengar dari tenggorokannya yang kering. Kepala Ratu terkulai ke belakang, menghantam bahu Meghan, sementara jemarinya yang berlumuran darah mencakar lengan Meghan dengan sangat kuat hingga menembus kain bajunya. Rasa sakitnya menular, mencabik-cabik psikis Meghan yang memang sudah hancur sejak semalam. "Aku tidak kuat, Meghan ... sakit sekali ...," racau Elanor, air matanya menetes melewati pipi piasnya dan

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Prematur

    Meghan merasa harga dirinya sudah tidak bersisa lagi. Kejadian semalam bukan sekadar merenggut paksa kesucian raganya, melainkan menghancurkan berkeping-keping psikisnya hingga ke dasar yang paling kelam. Sebagai seorang selir, ia sudah tahu bahwa khalayak umum tidak akan pernah menaruh hormat padanya. Namun, dijadikan tontonan dan diperlakukan bagai binatang pemuas birahi di depan wanita lain benar-benar berada di luar batas kemanusiaannya. Tanpa melepas sehelai pun kain tipis yang membungkus tubuh penuh memarnya, Meghan melangkah masuk ke dalam air danau yang sedingin es. Sebenarnya, apa yang ia lakukan bukan lagi sekadar berendam untuk membersihkan diri. Meghan sengaja menenggelamkan tubuhnya, membiarkan air danau yang pekat merayap naik ke dada, leher, hingga akhirnya seluruh permukaan kulit kepalanya ikut masuk dan menghilang di bawah permukaan air. Meghan memejamkan mata. Ia berharap Tuhan berbaik hati untuk mendengar jeritannya kali ini, cabut sekali lagi nyawanya, dan t

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Mahkota Hina

    Ralph tidak memberi Meghan waktu untuk memikirkan skenario pembunuhan di kepalanya. Sentakan pria itu begitu kuat hingga punggung polos Meghan menghantam kasur sutra dengan keras, menyisakan sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuh Ralph yang membakar. Pria itu mengungkung Meghan sepenuhnya. Kedua tangan kekarnya langsung mengunci pergelangan tangan Meghan ke atas kepala, menekan urat nadinya begitu erat hingga jemari Meghan yang semula berniat meraih tusuk rambut perak itu mati kutu, tak berdaya di atas bantal. "Buka kakimu," perintah Ralph, suaranya bukan lagi bariton yang tenang, melainkan geraman rendah yang sarat akan syahwat dan dominasi mutlak. Meghan memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah saat merasakan lutut Ralph yang kokoh memaksa kedua paha bagian dalamnya terbuka lebar. Hawa malam paviliun Utara terasa menusuk bagian tubuhnya yang paling intim, yang kini terekspos sepenuhnya di bawah tatapan lapar Ralph dan sepasang mata Vespera yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status