بيت / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 10. Malam Pertama

مشاركة

Bab 10. Malam Pertama

مؤلف: Ershita
last update تاريخ النشر: 2026-09-19 14:10:32

Ancaman Zhao Ruilan semalam masih menggantung di udara paviliun timur, namun malam ini, di sisi lain istana, sesuatu yang jauh lebih tenang sedang terjadi, seolah dunia sengaja memberi jeda sebelum badai berikutnya datang.

Langit malam di atas Istana Kaisar Langit tampak jernih, dihiasi bintang-bintang yang berkelip seperti mata-mata surgawi.

Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga plum dan dupa dari paviliun utama. Lentera giok menyala lembut di sepanjang koridor, menciptakan bayangan yang
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Selir Ke-7   Bab 16. Malam Rahasia

    Malam menjemput istana dengan selimut kabut tipis. Suara organ kecil di aula mereda, koridor yang kemarin penuh tawa kini sunyi. Xuyue menunggu hingga langkah terakhir meredup, lalu menyingkap tirai jendela paviliunnya."Ini malam yang tepat," batinnya, merasakan denyut energinya yang samar. Ia menuruni tangga rahasia yang hanya diketahui beberapa orang di istana, tempat yang pernah ditunjukkan Leluhur sekilas.Setelah menutup lubang rahasia dengan kain, ia menyelinap melintasi koridor servis menuju gerbang belakang.Ia berjalan melewati dapur kosong dan gudang terkunci, langkahnya senyap, napasnya tertahan. Ia tidak lagi berpura-pura menjadi Selir Ke-7 yang rapuh, malam memberinya kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.Di gerbang belakang, taman kecil yang jarang digunakan terbentang di hadapannya. Ia menutup mata, memperluas indera ruhnya. Ada residu energi yang berbeda dari bekas ritual biasa, jejak formasi yang tersisa, garis halus berputar seperti sarang laba-laba.Jejak itu me

  • Selir Ke-7   Bab 15. Permainan Sosialita

    Ruangan jamuan terang oleh lentera emas yang tergantung rapi, tetapi cahaya itu tidak mampu menghangatkan suasana.Di bawah permukaan keramahan terdapat arus yang tajam, seperti deretan pisau tipis yang menunggu satu gerakan salah untuk melesat.Xuyue melangkah masuk, setiap geraknya terkalkulasi, jubahnya sederhana namun potongan kainnya mengikuti lekuk yang membuat banyak mata menoleh terlalu lama.Ia berjalan seperti orang yang tahu bagaimana sebuah senyum bisa menjadi tombak, dan bagaimana diam bisa menjadi perisai.Lian Qixue menyambutnya terlebih dahulu, raut wajahnya manis namun matanya memeriksa seperti orang yang menimbang kualitas perhiasan."Selir Ke-7, kau datang tepat waktu," katanya, suaranya halus namun mengandung nada yang berlapis.Di sekeliling, Mo Yanyu memperlihatkan kepedulian yang dibuat-buat, Zhao Ruilan menampilkan keramahan yang terlalu cepat, Han Feixia memancarkan ketegangan yang siap meledak, Yu Shuangli menunjukkan dingin yang meremehkan, dan Jin Meiqin me

  • Selir Ke-7   Bab 14. Bayangan Misterius

    Ancaman Permaisuri malam itu masih terngiang di telinga Xuyue, namun malam berikutnya, bahaya yang datang tidak lagi berbentuk kata-kata, melainkan bayangan bersenjata yang bergerak di taman belakang istana.Malam di Istana Kaisar Langit terasa lebih pekat dari biasanya. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, seolah langit sendiri menahan napas.Di balik dinding-dinding tinggi, kesunyian hanya dipecahkan oleh suara langkah para penjaga yang berpatroli.Xuyue berdiri di balkon paviliunnya, menatap bulan yang menggantung pucat di langit.Lan Mei sudah tertidur di ruang dalam, namun matanya sendiri enggan terpejam. Ada sesuatu yang mengusik, sebuah firasat yang tidak bisa ia abaikan."Terlalu tenang," batinnya. "Dan ketenangan seperti ini biasanya hanya mendahului badai."Tiba-tiba, suara samar terdengar dari arah taman belakang. Seperti desir kain yang menyentuh dedaunan, lalu disusul dentingan logam yang nyaris tak terdengar. Xuyue menajamkan pendengaran, tubuhnya menegang.Bayanga

  • Selir Ke-7   Bab 13. Senyum Permaisuri

    Gulungan hitam bertuliskan "jika racun tidak cukup, maka api harus menyala" masih tersimpan rapi di laci rahasia Permaisuri ketika ia mengirim utusan untuk memanggil Xuyue malam itu.Namun api yang ia maksud, malam ini, belum berwujud kobaran nyata, melainkan kata-kata.Malam turun perlahan di atas Istana Kaisar Langit. Paviliun Timur diterangi cahaya lampu minyak yang berderak lembut, menebarkan bayangan panjang di dinding batu giok.Aroma dupa melayang tipis, menambah kesan damai, meski di balik ketenangan itu tersimpan ketegangan yang sulit disembunyikan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah sutra ungu dengan bordiran naga betina.Senyumnya tampak lembut, seolah penuh kasih, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Ia menunggu dengan sabar, jemarinya mengetuk perlahan meja kayu cendana.Langkah kaki terdengar mendekat. Nihara Xuyue masuk dengan tenang, mengenakan jubah biru pucat sederhana.Rambutnya disanggul rapi, dihiasi giok kecil yang ber

  • Selir Ke-7   Bab 12. Ujian Racun

    Dua hari setelah pengakuan Kaisar di aula, istana tampak tenang di permukaan, namun Xuyue tahu ketenangan semacam itu di tempat ini tidak pernah berarti aman.Langit siang di atas Istana Kaisar Langit tampak tenang, namun di balik dinding-dinding batu giok, badai kecil sedang disiapkan.Di taman dalam yang dikelilingi kolam teratai, sebuah jamuan kecil digelar atas nama keharmonisan antar selir.Meja bundar dari kayu cendana telah disusun rapi, dihiasi bunga plum dan kendi arak manis dari Paviliun Selatan.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi utama, mengenakan jubah merah muda pucat dengan sulaman burung hong.Di sekelilingnya, para selir duduk dalam lingkaran, masing-masing dengan senyum yang tampak manis namun menyimpan duri.Xuyue datang terakhir, mengenakan jubah biru muda yang sederhana. Ia menunduk sopan, lalu duduk di kursi yang disediakan di sisi kanan Permaisuri.Lan Mei berdiri di belakangnya, membawa kipas dan kendi air bunga, matanya sudah waspada sejak melihat siapa saja

  • Selir Ke-7   Bab 11. Perang Dingin di Istana

    Angin malam masih berhembus pelan saat Xuyue berdiri di lorong paviliun Kaisar. Di hadapannya, sosok berjubah hitam dengan topeng perak berdiri diam, hawa dingin menyelimuti sekitarnya.Lentera giok bergoyang pelan, cahayanya memantul di lantai batu giok yang kini terasa seperti medan perang.Penasihat Bayangan tidak bergerak. Ia hanya menatap Xuyue dengan mata redup yang menyala samar.Di tangannya, energi hitam mulai berkumpul, membentuk pusaran kecil yang berdesis pelan.Xuyue melangkah maju, jubah putihnya berkibar pelan. Matanya tajam, tubuhnya tenang, namun aura di sekelilingnya mulai berubah. Udara bergetar, seolah mengenali kekuatan yang selama ini tersembunyi."Jika kau ingin menguji," ucap Xuyue pelan, "maka malam ini, aku akan menjawab dengan cahaya yang kau sembunyikan selama ini."Penasihat Bayangan mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, pusaran energi hitam melesat ke arah Xuyue.Namun sebelum menyentuh tubuhnya, Xuyue mengangkat satu jari, dan cahaya perak menyala dar

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status