بيت / Romansa / Selir Idaman Raja / BAB 10: DALAM GELAP

مشاركة

BAB 10: DALAM GELAP

مؤلف: Pena Hideung
last update تاريخ النشر: 2026-08-26 19:37:51

Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.

“Tangkap selir itu!”

Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.

“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kal

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Selir Idaman Raja   BAB 12: RUANG BAWAH TANAH

    Sarah berdiri di ambang pintu ruang bawah tanah itu. Cahaya dari lorong belakang hanya masuk sedikit, membentuk garis tipis di lantai batu yang lembap. Bau anyir logam semakin kuat. Bercak merah pada kain yang tergeletak dekat pintu masih basah. Itu darah. Bukan luka kecil.Sarah memaksakan dirinya untuk tidak mundur. Ia menoleh ke belakang, memastikan Mira masih di dekat dinding gudang. Perempuan itu terlihat ketakutan, tidak berani bersuara.“Tunggu di luar,” bisik Sarah.“Nona, jangan masuk sendirian,” Mira memohon.“Aku hanya melihat sebentar.”Sarah melangkah masuk perlahan. Ruang bawah tanah itu ternyata lebih luas dari yang ia kira. Di dinding-dindingnya tergantung rantai tua dan beberapa lentera yang sudah mati. Lantainya tanah dan batu, dengan genangan air di beberapa sudut.Semakin ke dalam, bau darah semakin menyengat. Sarah menutup hidung dengan lengan bajunya. Matanya menyapu ruangan.D

  • Selir Idaman Raja   BAB 11: JEJAK DI LORONG GELAP

    Sarah tidak bisa membiarkan kabar tentang Panglima Dasco berlalu begitu saja. Jika benar pria itu berada di istana, sementara seluruh kerajaan mengira ia sedang memimpin pasukan di perbatasan, maka ada kebohongan besar yang sedang dimainkan di depan mata raja. Kebohongan sebesar itu hanya mungkin terjadi jika ada banyak orang yang menutupinya.“Kapan kau melihatnya?” tanya Sarah pada Mira.“Tadi malam, Nona. Setelah kejadian di ruang samping. Aku sedang kembali dari dapur ketika melihat dua orang berdiri di ujung lorong. Salah satunya memakai jubah gelap. Aku sempat mendengar suaranya. Itu pasti Panglima Dasco.”“Kenapa kau begitu yakin?”“Karena aku pernah melihatnya waktu masih bekerja di kediaman Lord Arman. Suaranya berat, dan dia selalu bicara dengan nada memerintah.”Sarah berpikir keras. Panglima Dasco dulu adalah bawahan ayahnya. Setelah ayahnya dihukum, Dasco naik dengan cepat. Banyak yang me

  • Selir Idaman Raja   BAB 10: DALAM GELAP

    Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.“Tangkap selir itu!”Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kali ini hampir seperti ramalan.Sarah tidak menjawab. Ia meraba tepi meja, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya. Sebelum sempat berbuat banyak, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya obor dari luar masuk menyilaukan. Beberapa penjaga berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.“Ada apa ini?!” suara Raja Adrian tiba-tiba memotong.Sarah menoleh. Adrian muncul dari balik pintu samping—dari ruang pengawasan tempat ia mendengarkan percakapan tadi. Wajahnya

  • Selir Idaman Raja   BAB 9: BAYANG-BAYANG DI DAPUR ISTANA

    Sarah tidak bisa terus menunggu. Pesan terakhir yang diletakkan di meja riasnya membuat satu hal menjadi jelas: musuh sudah terlalu dekat.Mereka bisa masuk ke kamarnya kapan saja, mengambil barang miliknya, bahkan meninggalkan ancaman tanpa takut ketahuan. Jika ia tidak segera bergerak, jerat ini akan mengikat lehernya sendiri.Pagi itu, setelah memastikan tidak ada yang mengawasi, Sarah memanggil Dayang Mira dan menyampaikan rencana sederhana."Aku ingin melihat sendiri siapa pelayan linen yang datang kemarin. Bawa aku ke tempat biasa para pelayan gudang bekerja."Mira tampak ragu. "Nona, itu daerah pelayan. Seorang selir jarang sekali turun ke sana. Bisa menimbulkan kecurigaan.""Justru karena jarang, tidak akan ada yang menduga," jawab Sarah. "Kita tidak perlu lama. Aku hanya ingin melihat wajahnya."Mira mengangguk pelan.Mereka berangkat lewat jalur belakang yang biasa dipakai para pelayan. Koridornya lebih sempit, langit-langitnya rendah, dan udaranya lembap. Sarah tidak peduli.

  • Selir Idaman Raja   BAB 8: SAPU TANGAN BERDARAH

    Sarah tidak langsung menjawab. Ia menatap sapu tangan itu, lalu menatap wajah Raja Adrian. Di bawah cahaya obor, mata Raja tampak dingin, tidak sedang menuduh, tidak seperti hakim yang siap menjatuhkan hukuman.“Itu memang milikku,” kata Sarah akhirnya.Adrian tidak bereaksi.“Aku tidak pernah ke hutan barat,” lanjutnya. “Aku tidak tahu kurirmu bernama siapa, apalagi di mana dia dibunuh.”Adrian memandang sapu tangan itu sekali lagi, lalu mengepalkannya.“Aku tahu,” katanya.Sarah terkejut. “Kau tahu?”“Jika kau yang membunuhnya, kau tidak akan sebodoh itu meninggalkan barang pribadimu di dekat jasad,” jawab Adrian. “Lagi pula, kau tidak mungkin berada di dua tempat dalam satu malam. Tadi malam kau ada di kamarmu, dan aku bisa memastikan itu.”Sarah merasa dadanya sedikit lapang.“Masalahnya,” lanjut Adrian, “Bukti ini tidak akan dilihat oleh banyak orang dengan cara yang sama. Jika urusan ini sampai ke pengadilan istana, sapu tangan ini cukup untuk menjeratmu.”“Dari mana mereka menda

  • Selir Idaman Raja   BAB 7: PENGKHIANAT DI BALIK TABIR

    Ruang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.“Aku bisa membantu,” kata Sarah.Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”“Biarkan aku yang m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status