LOGINSarah tidak tidur semalaman. Belati kecil itu masih tergeletak di atas meja, terbungkus kain hitam. Pesan terakhir itu terus terngiang di kepalanya.
“Terakhir kali kuperingatkan.”
Itu bukan sekadar gertakan. Orang itu masuk ke area selir, mendekati jendela kamar, dan melemparkan belati dengan akurasi tinggi. Jika ia mau, Sarah bisa saja sudah terbunuh malam ini.
Mereka ingin menakut-nakutinya dulu, menekan mentalnya sebelum menjatuhkan pukulan besar.
Sarah bangkit dari tempat tidur saat fajar mulai muncul. Ia melihat bekas tancapan belati di kayu dekat meja rias. Sempit dan dalam. Itu berarti pelemparnya punya tenaga terlatih.
Prajurit? Ataukah pembunuh bayaran yang disewa diam-diam?
Ia menyembunyikan belati itu di balik papan longgar di bawah tempat tidur. Bukti ini penting. Belum saatnya menunjukkan kepada siapa pun.
Ketika Dayang Mira masuk membawa sarapan, wajahnya langsung berubah.
“Nona, wajahmu sangat pucat. Kau tidak tidur lagi?”
Sarah menggeleng pelan. “Kau sudah bertanya kepada orang yang dulu bekerja di rumah ayahku?”
Mira menutup pintu, lalu mendekat. “Sudah, Nona. Hasilnya tidak banyak.”
“Apa yang kau ketahui?”
“Dari arah sayap timur, yang paling sering lewat malam hari adalah para penjaga yang bertugas bergilir. Ada satu orang yang sering keluar masuk tanpa dicatat.”
Sarah menajamkan telinga. “Siapa?”
“Namanya belum diketahui. Kata orang itu, ia mengenakan jubah abu-abu dan selalu lewat dekat lorong selir sekitar tengah malam.”
Jubah abu-abu. Sarah mencatatnya di kepala.
“Apakah dia terlihat seperti prajurit?”
Mira mengangguk ragu. “Gerakannya cepat, seperti orang terlatih. Tidak ada lencana kerajaan di bajunya.”
“Berarti dia bukan penjaga resmi,” gumam Sarah.
“Atau dia penjaga yang sengaja menyamar,” timpal Mira.
Sarah bersandar pada dinding. Satu lagi teka-teki. Satu lagi nama tanpa wajah.
Sarah tidak bisa terus bersembunyi di kamar. Raja Adrian mungkin sedang menunggu kabar. Perang di Lembah Esha tidak berhenti hanya karena ia diancam.
Benar saja, belum lama setelah Mira pergi, seorang perwira datang memanggilnya lagi. Perwira itu membawa pesan singkat.
“Raja menunggumu di Menara Utara,” kata perwira itu.
Sarah mengernyit. “Menara Utara? Bukankah itu tempat penyimpanan arsip militer?”
Perwira itu tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan memberi isyarat untuk mengikuti.
Mereka berjalan lewat jalur yang jarang digunakan. Tangga batu sempit, koridor belakang, lalu keluar melewati taman tertutup. Sarah sadar rute ini dipilih untuk menghindari mata-mata.
Menara Utara memang jarang dikunjungi. Bangunannya tua dan kusam, diapit gudang-gudang tua tempat menyimpan arsip perang masa lalu.
Begitu tiba di puncak menara, Sarah melihat Raja Adrian berdiri di dekat jendela sempit. Ia memandang ke kejauhan, ke arah timur, ke arah Lembah Esha.
Perwira itu pergi tanpa bicara.
Sarah masuk pelan. “Yang Mulia.”
Adrian menoleh sebentar. Wajahnya tampak lebih tegang daripada kemarin. Ada kantung tipis di bawah matanya.
“Aku sudah mengirim perintah lewat kurir cepat,” katanya. “Pasukan mulai mundur malam ini lewat jalur barat.”
Sarah mengangguk pelan. “Apakah Panglima Dasco setuju?”
“Tidak. Aku tidak memberinya pilihan.”
Sarah terdiam. Itu berarti Raja mengambil keputusan besar yang mungkin akan ditentang banyak penasihat.
“Tidak semua orang di dewan istana akan senang,” kata Sarah.
“Aku tahu.” Adrian berbalik. “Karena itu, aku tidak mengumumkannya secara terbuka. Hanya komandan lapangan yang tahu.”
Sarah menatap Raja. “Kalau begitu, untuk saat ini belum ada yang tahu selain pasukan?”
“Kau,” kata Adrian.
Mereka saling memandang.
“Kenapa kau memberitahuku, Yang Mulia?” tanya Sarah.
Adrian mendekat. “Karena kau yang memberi ide. Karena aku ingin kau tahu bahwa jika strategimu benar, aku tidak akan bisa melindungimu dari orang-orang yang tersaingi.”
Sarah merasakan kalimat itu seperti peringatan kedua. Bukan ancaman, Kejujuran yang berat.
“Aku mengerti,” jawabnya.
Adrian memandang Sarah lekat-lekat.
“Sarah,” katanya pelan. “Apakah kau takut tinggal di istana ini?”
Pertanyaan itu sederhana, terasa sangat pribadi.
Sarah berpikir sejenak. “Takut, Yang Mulia. Rasa takut membuatku tetap waspada.”
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang pertama kali terlihat tulus sejak mereka bertemu.
“Kau berbeda,” katanya.
Sarah tidak tahu itu pujian atau penilaian. Suasana di menara itu tiba-tiba berubah ketika terdengar langkah kaki menaiki tangga batu. Langkah itu cepat dan tanpa pemberitahuan.
Adrian menegang. Sarah menoleh. Seorang pelayan istana muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah.
“Yang Mulia, maaf mengganggu,” katanya sambil membungkuk dalam-dalam. “Ada kabar dari perbatasan. Kurir menyampaikan sesuatu secara rahasia.”
Adrian mendekat. “Bicaralah.”
Pelayan itu menatap Sarah sebentar, ragu.
“Tidak apa-apa,” kata Adrian. “Bicaralah.”
Pelayan itu menelan ludah.
“Pasukan yang dikirim untuk mundur lewat jalur barat… dihadang.”
Sarah merasakan dadanya seperti dihantam batu.
“Dihadang?” kata Adrian dengan suara rendah.
“Sebagian besar selamat, komandan lapangannya tewas. Yang Mulia, satu regu pembawa peta strategi jatuh ke tangan musuh.”
Adrian tidak langsung bicara. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh.
Sarah tahu apa artinya ini. Strategi jalur barat sudah bocor. Hanya ada satu kemungkinan. Ada pengkhianat di dalam istana.
Pengkhianatan itu terjadi di ruang lingkup paling dalam dari keputusan Raja. Sarah menatap Adrian, dan untuk pertama kalinya ia melihat raja muda itu kehilangan ketenangannya.
“Siapa lagi yang tahu tentang rencana ini?” tanya Sarah pelan.
Adrian menatap Sarah. Matanya gelap.
“Hanya kau, aku, dan komandan lapangan yang sudah mati.”
Hening. Mereka berdua tahu apa yang tidak terucap.
Jika daftar orangnya hanya itu, maka kecurigaan akan jatuh pada Sarah, atau pada seseorang yang berhasil mendengar percakapan mereka di menara ini. Badai besar sedang mendekat. Sarah berada tepat di tengahnya.
Malam itu Sarah naik ke atap menara barat. Tempat itu jarang dikunjungi siapa pun. Hanya batu, angin, dan langit yang terbuka lebar. Ia membawa selimut tebal dan sebuah lentera kecil yang ia letakkan di sudut, dekat tembok.Adrian belum kembali dari ruang kerja, jadi ia menunggu sendirian, menatap bintang-bintang yang terang tanpa awan. Dari ketinggian ini, kota terlihat kecil. Lampu-lampu rumah berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, dan sungai memantulkan cahaya bulan seperti pita perak.Pintu besi berderit. Adrian muncul dengan dua cangkir teh mengepul. Ia tidak bertanya kenapa Sarah memilih tempat ini. Ia hanya duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir, lalu ikut menatap ke atas. Uap teh mengambang sebentar sebelum hilang dibawa angin.“Aku tidak pernah memperhatikan bintang,” katanya akhirnya.“Kau selalu sibuk.”“Peta, laporan, perang. Tidak pernah ada waktu untuk melihat ke atas.”Sarah meletakkan cangkirnya. Ia berdiri dan berjalan ke tepi atap, tempat langit terasa l
Sarah duduk di balkon kamarnya sore itu. Angin membawa bau melati dari taman bawah. Di pangkuannya, sebuah buku panduan merangkai bunga, halaman-halamannya sudah menguning. Ia membuka lemari kecil di sudut balkon, tempat ia menyimpan gunting, tali, dan keranjang anyaman. Ia ingin membuat karangan bunga untuk Adrian. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Sesuatu yang sederhana.Ia memilih bunga dari taman: mawar merah, aster putih, dan beberapa tangkai daun eucalyptus. Ia meletakkannya di meja besi. Satu per satu. Rapi. Lalu ia mulai memotong tangkai. Tidak beraturan. Terlalu panjang. Terlalu pendek. Durinya menusuk jarinya. Ia mengerutkan kening, terus mencoba.Adrian muncul di ambang pintu balkon. Ia baru kembali dari ruang rapat. Ia melihat Sarah dengan gunting di tangan, bunga berserakan di lantai, dan seutas tali melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum.“Kau membuat apa?”“Karangan bunga. Untukmu.”Adrian melang
Sarah duduk di bangku besi putih di rumah kaca istana. Sebuah buku puisi lama terbuka di pangkuannya. Puisi tentang laut, angin, dan cinta. Ia membaca pelan, menikmati setiap kata. Cahaya siang menembus kaca, hangat tanpa menyengat. Udara berbau tanah, daun, dan air.Adrian datang dari arah istana membawa keranjang kecil. Isinya anggur, apel, dan pir. Ia duduk di samping Sarah tanpa bicara, hanya tersenyum. Sarah menoleh, lalu mengambil setangkai anggur. Manis dan segar. Mereka makan buah berdua di bangku itu, memandang tanaman-tanaman tinggi yang tumbuh di dalam rumah kaca.“Bacakan satu,” kata Adrian.Sarah membuka halaman. Suaranya pelan, lembut, seperti air mengalir. “Aku mencintaimu seperti laut mencintai pantai. Tak henti. Tak putus. Tak berujung.”Adrian mendengarkan dengan mata setengah tertutup. “Ayahku dulu punya buku seperti itu. Di perpustakaan. Aku sering membacanya sendirian karena tidak punya teman.”
Sarah terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lama yang sulit hilang. Di sampingnya, Adrian tidur tenang—tanpa kerutan di kening, tanpa beban di pundak. Sarah menyentuh pipinya perlahan, ujung jarinya menyusuri rahang. Adrian bergerak, membuka mata, lalu tersenyum.“Kau menatapku lagi.”Sarah tersipu dan menyembunyikan wajah di bantal. Adrian tertawa pelan. “Aku bisa merasakannya bahkan dalam tidur.”Sarah melempar bantal ke wajahnya. Adrian menangkap bantal itu, menarik Sarah ke pelukannya. Mereka tertawa seperti anak-anak—bukan raja dan ratu.“Aku mimpi tentang danau dan rumah kecil,” kata Adrian. “Kau duduk di teras, menyulam. Aku membaca peta. Tidak ada yang lain.”Sarah tersenyum. “Aku mimpi tentang dapur. Roti gosong. Kau mencoba memotong sayur. Kita tertawa. Hal-hal kecil.”“Hal-hal kecil?”“Yang dulu tidak pernah aku punya. Sekarang justru itu yang paling kurindukan.”Adrian mencium dahinya. “Kita punya banyak hal kecil. Setiap hari. Selamanya.”Matahari naik. Mereka turu
Mereka duduk di balkon. Malam cerah, bintang-bintang tersebar, angin sejuk. Sarah menyandarkan kepala di bahu Adrian, dan Adrian menggenggam tangannya. Tidak ada yang perlu dikatakan.“Dulu aku tidak pernah membayangkan ini,” kata Sarah. “Rumah, danau, kau, malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin bertahan. Aku tidak berani bermimpi karena mimpi hanya membuat kecewa.”Adrian menoleh. “Sekarang?”“Sekarang aku bermimpi. Tentang besok, tentang lusa, tentang tahun depan. Tentang kita.”Adrian tersenyum. “Aku juga. Setiap malam sebelum tidur, aku menatap langit-langit dan membayangkan kau di sampingku. Selamanya.”Sarah menatapnya, mata berkaca. “Kau tidak pernah bilang.”“Kau juga tidak.”Mereka tersenyum, lalu tertawa pelan, hangat, seperti dua orang yang baru berbagi rahasia. Adrian berdiri dan mengulurkan tangan. “Menari?”“Tid
Mereka tiba di istana saat matahari condong ke barat. Barra menyambut di gerbang, Mira menunggu di halaman. Keduanya hanya tersenyum dan menunduk, tidak bertanya. Sarah menggandeng tangan Adrian melewati koridor. Pelayan menunduk, penjaga memberi hormat. Tidak ada suara selain langkah, sentuhan jari, dan debar jantung.Sarah membuka pintu kamar, masuk, lalu menutup dan mengunci. Adrian berdiri di tengah ruangan. Lilin menyala redup, bayangan mereka memanjang di dinding. Adrian melangkah mendekat tanpa tergesa, berhenti tepat di depan Sarah. Aroma kayu, logam, dan keringat memenuhi jarak di antara mereka.Ia menyentuh wajah Sarah, ujung jari menyusuri rahang. Sarah menutup mata. Adrian mencium dahi, hidung, pipi, lalu bibirnya. Ciuman pertama lembut, lalu Sarah membalas lebih dalam. Adrian menggigit bibir bawahnya; Sarah mendesah. Lidah mereka bertemu, menari tanpa kata.Adrian mencium sudut bibir, dagu, leher, tulang selangka. Sarah mencengkeram jubahnya. Adrian







