Share

Cara Melayani Paduka

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-06-15 11:11:01

"Se-seperti ini caranya melayani Paduka."

Suara Meghan bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar paviliun Utara yang mencekam.

Jemarinya yang dingin bergerak ke arah ikatan terakhir dari gaun pelayannya yang sudah compang-camping. Dengan satu tarikan napas yang terasa mencekik tenggorokan, kain koyak itu akhirnya ia lepas, meluncur jatuh ke lantai batu bersama dengan kain dalamnya.

Meghan berdiri telanjang di bawah temaram cahaya lilin. Kulitnya yang pias meremang, bukan hanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
bakso mercon
alah ..baru kali ini ..alasan apalagi.basi..alasan di buat..seakan Ralph ..wajar melakukan ini.OMG...ngak usah di buat 2 kyk gitu penulis.setelah begitu rendah dan menjijikan nya perlakuan nya pada Meghan, sekarang mau beri alasan penyebabnya, konyol sekali. apa trauma2 masa lalu ,basi!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ashton Kecil

    Tahun-tahun berikutnya bergulir membawa keemasan yang kian mengakar di seluruh penjuru negeri. Musim panas berganti musim gugur yang sejuk, menyelimuti perbukitan sekitar ibu kota dengan warna keemasan dan tembaga. Di bawah kepemimpinan Ralph dan Meghan, Kerajaan tidak hanya menjadi benteng militer yang tak menembus di utara, tetapi juga pusat perdagangan dan kebudayaan terkemuka di seluruh daratan.​Pangeran Ashton kini tumbuh menjadi seorang bocah berusia empat tahun yang tangkas dan cerdas. Matanya mewarisi ketajaman iris kelabu milik Ralph, namun ketenangan dan kecermatannya bertutur berasal dari sang ibu. Setiap pagi, Ashton kecil sudah terbiasa duduk di sudut Ruang Studi Diraja, memperhatikan ibunya mendengarkan laporan menteri atau melihat ayahnya memeriksa peta-peta navigasi armada laut.​Di pelataran tengah Istana Agung, tumpukan dokumen traktat lama telah digantikan oleh Kodifikasi Hukum Baru—sebuah kitab undang-undang terpadu yang dirancang oleh Ratu Meghan bersama Bapa A

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Membakar Duri

    Musim semi perlahan berganti menjadi musim panas yang hangat. Lembah di sekeliling Istana melimpah dengan warna hijau segar, sementara pepohonan di sepanjang jalan ibu kota berbuah lebat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, kedamaian yang sesungguhnya dapat dirasakan bukan hanya di dalam dinding benteng, melainkan hingga ke pelosok desa terpencil.​Di Aula Pesta Kerajaan, persiapan besar sedang berlangsung. Perayaan Fajar Kerajaan. Sebuah tradisi tahunan untuk memperingati kemakmuran dan persatuan, akan digelar dengan skala yang belum pernah ada sebelumnya. Duta besar dan perwakilan dari Dewan Tiga Negara, kerajaan tetangga di Wilayah Selatan, hingga para pedagang besar dari Selat Selatan telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Peristiwa ini bukan sekadar pesta dansa biasa, melainkan panggung resmi untuk menunjukkan kekuasaan mutlak Wangsa Diraja yang bersatu.​Meghan berdiri di balkon kamar utamanya, memandangi kesibukan para pelayan dan prajurit yang menghiasi pelataran denga

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Era Baru

    Memasuki pertengahan musim semi, seluruh wilayah kerajaan menikmati stabilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dekade terakhir. Nama Ratu Meghan tak lagi diucapkan dengan nada meremehkan oleh para bangsawan; ia kini dihormati sebagai pengatur strategi hukum dan ekonomi yang ulung di samping kekuatan militer Sang Raja.​Namun, di tengah ketenangan yang tampak sempurna di permukaan, sebuah laporan rahasia mendarat di meja kerja Ralph pada suatu malam yang sunyi.​Bapa Anselm masuk tanpa mengetuk pintu—sebuah tindakan tidak biasa yang menandakan kegentingan situasi. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung tembaga berisi kertas perkamen tipis dari jaringan mata-mata kerajaan yang beroperasi di pinggiran Pegunungan Utara.​"Paduka," panggil Bapa Anselm dengan suara diredam. "Laporan dari pos pemantau jauh di Benteng Celah Hitam. Ini bukan mengenai Kerajaan Barat atau klan Vance."​Ralph yang sedang mempelajari peta pertahanan pesisir mendongak. Matanya yang tajam menangkap ket

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Perjanjian Ini Sah

    Dua bulan pasca-penarikan mundur pasukan Kerajaan Barat, konsolidasi kekuatan internal mencapai puncaknya. Salju di sekitar benteng mulai mencair, membuka akses jalan utama menuju Wilayah Selatan dan Barat. Di bawah arahan Ratu Meghan, jalur logistik baru tidak hanya mengamankan pasokan pangan, tetapi juga memperkuat pos-pos pemeriksaan militer di seluruh perbatasan.​Namun, kedamaian di permukaan itu pecah saat Fajar pertama musim semi tiba.​Bapa Anselm memasuki Aula Kerja Kerajaan dengan langkah tergesa-gesa. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu hitam tanpa ukiran yang dikirimkan oleh kurir anonim dari pelabuhan perbatasan Wilayah Timur. Jalur laut yang selama ini dianggap paling aman dan netral.​"Paduka, Ratu Meghan," panggil Bapa Anselm, suaranya mengandung nada kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. "Kotak ini tiba bersama stempel segel milik Konsul Dagang Wilayah Timur. Namun operatesi pemeriksaan di perbatasan menemukan noda darah yang mengering di bawah alasnya."​

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Keputusan Baru

    Penarikan mundur pasukan Kerajaan Barat dari garis perbatasan di Pegunungan Utara membawa keheningan yang serasa asing bagi Benteng Celah Hitam. Asap dari perkemahan militer di seberang jurang perlahan meluruh, menyisakan hamparan salju putih yang tak lagi ternoda oleh derap sepatu paku para prajurit.​Di balai utama benteng, Ralph berdiri melipat tangan di depan perapian batu yang menyala membara. Suara kayu terbakar dan desis angin luar yang menghantam dinding tebal menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan. Meski ancaman perang terbuka berhasil ditangkis tanpa perlu meneteskan darah di perbatasan, ekspresi di wajah Sang Raja tetap menyiratkan kewaspadaan yang tak sedikit pun memudar.​Meghan melangkah mendekat, membiarkan jubah wol tebalnya terurai sedikit saat ia berdiri di samping Ralph. Di dalam pelukan inang pengasuh di ruang dalam yang hangat, Ashton sedang terlelap, jauh dari ketegangan politik yang baru saja mengancam masa depannya.​"Kau tampak tidak sepuas yang kuba

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Invasi

    Tiga minggu berikutnya berlalu dalam kesibukan yang dingin dan terukur di seluruh penjuru benteng. Musim dingin menyelimuti ibu kota dengan lapisan es tebal, membekukan kolam-kolam batu dan melapisi benteng granit dengan warna putih yang pucat. Namun di dalam Ruang Strategi Istana Agung, pergerakan justru berlangsung hangat dan intens.​Ralph tidak membuang waktu. Sebagai penguasa yang dibesarkan di medan perang, ia tahu betul bahwa ancaman dari Kerajaan Barat di balik Pegunungan Utara bukanlah gertakan belaka. Tiga divisi infantri yang disiagakan di perbatasan adalah kekuatan tempur nyata yang sanggup menembus celah-celah gunung jika jalur pertahanan tidak diperkuat sebelum es mencair.​"Panglima Gomund telah menempatkan empat ratus prajurit pemanah di Benteng Celah Hitam," ujar Lord Silas, menunjuk maket kayu yang menggambarkan garis perbatasan utara di atas meja besar. "Namun masalah utamanya bukan pada jumlah prajurit kita, Paduka. Masalahnya ada pada legalitas traktat tersebut di

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Protokol Selir

    Pelayan-pelayan di paviliun Barat bekerja dengan keheningan yang disiplin. Tidak ada percakapan santai, yang terdengar hanyalah gesekan sisir tulang dan gemerincing botol parfum. Meghan duduk tegak, membiarkan rambutnya ditarik ke atas dengan kencang, dipilin dengan teknik gelung tinggi yang rum

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Sekolah Selir

    Meghan melangkah menyusuri lorong panjang yang dihiasi permadani dinding tebal. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu jati raksasa menuju perpustakaan agung. Dua penjaga bersenjata tombak menyilangkan senjata mereka, sementara seorang pelayan senior dengan pakaian kaku menghalangi jalannya.

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Ducat Meghan

    Meghan membiarkan pakaian sutra birunya merosot ke lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang lambat. Ia berdiri dengan kepala terangkat, memamerkan lekuk tubuhnya yang sehat dan sempurna di bawah cahaya temaram lampu minyak. Dalam benak Nadira, ini adalah senjatanya. Ia tahu betapa kuat daya t

  • Selir Angkuh Kesayangan Paduka   Buka Pakaianmu Sekarang

    Meghan dipaksa berdiri dan diseret menjauh dari kerumunan. Ia sempat melirik ke arah ayahnya, Baron Valerius, yang hanya bisa menunduk lesu tanpa berani menatap mata putrinya. Langkah kaki Meghan bergema di lorong-lorong istana yang panjang dan sunyi. Setiap langkah itu terasa seperti dentuman gen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status