Home / Romansa / Selir Idaman Raja / BAB 4: PANGGILAN KEDUA

Share

BAB 4: PANGGILAN KEDUA

Author: Pena Hideung
last update publish date: 2026-08-14 21:15:59

Pesan itu terbukti benar. Keesokan paginya, belum genap matahari naik setinggi tiang istana, seorang perwira sudah berdiri di depan kamar Sarah. Wajahnya sama seperti sebelumnya. Dingin. Resmi. Tanpa basa-basi.

“Selir Sarah, Raja Adrian memanggilmu,” katanya.

Sarah sudah menduga, tetapi tetap merasakan degup jantung yang lebih cepat dari biasanya.

“Baik,” jawabnya singkat.

Kali ini ia tidak diminta terburu-buru. Ia mengenakan selendang tipis di bahu, memastikan rambutnya tersisir rapi, lalu melangkah keluar dengan tenang. Di belakangnya, Dayang Mira hanya menatap cemas.

“Nona, hati-hati,” bisiknya.

Sarah menoleh sebentar, mengangguk pelan, lalu mengikuti perwira itu.

Koridor istana pagi ini terasa berbeda. Beberapa pelayan yang lewat berhenti sejenak untuk menunduk, tatapan mereka penuh tanya.

Seorang selir yang sebelumnya tidak pernah dipanggil kini dipanggil dua kali dalam dua hari berturut-turut. Gosip pasti mulai bergerak cepat.

Mereka tidak langsung ke ruang kerja Raja seperti sebelumnya. Kali ini perwira itu membawa Sarah ke sayap timur istana, menuju sebuah paviliun setengah terbuka yang menghadap ke kolam.

Di sana, Raja Adrian sudah duduk. Ia memakai jubah hitam keemasan, sederhana untuk ukuran Raja, tetap memancarkan wibawa. Di mejanya ada beberapa peta dan dokumen, juga teko teh yang masih mengepulkan uap.

Perwira itu berhenti di pintu paviliun. “Selir Sarah, Yang Mulia.”

Adrian melambai kecil. Perwira itu menunduk, lalu pergi.

Sarah masuk perlahan. “Selamat pagi, Yang Mulia.”

Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap Sarah dari atas ke bawah, seolah sedang menilai bukan hanya pakaiannya, juga ketenangannya.

“Duduk,” katanya akhirnya.

Sarah menuruti. Paviliun ini jauh lebih tenang daripada ruang kerja Raja. Tidak ada dinding tebal, tidak ada tumpukan dokumen perang yang mengintimidasi. Hanya suara air kolam dan gemerisik daun.

Sarah tahu, tidak ada tempat di istana yang benar-benar aman.

“Aku tidak bisa tidur semalaman,” kata Adrian tiba-tiba.

Sarah menatapnya. “Karena perang, Yang Mulia?”

Adrian menyandarkan punggungnya. “Salah satunya.”

Ia menatap kolam di depannya, lalu kembali ke Sarah.

“Aku sudah memerintahkan Panglima Dasco untuk bertahan di posisi saat ini. Tidak menyerang, tidak mundur. Hanya bertahan.”

Sarah menimbang kalimat itu.

“Itu keputusan yang bijak untuk sementara,” katanya.

Adrian tersenyum tipis, tidak sepenuhnya tulus. “Sementara. Lalu kau akan menyarankan apa setelah itu?”

“Perlu melihat respons musuh, Yang Mulia. Jika mereka mulai menggempur, bertahan akan membuang terlalu banyak waktu.”

“Mereka sudah menggempur,” kata Adrian datar. “Tadi malam kabar datang. Dua pos depan kita dihancurkan. Tujuh puluh prajurit tewas sebelum fajar.”

Sarah menahan napas.

Tujuh puluh nyawa. Bukan angka kecil.

“Panglima Dasco makin terdesak,” lanjut Adrian. “Ia mengirim surat meminta bala bantuan.”

“Di mana posisinya sekarang?” tanya Sarah.

Adrian membuka gulungan peta di meja. Itu adalah peta yang sama dengan yang semalam Sarah lihat di kamarnya. Jantung Sarah mencelos, ia berusaha tenang.

“Di sini,” Adrian menunjuk satu titik. “Selatan Lembah Esha. Pasukan kita terjepit di antara tebing dan sungai kecil. Musuh menekan dari atas bukit.”

Sarah menatap peta itu. Posisi pasukan kerajaan jauh lebih buruk daripada yang ia kira. Mereka hampir masuk ke dalam cekungan mematikan. Jika musuh menutup jalan keluar, semuanya bisa habis.

“Bala bantuan tidak akan sempat,” kata Sarah pelan.

Adrian menatapnya. “Kenapa?”

“Jarak dari ibu kota ke Lembah Esha minimal tiga hari. Itu kalau berjalan cepat. Sementara itu, musuh bisa menekan habis pasukan kita dalam satu malam.”

Adrian mengepalkan tangannya di atas meja. Ia tahu Sarah benar.

“Lalu apa yang kau sarankan?”

“Mundur malam ini juga,” kata Sarah tegas. “Bukan lewat jalur utama, melainkan lewat hutan barat. Itu satu-satunya cara menyelamatkan sisa pasukan.”

“Kau yakin pasukan bisa melewati hutan barat? Kabarnya medan di sana buruk.”

“Medannya memang buruk,” akui Sarah. “Itu satu-satunya jalur yang tidak dijaga musuh. Ayahku pernah memetakan jalur itu saat bertugas di perbatasan. Ada jalan setapak tua yang dipakai para pemburu. Cukup lebar untuk pasukan berbaris satu per satu.”

Adrian terdiam lama.

Suasana paviliun yang tadi terasa damai kini berubah mencekam. Bahkan udara pagi terasa lebih berat.

“Kau tahu kalau saranmu ini bisa membuatmu dianggap ikut campur urusan militer?” tanya Adrian hati-hati.

“Aku tahu, Yang Mulia.”

“Kau tetap menyampaikannya?”

“Karena nyawa para prajurit lebih berharga daripada reputasiku sebagai selir.”

Adrian menatap Sarah lama sekali. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Bukan lagi sekadar penasaran, melainkan takjub yang coba ia sembunyikan.

“Aku akan pertimbangkan,” katanya akhirnya.

Sarah menunduk hormat. Ketika ia bangkit untuk pergi, suara Adrian menghentikannya.

“Sarah.”

Ini pertama kalinya Raja memanggil namanya tanpa embel-embel apa pun.

Sarah menoleh.

“Kau tidak bertanya kenapa aku memanggilmu di paviliun terbuka seperti ini?” tanya Adrian.

Sarah terdiam sejenak. “Aku kira Yang Mulia ingin suasana berbeda.”

Adrian tersenyum tipis. “Aku memilih tempat ini karena tidak ada dinding tebal. Jadi, tidak ada yang bisa menguping.”

Sarah mengangguk paham.

 “ada mata-mata yang bisa melihat dari jauh. Kau harus siap jika nama kita mulai dibicarakan.” lanjut Adrian

Sarah merasakan hawa dingin menjalari punggungnya.

“Aku sudah siap, Yang Mulia,” jawabnya.

Adrian menatapnya. “Belum tentu.”

Ia berdiri, lalu berjalan mendekati Sarah. Begitu dekat sehingga Sarah bisa mencium aroma khas dari jubahnya.

“Kau akan jadi sasaran,” kata Adrian pelan, hampir berbisik. “Bukan hanya Ratu Elena, juga orang-orang yang tidak ingin aku menang perang.”

Sarah mengangkat wajahnya. “Kau akan melindungiku, Yang Mulia?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Sarah sendiri tidak tahu kenapa ia berani.

Adrian tidak tersinggung. Justru sorot matanya berubah gelap.

“Aku hanya melindungi orang yang berguna bagiku,” katanya.

Kata-kata itu harusnya terdengar dingin. Entah mengapa, Sarah merasakan arti lain di baliknya. Ia tidak sedang dijauhkan. Ia sedang diperingatkan.

“Aku akan kembali,” kata Sarah pelan.

Adrian tidak mencegah. Saat Sarah berjalan keluar dari paviliun, angin pagi menyapu wajahnya. Ia merasa ada banyak mata yang sedang memperhatikannya dari balik jendela-jendela istana.

Panggilan kedua ini bukan lagi rahasia. Permainan telah dimulai.

Malam harinya, sebuah kejadian yang selama ini Sarah takutkan akhirnya datang. Sepucuk surat resmi tanpa nama terselip di balik bantalnya.  Isinya pendek, seperti pisau yang siap menikam.

“Minggir, atau Rajamu akan tahu siapa sebenarnya kau.”

Sarah mengepalkan surat itu hingga kusut. Ia merasa seseorang di istana ini tidak hanya ingin menyingkirkannya. Mereka ingin menghancurkannya. Dengan cara apa pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selir Idaman Raja   BAB 165: PETA DI LANGIT

    Malam itu Sarah naik ke atap menara barat. Tempat itu jarang dikunjungi siapa pun. Hanya batu, angin, dan langit yang terbuka lebar. Ia membawa selimut tebal dan sebuah lentera kecil yang ia letakkan di sudut, dekat tembok.Adrian belum kembali dari ruang kerja, jadi ia menunggu sendirian, menatap bintang-bintang yang terang tanpa awan. Dari ketinggian ini, kota terlihat kecil. Lampu-lampu rumah berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, dan sungai memantulkan cahaya bulan seperti pita perak.Pintu besi berderit. Adrian muncul dengan dua cangkir teh mengepul. Ia tidak bertanya kenapa Sarah memilih tempat ini. Ia hanya duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir, lalu ikut menatap ke atas. Uap teh mengambang sebentar sebelum hilang dibawa angin.“Aku tidak pernah memperhatikan bintang,” katanya akhirnya.“Kau selalu sibuk.”“Peta, laporan, perang. Tidak pernah ada waktu untuk melihat ke atas.”Sarah meletakkan cangkirnya. Ia berdiri dan berjalan ke tepi atap, tempat langit terasa l

  • Selir Idaman Raja   BAB 164: KARANGAN BUNGA DAN TAWA

    Sarah duduk di balkon kamarnya sore itu. Angin membawa bau melati dari taman bawah. Di pangkuannya, sebuah buku panduan merangkai bunga, halaman-halamannya sudah menguning. Ia membuka lemari kecil di sudut balkon, tempat ia menyimpan gunting, tali, dan keranjang anyaman. Ia ingin membuat karangan bunga untuk Adrian. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Sesuatu yang sederhana.Ia memilih bunga dari taman: mawar merah, aster putih, dan beberapa tangkai daun eucalyptus. Ia meletakkannya di meja besi. Satu per satu. Rapi. Lalu ia mulai memotong tangkai. Tidak beraturan. Terlalu panjang. Terlalu pendek. Durinya menusuk jarinya. Ia mengerutkan kening, terus mencoba.Adrian muncul di ambang pintu balkon. Ia baru kembali dari ruang rapat. Ia melihat Sarah dengan gunting di tangan, bunga berserakan di lantai, dan seutas tali melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum.“Kau membuat apa?”“Karangan bunga. Untukmu.”Adrian melang

  • Selir Idaman Raja   BAB 163: SIANG YANG KAMI MILIKI

    Sarah duduk di bangku besi putih di rumah kaca istana. Sebuah buku puisi lama terbuka di pangkuannya. Puisi tentang laut, angin, dan cinta. Ia membaca pelan, menikmati setiap kata. Cahaya siang menembus kaca, hangat tanpa menyengat. Udara berbau tanah, daun, dan air.Adrian datang dari arah istana membawa keranjang kecil. Isinya anggur, apel, dan pir. Ia duduk di samping Sarah tanpa bicara, hanya tersenyum. Sarah menoleh, lalu mengambil setangkai anggur. Manis dan segar. Mereka makan buah berdua di bangku itu, memandang tanaman-tanaman tinggi yang tumbuh di dalam rumah kaca.“Bacakan satu,” kata Adrian.Sarah membuka halaman. Suaranya pelan, lembut, seperti air mengalir. “Aku mencintaimu seperti laut mencintai pantai. Tak henti. Tak putus. Tak berujung.”Adrian mendengarkan dengan mata setengah tertutup. “Ayahku dulu punya buku seperti itu. Di perpustakaan. Aku sering membacanya sendirian karena tidak punya teman.”

  • Selir Idaman Raja   BAB 162: Roti Gosong dan Cinta

    Sarah terbangun sebelum matahari terbit. Kebiasaan lama yang sulit hilang. Di sampingnya, Adrian tidur tenang—tanpa kerutan di kening, tanpa beban di pundak. Sarah menyentuh pipinya perlahan, ujung jarinya menyusuri rahang. Adrian bergerak, membuka mata, lalu tersenyum.“Kau menatapku lagi.”Sarah tersipu dan menyembunyikan wajah di bantal. Adrian tertawa pelan. “Aku bisa merasakannya bahkan dalam tidur.”Sarah melempar bantal ke wajahnya. Adrian menangkap bantal itu, menarik Sarah ke pelukannya. Mereka tertawa seperti anak-anak—bukan raja dan ratu.“Aku mimpi tentang danau dan rumah kecil,” kata Adrian. “Kau duduk di teras, menyulam. Aku membaca peta. Tidak ada yang lain.”Sarah tersenyum. “Aku mimpi tentang dapur. Roti gosong. Kau mencoba memotong sayur. Kita tertawa. Hal-hal kecil.”“Hal-hal kecil?”“Yang dulu tidak pernah aku punya. Sekarang justru itu yang paling kurindukan.”Adrian mencium dahinya. “Kita punya banyak hal kecil. Setiap hari. Selamanya.”Matahari naik. Mereka turu

  • Selir Idaman Raja   BAB 161: SELAMANYA

    Mereka duduk di balkon. Malam cerah, bintang-bintang tersebar, angin sejuk. Sarah menyandarkan kepala di bahu Adrian, dan Adrian menggenggam tangannya. Tidak ada yang perlu dikatakan.“Dulu aku tidak pernah membayangkan ini,” kata Sarah. “Rumah, danau, kau, malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin bertahan. Aku tidak berani bermimpi karena mimpi hanya membuat kecewa.”Adrian menoleh. “Sekarang?”“Sekarang aku bermimpi. Tentang besok, tentang lusa, tentang tahun depan. Tentang kita.”Adrian tersenyum. “Aku juga. Setiap malam sebelum tidur, aku menatap langit-langit dan membayangkan kau di sampingku. Selamanya.”Sarah menatapnya, mata berkaca. “Kau tidak pernah bilang.”“Kau juga tidak.”Mereka tersenyum, lalu tertawa pelan, hangat, seperti dua orang yang baru berbagi rahasia. Adrian berdiri dan mengulurkan tangan. “Menari?”“Tid

  • Selir Idaman Raja   BAB 160: MALAM DI KAMAR ISTANA

    Mereka tiba di istana saat matahari condong ke barat. Barra menyambut di gerbang, Mira menunggu di halaman. Keduanya hanya tersenyum dan menunduk, tidak bertanya. Sarah menggandeng tangan Adrian melewati koridor. Pelayan menunduk, penjaga memberi hormat. Tidak ada suara selain langkah, sentuhan jari, dan debar jantung.Sarah membuka pintu kamar, masuk, lalu menutup dan mengunci. Adrian berdiri di tengah ruangan. Lilin menyala redup, bayangan mereka memanjang di dinding. Adrian melangkah mendekat tanpa tergesa, berhenti tepat di depan Sarah. Aroma kayu, logam, dan keringat memenuhi jarak di antara mereka.Ia menyentuh wajah Sarah, ujung jari menyusuri rahang. Sarah menutup mata. Adrian mencium dahi, hidung, pipi, lalu bibirnya. Ciuman pertama lembut, lalu Sarah membalas lebih dalam. Adrian menggigit bibir bawahnya; Sarah mendesah. Lidah mereka bertemu, menari tanpa kata.Adrian mencium sudut bibir, dagu, leher, tulang selangka. Sarah mencengkeram jubahnya. Adrian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status