LOGINSarah berdiri terpaku beberapa detik setelah sosok itu menghilang di balik tirai. Jenderal Harwin. Pria itu seharusnya sudah mati. Namanya disebut dalam laporan penyergapan yang menghancurkan keluarga Arman sebagai salah satu korban yang gugur di tempat.
Selama bertahun-tahun Sarah meyakini itu, merelakan satu per satu orang yang dulu setia pada ayahnya pergi dari hidupnya. Namun malam ini, di tengah jamuan yang dipenuhi orang-orang istana, pria itu muncul dengan wajah yang tidak mungk
Pagi datang dengan langit kelabu yang menggantung rendah di atas menara istana. Sarah terbangun lebih awal, kepalanya terasa berat karena semalaman pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Ia masih memutar percakapan antara Ratu Elena dan Pangeran Vero yang ia dengar di lorong belakang. Kata-kata itu terus melekat seperti duri halus di dalam kepalanya.Belum ada bukti kuat. Belum ada saksi lain selain Mira. Jika ia melapor sekarang, Raja Adrian mungkin mendengarkan, dewan istana tidak akan memercayai selir yang baru saja menjadi buah bibir karena kasus kematian kurir. Sarah harus bergerak lebih halus, memakai jalur yang tidak terlihat.Setelah membereskan diri, ia duduk di dekat jendela sambil menyulam. Gerakan jarinya lambat, pikirannya berpacu. Mira keluar sejak subuh untuk mencari tahu jadwal patroli malam di sayap timur, seperti yang Sarah minta. Selama menunggu, Sarah memakai waktu untuk menyusun kemungkinan-kemungkinan.Jika Ratu Elena dan Pangeran Vero
Sarah tidak butuh waktu lama untuk memutuskan langkah berikutnya. Kabar bahwa Ratu Elena meninggalkan jamuan lebih awal bersama Pangeran Vero sudah cukup menjadi alasan untuk bergerak. Ia menoleh pada Mira, memberi isyarat halus, lalu beranjak dari kursinya dengan sikap tenang agar tidak mengundang perhatian. Beberapa undangan masih sibuk berbincang, sebagian lagi mulai bersiap pulang, sehingga kepergian Sarah dari balai timur tidak terlalu mencolok.Ia berjalan menyusuri koridor samping yang sudah ia kenal sejak pertama kali dipanggil Raja Adrian. Cahaya obor di sepanjang dinding membuat bayangannya memanjang, menciptakan kesan seperti ada orang lain yang mengikutinya dari arah berlawanan. Sarah menoleh dua kali untuk memastikan tidak ada penjaga yang memperhatikan, lalu berbelok ke lorong belakang yang menghubungkan balai timur dengan taman dalam.Mira menyusul di belakangnya dengan napas sedikit memburu. "Nona, kita harus hati-hati. Lorong belakang itu dekat dengan gudang anggur, b
Sarah berdiri terpaku beberapa detik setelah sosok itu menghilang di balik tirai. Jenderal Harwin. Pria itu seharusnya sudah mati. Namanya disebut dalam laporan penyergapan yang menghancurkan keluarga Arman sebagai salah satu korban yang gugur di tempat.Selama bertahun-tahun Sarah meyakini itu, merelakan satu per satu orang yang dulu setia pada ayahnya pergi dari hidupnya. Namun malam ini, di tengah jamuan yang dipenuhi orang-orang istana, pria itu muncul dengan wajah yang tidak mungkin ia lupakan.Sarah menoleh cepat, memastikan tidak ada yang memperhatikan keterkejutannya. Ratu Elena sedang sibuk berbincang dengan beberapa bangsawan di sisi lain, Pangeran Vero masih belum kembali, dan para undangan lain terlalu asyik dengan urusan mereka sendiri.Sarah menarik napas panjang, lalu melangkah perlahan ke arah tirai tempat Jenderal Harwin menghilang. Ia berusaha terlihat biasa saja, seperti orang yang sedang berjalan-jalan menikmati udara malam dari balkon.
Sarah menggenggam kepingan logam itu sampai ujung jari-jarinya memutih. Lambang setengah matahari dan setengah bulan terasa dingin di telapak tangannya, maknanya justru membakar dadanya seperti bara. Itu lambang keluarganya, lambang yang dulu dikenakan ayahnya pada panji-panji pasukan dan stempel resmi wilayah timur.Setelah kejatuhan Lord Arman, lambang itu dilarang dipakai di seluruh kerajaan, bahkan menyebut namanya saja dianggap aib. Kini kepingan itu tiba-tiba jatuh dari atas atap kamarnya, dibawa oleh seseorang yang bergerak seperti bayangan.Kata"Percaya"yang terukir di permukaannya tidak bisa dianggap angin lalu. Ada pihak dari masa lalunya yang masih hidup dan ingin membuka saluran komunikasi. Apakah itu kawan atau jebakan yang dibungkus kenangan?Sarah menatap celah atap yang sudah kembali tertutup, lalu menoleh ke jendela yang masih gelap oleh bayangan malam. Ia tidak bisa tidur lagi malam ini, karena satu keputusan kecil yang ia
Ratu Elena berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang. Dari luar, tidak ada yang berubah. Wajahnya tetap anggun, senyumnya masih tipis. Di balik matanya, pikirannya bekerja seperti roda penggilingan yang berputar cepat.Ia mendengar semuanya. Percakapan antara Raja Adrian dan selir rendahan itu baru saja memberinya dua informasi penting. Pertama, Sarah ternyata sudah menemukan jejak tentangSarang. Kedua, raja mulai curiga pada orang-orang terdekatnya.Itu artinya, rencana yang sudah disusun bertahun-tahun kini mulai goyah. Begitu tiba di kediamannya, Elena langsung memanggil seorang pelayan kepercayaan.“Panggil Pangeran Vero ke ruang tamu pribadiku. Bilang ada urusan penting.”Pelayan itu menunduk dan pergi. Elena duduk di kursi beludru dekat jendela. Ia menatap taman yang mulai gelap diterpa senja. Pikirannya melayang pada masa lalu—pada perjanjian-perjanjian yang dulu ia buat untuk sampai ke posisinya sekarang.Ia t
Sarah berdiri di ambang pintu ruang bawah tanah itu. Cahaya dari lorong belakang hanya masuk sedikit, membentuk garis tipis di lantai batu yang lembap. Bau anyir logam semakin kuat. Bercak merah pada kain yang tergeletak dekat pintu masih basah. Itu darah. Bukan luka kecil.Sarah memaksakan dirinya untuk tidak mundur. Ia menoleh ke belakang, memastikan Mira masih di dekat dinding gudang. Perempuan itu terlihat ketakutan, tidak berani bersuara.“Tunggu di luar,” bisik Sarah.“Nona, jangan masuk sendirian,” Mira memohon.“Aku hanya melihat sebentar.”Sarah melangkah masuk perlahan. Ruang bawah tanah itu ternyata lebih luas dari yang ia kira. Di dinding-dindingnya tergantung rantai tua dan beberapa lentera yang sudah mati. Lantainya tanah dan batu, dengan genangan air di beberapa sudut.Semakin ke dalam, bau darah semakin menyengat. Sarah menutup hidung dengan lengan bajunya. Matanya menyapu ruangan.D







