LOGIN“Kau tidak sendiri. Musuhmu tidak hanya di istana.”
Siapa yang mengirim pesan itu?
Di istana ini, Sarah tidak punya kawan. Ia hanya punya Dayang Mira, dan itu pun sebatas hubungan pelayan dan majikan yang tumbuh menjadi kepercayaan kecil.
Pesan ini bukan dari Mira. Bahkan Mira tidak mungkin berani melempar kertas ke dalam kamar selir di malam hari.
Ketika pagi tiba, Sarah bersikap seperti biasa. Ia mandi, memakai pakaian sederhana khas selir, lalu duduk di dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat taman dalam istana yang mulai dirawat oleh para pekerja pagi.
Tidak lama kemudian, Dayang Mira masuk membawa sarapan.
“Nona, Anda tidak tidur lagi?” tanya Mira sambil menatap wajah Sarah.
“Sedikit,” jawabnya.
Mira meletakkan nampan berisi bubur hangat dan teh. Ia tampak ragu, lalu mendekat.
“Tadi pagi aku mendengar para pelayan berbisik,” katanya pelan. “Tentang Raja. Katanya, semalam beliau memarahi Panglima Dasco di ruang kerja. Suaranya terdengar sampai ke lorong luar.”
Sarah menegakkan punggung. “Marah? Karena apa?”
“Tidak ada yang tahu. Yang jelas, Panglima Dasco keluar dengan wajah merah padam. Para penjaga bilang, baru kali ini mereka melihat Raja secepat itu bereaksi.”
Sarah memutar otak. Percakapannya dengan Raja semalam mungkin ada kaitannya. Raja Adrian pasti sudah mulai meragukan keputusan Panglima Dasco di Lembah Esha. Ia belum tentu berani menarik mundur pasukan dengan cepat.
Perang adalah urusan rumit. Raja tidak bisa seenaknya melawan komandan lapangan hanya berdasarkan masukan seorang selir.
“Ada kabar lain?” tanya Sarah.
Mira menggeleng. “Hanya itu, Nona. Suasana istana hari ini terasa berbeda.”
Sarah mengangguk pelan. Ia tahu apa maksud Mira. Ketika Raja menunjukkan kemarahan, seluruh istana ikut menahan napas. Semua orang akan berusaha mencari tahu siapa yang menjadi sasaran murka Raja.
Hari itu Sarah tidak dipanggil oleh Raja Adrian. Ia menunggu sampai siang, kemudian sore, tidak ada perwira yang datang ke kamarnya. Keheningan ini justru lebih menegangkan daripada panggilan mendadak.
Saat matahari mulai condong ke barat, Sarah memberanikan diri berjalan ke perpustakaan bawah istana. Tempat itu jarang dikunjungi bangsawan karena tua dan lembap. Justru di sana Sarah berharap bisa menemukan peta wilayah timur yang tadi malam disebut Mira.
Ia menuruni tangga batu sempit. Udara di bawah terasa dingin dan berbau kertas tua. Cahaya lampu minyak hanya ada di beberapa sudut.
Ketika sampai di ruang utama perpustakaan bawah, Sarah melihat seorang lelaki tua sedang duduk di sudut meja. Punggungnya bungkuk, jemarinya sedang membereskan tumpukan gulungan.
“Permisi,” kata Sarah sopan.
Lelaki tua itu menoleh. Matanya kecil dan berkerut, sorotnya tajam.
“Selir Sarah,” katanya tiba-tiba.
“Kau mengenalku?”
“Aku mengenal siapa saja yang menginjakkan kaki di ruangan ini,” jawab lelaki itu. “Kebanyakan orang takut datang ke sini. Jadi, saat ada yang datang, aku ingat.”
Sarah tersenyum tipis. “Aku sedang mencari peta wilayah timur, khususnya daerah sekitar Lembah Esha.”
Lelaki tua itu terdiam sejenak. Ia menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ada banyak peta di sini,” katanya akhirnya. “Hanya satu yang menampilkan jalur barat Lembah Esha secara terperinci.”
“Aku membutuhkannya.”
“Untuk apa seorang selir membutuhkan peta perang?”
Sarah tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu apakah lelaki tua ini bisa dipercaya.
“Aku hanya ingin belajar,” jawabnya akhirnya.
Lelaki itu terkekeh pelan. “Belajar. Tentu saja.”
Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju salah satu rak kayu di pojok ruangan. Jemari tuanya menyusuri beberapa gulungan peta, berhenti pada salah satu yang ujungnya sudah agak cokelat.
“Ini,” katanya, menyerahkan gulungan tersebut. “Hati-hati. Menyimpan peta milik kerajaan tanpa izin bisa dianggap pelanggaran.”
Sarah menerimanya. “Terima kasih. Aku akan mengembalikannya.”
Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.
Saat Sarah berbalik menuju tangga, lelaki itu berbicara lagi tanpa menoleh.
“Dulu ayahmu sering datang ke sini.”
Langkah Sarah terhenti.
“Lord Arman,” lanjut lelaki tua itu. “Dia juga pernah meminjam peta yang sama. Beberapa hari sebelum namanya dituduh sebagai pengkhianat.”
Sarah merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia menoleh, lelaki itu sudah kembali asyik dengan tumpukan kertasnya, seolah tidak pernah mengucapkan apa pun.
Sarah ingin bertanya banyak hal. Ia tahu tidak bijak melakukannya sekarang. Ia menggenggam peta itu erat, lalu melangkah naik.
Malam harinya, Sarah membuka peta di atas meja kecil di kamarnya. Ia menutup jendela, memastikan tidak ada yang bisa mengintip dari luar.
Peta itu sangat rinci, menampilkan kontur Lembah Esha, jalur air, bukit-bukit, serta jalan-jalan kecil yang hampir tidak terlihat. Ada satu jalur sempit di sisi barat yang memang tertutup hutan lebat.
Sarah menyusuri jalur itu dengan jarinya.
Jika pasukan kerajaan ditarik lewat jalur ini, mereka bisa mencapai benteng utara dalam dua hari, asal mereka bergerak malam hari dan tidak menyalakan obor.
Ada satu masalah besar. Untuk mencapai jalur barat, pasukan harus melewati daerah bernama Jurang Hela. Tempat itu diapit tebing dan rawan longsor. Jika tidak hati-hati, setengah pasukan bisa hilang di sana.
Sarah memejamkan mata, mencoba mengingat apa yang pernah dikatakan ayahnya.
“Perang bukan hanya soal menyerang, Sarah. Soal membuat musuh percaya kau akan menyerang, padahal kau sedang bersiap di tempat lain.”
Ia membuka mata. Jalur barat memang berbahaya. Kalau berhasil, pasukan kerajaan bisa memutar balik keadaan. Mereka bisa memotong jalur logistik musuh dari belakang tanpa perlu perang terbuka.
Keputusan itu terlalu besar untuk diambil sendirian. Sarah tahu ia harus bicara lagi pada Raja Adrian.
Ketika tengah malam tiba, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Sarah menegang. Itu bukan ketukan penjaga. Terlalu halus. Terlalu rapi.
Ia menyembunyikan peta di bawah lipatan kain, lalu berdiri.
“Siapa?” tanyanya pelan.
Tidak ada jawaban. Ketukan itu datang lagi. Tiga kali. Pendek.
Sarah menoleh ke arah jendela. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan tirai tipis. Ia menatap pintu kamarnya. Antara membuka dan tidak. Jantungnya berdetak kencang.
Akhirnya ia menarik napas dan berjalan mendekat. Begitu tangannya menyentuh gagang pintu, suara itu berhenti. Dari bawah pintu, sebuah benda tipis terselip masuk.
Gulungan kertas lain, dengan pita hitam yang sama.
Sarah terdiam. Ia mengambil kertas itu dengan tangan yang berusaha ia tenangkan. Isinya hanya lima kata.
“Besok, Raja akan memanggilmu lagi.”
Sarah menatap pintu yang masih tertutup. Orang yang mengirim pesan ini bukan sekadar pengawas. Ia tahu setiap gerakan di istana bahkan sebelum hal itu terjadi.
Malam itu Sarah naik ke atap menara barat. Tempat itu jarang dikunjungi siapa pun. Hanya batu, angin, dan langit yang terbuka lebar. Ia membawa selimut tebal dan sebuah lentera kecil yang ia letakkan di sudut, dekat tembok.Adrian belum kembali dari ruang kerja, jadi ia menunggu sendirian, menatap bintang-bintang yang terang tanpa awan. Dari ketinggian ini, kota terlihat kecil. Lampu-lampu rumah berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, dan sungai memantulkan cahaya bulan seperti pita perak.Pintu besi berderit. Adrian muncul dengan dua cangkir teh mengepul. Ia tidak bertanya kenapa Sarah memilih tempat ini. Ia hanya duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir, lalu ikut menatap ke atas. Uap teh mengambang sebentar sebelum hilang dibawa angin.“Aku tidak pernah memperhatikan bintang,” katanya akhirnya.“Kau selalu sibuk.”“Peta, laporan, perang. Tidak pernah ada waktu untuk melihat ke atas.”Sarah meletakkan cangkirnya. Ia berdiri dan berjalan ke tepi atap, tempat langit terasa l
Sarah duduk di balkon kamarnya sore itu. Angin membawa bau melati dari taman bawah. Di pangkuannya, sebuah buku panduan merangkai bunga, halaman-halamannya sudah menguning. Ia membuka lemari kecil di sudut balkon, tempat ia menyimpan gunting, tali, dan keranjang anyaman. Ia ingin membuat karangan bunga untuk Adrian. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Sesuatu yang sederhana.Ia memilih bunga dari taman: mawar merah, aster putih, dan beberapa tangkai daun eucalyptus. Ia meletakkannya di meja besi. Satu per satu. Rapi. Lalu ia mulai memotong tangkai. Tidak beraturan. Terlalu panjang. Terlalu pendek. Durinya menusuk jarinya. Ia mengerutkan kening, terus mencoba.Adrian muncul di ambang pintu balkon. Ia baru kembali dari ruang rapat. Ia melihat Sarah dengan gunting di tangan, bunga berserakan di lantai, dan seutas tali melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum.“Kau membuat apa?”“Karangan bunga. Untukmu.”Adrian melang
Sarah duduk di bangku besi putih di rumah kaca istana. Sebuah buku puisi lama terbuka di pangkuannya. Puisi tentang laut, angin, dan cinta. Ia membaca pelan, menikmati setiap kata. Cahaya siang menembus kaca, hangat tanpa menyengat. Udara berbau tanah, daun, dan air.Adrian datang dari arah istana membawa keranjang kecil. Isinya anggur, apel, dan pir. Ia duduk di samping Sarah tanpa bicara, hanya tersenyum. Sarah menoleh, lalu mengambil setangkai anggur. Manis dan segar. Mereka makan buah berdua di bangku itu, memandang tanaman-tanaman tinggi yang tumbuh di dalam rumah kaca.“Bacakan satu,” kata Adrian.Sarah membuka halaman. Suaranya pelan, lembut, seperti air mengalir. “Aku mencintaimu seperti laut mencintai pantai. Tak henti. Tak putus. Tak berujung.”Adrian mendengarkan dengan mata setengah tertutup. “Ayahku dulu punya buku seperti itu. Di perpustakaan. Aku sering membacanya sendirian karena tidak punya teman.”
Sarah terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lama yang sulit hilang. Di sampingnya, Adrian tidur tenang—tanpa kerutan di kening, tanpa beban di pundak. Sarah menyentuh pipinya perlahan, ujung jarinya menyusuri rahang. Adrian bergerak, membuka mata, lalu tersenyum.“Kau menatapku lagi.”Sarah tersipu dan menyembunyikan wajah di bantal. Adrian tertawa pelan. “Aku bisa merasakannya bahkan dalam tidur.”Sarah melempar bantal ke wajahnya. Adrian menangkap bantal itu, menarik Sarah ke pelukannya. Mereka tertawa seperti anak-anak—bukan raja dan ratu.“Aku mimpi tentang danau dan rumah kecil,” kata Adrian. “Kau duduk di teras, menyulam. Aku membaca peta. Tidak ada yang lain.”Sarah tersenyum. “Aku mimpi tentang dapur. Roti gosong. Kau mencoba memotong sayur. Kita tertawa. Hal-hal kecil.”“Hal-hal kecil?”“Yang dulu tidak pernah aku punya. Sekarang justru itu yang paling kurindukan.”Adrian mencium dahinya. “Kita punya banyak hal kecil. Setiap hari. Selamanya.”Matahari naik. Mereka turu
Mereka duduk di balkon. Malam cerah, bintang-bintang tersebar, angin sejuk. Sarah menyandarkan kepala di bahu Adrian, dan Adrian menggenggam tangannya. Tidak ada yang perlu dikatakan.“Dulu aku tidak pernah membayangkan ini,” kata Sarah. “Rumah, danau, kau, malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin bertahan. Aku tidak berani bermimpi karena mimpi hanya membuat kecewa.”Adrian menoleh. “Sekarang?”“Sekarang aku bermimpi. Tentang besok, tentang lusa, tentang tahun depan. Tentang kita.”Adrian tersenyum. “Aku juga. Setiap malam sebelum tidur, aku menatap langit-langit dan membayangkan kau di sampingku. Selamanya.”Sarah menatapnya, mata berkaca. “Kau tidak pernah bilang.”“Kau juga tidak.”Mereka tersenyum, lalu tertawa pelan, hangat, seperti dua orang yang baru berbagi rahasia. Adrian berdiri dan mengulurkan tangan. “Menari?”“Tid
Mereka tiba di istana saat matahari condong ke barat. Barra menyambut di gerbang, Mira menunggu di halaman. Keduanya hanya tersenyum dan menunduk, tidak bertanya. Sarah menggandeng tangan Adrian melewati koridor. Pelayan menunduk, penjaga memberi hormat. Tidak ada suara selain langkah, sentuhan jari, dan debar jantung.Sarah membuka pintu kamar, masuk, lalu menutup dan mengunci. Adrian berdiri di tengah ruangan. Lilin menyala redup, bayangan mereka memanjang di dinding. Adrian melangkah mendekat tanpa tergesa, berhenti tepat di depan Sarah. Aroma kayu, logam, dan keringat memenuhi jarak di antara mereka.Ia menyentuh wajah Sarah, ujung jari menyusuri rahang. Sarah menutup mata. Adrian mencium dahi, hidung, pipi, lalu bibirnya. Ciuman pertama lembut, lalu Sarah membalas lebih dalam. Adrian menggigit bibir bawahnya; Sarah mendesah. Lidah mereka bertemu, menari tanpa kata.Adrian mencium sudut bibir, dagu, leher, tulang selangka. Sarah mencengkeram jubahnya. Adrian







