Home / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Surat Yang Dicuri

Share

Surat Yang Dicuri

Author: Melati Lu
last update publish date: 2026-07-13 18:14:14

Bab 27

"Itu semua surat yang kutulis selama satu tahun terakhir," ucapku pelan sambil memegang erat bundel kertas yang menguning itu.

Mata Kaisar tertuju lekat-lekat pada tumpukan surat di tanganku. Rahangnya seketika mengeras, otot kecil di pipinya berkedut menahan emosi yang meluap.

"Satu tahun terakhir..." ulangnya pelan. Kata-kata itu terasa berat, seolah perlahan menumpuk di setiap sudut ruangan seperti debu halus.

Ia menatap tumpukan itu—begitu teb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Selir Yang Terlupakan   Perayaan Kepulangan Dari Selatan

    Bab 135 Tawa Hongwu terdengar tulus kali ini — suara yang hangat dan bergema pelan, seakan membuat burung-burung di pohon willow ikut terdiam. Ia menatapku, benar-benar menatapku, dan di matanya terpancar kepastian yang teguh dan indah, sepenuhnya percaya pada janji yang baru saja terucap. "Hati-hati, Lianhua," katanya sambil tersenyum geli. "Dunia di luar taman ini tak selembut tempat ini. Mereka akan berbisik di belakang punggung. Mereka akan menyusun rencana. Mereka akan berusaha mencari celah di setiap perbuatanmu." Ia mengulurkan tangan, menyelipkan helaian rambut ke belakang telingaku. Sentuhannya lembut namun terasa membekas di kulit. "Namun biarlah mereka mencoba," tambahnya, secercah kilatan tajam dan berbahaya kembali menyala di matanya. "Aku justru ingin melihat siapa yang berani mencoba menghalangi langkahmu." Hongwu menegakkan tubuh kembali, namun tangannya tak pernah melepaskan genggamanku. Momen kelembutan yang sunyi i

  • Selir Yang Terlupakan   Penaklukan Sebuah Hati

    Bab 134 Napas Hongwu tercekat pelan, suara itu nyaris tak terdengar di antara desir angin. Kedekatannya memabukkan — aroma tubuhnya yang bercampur wangi bunga taman menyusup lembut ke dalam napasku. Tangannya perlahan beralih dari pipiku ke tengkukku, jari-jarinya menyisir lembut rambutku di sana. "Penaklukan yang tak menuntut setetes darah pun," bisiknya, suaranya merendah menjadi nada yang dalam dan penuh keinginan. "Yang tak memerlukan perang, tak perlu merebut tanah demi tanah." Tatapannya menatapku lekat-lekat, menyala dengan kerinduan yang jauh lebih besar daripada sekadar hasrat fisik. Ia memiringkan kepalanya pelan, bibirnya hanya berjarak sehelai rambut dariku. "Aku ingin menaklukkan hatimu, Lianhua. Setiap rahasia yang kau simpan, setiap ketakutan yang kau sembunyikan, setiap kebahagiaan yang kau pendam selama empat tahun ini. Aku ingin semuanya. Tak ada yang tersisa." Ia berhenti sejenak, matanya meneliti wajahku, mencari

  • Selir Yang Terlupakan   Penaklukan Yang Berbeda

    Bab 133 Lady Xiwu tetap berdiri mematung di tempatnya. Matanya tertuju padaku — bukan dengan rasa hormat, melainkan dengan kebencian yang sedingin es dan penuh perhitungan yang membuat udara di ruangan itu seakan menegang. Hongwu menyadarinya. Tak satu pun hal kecil di hadapannya luput dari perhatian. "Nyonya Xiwu," suaranya terdengar datar, dingin, tanpa secercah kehangatan pun. Tubuh Xiwu menegang kaku. Dagu sedikit terangkat sebelum ia membungkuk — namun gerakannya dangkal, sekadar formalitas yang tak tulus sama sekali. "Yang Mulia?" "Sepertinya kau lupa tempatmu," ucap Hongwu. Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan yang berat dan tak terbantahkan. "Sidang telah dibubarkan. Silakan ikut yang lain pergi." Rahang Xiwu mengeras. Tatapannya kembali melesat ke arahku — satu kali pandangan yang penuh ancaman janji kesulitan di masa mendatang — sebelum ia berbalik. Jubah sutranya berkibar tajam di belakangnya, seakan cambuk yang m

  • Selir Yang Terlupakan   Mahkota Yang Tak Terduga

    Bab 132 Transformasinya sempurna dan teliti. Sutra merah tua yang berat dan mewah menyelimuti tubuhku, sulaman benang emas berbentuk burung phoenix menangkap setiap kilatan cahaya lilin dan sinar matahari yang masuk, berkilauan di setiap gerakanku. Jepit rambut giok ditempatkan dengan presisi, menyusun rambutku menjadi gaya anggun yang memanjangkan leher dan membingkai wajahku dengan sempurna. Akhirnya, pelayan yang memegang kalung mutiara berjalan maju. Ia mengalungkannya di leherku — batu-batu dingin dan halus itu bertumpu di tulang selangka, ringan namun terasa seperti beban yang penuh makna. "Anda tampak seperti Permaisuri, Nyonya Lianhua," pelayan yang lebih tua menghela napas kagum, mundur selangkah untuk mengagumi hasil kerja mereka. Suaranya tulus dan penuh hormat. Pelayan yang lebih muda menyerahkan cermin perunggu kecil yang dipoles hingga berkilau. "Yang Mulia pasti akan sangat senang." Di luar pintu, suara istana mulai te

  • Selir Yang Terlupakan   Pulang Dari Selatan, Menghadap Dunia

    Bab 131 "Hanya malam ini saja?" Nafas Hongwu tercekat. Jari-jarinya menelusuri wajahku, sedikit menegang di rambutku seakan takut aku akan lenyap jika ia melepaskanku. "Bukan hanya malam ini," koreksinya, suaranya rendah dan mantap. "Setiap malam. Selama kau masih memilikiku." Ia mencondongkan tubuh, dahinya menempel di keningku, matanya terpejam saat menarik napas perlahan dan dalam. Bobot kata-katanya terasa padat dan nyata di antara kami. "Aku menghabiskan empat tahun sendirian di istana yang penuh orang," bisiknya pelan. "Aku tak ingin mengulanginya lagi." Ia membuka matanya, menatapku dengan kerentanan yang akan membuat seluruh istana ternganga. "Lianhua..." ucapnya, namaku terdengar seperti sumpah suci di bibirnya. "Tetaplah bersamaku. Bukan hanya untuk malam ini. Selalu." "Ya. Tentu saja." Hongwu tak berkata apa-apa lagi. Pelukannya yang menjawab — menarikku erat ke tubuhnya, menyelipkan

  • Selir Yang Terlupakan   Dua Sisi Mata Uang Yang Sama

    Bab 130 Hongwu bangkit dari posisi kaku seketika, seakan beban batu baru saja terangkat dari pundaknya. Ia meraih lukisan kedua itu, gerakannya penuh kehati-hatian, lalu mengangkatnya ke arah cahaya lilin yang lembut. Napasnya tercekat. Lukisan ini berbeda. Garis-garisnya lebih tajam, bayangannya lebih dalam. Pria di atas kertas itu memiliki rahang keras seperti granit dan mata yang tampak mampu menembus baja. Ini adalah Kaisar yang dingin, yang jauh, yang memerintah dari atas takhta — sosok yang ditakuti jutaan orang. Dan lukisan itu sempurna. "Kau berhasil menangkapnya," katanya, suaranya kembali hangat dan alami. "Versi diriku yang dilihat dunia luar." Ia meletakkan lukisan itu di samping lukisan pertama. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam menatap keduanya berdampingan — dua pria di atas meja, dua wajah pada satu jiwa. Yang satu lembut dan rentan, yang lain keras dan tak tersentuh. "Dua sisi mata uang yang sama,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status