Home / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 9. Sahabat Palsu

Share

Bab 9. Sahabat Palsu

Author: Ershita
last update publish date: 2026-09-19 14:09:40

Jauh di bawah istana, gulungan kuno itu masih tergeletak di atas meja penasihat bayangan, tintanya belum sepenuhnya kering. Namun di atas permukaan, dunia berjalan seolah tidak ada yang berubah.

Pagi itu, langit Istana Kaisar Langit diselimuti kabut tipis yang membuat taman-taman giok tampak seperti lukisan tinta. Embun masih menggantung di kelopak bunga plum, dan suara burung langit terdengar samar dari kejauhan.

Di koridor paviliun timur, langkah Zhao Ruilan terdengar pelan namun mantap.

Ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Selir Ke-7   Bab 14. Bayangan Misterius

    Ancaman Permaisuri malam itu masih terngiang di telinga Xuyue, namun malam berikutnya, bahaya yang datang tidak lagi berbentuk kata-kata, melainkan bayangan bersenjata yang bergerak di taman belakang istana.Malam di Istana Kaisar Langit terasa lebih pekat dari biasanya. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, seolah langit sendiri menahan napas.Di balik dinding-dinding tinggi, kesunyian hanya dipecahkan oleh suara langkah para penjaga yang berpatroli.Xuyue berdiri di balkon paviliunnya, menatap bulan yang menggantung pucat di langit.Lan Mei sudah tertidur di ruang dalam, namun matanya sendiri enggan terpejam. Ada sesuatu yang mengusik, sebuah firasat yang tidak bisa ia abaikan."Terlalu tenang," batinnya. "Dan ketenangan seperti ini biasanya hanya mendahului badai."Tiba-tiba, suara samar terdengar dari arah taman belakang. Seperti desir kain yang menyentuh dedaunan, lalu disusul dentingan logam yang nyaris tak terdengar. Xuyue menajamkan pendengaran, tubuhnya menegang.Bayanga

  • Selir Ke-7   Bab 13. Senyum Permaisuri

    Gulungan hitam bertuliskan "jika racun tidak cukup, maka api harus menyala" masih tersimpan rapi di laci rahasia Permaisuri ketika ia mengirim utusan untuk memanggil Xuyue malam itu.Namun api yang ia maksud, malam ini, belum berwujud kobaran nyata, melainkan kata-kata.Malam turun perlahan di atas Istana Kaisar Langit. Paviliun Timur diterangi cahaya lampu minyak yang berderak lembut, menebarkan bayangan panjang di dinding batu giok.Aroma dupa melayang tipis, menambah kesan damai, meski di balik ketenangan itu tersimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah sutra ungu dengan bordiran naga betina.Senyumnya tampak lembut, seolah penuh kasih, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Ia menunggu dengan sabar, jemarinya mengetuk perlahan meja kayu cendana.Langkah kaki terdengar mendekat. Nihara Xuyue masuk dengan tenang, mengenakan jubah biru pucat sederhana.Rambutnya disanggul rapi, dihiasi giok kecil yang ber

  • Selir Ke-7   Bab 12. Ujian Racun

    Dua hari setelah pengakuan Kaisar di aula, istana tampak tenang di permukaan, namun Xuyue tahu ketenangan semacam itu di tempat ini tidak pernah berarti aman.Langit siang di atas Istana Kaisar Langit tampak tenang, namun di balik dinding-dinding batu giok, badai kecil sedang disiapkan.Di taman dalam yang dikelilingi kolam teratai, sebuah jamuan kecil digelar atas nama keharmonisan antar selir.Meja bundar dari kayu cendana telah disusun rapi, dihiasi bunga plum dan kendi arak manis dari Paviliun Selatan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah merah muda pucat dengan sulaman burung hong.Di sekelilingnya, para selir duduk dalam lingkaran, masing-masing dengan senyum yang tampak manis namun menyimpan duri.Xuyue datang terakhir, mengenakan jubah biru muda yang sederhana. Ia menunduk sopan, lalu duduk di kursi yang disediakan di sisi kanan Permaisuri.Lan Mei berdiri di belakangnya, membawa kipas dan kendi air bunga, matanya sudah waspada sejak melihat siapa saja

  • Selir Ke-7   Bab 11. Perang Dingin di Istana

    Angin malam masih berhembus pelan saat Xuyue berdiri di lorong paviliun Kaisar. Di hadapannya, sosok berjubah hitam dengan topeng perak berdiri diam, hawa dingin menyelimuti sekitarnya.Lentera giok bergoyang pelan, cahayanya memantul di lantai batu giok yang kini terasa seperti medan perang.Penasihat Bayangan tidak bergerak. Ia hanya menatap Xuyue dengan mata redup yang menyala samar.Di tangannya, energi hitam mulai berkumpul, membentuk pusaran kecil yang berdesis pelan.Xuyue melangkah maju, jubah putihnya berkibar pelan. Matanya tajam, tubuhnya tenang, namun aura di sekelilingnya mulai berubah. Udara bergetar, seolah mengenali kekuatan yang selama ini tersembunyi."Jika kau ingin menguji," ucap Xuyue pelan, "maka malam ini, aku akan menjawab dengan cahaya yang kau sembunyikan selama ini."Penasihat Bayangan mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, pusaran energi hitam melesat ke arah Xuyue.Namun sebelum menyentuh tubuhnya, Xuyue mengangkat satu jari, dan cahaya perak menyala dar

  • Selir Ke-7   Bab 10. Malam Pertama

    Ancaman Zhao Ruilan semalam masih menggantung di udara paviliun timur, namun malam ini, di sisi lain istana, sesuatu yang jauh lebih tenang sedang terjadi, seolah dunia sengaja memberi jeda sebelum badai berikutnya datang.Langit malam di atas Istana Kaisar Langit tampak jernih, dihiasi bintang-bintang yang berkelip seperti mata-mata surgawi.Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga plum dan dupa dari paviliun utama. Lentera giok menyala lembut di sepanjang koridor, menciptakan bayangan yang menari di dinding batu giok.Di dalam paviliun Kaisar, suasana berbeda dari biasanya. Para pelayan telah diperintahkan untuk mundur lebih awal, dan hanya lentera kecil yang dibiarkan menyala.Di tengah ruangan, Kaisar Tian Yanzhou duduk di depan meja rendah, mengenakan jubah malam berwarna hitam dengan sulaman naga emas yang tampak hidup di bawah cahaya.Xuyue melangkah masuk dengan gaun putih tipis yang membalut tubuhnya seperti kabut.Rambutnya disanggul setengah, dihiasi jepit giok yang seder

  • Selir Ke-7   Bab 9. Sahabat Palsu

    Jauh di bawah istana, gulungan kuno itu masih tergeletak di atas meja penasihat bayangan, tintanya belum sepenuhnya kering. Namun di atas permukaan, dunia berjalan seolah tidak ada yang berubah.Pagi itu, langit Istana Kaisar Langit diselimuti kabut tipis yang membuat taman-taman giok tampak seperti lukisan tinta. Embun masih menggantung di kelopak bunga plum, dan suara burung langit terdengar samar dari kejauhan.Di koridor paviliun timur, langkah Zhao Ruilan terdengar pelan namun mantap.Ia mengenakan jubah biru lembut, rambutnya disanggul rapi dengan hiasan giok kecil. Wajahnya dihiasi senyum hangat, matanya tampak bersinar seolah dipenuhi niat baik.Dayang-dayang yang lewat menunduk hormat, namun beberapa dari mereka saling bertukar pandang, tahu bahwa senyum itu bukanlah senyum biasa.Ruilan berhenti di depan paviliun Selir Ke-7. Ia menatap pintu kayu berukir awan, lalu mengetuk pelan."Selir Xuyue," ucapnya lembut, "bolehkah aku masuk sebentar? Aku membawa teh plum dari taman b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status