INICIAR SESIÓNSarah tidak menunjukkan surat ancaman itu kepada siapa pun, bahkan kepada Dayang Mira yang sejak pagi sudah menatapnya dengan curiga. Sarah hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan sarapannya seperti biasa.
Bubur hangat, teh melati, dan beberapa potong buah segar. Semuanya terasa hambar di lidahnya.
“Nona,” panggil Mira pelan setelah membereskan nampan. “Apakah ada yang terjadi?”
“Tidak ada,” jawab Sarah.
“Wajahmu pucat.”
Sarah berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah jendela. Dari balik tirai tipis, ia bisa melihat sebagian kecil langit pagi yang kelabu.
“Mira,” katanya tiba-tiba. “Apakah ada orang istana yang dekat denganmu? Seseorang yang bisa kau percaya sepenuhnya?”
Mira tampak berpikir sejenak. “Tidak banyak, Nona. Ada satu dua orang yang dulu pernah bekerja di rumah Lord Arman. Mereka tidak akan berkhianat.”
Sarah menatapnya. “Aku ingin kau mengirim pesan kepada salah satu dari mereka. Secara lisan, bukan tulisan.”
Mira mengangguk pelan.
“Tanyakan siapa di istana ini yang mengawasi kamarku dari sayap timur,” lanjut Sarah.
Mata Mira melebar. “Nona, apakah ada yang mengirim sesuatu?”
“Aku tidak bisa bicara banyak,” kata Sarah. “Aku ingin tahu siapa yang berdiri di belakang bayanganku.”
Mira menelan ludah. “Baik, Nona. Aku akan berhati-hati.”
Setelah Mira keluar, Sarah mengunci pintu dari dalam. Ia mengeluarkan peta yang semalam ia pinjam dari perpustakaan bawah dan membentangkannya di atas meja.
Peta itu tidak hanya menampilkan jalur barat Lembah Esha, juga beberapa tanda aneh yang belum sempat ia perhatikan. Di beberapa titik, ada goresan tinta tua berbentuk tanda panah kecil.
Tanda-tanda itu tidak dibuat oleh pemeta kerajaan, melainkan seperti coretan tangan seorang prajurit yang pernah memakai peta ini di lapangan.
Sarah memiringkan kepalanya. Tanda panah itu mengarah ke sebuah titik di luar jalur utama. Sebuah lokasi yang ditandai dengan satu kata yang hampir memudar: Sarang.
Jantung Sarah berdetak lebih cepat. Ayahnya sering menyebut istilah itu ketika masih hidup. Sarang bukan sekadar tempat berlindung. Itu adalah titik strategis untuk menyusun serangan balik, tempat yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.
Jika peta ini benar-benar peta ayahnya, maka di situlah dulu ayahnya merencanakan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah sampai terjadi karena ia ditangkap lebih dulu.
Sarah segera menyalin bagian peta itu ke selembar kain tipis menggunakan potongan arang. Ia tidak ingin menyimpan peta kerajaan terlalu lama karena hal itu terlalu berbahaya.
“Nona Sarah, ada pelayan dari Ratu Elena,” ucap seorang perempuan dari luar.
Sarah segera menyembunyikan peta dan kain salinannya ke bawah tumpukan selimut. Ia menenangkan diri, lalu membuka pintu.
Seorang pelayan muda berdiri di depan, wajahnya bersih dan sopan. Ia membawa nampan berisi hidangan kecil yang tertutup kain sutra putih.
“Ratu Elena mengirimkan kudapan manis untukmu, Selir Sarah,” katanya ramah.
Sarah menatap nampan itu. Ratu Elena tidak pernah mengirim apa pun sebelumnya. Dalam tiga bulan, tidak ada satu pun tanda perhatian dari Ratu. Sekarang, setelah dua kali dipanggil Raja, tiba-tiba ada hadiah kecil yang datang.
“Sampaikan terima kasihku kepada Ratu Elena,” jawab Sarah tenang.
Pelayan itu tersenyum. “Ratu juga berpesan, beliau ingin minum teh bersamamu sore ini di Taman Anggrek.”
“Aku akan datang,” katanya.
Pelayan itu menunduk, lalu pergi. Sarah menutup pintu perlahan. Ia menatap hidangan di atas meja. Kue-kue kecil berwarna cerah tersusun rapi, menggiurkan.
Taman Anggrek berada di sisi barat istana, dekat dengan kediaman pribadi Ratu. Begitu Sarah tiba, ia melihat Ratu Elena sudah duduk di kursi batu beratap kain ungu.
Di hadapannya ada meja kecil berisi teko porselen dan beberapa cangkir cantik.
“Selir Sarah,” sapa Ratu Elena dengan senyum lebar. “Akhirnya kita bertemu juga.”
Sarah menunduk hormat. “Aku merasa terhormat, Yang Mulia Ratu.”
Elena tertawa kecil. “Jangan terlalu formal. Duduklah.”
Sarah duduk di kursi yang disediakan. Dari dekat, Ratu Elena memang cantik. Matanya tajam, dibungkus kelembutan yang terlatih. Senyumnya manis, Sarah tahu di balik senyum seperti ini biasanya ada perangkap.
“Aku mendengar kau sedang banyak dibicarakan,” kata Elena sambil menuangkan teh.
“Aku tidak merasa melakukan apa pun yang istimewa, Yang Mulia Ratu.”
Elena menyodorkan cangkir teh. “Justru tidak melakukan apa pun, Raja memanggilmu dua kali. Itu yang membuat banyak orang penasaran.”
Sarah menerima cangkir itu. “Mungkin Raja hanya ingin berbincang ringan.”
Elena tersenyum. “Tentu. Raja Adrian memang suka berbincang ringan. Tidak dengan selir yang tiga bulan tidak pernah ia panggil.”
Sarah menatap Ratu dalam diam.
“Sarah,” kata Elena tiba-tiba, suaranya lebih pelan. “Aku bukan musuhmu.”
Sarah tidak langsung menjawab.
“Aku hanya ingin memastikan kau tidak tersesat,” lanjut Elena. “Istana ini luas. Banyak orang baik yang terlihat jahat, dan banyak orang jahat yang terlihat baik.”
“Aku akan mengingat nasihat itu,” jawab Sarah sopan.
Elena memandang Sarah lekat-lekat. “Kudengar kau keturunan Lord Arman.”
“Benar, Yang Mulia Ratu.”
“Namanya dulu harum,” kata Elena, nadanya seperti orang bernostalgia. “Pengkhianatan mengubah segalanya. Aku harap kau tidak mewarisi kesalahan ayahmu.”
Kalimat itu menusuk tajam, Sarah tetap tersenyum tipis.
“Aku hanya ingin hidup tenang di istana ini, Yang Mulia Ratu.”
Elena tersenyum lebar. “Bagus. Kalau begitu, aku akan membantumu.”
Mereka minum teh sore itu dengan obrolan ringan yang terasa seperti panggung sandiwara. Tidak ada yang jujur, semuanya dibungkus kata-kata indah. Saat Sarah hendak pamit, Elena berbicara lagi.
“Oh iya, Sarah. Hati-hati saat berjalan di koridor malam hari,” katanya. “Akhir-akhir ini ada kabar pelayan melihat bayangan masuk ke sayap selir.”
Sarah menoleh. “Bayangan?”
Elena tersenyum penuh arti. “Kadang orang yang merasa punya rahasia selalu diawasi. Istana ini punya banyak mata.”
Sarah menunduk hormat, lalu pergi.
Saat berjalan kembali ke kamar, jantungnya tidak tenang.
Ratu Elena bukan perempuan bodoh. Ia tahu sesuatu. Bahkan mungkin lebih dari yang Sarah duga.
Malam itu, seperti biasa, Sarah duduk di tepi tempat tidur sambil menyalin sisa peta. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki di luar jendela. Cepat. Sangat cepat.
Lalu sebuah benda jatuh ke lantai kamarnya dari arah jendela. Bukan kertas. Sebuah belati kecil tertancap di kayu dekat meja rias.
Sarah berdiri mendadak. Di ujung belati itu terselip secarik kain hitam. Ia mendekat dengan hati-hati, lalu membacanya.
Satu kalimat, ditulis dengan tinta merah seperti darah.
“Terakhir kali kuperingatkan.”
Sarah menatap jendela yang gelap. Seseorang benar-benar sedang mengawasinya. Mereka tidak lagi mengirim pesan, mengirim ancaman nyata.
Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.“Tangkap selir itu!”Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kali ini hampir seperti ramalan.Sarah tidak menjawab. Ia meraba tepi meja, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya. Sebelum sempat berbuat banyak, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya obor dari luar masuk menyilaukan. Beberapa penjaga berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.“Ada apa ini?!” suara Raja Adrian tiba-tiba memotong.Sarah menoleh. Adrian muncul dari balik pintu samping—dari ruang pengawasan tempat ia mendengarkan percakapan tadi. Wajahnya
Sarah tidak bisa terus menunggu. Pesan terakhir yang diletakkan di meja riasnya membuat satu hal menjadi jelas: musuh sudah terlalu dekat.Mereka bisa masuk ke kamarnya kapan saja, mengambil barang miliknya, bahkan meninggalkan ancaman tanpa takut ketahuan. Jika ia tidak segera bergerak, jerat ini akan mengikat lehernya sendiri.Pagi itu, setelah memastikan tidak ada yang mengawasi, Sarah memanggil Dayang Mira dan menyampaikan rencana sederhana."Aku ingin melihat sendiri siapa pelayan linen yang datang kemarin. Bawa aku ke tempat biasa para pelayan gudang bekerja."Mira tampak ragu. "Nona, itu daerah pelayan. Seorang selir jarang sekali turun ke sana. Bisa menimbulkan kecurigaan.""Justru karena jarang, tidak akan ada yang menduga," jawab Sarah. "Kita tidak perlu lama. Aku hanya ingin melihat wajahnya."Mira mengangguk pelan.Mereka berangkat lewat jalur belakang yang biasa dipakai para pelayan. Koridornya lebih sempit, langit-langitnya rendah, dan udaranya lembap. Sarah tidak peduli.
Sarah tidak langsung menjawab. Ia menatap sapu tangan itu, lalu menatap wajah Raja Adrian. Di bawah cahaya obor, mata Raja tampak dingin, tidak sedang menuduh, tidak seperti hakim yang siap menjatuhkan hukuman.“Itu memang milikku,” kata Sarah akhirnya.Adrian tidak bereaksi.“Aku tidak pernah ke hutan barat,” lanjutnya. “Aku tidak tahu kurirmu bernama siapa, apalagi di mana dia dibunuh.”Adrian memandang sapu tangan itu sekali lagi, lalu mengepalkannya.“Aku tahu,” katanya.Sarah terkejut. “Kau tahu?”“Jika kau yang membunuhnya, kau tidak akan sebodoh itu meninggalkan barang pribadimu di dekat jasad,” jawab Adrian. “Lagi pula, kau tidak mungkin berada di dua tempat dalam satu malam. Tadi malam kau ada di kamarmu, dan aku bisa memastikan itu.”Sarah merasa dadanya sedikit lapang.“Masalahnya,” lanjut Adrian, “Bukti ini tidak akan dilihat oleh banyak orang dengan cara yang sama. Jika urusan ini sampai ke pengadilan istana, sapu tangan ini cukup untuk menjeratmu.”“Dari mana mereka menda
Ruang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.“Aku bisa membantu,” kata Sarah.Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”“Biarkan aku yang m
Sarah tidak tidur semalaman. Belati kecil itu masih tergeletak di atas meja, terbungkus kain hitam. Pesan terakhir itu terus terngiang di kepalanya.“Terakhir kali kuperingatkan.”Itu bukan sekadar gertakan. Orang itu masuk ke area selir, mendekati jendela kamar, dan melemparkan belati dengan akurasi tinggi. Jika ia mau, Sarah bisa saja sudah terbunuh malam ini.Mereka ingin menakut-nakutinya dulu, menekan mentalnya sebelum menjatuhkan pukulan besar.Sarah bangkit dari tempat tidur saat fajar mulai muncul. Ia melihat bekas tancapan belati di kayu dekat meja rias. Sempit dan dalam. Itu berarti pelemparnya punya tenaga terlatih.Prajurit? Ataukah pembunuh bayaran yang disewa diam-diam?Ia menyembunyikan belati itu di balik papan longgar di bawah tempat tidur. Bukti ini penting. Belum saatnya menunjukkan kepada siapa pun.Ketika Dayang Mira masuk membawa sarapan, wajahnya langsung berubah.“Nona, wajahmu sangat pucat. Kau tidak tidur lagi?”Sarah menggeleng pelan. “Kau sudah bertanya kepa
Sarah tidak menunjukkan surat ancaman itu kepada siapa pun, bahkan kepada Dayang Mira yang sejak pagi sudah menatapnya dengan curiga. Sarah hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan sarapannya seperti biasa.Bubur hangat, teh melati, dan beberapa potong buah segar. Semuanya terasa hambar di lidahnya.“Nona,” panggil Mira pelan setelah membereskan nampan. “Apakah ada yang terjadi?”“Tidak ada,” jawab Sarah.“Wajahmu pucat.”Sarah berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah jendela. Dari balik tirai tipis, ia bisa melihat sebagian kecil langit pagi yang kelabu.“Mira,” katanya tiba-tiba. “Apakah ada orang istana yang dekat denganmu? Seseorang yang bisa kau percaya sepenuhnya?”Mira tampak berpikir sejenak. “Tidak banyak, Nona. Ada satu dua orang yang dulu pernah bekerja di rumah Lord Arman. Mereka tidak akan berkhianat.”Sarah menatapnya. “Aku ingin kau mengirim pesan kepada salah satu dari mereka. Secara lisan, bukan tulisan.”Mira mengangguk pelan.“Tanyakan siapa di istana ini yang mengawasi







