Inicio / Romansa / Selir Idaman Raja / BAB 7: PENGKHIANAT DI BALIK TABIR

Compartir

BAB 7: PENGKHIANAT DI BALIK TABIR

Autor: Pena Hideung
last update Fecha de publicación: 2026-08-15 12:49:29

Ruang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.

Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.

“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.

Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.

“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.

“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.

Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”

Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.

“Aku bisa membantu,” kata Sarah.

Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”

“Biarkan aku yang menyelidiki dari dalam,” jawab Sarah pelan. “Aku hanyalah selir yang dianggap tidak berbahaya. Tidak banyak yang akan curiga jika aku bergerak.”

Adrian menatap Sarah lama. Ada keraguan di matanya.

“Ini berbahaya, Sarah. Satu langkah salah, kau bisa dianggap sebagai pengkhianat.”

“Aku tahu.”

“Kau tetap mau melakukannya?”

“Aku tidak bisa diam saja, Yang Mulia. Jika strategi ini bocor, bukan hanya pasukan yang kalah. Nama keluargaku akan kembali diseret. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”

Adrian mendekat selangkah.

“Jika kau berhasil,” katanya pelan, “aku akan berutang banyak kepadamu.”

“Aku tidak butuh utang,” jawab Sarah cepat. “Aku hanya ingin keadilan. Untuk ayahku dan untuk kerajaan ini.”

Mereka saling menatap beberapa detik. Di luar, langit mulai berubah kelabu. Angin bertiup lebih kencang.

“Mulai dari mana?” tanya Adrian.

“Dari orang-orang yang tahu peta jalur barat itu ada,” kata Sarah. “Dari siapa yang bisa membacakan peta itu kepada musuh sebelum pasukan bergerak.”

Adrian mengangguk. “Aku akan memberimu akses terbatas ke beberapa catatan penjaga.  Jangan sampai ketahuan.”

“Aku akan berhati-hati.”

Adrian menoleh ke arah pintu menara, lalu kembali menatap Sarah.

“Besok malam, aku ingin kau datang ke paviliun belakang istana. Ada hal yang harus kuberitahukan kepadamu.”

Sarah merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.

“Baik, Yang Mulia.”

Adrian memberi isyarat. Sarah menunduk hormat, lalu berjalan keluar. Saat menuruni tangga batu yang sempit, pikirannya tidak berhenti bekerja.

Ia baru saja menawarkan diri masuk ke dalam penyelidikan paling berbahaya di kerajaan. Sebagai seorang selir, perempuan yang dianggap tak berarti, satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara hanyalah Dayang Mira.

Malam harinya, Sarah duduk di dekat jendela, merapikan peta salinan yang ia gambar di atas kain tipis. Sudah ada bagian yang selesai, masih banyak tanda-tanda dari peta lama yang belum ia pahami. Tanda Sarang itu masih terus mengganggu pikirannya.

Jika tempat itu memang titik strategis, seharusnya hal itu bisa menjadi kunci untuk menyelamatkan pasukan. Sarah belum berani membicarakannya kepada Raja Adrian. Belum. Terlalu banyak yang belum jelas. Tiba-tiba terdengar ketukan dua kali di pintu.

“Nona Sarah, ini aku,” kata Dayang Mira.

Sarah menyembunyikan kain peta, lalu membuka pintu.

Mira masuk dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.

“Aku mendengar kabar buruk, Nona.”

“Apa lagi?”

“Beberapa pelayan istana mulai bertanya-tanya mengapa kau sering dipanggil Raja. Katanya, ada yang menyebut namamu di dapur kerajaan.”

Sarah duduk di tepi tempat tidur. “Itu sudah kuduga. Semakin sering aku bertemu Raja, semakin besar perhatian orang.”

“Bukan hanya perhatian, Nona. Ada yang bilang kau memakai ilmu gelap untuk memengaruhi Raja.”

Sarah tersenyum getir. Gosip memang senjata paling murah, paling mematikan.

“Siapa yang pertama menyebarkan?” tanyanya.

“Entah. Kabar itu sudah sampai ke telinga beberapa dayang senior. Bahkan ada yang mulai menjauh jika melihatku.”

Sarah memejamkan mata sejenak.

“Berarti lawanku mulai bekerja secara sistematis,” katanya pelan. “Mereka tidak menyerang aku langsung, meracuni nama baikku sedikit demi sedikit.”

Mira mendekat, wajahnya tampak cemas. “Nona, aku takut.”

Sarah menatapnya lembut. “Jangan takut, Mira. Kita belum kalah. Justru ini artinya mereka mulai cemas dengan kehadiranku. Jika aku tidak berbahaya, mereka tidak akan repot-repot menyerang.”

Mira mengangguk, tetap gelisah.

“Sekarang,” lanjut Sarah, “aku ingin kau mencari satu nama. Seseorang di dapur kerajaan yang sering bicara seenaknya tentangku.”

“Untuk apa, Nona?”

“Kita perlu tahu dari mana gosip itu berasal. Sebab dari situ kita bisa menarik benangnya sampai ke orang yang menyuruh.”

Mira mengangguk mantap. “Aku akan melakukannya.”

Sarah berdiri dan berjalan ke dekat jendela. Angin malam menyentuh wajahnya. Di kejauhan, lampu-lampu menara istana tampak menyala terang. Hal itu begitu kontras dengan hatinya yang sedang gelap. Ia tahu, pertarungan sesungguhnya bukan di medan perang, di balik tirai-tirai halus istana.

Keesokan malam, sesuai permintaan Raja, Sarah pergi ke paviliun belakang istana.

Tempat itu jauh dari keramaian. Hanya ada taman kecil, kolam dangkal, dan beberapa obor yang nyalanya bergoyang tertiup angin.

Raja Adrian sudah berdiri di sana sendirian, tanpa perwira, dan tanpa penjaga di dekatnya. Sarah masuk perlahan.

“Kau datang,” kata Adrian.

“Aku datang, Yang Mulia,” jawab Sarah.

Adrian berbalik menghadapnya. Wajahnya diterpa cahaya obor, membuat separuh sisi tampak terang dan separuh lainnya tenggelam dalam bayangan.

“Aku menemukan sesuatu,” katanya.

Sarah menegang.

“Kurir yang membawa perintah rahasia itu,” lanjut Adrian, “ditemukan tewas tadi malam.”

Sarah merasakan darahnya seperti berhenti mengalir.

“Di mana?” tanyanya.

“Di hutan kecil sebelah barat istana. Lehernya digorok.”

Sarah menelan ludah.

“Yang lebih buruk…” Adrian menatap Sarah lurus-lurus. “Dari tubuhnya, ada bukti yang mengarah kepadamu.”

Sarah merasakan dunia di sekelilingnya berputar.

“Bukti apa?”

Adrian mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sehelai sapu tangan sutra putih dengan sulaman huruf di sudutnya: S.

“Ini ditemukan di dekat jasadnya,” kata Adrian pelan.

Sarah menatap sapu tangan itu. Itu memang miliknya. Sekarang, benda itu di tangan Raja. Malam itu, perangkap untuk Sarah benar-benar telah dimulai.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Selir Idaman Raja   BAB 10: DALAM GELAP

    Gelap. Ruangan itu mendadak seperti terkunci dari dunia luar. Suara langkah kaki semakin mendekat, bercampur dengan teriakan yang masih menggema di telinga Sarah.“Tangkap selir itu!”Sarah tidak panik. Ia justru menahan napas, memaksa dirinya untuk berpikir jernih. Di depannya, Sari merintih pelan. Suara kursi terdorong. Kemungkinan besar pelayan itu berusaha merangkak mundur ke dinding.“Kau tidak akan selamat…” bisik Sari sekali lagi, kali ini hampir seperti ramalan.Sarah tidak menjawab. Ia meraba tepi meja, mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya. Sebelum sempat berbuat banyak, pintu ruangan terbuka lebar. Cahaya obor dari luar masuk menyilaukan. Beberapa penjaga berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.“Ada apa ini?!” suara Raja Adrian tiba-tiba memotong.Sarah menoleh. Adrian muncul dari balik pintu samping—dari ruang pengawasan tempat ia mendengarkan percakapan tadi. Wajahnya

  • Selir Idaman Raja   BAB 9: BAYANG-BAYANG DI DAPUR ISTANA

    Sarah tidak bisa terus menunggu. Pesan terakhir yang diletakkan di meja riasnya membuat satu hal menjadi jelas: musuh sudah terlalu dekat.Mereka bisa masuk ke kamarnya kapan saja, mengambil barang miliknya, bahkan meninggalkan ancaman tanpa takut ketahuan. Jika ia tidak segera bergerak, jerat ini akan mengikat lehernya sendiri.Pagi itu, setelah memastikan tidak ada yang mengawasi, Sarah memanggil Dayang Mira dan menyampaikan rencana sederhana."Aku ingin melihat sendiri siapa pelayan linen yang datang kemarin. Bawa aku ke tempat biasa para pelayan gudang bekerja."Mira tampak ragu. "Nona, itu daerah pelayan. Seorang selir jarang sekali turun ke sana. Bisa menimbulkan kecurigaan.""Justru karena jarang, tidak akan ada yang menduga," jawab Sarah. "Kita tidak perlu lama. Aku hanya ingin melihat wajahnya."Mira mengangguk pelan.Mereka berangkat lewat jalur belakang yang biasa dipakai para pelayan. Koridornya lebih sempit, langit-langitnya rendah, dan udaranya lembap. Sarah tidak peduli.

  • Selir Idaman Raja   BAB 8: SAPU TANGAN BERDARAH

    Sarah tidak langsung menjawab. Ia menatap sapu tangan itu, lalu menatap wajah Raja Adrian. Di bawah cahaya obor, mata Raja tampak dingin, tidak sedang menuduh, tidak seperti hakim yang siap menjatuhkan hukuman.“Itu memang milikku,” kata Sarah akhirnya.Adrian tidak bereaksi.“Aku tidak pernah ke hutan barat,” lanjutnya. “Aku tidak tahu kurirmu bernama siapa, apalagi di mana dia dibunuh.”Adrian memandang sapu tangan itu sekali lagi, lalu mengepalkannya.“Aku tahu,” katanya.Sarah terkejut. “Kau tahu?”“Jika kau yang membunuhnya, kau tidak akan sebodoh itu meninggalkan barang pribadimu di dekat jasad,” jawab Adrian. “Lagi pula, kau tidak mungkin berada di dua tempat dalam satu malam. Tadi malam kau ada di kamarmu, dan aku bisa memastikan itu.”Sarah merasa dadanya sedikit lapang.“Masalahnya,” lanjut Adrian, “Bukti ini tidak akan dilihat oleh banyak orang dengan cara yang sama. Jika urusan ini sampai ke pengadilan istana, sapu tangan ini cukup untuk menjeratmu.”“Dari mana mereka menda

  • Selir Idaman Raja   BAB 7: PENGKHIANAT DI BALIK TABIR

    Ruang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.“Aku bisa membantu,” kata Sarah.Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”“Biarkan aku yang m

  • Selir Idaman Raja   BAB 6: JEJAK DI BALIK JENDELA

    Sarah tidak tidur semalaman. Belati kecil itu masih tergeletak di atas meja, terbungkus kain hitam. Pesan terakhir itu terus terngiang di kepalanya.“Terakhir kali kuperingatkan.”Itu bukan sekadar gertakan. Orang itu masuk ke area selir, mendekati jendela kamar, dan melemparkan belati dengan akurasi tinggi. Jika ia mau, Sarah bisa saja sudah terbunuh malam ini.Mereka ingin menakut-nakutinya dulu, menekan mentalnya sebelum menjatuhkan pukulan besar.Sarah bangkit dari tempat tidur saat fajar mulai muncul. Ia melihat bekas tancapan belati di kayu dekat meja rias. Sempit dan dalam. Itu berarti pelemparnya punya tenaga terlatih.Prajurit? Ataukah pembunuh bayaran yang disewa diam-diam?Ia menyembunyikan belati itu di balik papan longgar di bawah tempat tidur. Bukti ini penting. Belum saatnya menunjukkan kepada siapa pun.Ketika Dayang Mira masuk membawa sarapan, wajahnya langsung berubah.“Nona, wajahmu sangat pucat. Kau tidak tidur lagi?”Sarah menggeleng pelan. “Kau sudah bertanya kepa

  • Selir Idaman Raja   BAB 5: PENGINTAI DI KEGELAPAN

    Sarah tidak menunjukkan surat ancaman itu kepada siapa pun, bahkan kepada Dayang Mira yang sejak pagi sudah menatapnya dengan curiga. Sarah hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan sarapannya seperti biasa.Bubur hangat, teh melati, dan beberapa potong buah segar. Semuanya terasa hambar di lidahnya.“Nona,” panggil Mira pelan setelah membereskan nampan. “Apakah ada yang terjadi?”“Tidak ada,” jawab Sarah.“Wajahmu pucat.”Sarah berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah jendela. Dari balik tirai tipis, ia bisa melihat sebagian kecil langit pagi yang kelabu.“Mira,” katanya tiba-tiba. “Apakah ada orang istana yang dekat denganmu? Seseorang yang bisa kau percaya sepenuhnya?”Mira tampak berpikir sejenak. “Tidak banyak, Nona. Ada satu dua orang yang dulu pernah bekerja di rumah Lord Arman. Mereka tidak akan berkhianat.”Sarah menatapnya. “Aku ingin kau mengirim pesan kepada salah satu dari mereka. Secara lisan, bukan tulisan.”Mira mengangguk pelan.“Tanyakan siapa di istana ini yang mengawasi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status