LOGINKereta kuda terus berayun ritmis membelah kegelapan malam, meninggalkan kepulan asap hitam dari istana Petter yang kian menjauh di tapal batas. Di dalam ruang kereta yang sempit dan hangat, keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang mencekik, melainkan sebuah jeda yang intim setelah badai yang melelahkan.Ralph tidak mengubah posisinya sedikit pun. Lengan kekarnya tetap melingkar protektif di sekeliling bahu Meghan, menjaga agar tubuh wanita itu tidak terguncang setiap kali roda kereta menghantam jalanan berbatu yang tidak rata. Matanya yang biasanya memancarkan aura intimidasi yang mematikan, kini menatap lurus ke depan, lurus pada dinding kereta yang remang, sementara pikirannya mengembara jauh.Dada Ralph naik turun dengan teratur, menjadi bantalan yang hangat bagi kepala Meghan. Ia bisa merasakan napas halus Meghan yang menerpa kulit lehernya yang tidak terlindungi zirah. Wanita ini akhirnya kembali. Raga yang beberapa hari lalu hilang dari ranjangnya, yang membuatny
Ekspresi Petter mendadak pias. Pegangannya pada belati di leher Meghan melebar sedetik karena syok dan rasa hancur yang teramat sangat. Menyarani bahwa adiknya telah dieksekusi di menara Alistair tanpa ampun, seluruh pertahanan psikologis Petter runtuh seketika. Pria itu lemas, kehilangan kekuatannya untuk mengancam lebih jauh. Belati di tangannya terlepas, berdenting keras di atas lantai marmer sebelum berguling menjauh.Ralph tidak menyia-nyiakan celah itu. Dengan satu gerakan kilat yang terukur, ia melangkah maju. Tangan kanannya menyentak Meghan ke belakang tubuhnya, mengamankan wanita itu dalam satu dekapan protektif yang begitu erat hingga rusuk Meghan terasa sesak. Bersamaan dengan itu, ujung sepatu bot baja Ralph menghantam dada Petter, membuat pria yang hancur itu terjerembap ke belakang.Petter ambruk berlutut, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di atas lantai marmer yang mulai terasa panas karena api menjalar dari koridor luar. Air matanya pecah, bercampur dengan de
Cengkeraman Petter di pergelangan tangan Meghan mendadak berubah. Rasa panik yang semula melumpuhkannya kini bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Menyadari dirinya telah dikepung oleh sang monster, Petter menarik tubuh Meghan dengan satu sentakan kasar, memosisikan wanita itu di depannya sebagai perisai hidup.Satu lengan Petter mengunci leher Meghan dari belakang, sementara tangan kanannya bergerak cepat menarik belati perak dari balik pinggangnya, menempelkan mata pisau yang dingin itu tepat di urat nadi tengkuk Meghan. Tepat di atas tato nama Ralph."Mundur, Tiran!" raung Petter, suaranya bergetar antara ketakutan dan nekat. Napasnya yang memburu terasa panas di telinga Meghan.Ralph menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang hancur. Sepasang matanya melirik sekilas pada belati yang menekan kulit Meghan, lalu pandangannya naik, mengunci tatapan Petter dengan tatapan yang luar biasa tenang. Ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah."Kau pi
Meghan terdiam.Tawaran itu terlampau menggiurkan untuk ditolak. Sebuah tiket menuju kebebasan yang selama ini ia impikan, bertaruh pada nyawa seorang selir lain yang menjadi korban kegilaan Ralph. Meghan baru saja hendak membuka mulut untuk menetapkan syarat tambahan ketika tiba-tiba, keheningan mereka dipecahkan oleh suara gaduh dari arah luar.BRAK!Pintu kayu ek tebal itu tidak lagi dibuka dengan sopan, melainkan dihantam hingga engsel bawahnya terlepas. Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah yang compang-camping merosot di ambang pintu. Napasnya putus-putus, dan noda darah segar merembes cepat dari luka tebasan di bahu kirinya."Yang Mulia Petter ...," bisik prajurit itu, terbatuk darah. "Mereka ... mereka sudah menembus pertahanan luar."Petter tersentak, mencengkeram kerah baju bawahannya dengan kasar. "Siapa? Pasukan reguler Alistair? Bagaimana bisa mereka melewati perbatasan secepat ini tanpa terdeteksi?!""Bukan ... bukan pasukan kerajaan!" Prajurit itu menggeleng lema
Terhitung sudah tiga hari Meghan disekap di dalam istana asing ini. Selama itu pula, Petter terus mengawasinya seperti seekor elang yang mengintai mangsa, mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan oleh wanita berwajah tenang di hadapannya. Hingga sore itu, ketika Meghan sedang dipaksa duduk di sudut ruangan, gerakan rambutnya yang tersibak tanpa sengaja menyingkap kulit di balik lehernya.Mata Petter langsung terpaku pada guratan tinta hitam di sana. Sontak, rahang pria itu mengeras, menyadari arti dari simbol kasar yang terlukis di tengkuk sang tawanan."Kau bukan seorang Ratu," desis Petter, langkah kakinya mendekat dengan aura intimidasi yang pekat.Meghan tidak berkedip. Ia hanya menatap Petter dengan pandangan sangsi dan bibir yang mengulas senyum tipis, seolah kebingungan pria itu adalah hiburan baginya."Kapan aku mengaku sebagai Ratu?" tanya Meghan balik."Selir rendahan," maki Petter, setengah menahan amarah yang mendadak meluap ke dada. Rasa tertipu membuat
Vespara.Nama itu bergaung di kepala Meghan, menghidupkan kembali memori setahun yang lalu. Selir baru yang dibawa Ralph dengan angkuh ke dalam istana Alistair sebagai upeti atas kemenangan mutlak di medan perang.Dan yang paling menjijikkan dari semuanya ... Vespara adalah wanita yang dipaksa menonton adegan keintiman Ralph dengan dirinya, di kamar tidur mereka sendiri. Ralph dengan sengaja merancang skenario itu untuk menghancurkan harga diri sang upeti perang, sekaligus mengikat Meghan dalam permainan berdarah yang ia ciptakan.Meghan meremas kain gaunnya hingga meninggalkan bekas kusut yang dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena takut pada Petter, melainkan karena rasa muak yang kembali naik ke permukaan.Ini bukan salahnya. Meghan bahkan tidak pernah tahu kapan atau bagaimana prosesnya sampai Ralph mengangkat Vespara menjadi selir. Tahu-tahu, wanita malang itu sudah dilempar ke hadapannya dengan kondisi tengkuk yang telah berlukiskan tato, nama yang sama pers
Satu minggu berlalu seperti kabut tebal yang mencekik paviliun utama. Pagi itu, Meghan berdiri di koridor yang sunyi saat pintu ek besar kamar Ratu Elanor terbuka. Sosok tegap Ralph melangkah keluar. Pria itu menampilkan raut wajah yang datar, sedingin dinding batu kastil tua, seolah tidak baru
"Bertahanlah, Yang Mulia! Demi Tuhan, kumohon bertahanlah!" Meghan memeluk tubuh Elanor dari belakang dengan sisa-sisa kekuatannya yang hampir habis. Dada Meghan bergetar hebat. Rasa dingin danau yang masih tersisa di tulang-tulangnya seketika menguap, digantikan oleh rasa panas yang membakar sa
Meghan merasa harga dirinya sudah tidak bersisa lagi. Kejadian semalam bukan sekadar merenggut paksa kesucian raganya, melainkan menghancurkan berkeping-keping psikisnya hingga ke dasar yang paling kelam. Sebagai seorang selir, ia sudah tahu bahwa khalayak umum tidak akan pernah menaruh hormat
Ralph tidak memberi Meghan waktu untuk memikirkan skenario pembunuhan di kepalanya. Sentakan pria itu begitu kuat hingga punggung polos Meghan menghantam kasur sutra dengan keras, menyisakan sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuh Ralph yang membakar. Pria itu mengungkung Meghan sepenuhnya.







