LOGINRuang di puncak Menara Utara terasa mencekam. Angin yang masuk dari celah jendela tidak mampu menghapus ketegangan di antara mereka.
Sarah masih berdiri di tempatnya, menatap Raja Adrian yang sejak tadi tidak mengeluarkan satu patah kata pun.
“Apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Sarah akhirnya.
Adrian menoleh perlahan. Wajahnya keras seperti batu.
“Aku akan mencari siapa yang membocorkan rencana itu,” jawabnya dingin.
“Jika begitu, mulailah dari orang yang tahu kau mengirim kurir malam ini,” usul Sarah.
Adrian menggeleng pelan. “Terlalu banyak. Pelayan, penjaga menara, petugas arsip, bahkan para penasihat militer yang mendengar perintahku secara samar. Mereka tidak tahu isi lengkapnya, bisa saja membaca gerak-gerikku.”
Sarah menatap lantai. Ia sadar, di istana seperti ini, rahasia bisa bocor lewat hal-hal kecil. Sekali Raja mengirim kurir diam-diam, pasti ada yang menangkap gelagat itu.
“Aku bisa membantu,” kata Sarah.
Adrian menoleh. “Membantu bagaimana?”
“Biarkan aku yang menyelidiki dari dalam,” jawab Sarah pelan. “Aku hanyalah selir yang dianggap tidak berbahaya. Tidak banyak yang akan curiga jika aku bergerak.”
Adrian menatap Sarah lama. Ada keraguan di matanya.
“Ini berbahaya, Sarah. Satu langkah salah, kau bisa dianggap sebagai pengkhianat.”
“Aku tahu.”
“Kau tetap mau melakukannya?”
“Aku tidak bisa diam saja, Yang Mulia. Jika strategi ini bocor, bukan hanya pasukan yang kalah. Nama keluargaku akan kembali diseret. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”
Adrian mendekat selangkah.
“Jika kau berhasil,” katanya pelan, “aku akan berutang banyak kepadamu.”
“Aku tidak butuh utang,” jawab Sarah cepat. “Aku hanya ingin keadilan. Untuk ayahku dan untuk kerajaan ini.”
Mereka saling menatap beberapa detik. Di luar, langit mulai berubah kelabu. Angin bertiup lebih kencang.
“Mulai dari mana?” tanya Adrian.
“Dari orang-orang yang tahu peta jalur barat itu ada,” kata Sarah. “Dari siapa yang bisa membacakan peta itu kepada musuh sebelum pasukan bergerak.”
Adrian mengangguk. “Aku akan memberimu akses terbatas ke beberapa catatan penjaga. Jangan sampai ketahuan.”
“Aku akan berhati-hati.”
Adrian menoleh ke arah pintu menara, lalu kembali menatap Sarah.
“Besok malam, aku ingin kau datang ke paviliun belakang istana. Ada hal yang harus kuberitahukan kepadamu.”
Sarah merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.
“Baik, Yang Mulia.”
Adrian memberi isyarat. Sarah menunduk hormat, lalu berjalan keluar. Saat menuruni tangga batu yang sempit, pikirannya tidak berhenti bekerja.
Ia baru saja menawarkan diri masuk ke dalam penyelidikan paling berbahaya di kerajaan. Sebagai seorang selir, perempuan yang dianggap tak berarti, satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara hanyalah Dayang Mira.
Malam harinya, Sarah duduk di dekat jendela, merapikan peta salinan yang ia gambar di atas kain tipis. Sudah ada bagian yang selesai, masih banyak tanda-tanda dari peta lama yang belum ia pahami. Tanda Sarang itu masih terus mengganggu pikirannya.
Jika tempat itu memang titik strategis, seharusnya hal itu bisa menjadi kunci untuk menyelamatkan pasukan. Sarah belum berani membicarakannya kepada Raja Adrian. Belum. Terlalu banyak yang belum jelas. Tiba-tiba terdengar ketukan dua kali di pintu.
“Nona Sarah, ini aku,” kata Dayang Mira.
Sarah menyembunyikan kain peta, lalu membuka pintu.
Mira masuk dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.
“Aku mendengar kabar buruk, Nona.”
“Apa lagi?”
“Beberapa pelayan istana mulai bertanya-tanya mengapa kau sering dipanggil Raja. Katanya, ada yang menyebut namamu di dapur kerajaan.”
Sarah duduk di tepi tempat tidur. “Itu sudah kuduga. Semakin sering aku bertemu Raja, semakin besar perhatian orang.”
“Bukan hanya perhatian, Nona. Ada yang bilang kau memakai ilmu gelap untuk memengaruhi Raja.”
Sarah tersenyum getir. Gosip memang senjata paling murah, paling mematikan.
“Siapa yang pertama menyebarkan?” tanyanya.
“Entah. Kabar itu sudah sampai ke telinga beberapa dayang senior. Bahkan ada yang mulai menjauh jika melihatku.”
Sarah memejamkan mata sejenak.
“Berarti lawanku mulai bekerja secara sistematis,” katanya pelan. “Mereka tidak menyerang aku langsung, meracuni nama baikku sedikit demi sedikit.”
Mira mendekat, wajahnya tampak cemas. “Nona, aku takut.”
Sarah menatapnya lembut. “Jangan takut, Mira. Kita belum kalah. Justru ini artinya mereka mulai cemas dengan kehadiranku. Jika aku tidak berbahaya, mereka tidak akan repot-repot menyerang.”
Mira mengangguk, tetap gelisah.
“Sekarang,” lanjut Sarah, “aku ingin kau mencari satu nama. Seseorang di dapur kerajaan yang sering bicara seenaknya tentangku.”
“Untuk apa, Nona?”
“Kita perlu tahu dari mana gosip itu berasal. Sebab dari situ kita bisa menarik benangnya sampai ke orang yang menyuruh.”
Mira mengangguk mantap. “Aku akan melakukannya.”
Sarah berdiri dan berjalan ke dekat jendela. Angin malam menyentuh wajahnya. Di kejauhan, lampu-lampu menara istana tampak menyala terang. Hal itu begitu kontras dengan hatinya yang sedang gelap. Ia tahu, pertarungan sesungguhnya bukan di medan perang, di balik tirai-tirai halus istana.
Keesokan malam, sesuai permintaan Raja, Sarah pergi ke paviliun belakang istana.
Tempat itu jauh dari keramaian. Hanya ada taman kecil, kolam dangkal, dan beberapa obor yang nyalanya bergoyang tertiup angin.
Raja Adrian sudah berdiri di sana sendirian, tanpa perwira, dan tanpa penjaga di dekatnya. Sarah masuk perlahan.
“Kau datang,” kata Adrian.
“Aku datang, Yang Mulia,” jawab Sarah.
Adrian berbalik menghadapnya. Wajahnya diterpa cahaya obor, membuat separuh sisi tampak terang dan separuh lainnya tenggelam dalam bayangan.
“Aku menemukan sesuatu,” katanya.
Sarah menegang.
“Kurir yang membawa perintah rahasia itu,” lanjut Adrian, “ditemukan tewas tadi malam.”
Sarah merasakan darahnya seperti berhenti mengalir.
“Di mana?” tanyanya.
“Di hutan kecil sebelah barat istana. Lehernya digorok.”
Sarah menelan ludah.
“Yang lebih buruk…” Adrian menatap Sarah lurus-lurus. “Dari tubuhnya, ada bukti yang mengarah kepadamu.”
Sarah merasakan dunia di sekelilingnya berputar.
“Bukti apa?”
Adrian mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sehelai sapu tangan sutra putih dengan sulaman huruf di sudutnya: S.
“Ini ditemukan di dekat jasadnya,” kata Adrian pelan.
Sarah menatap sapu tangan itu. Itu memang miliknya. Sekarang, benda itu di tangan Raja. Malam itu, perangkap untuk Sarah benar-benar telah dimulai.
Malam itu Sarah naik ke atap menara barat. Tempat itu jarang dikunjungi siapa pun. Hanya batu, angin, dan langit yang terbuka lebar. Ia membawa selimut tebal dan sebuah lentera kecil yang ia letakkan di sudut, dekat tembok.Adrian belum kembali dari ruang kerja, jadi ia menunggu sendirian, menatap bintang-bintang yang terang tanpa awan. Dari ketinggian ini, kota terlihat kecil. Lampu-lampu rumah berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, dan sungai memantulkan cahaya bulan seperti pita perak.Pintu besi berderit. Adrian muncul dengan dua cangkir teh mengepul. Ia tidak bertanya kenapa Sarah memilih tempat ini. Ia hanya duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir, lalu ikut menatap ke atas. Uap teh mengambang sebentar sebelum hilang dibawa angin.“Aku tidak pernah memperhatikan bintang,” katanya akhirnya.“Kau selalu sibuk.”“Peta, laporan, perang. Tidak pernah ada waktu untuk melihat ke atas.”Sarah meletakkan cangkirnya. Ia berdiri dan berjalan ke tepi atap, tempat langit terasa l
Sarah duduk di balkon kamarnya sore itu. Angin membawa bau melati dari taman bawah. Di pangkuannya, sebuah buku panduan merangkai bunga, halaman-halamannya sudah menguning. Ia membuka lemari kecil di sudut balkon, tempat ia menyimpan gunting, tali, dan keranjang anyaman. Ia ingin membuat karangan bunga untuk Adrian. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Sesuatu yang sederhana.Ia memilih bunga dari taman: mawar merah, aster putih, dan beberapa tangkai daun eucalyptus. Ia meletakkannya di meja besi. Satu per satu. Rapi. Lalu ia mulai memotong tangkai. Tidak beraturan. Terlalu panjang. Terlalu pendek. Durinya menusuk jarinya. Ia mengerutkan kening, terus mencoba.Adrian muncul di ambang pintu balkon. Ia baru kembali dari ruang rapat. Ia melihat Sarah dengan gunting di tangan, bunga berserakan di lantai, dan seutas tali melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum.“Kau membuat apa?”“Karangan bunga. Untukmu.”Adrian melang
Sarah duduk di bangku besi putih di rumah kaca istana. Sebuah buku puisi lama terbuka di pangkuannya. Puisi tentang laut, angin, dan cinta. Ia membaca pelan, menikmati setiap kata. Cahaya siang menembus kaca, hangat tanpa menyengat. Udara berbau tanah, daun, dan air.Adrian datang dari arah istana membawa keranjang kecil. Isinya anggur, apel, dan pir. Ia duduk di samping Sarah tanpa bicara, hanya tersenyum. Sarah menoleh, lalu mengambil setangkai anggur. Manis dan segar. Mereka makan buah berdua di bangku itu, memandang tanaman-tanaman tinggi yang tumbuh di dalam rumah kaca.“Bacakan satu,” kata Adrian.Sarah membuka halaman. Suaranya pelan, lembut, seperti air mengalir. “Aku mencintaimu seperti laut mencintai pantai. Tak henti. Tak putus. Tak berujung.”Adrian mendengarkan dengan mata setengah tertutup. “Ayahku dulu punya buku seperti itu. Di perpustakaan. Aku sering membacanya sendirian karena tidak punya teman.”
Sarah terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lama yang sulit hilang. Di sampingnya, Adrian tidur tenang—tanpa kerutan di kening, tanpa beban di pundak. Sarah menyentuh pipinya perlahan, ujung jarinya menyusuri rahang. Adrian bergerak, membuka mata, lalu tersenyum.“Kau menatapku lagi.”Sarah tersipu dan menyembunyikan wajah di bantal. Adrian tertawa pelan. “Aku bisa merasakannya bahkan dalam tidur.”Sarah melempar bantal ke wajahnya. Adrian menangkap bantal itu, menarik Sarah ke pelukannya. Mereka tertawa seperti anak-anak—bukan raja dan ratu.“Aku mimpi tentang danau dan rumah kecil,” kata Adrian. “Kau duduk di teras, menyulam. Aku membaca peta. Tidak ada yang lain.”Sarah tersenyum. “Aku mimpi tentang dapur. Roti gosong. Kau mencoba memotong sayur. Kita tertawa. Hal-hal kecil.”“Hal-hal kecil?”“Yang dulu tidak pernah aku punya. Sekarang justru itu yang paling kurindukan.”Adrian mencium dahinya. “Kita punya banyak hal kecil. Setiap hari. Selamanya.”Matahari naik. Mereka turu
Mereka duduk di balkon. Malam cerah, bintang-bintang tersebar, angin sejuk. Sarah menyandarkan kepala di bahu Adrian, dan Adrian menggenggam tangannya. Tidak ada yang perlu dikatakan.“Dulu aku tidak pernah membayangkan ini,” kata Sarah. “Rumah, danau, kau, malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin bertahan. Aku tidak berani bermimpi karena mimpi hanya membuat kecewa.”Adrian menoleh. “Sekarang?”“Sekarang aku bermimpi. Tentang besok, tentang lusa, tentang tahun depan. Tentang kita.”Adrian tersenyum. “Aku juga. Setiap malam sebelum tidur, aku menatap langit-langit dan membayangkan kau di sampingku. Selamanya.”Sarah menatapnya, mata berkaca. “Kau tidak pernah bilang.”“Kau juga tidak.”Mereka tersenyum, lalu tertawa pelan, hangat, seperti dua orang yang baru berbagi rahasia. Adrian berdiri dan mengulurkan tangan. “Menari?”“Tid
Mereka tiba di istana saat matahari condong ke barat. Barra menyambut di gerbang, Mira menunggu di halaman. Keduanya hanya tersenyum dan menunduk, tidak bertanya. Sarah menggandeng tangan Adrian melewati koridor. Pelayan menunduk, penjaga memberi hormat. Tidak ada suara selain langkah, sentuhan jari, dan debar jantung.Sarah membuka pintu kamar, masuk, lalu menutup dan mengunci. Adrian berdiri di tengah ruangan. Lilin menyala redup, bayangan mereka memanjang di dinding. Adrian melangkah mendekat tanpa tergesa, berhenti tepat di depan Sarah. Aroma kayu, logam, dan keringat memenuhi jarak di antara mereka.Ia menyentuh wajah Sarah, ujung jari menyusuri rahang. Sarah menutup mata. Adrian mencium dahi, hidung, pipi, lalu bibirnya. Ciuman pertama lembut, lalu Sarah membalas lebih dalam. Adrian menggigit bibir bawahnya; Sarah mendesah. Lidah mereka bertemu, menari tanpa kata.Adrian mencium sudut bibir, dagu, leher, tulang selangka. Sarah mencengkeram jubahnya. Adrian







