Inicio / Romansa / Selir Idaman Raja / BAB 3: BISIKAN DI BALIK DINDING

Compartir

BAB 3: BISIKAN DI BALIK DINDING

Autor: Pena Hideung
last update Fecha de publicación: 2026-08-14 21:10:34

“Kau tidak sendiri. Musuhmu tidak hanya di istana.”

Siapa yang mengirim pesan itu?

Di istana ini, Sarah tidak punya kawan. Ia hanya punya Dayang Mira, dan itu pun sebatas hubungan pelayan dan majikan yang tumbuh menjadi kepercayaan kecil.

Pesan ini bukan dari Mira. Bahkan Mira tidak mungkin berani melempar kertas ke dalam kamar selir di malam hari.

Ketika pagi tiba, Sarah bersikap seperti biasa. Ia mandi, memakai pakaian sederhana khas selir, lalu duduk di dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat taman dalam istana yang mulai dirawat oleh para pekerja pagi.

Tidak lama kemudian, Dayang Mira masuk membawa sarapan.

“Nona, Anda tidak tidur lagi?” tanya Mira sambil menatap wajah Sarah.

“Sedikit,” jawabnya.

Mira meletakkan nampan berisi bubur hangat dan teh. Ia tampak ragu, lalu mendekat.

“Tadi pagi aku mendengar para pelayan berbisik,” katanya pelan. “Tentang Raja. Katanya, semalam beliau memarahi Panglima Dasco di ruang kerja. Suaranya terdengar sampai ke lorong luar.”

Sarah menegakkan punggung. “Marah? Karena apa?”

“Tidak ada yang tahu. Yang jelas, Panglima Dasco keluar dengan wajah merah padam. Para penjaga bilang, baru kali ini mereka melihat Raja secepat itu bereaksi.”

Sarah memutar otak. Percakapannya dengan Raja semalam mungkin ada kaitannya. Raja Adrian pasti sudah mulai meragukan keputusan Panglima Dasco di Lembah Esha. Ia belum tentu berani menarik mundur pasukan dengan cepat.

Perang adalah urusan rumit. Raja tidak bisa seenaknya melawan komandan lapangan hanya berdasarkan masukan seorang selir.

“Ada kabar lain?” tanya Sarah.

Mira menggeleng. “Hanya itu, Nona. Suasana istana hari ini terasa berbeda.”

Sarah mengangguk pelan. Ia tahu apa maksud Mira. Ketika Raja menunjukkan kemarahan, seluruh istana ikut menahan napas. Semua orang akan berusaha mencari tahu siapa yang menjadi sasaran murka Raja.

Hari itu Sarah tidak dipanggil oleh Raja Adrian. Ia menunggu sampai siang, kemudian sore, tidak ada perwira yang datang ke kamarnya. Keheningan ini justru lebih menegangkan daripada panggilan mendadak.

Saat matahari mulai condong ke barat, Sarah memberanikan diri berjalan ke perpustakaan bawah istana. Tempat itu jarang dikunjungi bangsawan karena tua dan lembap. Justru di sana Sarah berharap bisa menemukan peta wilayah timur yang tadi malam disebut Mira.

Ia menuruni tangga batu sempit. Udara di bawah terasa dingin dan berbau kertas tua. Cahaya lampu minyak hanya ada di beberapa sudut.

Ketika sampai di ruang utama perpustakaan bawah, Sarah melihat seorang lelaki tua sedang duduk di sudut meja. Punggungnya bungkuk, jemarinya sedang membereskan tumpukan gulungan.

“Permisi,” kata Sarah sopan.

Lelaki tua itu menoleh. Matanya kecil dan berkerut, sorotnya tajam.

“Selir Sarah,” katanya tiba-tiba.

“Kau mengenalku?”

“Aku mengenal siapa saja yang menginjakkan kaki di ruangan ini,” jawab lelaki itu. “Kebanyakan orang takut datang ke sini. Jadi, saat ada yang datang, aku ingat.”

Sarah tersenyum tipis. “Aku sedang mencari peta wilayah timur, khususnya daerah sekitar Lembah Esha.”

Lelaki tua itu terdiam sejenak. Ia menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ada banyak peta di sini,” katanya akhirnya. “Hanya satu yang menampilkan jalur barat Lembah Esha secara terperinci.”

“Aku membutuhkannya.”

“Untuk apa seorang selir membutuhkan peta perang?”

Sarah tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu apakah lelaki tua ini bisa dipercaya.

“Aku hanya ingin belajar,” jawabnya akhirnya.

Lelaki itu terkekeh pelan. “Belajar. Tentu saja.”

Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju salah satu rak kayu di pojok ruangan. Jemari tuanya menyusuri beberapa gulungan peta, berhenti pada salah satu yang ujungnya sudah agak cokelat.

“Ini,” katanya, menyerahkan gulungan tersebut. “Hati-hati. Menyimpan peta milik kerajaan tanpa izin bisa dianggap pelanggaran.”

Sarah menerimanya. “Terima kasih. Aku akan mengembalikannya.”

Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.

Saat Sarah berbalik menuju tangga, lelaki itu berbicara lagi tanpa menoleh.

“Dulu ayahmu sering datang ke sini.”

Langkah Sarah terhenti.

Lord Arman,” lanjut lelaki tua itu. “Dia juga pernah meminjam peta yang sama. Beberapa hari sebelum namanya dituduh sebagai pengkhianat.”

Sarah merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ia menoleh, lelaki itu sudah kembali asyik dengan tumpukan kertasnya, seolah tidak pernah mengucapkan apa pun.

Sarah ingin bertanya banyak hal. Ia tahu tidak bijak melakukannya sekarang. Ia menggenggam peta itu erat, lalu melangkah naik.

Malam harinya, Sarah membuka peta di atas meja kecil di kamarnya. Ia menutup jendela, memastikan tidak ada yang bisa mengintip dari luar.

Peta itu sangat rinci, menampilkan kontur Lembah Esha, jalur air, bukit-bukit, serta jalan-jalan kecil yang hampir tidak terlihat. Ada satu jalur sempit di sisi barat yang memang tertutup hutan lebat.

Sarah menyusuri jalur itu dengan jarinya.

Jika pasukan kerajaan ditarik lewat jalur ini, mereka bisa mencapai benteng utara dalam dua hari, asal mereka bergerak malam hari dan tidak menyalakan obor.

Ada satu masalah besar. Untuk mencapai jalur barat, pasukan harus melewati daerah bernama Jurang Hela. Tempat itu diapit tebing dan rawan longsor. Jika tidak hati-hati, setengah pasukan bisa hilang di sana.

Sarah memejamkan mata, mencoba mengingat apa yang pernah dikatakan ayahnya.

“Perang bukan hanya soal menyerang, Sarah. Soal membuat musuh percaya kau akan menyerang, padahal kau sedang bersiap di tempat lain.”

Ia membuka mata. Jalur barat memang berbahaya. Kalau berhasil, pasukan kerajaan bisa memutar balik keadaan. Mereka bisa memotong jalur logistik musuh dari belakang tanpa perlu perang terbuka.

Keputusan itu terlalu besar untuk diambil sendirian. Sarah tahu ia harus bicara lagi pada Raja Adrian.

Ketika tengah malam tiba, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Sarah menegang. Itu bukan ketukan penjaga. Terlalu halus. Terlalu rapi.

Ia menyembunyikan peta di bawah lipatan kain, lalu berdiri.

“Siapa?” tanyanya pelan.

Tidak ada jawaban. Ketukan itu datang lagi. Tiga kali. Pendek.

Sarah menoleh ke arah jendela. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan tirai tipis. Ia menatap pintu kamarnya. Antara membuka dan tidak. Jantungnya berdetak kencang.

Akhirnya ia menarik napas dan berjalan mendekat. Begitu tangannya menyentuh gagang pintu, suara itu berhenti. Dari bawah pintu, sebuah benda tipis terselip masuk.

Gulungan kertas lain, dengan pita hitam yang sama.

Sarah terdiam. Ia mengambil kertas itu dengan tangan yang berusaha ia tenangkan. Isinya hanya lima kata.

“Besok, Raja akan memanggilmu lagi.”

Sarah menatap pintu yang masih tertutup. Orang yang mengirim pesan ini bukan sekadar pengawas. Ia tahu setiap gerakan di istana bahkan sebelum hal itu terjadi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Selir Idaman Raja   BAB 10: DALAM GELAP

    Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.“Tangkap selir itu!”Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kali ini hampir seperti ramalan.Sarah tidak menjawab. Ia meraba tepi meja, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya. Sebelum sempat berbuat banyak, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya obor dari luar masuk menyilaukan. Beberapa penjaga berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.“Ada apa ini?!” suara Raja Adrian tiba-tiba memotong.Sarah menoleh. Adrian muncul dari balik pintu samping—dari ruang pengawasan tempat ia mendengarkan percakapan tadi. Wajahnya

  • Selir Idaman Raja   BAB 9: BAYANG-BAYANG DI DAPUR ISTANA

    Sarah tidak bisa terus menunggu. Pesan terakhir yang diletakkan di meja riasnya membuat satu hal menjadi jelas: musuh sudah terlalu dekat.Mereka bisa masuk ke kamarnya kapan saja, mengambil barang miliknya, bahkan meninggalkan ancaman tanpa takut ketahuan. Jika ia tidak segera bergerak, jerat ini akan mengikat lehernya sendiri.Pagi itu, setelah memastikan tidak ada yang mengawasi, Sarah memanggil Dayang Mira dan menyampaikan rencana sederhana."Aku ingin melihat sendiri siapa pelayan linen yang datang kemarin. Bawa aku ke tempat biasa para pelayan gudang bekerja."Mira tampak ragu. "Nona, itu daerah pelayan. Seorang selir jarang sekali turun ke sana. Bisa menimbulkan kecurigaan.""Justru karena jarang, tidak akan ada yang menduga," jawab Sarah. "Kita tidak perlu lama. Aku hanya ingin melihat wajahnya."Mira mengangguk pelan.Mereka berangkat lewat jalur belakang yang biasa dipakai para pelayan. Koridornya lebih sempit, langit-langitnya rendah, dan udaranya lembap. Sarah tidak peduli.

  • Selir Idaman Raja   BAB 8: SAPU TANGAN BERDARAH

    Sarah tidak langsung menjawab. Ia menatap sapu tangan itu, lalu menatap wajah Raja Adrian. Di bawah cahaya obor, mata Raja tampak dingin, tidak sedang menuduh, tidak seperti hakim yang siap menjatuhkan hukuman.“Itu memang milikku,” kata Sarah akhirnya.Adrian tidak bereaksi.“Aku tidak pernah ke hutan barat,” lanjutnya. “Aku tidak tahu kurirmu bernama siapa, apalagi di mana dia dibunuh.”Adrian memandang sapu tangan itu sekali lagi, lalu mengepalkannya.“Aku tahu,” katanya.Sarah terkejut. “Kau tahu?”“Jika kau yang membunuhnya, kau tidak akan sebodoh itu meninggalkan barang pribadimu di dekat jasad,” jawab Adrian. “Lagi pula, kau tidak mungkin berada di dua tempat dalam satu malam. Tadi malam kau ada di kamarmu, dan aku bisa memastikan itu.”Sarah merasa dadanya sedikit lapang.“Masalahnya,” lanjut Adrian, “Bukti ini tidak akan dilihat oleh banyak orang dengan cara yang sama. Jika urusan ini sampai ke pengadilan istana, sapu tangan ini cukup untuk menjeratmu.”“Dari mana mereka menda

  • Selir Idaman Raja   BAB 7: PENGKHIANAT DI BALIK TABIR

    Ruang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.“Aku bisa membantu,” kata Sarah.Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”“Biarkan aku yang m

  • Selir Idaman Raja   BAB 6: JEJAK DI BALIK JENDELA

    Sarah tidak tidur semalaman. Belati kecil itu masih tergeletak di atas meja, terbungkus kain hitam. Pesan terakhir itu terus terngiang di kepalanya.“Terakhir kali kuperingatkan.”Itu bukan sekadar gertakan. Orang itu masuk ke area selir, mendekati jendela kamar, dan melemparkan belati dengan akurasi tinggi. Jika ia mau, Sarah bisa saja sudah terbunuh malam ini.Mereka ingin menakut-nakutinya dulu, menekan mentalnya sebelum menjatuhkan pukulan besar.Sarah bangkit dari tempat tidur saat fajar mulai muncul. Ia melihat bekas tancapan belati di kayu dekat meja rias. Sempit dan dalam. Itu berarti pelemparnya punya tenaga terlatih.Prajurit? Ataukah pembunuh bayaran yang disewa diam-diam?Ia menyembunyikan belati itu di balik papan longgar di bawah tempat tidur. Bukti ini penting. Belum saatnya menunjukkan kepada siapa pun.Ketika Dayang Mira masuk membawa sarapan, wajahnya langsung berubah.“Nona, wajahmu sangat pucat. Kau tidak tidur lagi?”Sarah menggeleng pelan. “Kau sudah bertanya kepa

  • Selir Idaman Raja   BAB 5: PENGINTAI DI KEGELAPAN

    Sarah tidak menunjukkan surat ancaman itu kepada siapa pun, bahkan kepada Dayang Mira yang sejak pagi sudah menatapnya dengan curiga. Sarah hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan sarapannya seperti biasa.Bubur hangat, teh melati, dan beberapa potong buah segar. Semuanya terasa hambar di lidahnya.“Nona,” panggil Mira pelan setelah membereskan nampan. “Apakah ada yang terjadi?”“Tidak ada,” jawab Sarah.“Wajahmu pucat.”Sarah berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah jendela. Dari balik tirai tipis, ia bisa melihat sebagian kecil langit pagi yang kelabu.“Mira,” katanya tiba-tiba. “Apakah ada orang istana yang dekat denganmu? Seseorang yang bisa kau percaya sepenuhnya?”Mira tampak berpikir sejenak. “Tidak banyak, Nona. Ada satu dua orang yang dulu pernah bekerja di rumah Lord Arman. Mereka tidak akan berkhianat.”Sarah menatapnya. “Aku ingin kau mengirim pesan kepada salah satu dari mereka. Secara lisan, bukan tulisan.”Mira mengangguk pelan.“Tanyakan siapa di istana ini yang mengawasi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status