首頁 / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 8. Rumor Beracun

分享

Bab 8. Rumor Beracun

作者: Ershita
last update publish date: 2026-09-18 11:11:33

Dupa hitam di altar rahasia itu masih membara ketika fajar mulai menyentuh atap istana, seolah malam yang penuh rahasia belum benar-benar selesai bahkan setelah matahari terbit.

Langit pagi di atas Istana Kaisar Langit tampak cerah, namun suasana di dalam istana justru mulai menggelap. Di balik tirai-tirai sutra yang bergoyang pelan, bisikan-bisikan mulai menyebar seperti asap racun yang tak terlihat.

Para dayang saling berbisik di lorong, para pelayan dapur menunduk saat menyajikan makanan, dan para pejabat yang datang pagi-pagi ke aula utama tampak berbicara dengan nada yang lebih rendah dari biasanya.

Di antara mereka, nama Nihara Xuyue disebut berulang kali. Namun bukan dalam pujian, melainkan dalam nada sinis dan penuh keraguan.

"Katanya dia bukan berasal dari keluarga bangsawan mana pun," bisik seorang pejabat muda kepada rekannya. "Tidak ada latar belakang, tidak ada silsilah. Bagaimana bisa langsung menjadi Selir Ke-7?"

"Lebih aneh lagi," sahut rekannya, "Kaisar bahkan belum mengumumkan gelar kehormatan untuknya. Itu tidak lazim. Biasanya selir baru harus melewati ujian sosial dulu."

Di balik semua bisikan itu, satu nama menjadi sumber utama: Selir Mo Yanyu. Wanita yang dikenal licik dan pandai memainkan kata, kini sedang duduk di paviliunnya, dikelilingi oleh beberapa dayang yang setia padanya.

Ia menyisir rambutnya perlahan, lalu berkata dengan nada santai, "Kalian tahu, aku mendengar sesuatu yang menarik. Katanya Selir Ke-7 itu tidak pernah menjalani ritual penyucian sebelum masuk istana. Bahkan tidak ada satu pun catatan tentangnya di ruang pengobatan istana."

Salah satu dayang menutup mulutnya, matanya membesar. "Benarkah, Selir? Itu melanggar protokol istana."

Mo Yanyu tersenyum tipis. "Tentu saja. Tapi siapa yang berani menegur? Kaisar terlalu terpesona. Aku hanya ingin memastikan semua orang tahu bahwa kita sedang bermain dengan api."

Ia berdiri, lalu melangkah ke jendela. Di luar, beberapa pejabat sedang berjalan menuju aula utama. Ia menatap mereka dengan mata penuh perhitungan.

"Sebarkan saja pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru. Biarkan racunnya meresap dulu."

Sementara itu, Xuyue duduk di paviliunnya, membaca gulungan kitab lama tentang sejarah istana. Dayang Lan Mei berdiri di sampingnya, wajahnya tampak gelisah.

"Selir," katanya pelan, "ada banyak bisikan di dapur pagi ini. Mereka bilang Anda tidak menjalani ritual penyucian. Beberapa bahkan mengatakan Anda bukan manusia biasa."

Xuyue tidak menoleh. Ia tetap membaca, matanya tenang. "Mereka hanya takut pada apa yang tidak bisa mereka pahami."

Lan Mei menunduk. "Tapi jika rumor itu sampai ke telinga para pejabat tinggi…"

Xuyue menggulung kitabnya perlahan, lalu berdiri. "Biarkan mereka berbicara. Lidah mereka lebih tajam daripada pedang, tapi aku tidak akan berdarah hanya karena kata-kata."

Ia melangkah menuju jendela, menatap taman istana yang mulai dipenuhi bunga musim gugur.

Kelopak kuning dan merah berguguran, menciptakan pemandangan yang indah namun melankolis, seolah alam sendiri sedang berduka untuk sesuatu yang belum terjadi.

"Dunia ini selalu menilai dari permukaan," batinnya. "Tapi aku bukan permukaan. Aku adalah kedalaman yang belum mereka selami."

Di aula utama, para pejabat mulai berkumpul. Permaisuri duduk di singgasananya, wajahnya tenang namun penuh kendali. Di sisi lain, beberapa selir hadir, termasuk Mo Yanyu yang tampak lebih cerah dari biasanya.

Ketika Xuyue masuk, suasana berubah. Beberapa pejabat menunduk dengan sopan, namun tidak ada yang menyapa. Bahkan beberapa selir berpura-pura tidak melihatnya.

Xuyue melangkah dengan tenang, duduk di kursi yang disediakan. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun, hanya menatap lurus ke depan.

Mo Yanyu mencondongkan tubuhnya ke arah Selir Han Feixia, lalu berbisik, "Lihat, bahkan para pejabat mulai menjauh. Rumor itu bekerja lebih cepat dari yang kukira."

Han Feixia tersenyum sinis. "Kalau begini terus, dia akan tersingkir tanpa perlu kita menyentuhnya."

Di ujung aula, suara langkah Kaisar Tian Yanzhou terdengar. Semua orang berdiri. Xuyue tetap duduk, matanya menatap lurus ke arah pintu masuk. "Jika dia tahu apa yang terjadi," batinnya, "aku ingin melihat apakah dia akan tetap diam."

Kaisar melangkah masuk ke aula utama dengan jubah emasnya yang berkilau diterpa cahaya pagi.

Semua orang berdiri, menunduk dalam-dalam. Suasana yang tadinya dipenuhi bisikan kini berubah menjadi hening yang menegangkan.

Xuyue tetap duduk, matanya menatap lurus ke arah Kaisar. Ia tidak menunjukkan rasa takut, tidak pula rasa hormat berlebihan.

Hanya ketenangan yang terpancar dari wajahnya, seolah ia tahu bahwa badai akan segera datang, dan ia sudah siap berdiri di tengahnya.

Kaisar berhenti di depan singgasana, lalu duduk perlahan. Matanya menyapu seluruh ruangan, berhenti sejenak pada wajah Xuyue, lalu beralih ke Permaisuri dan para selir lainnya.

"Jamuan pagi ini seharusnya menjadi tempat untuk menyatukan pikiran demi kemakmuran istana," ucapnya pelan namun tegas. "Namun aku mendengar ada bisikan-bisikan yang tidak seharusnya beredar."

Beberapa pejabat menunduk lebih dalam. Mo Yanyu menahan napas, jari-jarinya mencengkeram kipas di pangkuannya hingga buku jarinya memutih.

Kaisar melanjutkan, "Ada yang mempertanyakan asal-usul Selir Ke-7. Ada yang menyebarkan keraguan tentang ritual penyucian, bahkan menyebutnya bukan manusia biasa."

Suara itu menggema di aula. Semua orang tahu, Kaisar tidak pernah berbicara tanpa maksud. Ketika ia menyebutkan sesuatu secara langsung, itu berarti ia sudah mengetahui siapa pelakunya.

Xuyue tetap diam. Ia tidak menunduk, tidak pula menatap Kaisar. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah menunggu sesuatu yang lebih besar.

Kaisar berdiri. "Nihara Xuyue adalah pilihanku. Aku tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk menjadikannya selir. Ritual penyucian? Aku sendiri yang menyucikannya dengan api langit. Asal-usulnya? Aku tidak peduli apakah ia datang dari keluarga bangsawan atau dari langit sekalipun. Yang aku tahu, dia adalah wanita yang membuat istana ini hidup kembali."

Mo Yanyu menggigit bibirnya. Han Feixia menunduk dalam-dalam, wajahnya memerah. Zhao Ruilan menatap Xuyue dengan mata penuh perhitungan.

Kaisar melangkah turun dari singgasana, berjalan menuju tempat Xuyue duduk. Semua orang menahan napas. Langkah Kaisar terdengar jelas, satu-satu, seperti denting waktu yang menandai perubahan besar.

Ia berhenti di depan Xuyue, lalu mengulurkan tangan. "Berdirilah."

Xuyue menatap tangan itu, lalu berdiri perlahan. Ia tidak menyentuh tangan Kaisar, hanya berdiri dengan anggun, matanya tetap tenang.

Kaisar menatapnya lama, lalu berkata, "Mulai hari ini, siapa pun yang menyebarkan rumor tentang Selir Ke-7 akan dianggap menghina kehendak Kaisar. Dan aku tidak akan memberi ampun."

Suara itu menggema, membuat semua pejabat menunduk lebih dalam. Bahkan Permaisuri pun tidak berkata apa-apa, hanya menggenggam erat kipasnya.

Xuyue menunduk sedikit. "Terima kasih, Yang Mulia."

Kaisar menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Kau tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melindungi apa yang sudah menjadi milikku."

Ia berbalik, lalu kembali ke singgasana. Aula tetap hening, namun suasana telah berubah.

Xuyue kini berdiri bukan hanya sebagai selir, tetapi sebagai simbol kekuatan Kaisar.

Setelah jamuan selesai, para pejabat keluar satu per satu. Beberapa dari mereka menatap Xuyue dengan mata berbeda, bukan lagi sinis, melainkan penuh rasa ingin tahu dan hormat yang terpaksa.

Mo Yanyu berjalan cepat keluar dari aula, wajahnya gelap. Di belakangnya, Han Feixia dan Zhao Ruilan saling bertukar pandang.

"Dia berhasil lagi," bisik Han Feixia. "Kita harus mengubah strategi."

Zhao Ruilan tersenyum tipis. "Tenang saja. Kaisar hanya bisa melindunginya di siang hari. Tapi malam adalah milik kita."

Sementara itu, Xuyue berjalan pelan menuju paviliunnya. Lan Mei mengikuti di belakang, wajahnya berseri-seri.

"Selir, Anda luar biasa! Kaisar membela Anda di depan semua orang. Itu belum pernah terjadi sebelumnya."

Xuyue menoleh, senyum samar menghiasi bibirnya. "Itu hanya permulaan, Lan Mei. Mereka baru saja menyadari bahwa aku bukan sekadar selir. Tapi mereka belum tahu siapa aku sebenarnya."

Lan Mei menunduk, tidak berani bertanya lebih jauh. Namun dalam hatinya, ia tahu bahwa tuannya bukan wanita biasa.

Di sudut istana, kepala pelayan tua berdiri di balik pilar, matanya menyipit. Ia menyaksikan semua yang terjadi di aula, dan kini ia menatap Xuyue dengan sorot yang lebih dalam dari sebelumnya, sorot seseorang yang baru saja menyaksikan taruhannya sendiri mulai membuahkan hasil.

"Dia tidak hanya bertahan. Dia menguasai panggung," gumamnya pelan. "Tapi pertanyaannya bukan siapa yang melindunginya, melainkan siapa yang akan mencoba menghancurkannya dari dalam."

Jauh di ruang rahasia bawah istana, tempat yang bahkan cahaya matahari pagi tidak pernah sanggup menembus, seorang penasihat bayangan membuka gulungan kuno bertuliskan simbol langit.

Ia menatapnya lama, lalu berbisik ke kegelapan yang mengelilinginya, "Jika wanita itu benar berasal dari celah dimensi, maka kita harus bertindak sebelum langit berubah warna."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Selir Ke-7   Bab 14. Bayangan Misterius

    Ancaman Permaisuri malam itu masih terngiang di telinga Xuyue, namun malam berikutnya, bahaya yang datang tidak lagi berbentuk kata-kata, melainkan bayangan bersenjata yang bergerak di taman belakang istana.Malam di Istana Kaisar Langit terasa lebih pekat dari biasanya. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, seolah langit sendiri menahan napas.Di balik dinding-dinding tinggi, kesunyian hanya dipecahkan oleh suara langkah para penjaga yang berpatroli.Xuyue berdiri di balkon paviliunnya, menatap bulan yang menggantung pucat di langit.Lan Mei sudah tertidur di ruang dalam, namun matanya sendiri enggan terpejam. Ada sesuatu yang mengusik, sebuah firasat yang tidak bisa ia abaikan."Terlalu tenang," batinnya. "Dan ketenangan seperti ini biasanya hanya mendahului badai."Tiba-tiba, suara samar terdengar dari arah taman belakang. Seperti desir kain yang menyentuh dedaunan, lalu disusul dentingan logam yang nyaris tak terdengar. Xuyue menajamkan pendengaran, tubuhnya menegang.Bayanga

  • Selir Ke-7   Bab 13. Senyum Permaisuri

    Gulungan hitam bertuliskan "jika racun tidak cukup, maka api harus menyala" masih tersimpan rapi di laci rahasia Permaisuri ketika ia mengirim utusan untuk memanggil Xuyue malam itu.Namun api yang ia maksud, malam ini, belum berwujud kobaran nyata, melainkan kata-kata.Malam turun perlahan di atas Istana Kaisar Langit. Paviliun Timur diterangi cahaya lampu minyak yang berderak lembut, menebarkan bayangan panjang di dinding batu giok.Aroma dupa melayang tipis, menambah kesan damai, meski di balik ketenangan itu tersimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah sutra ungu dengan bordiran naga betina.Senyumnya tampak lembut, seolah penuh kasih, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Ia menunggu dengan sabar, jemarinya mengetuk perlahan meja kayu cendana.Langkah kaki terdengar mendekat. Nihara Xuyue masuk dengan tenang, mengenakan jubah biru pucat sederhana.Rambutnya disanggul rapi, dihiasi giok kecil yang ber

  • Selir Ke-7   Bab 12. Ujian Racun

    Dua hari setelah pengakuan Kaisar di aula, istana tampak tenang di permukaan, namun Xuyue tahu ketenangan semacam itu di tempat ini tidak pernah berarti aman.Langit siang di atas Istana Kaisar Langit tampak tenang, namun di balik dinding-dinding batu giok, badai kecil sedang disiapkan.Di taman dalam yang dikelilingi kolam teratai, sebuah jamuan kecil digelar atas nama keharmonisan antar selir.Meja bundar dari kayu cendana telah disusun rapi, dihiasi bunga plum dan kendi arak manis dari Paviliun Selatan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah merah muda pucat dengan sulaman burung hong.Di sekelilingnya, para selir duduk dalam lingkaran, masing-masing dengan senyum yang tampak manis namun menyimpan duri.Xuyue datang terakhir, mengenakan jubah biru muda yang sederhana. Ia menunduk sopan, lalu duduk di kursi yang disediakan di sisi kanan Permaisuri.Lan Mei berdiri di belakangnya, membawa kipas dan kendi air bunga, matanya sudah waspada sejak melihat siapa saja

  • Selir Ke-7   Bab 11. Perang Dingin di Istana

    Angin malam masih berhembus pelan saat Xuyue berdiri di lorong paviliun Kaisar. Di hadapannya, sosok berjubah hitam dengan topeng perak berdiri diam, hawa dingin menyelimuti sekitarnya.Lentera giok bergoyang pelan, cahayanya memantul di lantai batu giok yang kini terasa seperti medan perang.Penasihat Bayangan tidak bergerak. Ia hanya menatap Xuyue dengan mata redup yang menyala samar.Di tangannya, energi hitam mulai berkumpul, membentuk pusaran kecil yang berdesis pelan.Xuyue melangkah maju, jubah putihnya berkibar pelan. Matanya tajam, tubuhnya tenang, namun aura di sekelilingnya mulai berubah. Udara bergetar, seolah mengenali kekuatan yang selama ini tersembunyi."Jika kau ingin menguji," ucap Xuyue pelan, "maka malam ini, aku akan menjawab dengan cahaya yang kau sembunyikan selama ini."Penasihat Bayangan mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, pusaran energi hitam melesat ke arah Xuyue.Namun sebelum menyentuh tubuhnya, Xuyue mengangkat satu jari, dan cahaya perak menyala dar

  • Selir Ke-7   Bab 10. Malam Pertama

    Ancaman Zhao Ruilan semalam masih menggantung di udara paviliun timur, namun malam ini, di sisi lain istana, sesuatu yang jauh lebih tenang sedang terjadi, seolah dunia sengaja memberi jeda sebelum badai berikutnya datang.Langit malam di atas Istana Kaisar Langit tampak jernih, dihiasi bintang-bintang yang berkelip seperti mata-mata surgawi.Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga plum dan dupa dari paviliun utama. Lentera giok menyala lembut di sepanjang koridor, menciptakan bayangan yang menari di dinding batu giok.Di dalam paviliun Kaisar, suasana berbeda dari biasanya. Para pelayan telah diperintahkan untuk mundur lebih awal, dan hanya lentera kecil yang dibiarkan menyala.Di tengah ruangan, Kaisar Tian Yanzhou duduk di depan meja rendah, mengenakan jubah malam berwarna hitam dengan sulaman naga emas yang tampak hidup di bawah cahaya.Xuyue melangkah masuk dengan gaun putih tipis yang membalut tubuhnya seperti kabut.Rambutnya disanggul setengah, dihiasi jepit giok yang seder

  • Selir Ke-7   Bab 9. Sahabat Palsu

    Jauh di bawah istana, gulungan kuno itu masih tergeletak di atas meja penasihat bayangan, tintanya belum sepenuhnya kering. Namun di atas permukaan, dunia berjalan seolah tidak ada yang berubah.Pagi itu, langit Istana Kaisar Langit diselimuti kabut tipis yang membuat taman-taman giok tampak seperti lukisan tinta. Embun masih menggantung di kelopak bunga plum, dan suara burung langit terdengar samar dari kejauhan.Di koridor paviliun timur, langkah Zhao Ruilan terdengar pelan namun mantap.Ia mengenakan jubah biru lembut, rambutnya disanggul rapi dengan hiasan giok kecil. Wajahnya dihiasi senyum hangat, matanya tampak bersinar seolah dipenuhi niat baik.Dayang-dayang yang lewat menunduk hormat, namun beberapa dari mereka saling bertukar pandang, tahu bahwa senyum itu bukanlah senyum biasa.Ruilan berhenti di depan paviliun Selir Ke-7. Ia menatap pintu kayu berukir awan, lalu mengetuk pelan."Selir Xuyue," ucapnya lembut, "bolehkah aku masuk sebentar? Aku membawa teh plum dari taman b

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status