Tiga tahun kemudian, Aza menyusul kepergian Nenek.
Sekitar tiga sampai empat bulan setelah kematian Nenek, tiba-tiba kondisi Aza menurun. Dia tidak terlihat punya penyakit, dan—dia dokter paling hebat yang pernah kutahu. Namun, dia tidak berdaya menghadapi serangan penyakit itu. Sejauh yang kuingat, tidak pernah ada yang sakit di antara kami sebelum hari ketika Nenek kehilangan gerak motorik. Aza yang punya pengetahuan ramuan dan obat-obatan—yang aku tahu Nenek juga mahir karena dia yang mengajarinya—entah bagaimana tidak berdaya menghadapi masa-masa itu.
Dan kurasa itu yang terjadi pada Aza empat bulan setelah kepergian Nenek.
Sepeninggal Nenek, kami sering berburu hewan liar—maksudku, ya, kami memang punya banyak hewan ternak, tetapi Aza bilang, “Kita harus melihat semua yang bisa kau lakukan di alam liar,” seolah-olah dalam suatu masa setelah tidak ada Nenek, dia tahu waktunya juga akan tiba. Jadi, dia berusaha membuatku siap.
Barangkali itu yang membuat kami lengah. Maksudku, kami hanya berburu di alam liar—yang secara teknis, berada di kedalaman hutan, dan mau seberapa halusnya alam liar, alam liar tetaplah alam liar. Jadi, barangkali Aza terkontaminasi virus yang tersebar di lingkungan, dan—ya, tidak ada obat untuknya.
Aku tidak menyadari itu sampai tiba-tiba Aza terjatuh setelah memanah satu kelinci di semak-semak. Aza punya tingkat akurasi tinggi masalah menembak dan memanah. Sejauh ini, aku tidak pernah melihatnya meleset. Jadi, ketika dia meleset, aku tahu ada yang tidak beres. Aku membopongnya, ketika mendengarnya berkata, “Sepertinya aku tidak fit.”
“Aku sudah bilang kita tidak perlu berburu,” kataku.
“Aku,” entah bagaimana napasnya berat, “hanya perlu istirahat.”
“Baiklah. Kuharap itu sungguhan.”
Namun, sejak itu Aza semakin lemah. Dia semakin mirip Nenek, seolah-olah energi dalam dirinya mulai terserap habis oleh sesuatu. Dalam suatu masa yang tidak ingin kumengerti, dia pernah terlihat begitu samar—layaknya sebagian tubuh yang jelas-jelas punya kulit itu memudar, tembus pandang, atau... kau tahu, saat itu aku seperti bisa melihat menembus apa yang ada di balik tubuhnya. Saat dia hanya terbaring, aku seperti melihat dia melayang. Tentu aku tak mau berpikir yang aneh-aneh, jadi kupikir saat itu aku hanya terlalu lelah—maksudku, ya, aku menjadi satu-satunya yang bisa bergerak, yang, secara teknis, harus melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasanya dilakukan dua orang, plus, merawat Aza dan terus melakukan latihan rutin—naik turun gunung setiap kemunculan dan hilangnya matahari. Jelas, aku berpikir hanya sedang kelelahan.
Hanya saja, sepertinya Aza punya sesuatu yang disembunyikan dariku. Aku bisa sedikit mengerti itu ketika latihan terakhir kami beberapa minggu sebelum dia tidak bisa lagi mengawasi latihanku secara rutin.
Jadi, saat itu kami di tanah lapang depan pondok, Aza menghunuskan ujung pedang perunggu runcingnya ke perutku, dan aku melompat—tetapi Aza lebih dulu memikirkan gerakanku karena tiba-tiba dia mengayunkan pedang ke atas.
“Berapa kali kubilang jangan seenaknya melompat?” tuntutnya.
Sayangnya, itu rencanaku, dan sayangnya lagi, rencana Aza lebih hebat.
Ketika aku di udara, Aza mengayunkan pedang ke samping tubuhku, dan tepat ketika itulah aku melakukan rencana: menangkisnya, dan di waktu yang sama memakainya sebagai tumpuan untuk berputar menyerang. Satu tanganku bebas, dan tepat ketika itulah aku mengayunkan belati yang kusembunyikan di ikat pinggang. Selama sepersekian detik, aku yakin belatiku akan menebas kepalanya, tetapi gagal. Aza mengangkat pedang—yang secara teknis adalah tumpuanku, lalu sekonyong-konyong membantingku begitu saja.
Aku mengerang. “AKH!”
Dan Aza menghunus pedang di atasku.
Jadi, aku menyerang tangan kanannya, dan berhasil. Perhatiannya langsung teralih untuk menangkis. Aku bangkit, sementara Aza memutar pergelangan tangan semudah memutar baut, segera menyerang atas kepalaku.
Aku berputar ke sebelah kiri, tetapi tiba-tiba Aza menendang kakiku sampai aku terbanting lagi. “AKH!” erangku. “LAGI?”
“Bangun!”
Pedang kami tertangkis. Bunga api beterbangan.
Aku bangun, tetapi itu hanya untuk melihat mata pedang Aza sudah di depan mataku lagi. Maka itu terjadi: waktu melambat. Gerakan tangan Aza seperti bersiap melakukan empat tusukan ke kepala. Jadi, aku bergerak ke samping, dan saat waktu kembali normal, serangan Aza menembus tanah kosong. Dia terkejut. Dalam jeda singkat itu, aku berniat menjegalnya, meniru gerakannya, tetapi gagal.
Dia melompat, menekuk lututnya di udara, langsung mencondongkan bobot ke depan. Aku masih berusaha memproses, ketika tendangannya terlihat mengincar kepalaku. Jadi, aku mengangkat lengan kiri, dan kedua tulang kami bertumbukan sangat keras. Suara benturan terdengar begitu menyakitkan. Itu membuatku hampir jatuh, tetapi Aza belum berhenti. Dia bersiap menyerang, jadi aku berputar sambil menjaga titik keseimbangan, langsung melompat ke arahnya.
Aza memutar pedangnya. “Ceroboh!”
Pedangnya terayun ke garis perutku. Tanganku masih sibuk menangkisnya, sementara satu tanganku bebas. Jadi, aku melebarkan telapak tangan, lalu memutar pergelangan tangan ketika Aza tidak menyadarinya.
Di sisi lain, aku membuat pedangnya sebagai tumpuan tubuhku berputar ke atasnya—lagi. Aza berseru, “Sudah kubilang jangan sembarangan!”
Aza sepertinya berniat melompat dan menebasku, tetapi kakinya tertahan. Begitu dia menyadarinya, kakinya sudah terlilit rumput yang memanjang.
“Rumput?” ucapnya, tidak percaya.
Aku memutar pergelangan tanganku lagi, rumput itu semakin mengikat kuat kakinya. Aku mendarat sukses di belakangnya, punggungnya terbuka lebar.
Dalam sedetik, aku langsung meluncur bersiap menusuk punggungnya. Aku mengerahkan tenaga, tetapi lima senti sebelum menyentuh punggung terbuka itu, seberkas angin muncul di depan mataku, menyerang, menghempaskanku kelewat keras—melemparku sampai hampir menabrak batang pohon.
Aku terbanting, terguling berkali-kali sebelum gaya gesek menghentikanku.
Mataku terkejap, berusaha melihat Aza jauh di depan sana.
“Sepertinya cukup?” ucap suaranya. Dia terlihat menyarungkan pedangnya, menghampiriku. “Jangan pakai kemampuan khusus, dong.”
“Sakit,” erangku.
“Ayolah, Jagoan.” Dia menarikku bangkit, menepuk punggungku.
Barangkali kami saling mengenal sejak lama, tetapi ketika Aza punya codet di bawah pipinya, entah bagaimana membuatnya terlihat jauh lebih tidak tergapai. Rambut hitamnya juga kelihatan semakin berantakan. Dia semakin terlihat garang. Ketika senjata di tangannya, dia selalu mengikat rambutnya membentuk simpul ke belakang. Di punggungnya selalu ada anak panah dan busur, plus di pinggangnya berurutan dari kanan: pedang dan belati. Dia mampu menebas sekaligus menembak sangat akurat. Dan... dia kelewat manis, yang dalam artian aku tidak pernah melihat cewek lain, itu valid. Aza pernah bilang kalau aku harus punya pacar yang lebih manis darinya, tetapi aku bahkan tidak punya gagasan untuk pergi.
Jadi, aku menghela napas. “Hukuman?”
“Tidak perlu,” katanya, tersenyum seperti biasanya. “Aku justru kagum kau bisa melakukan itu saat sibuk menangkis. Omong-omong, kau makin tinggi, ya.”
Dibilang seperti itu, aku memang sedikit lebih tinggi. “Hm... hebat.”
“Kau makin keren saja.”
“Kuharap begitu.”
Aza mengamatiku. Barangkali karena aku tidak merespons dengan lelucon, dia mulai curiga. Aku berani sumpah kalau dia mampu melihat menembus apa yang seharusnya tidak bisa dia lihat. “Ada yang mengganggumu?” tanyanya.
“Ng,” kataku. “Iya, ada.”
“Mimpi?”
“Iya.”
“Soal ingatan pertemuan pertama kita?”
“Iya.”
Jadi, sekarang Aza yang menghela napas panjang, duduk di selasar pondok, menepuk lantai sebelahnya. “Duduk denganku.”
Aku duduk, dan dia bilang, “Aku tidak bisa bilang itu baik, tapi sebenarnya itu bukti kalau kau masih punya ingatan masa lalu.”
“Astaga, langsung bicara serius. Apa maksudmu?”
“Maksudku, bayangkan saja, otakmu tidak bisa ingat apa-apa, tapi tiba-tiba dalam tidurmu kau melihat adegan asing, tapi kau juga merasa dekat,” kurasa itu lumayan kena tepat sasaran. “Jadi, Forlan, itu keistimewaan kita—bukan pemilik kemampuan—tapi kita. Kemampuan kita didukung alam. Alam ini punya semacam roh yang selalu membantumu. Dan seiring berkembangnya kemampuan yang kau miliki, roh alam juga menyambutmu dalam dunianya.”
“Jadi, aku dibantu sama hantu?”
“Itu juga yang kupikirkan waktu pertama kali diberitahu kalau aku dibantu roh alam,” dia tertawa. “Tapi aku bersyukur kau bisa menggunakan kemampuanmu. Kemampuan kita persis sama, tapi sejujurnya aku jail, dan—”
“Aku tahu betul itu,” potongku.
“Oke, iya, kau tahu betul soal itu. Tapi kemampuan ini butuh orang-orang yang berhati bersih. Meski aku jail, aku tidak menggunakan kemampuan ini ke arah buruk. Aku yakin hatimu bersih, meski selalu berharap melihat perempuan cantik. Jadi, aku yakin kau bisa lebih kuat dariku.”
Sejujurnya aku ingin berkomentar bagian melihat perempuan cantik, tetapi aku bertanya, “Jadi, di luar sana memang ada manusia lain?”
“Aku tahu kau bosan denganku sampai begitu inginnya melihat cewek lain.”
“Bukan itu maksudku,” desisku.
“Iya, iya. Tapi mimpimu, kan, sudah menjawabnya.”
“Di kota yang berbau busuk itu?”
“Yang tidak pernah melihat matahari,” sambungnya, menyepakati.
“Dan hanya ada lampu,” lanjutku.
“Seolah tertutup oleh sesuatu dan terpendam,” sambungnya lagi. “Aku tidak terlalu yakin tentang itu, tapi kau pasti bisa kembali suatu hari nanti.”
“Berarti kau tahu di mana manusia berada?”
“Tentu. Kalau tidak, aku tidak bisa membawamu kemari.”
Aku heran bagaimana dia bisa lebih banyak bicara dari biasanya. Kalau ini hari-hari normal, biasanya dia membuat lelucon, tetapi aku merasa ini berbeda, jadi aku bertanya, “Boleh aku tahu kenapa kau menyelamatkanku?”
Dia tersenyum, sekilas terlihat begitu tulus, tetapi auranya memancar begitu pilu, seolah dia tengah mengingat momen paling indah—tetapi juga menyedihkan. “Kau mau tahu sesuatu yang jahat? Aku bukan menyelamatkanmu.”
Aku tersinggung, tetapi berusaha menerima itu. “Lalu?”
“Aku menyelamatkan harapan.” Kali ini dia tersenyum, yang benar-benar ditujukan padaku. “Kau tahu, Forlan? Aku kesepian. Aku seperti dilahirkan menjadi petarung garis depan, yang hanya diprogram untuk menyelamatkan apa yang harus kuselamatkan, bertarung untuk semua yang harus kubela, dan melindungi sebanyak yang harus kulindungi. Aku tidak sempat memikirkan semua yang dirasakan orang-orang. Sesuatu seperti memiliki orang yang kusayangi, menggantung harapan pada orang-orang yang ingin memilikiku—aku tidak pernah merasakan itu.”
Aku ingin membalas, tetapi entah bagaimana benakku melarang. Barangkali aku berusaha mengenyahkan keheranan seolah dia seperti nenek-nenek yang sudah hidup puluhan tahun—memiliki penyesalan teramat dalam sampai dikutuk menjadi anak kecil yang bisa mengulang kehidupannya.
“Aku bukan harapan,” kataku.
“Bukan kau yang berhak memutuskan, tapi aku.”
“Itu tidak masuk akal.”
“Saat aku melihatmu,” kenangnya, “aku merasa sudah melakukan kesalahan besar. Aku tidak yakin siapa yang harus kubela. Aku tidak yakin kenapa aku sudah mengorbankan banyak hal. Dan kupikir aku muak melihat orang-orang idiot seperti menguasai tempat yang harusnya penuh cahaya. Jadi, aku menyelamatkanmu, yang aku tahu kau juga akan memberiku sebanyak yang kumau.”
“Apa?” sahutku. “Apa yang bisa kuberikan padamu?”
Aza menatapku layaknya menemukan apa yang dia inginkan. Dia terlihat begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. “Kedamaian.”
Aku menggeleng. “Aku tidak mengerti.”
“Kau pasti mengerti.” Sorot mata penuh binar pilu itu kembali melihat hutan pinus. “Menyelamatkanmu. Kurasa itu hal terbaik yang pernah kulakukan. Forlan, aku sungguh bahagia bertemu denganmu.”
Angin berembus.
Tirai keheningan menutup pembicaraan kami.
Atau lebih tepatnya, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Sejauh kami tinggal bersama, Aza belum pernah seterbuka ini. Dia jarang menjawab pertanyaan yang menyinggung tentang dirinya. Dia tidak pernah banyak bercerita semua yang pernah dia alami—meski aku yakin usia kami benar-benar hanya terpaut dua atau tiga tahun. Dan aku tahu tiga tahun bukan waktu yang bisa membuat dia terkesan begitu dewasa—tetapi dia pernah menyinggung perang, dan kurasa bukan hal yang mustahil kalau dia punya kenangan buruk. Kurasa aku mengerti mengapa dia bisa seperti ini: dia sudah melihat banyak hal buruk dalam masa kecilnya.
Yang barangkali juga akan kurasakan kalau aku mengingat apa yang terjadi selama masa kecilku. Aku membayangkan apa yang kulihat di mimpi itu, dan aku merasa Aza menjadi orang pertama yang mau berdiri di sisi bocah kecil yang lusuh hanya untuk melindunginya. Karena itu, tidak peduli apa yang diucapkan Aza saat ini, semua yang dia lakukan padaku tidak akan pernah tergantikan. Mau dia bilang tidak menyelamatkanku, itu tak akan mengubah kenyataan bahwa selama bertahun-tahun damai ini dia melindungiku. Dia selalu menegaskan itu tanpa kata-kata.
Maka aku mengepalkan tangan, menggumamkan tekad.
“Aza.”
“Ya?”
“Sejujurnya aku tidak mau ingat masa laluku.”
“Kenapa tidak? Kau tidak mau ingat keluarga aslimu?”
“Mungkin hanya sakit yang kurasakan. Keluargaku ada di pondok ini.”
Aza terdiam. Mungkin dia juga ingat apa yang terjadi saat menemukanku.
Seburuk-buruknya pengetahuanku tentang gang kecil tempat aku ditemukan itu, aku tahu kalau barangkali bocah kecil delapan tahun itu sudah menetap di dalam dinginnya kegelapan selama berbulan-bulan lamanya. Dengan kondisi yang begitu memprihatinkan—penuh luka lebam, kurus kering, baju compang-camping, wajah kehilangan harapan hidup—mana mungkin aku punya masa lalu yang bisa diingat dengan canda tawa lebar. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada orang tuaku, tetapi kalau dibolehkan memilih, aku akan membiarkan ingatan itu hilang, hanya untuk membuat semua memori yang kuukir bersama Aza dan Nenek terus membekas jauh di dalam benakku. Jadi, ketika tiba hari di mana aku bisa membicarakan masa lalu, aku hanya akan menceritakan betapa menyenangkannya membakar ikan di tengah satu hutan pinus yang hening, dingin, tetapi juga menghangatkan.
Aku sadar apa yang kutakuti: aku tidak mau memori ini berakhir.
Ketika Nenek pergi, aku tahu semua tidak akan terasa seperti dulu. Pondok yang selalu menyambutku ini, entah bagaimana kehilangan seberkas cahaya. Ketika sekujur tubuhku bersimbah keringat setelah berlari menyusuri gunung, aku masih bisa membayangkan adanya dua orang yang menanti di beranda pondok, menatap matahari terbit yang menembus dahan-dahan pinus sembari mengangkat dua gelas jus dingin—dengan Nenek yang mengupas buah dari pohon, dan Aza yang tertawa, “Mau pingsan?” katanya. Ya. Tentu saja aku masih ingat memori-memori itu ketika duduk di beranda yang sama dalam pondok yang diterpa mentari terbit. Semua itu masih dalam tempat yang sama—aku masih dalam ruang-waktu yang sama.
Namun, kini, ketika aku duduk bersama Aza, menatap ke arah yang persis sama seperti ingatan itu, aku merasa penuh pilu. Kami kehilangan, dan mau berapa lama itu berlalu, keberadaan Nenek yang hilang selalu dipaksa tetap hadir di tengah kebersamaan seolah tidak satu pun dari kami ingin pergi dari memori indah.
“Aku pasti bisa jadi lebih kuat darimu,” kataku. “Karena itu, tunggu.”
“Iya,” gumamnya. “Kutunggu, kok. Mau berapa lama?”
“Secepatnya.”
“Kau yang paling tahu aku benci pembohong.”
“Iya. Tapi kalau kau tahu manusia, berarti kau tahu masa laluku, kan?”
Aku benci pertanyaan mendadak, tetapi aku perlu mengatakannya. Hanya saja, Aza yang kukenal bisa menyembunyikan itu sebaik mungkin. Dia hanya mulai memunculkan senyum kecil, membiarkanku menatap ke bola matanya yang penuh rahasia. “Tidak tahu. Tapi aku selalu memerhatikanmu jauh lebih hebat dari yang kau kira. Kau ingat saat kembali dari lari pagi dan sikumu penuh darah yang kau bilang diserang monyet dan kau mengalahkannya?”
“...ingat.”
“Dan kau ingat siapa yang menangis saat itu?”
Aku terdiam sejenak. “Kau.”
“Jadi, aku yakin kalau kita bisa bertemu lebih cepat, aku juga akan segera membawamu pergi, agar kita bisa merasakan kehidupan ini jauh lebih lama. Kita bisa lebih lama bercanda tawa dengan Nenek, dan bahagia.”
Aku kehilangan kata-kata begitu saja.
Namun, dalam hening, aku selalu mempelajari pola bicara Aza. Kalau dia terpojok, dia selalu membungkamku dengan kata-kata yang tidak akan bisa kubalas karena kalau aku terus membalas, satu-satunya yang terluka adalah Aza. Barangkali dia akan mulai menangis, dan aku tidak akan sanggup menghadapi situasi itu. Jadi, ketika dia mengatakan itu, aku tahu Aza menyembunyikan banyak hal, yang kurasa dalam suatu masa juga membuatku sadar kalau dia memang tidak mengizinkanku untuk tahu. Itu kebohongan yang aku yakin dia buat untuk melindungiku. Terlepas dari apa yang terjadi, aku punya utang budi yang tidak bisa dibalas padanya.
Kalau begitu, siapa sebenarnya Aza?
Dan mengesampingkan semua perilakunya yang penuh rahasia, dia berhasil membuatku mengingat semua yang perlu kuingat. Barangkali seperti yang Nenek bilang, Aza tahu apa yang lebih baik untukku lebih dari siapa pun. Jadi, tentu aku tidak mau kehilangan orang yang benar-benar bisa peduli padaku melebihi apa yang kubayangkan. Aku tidak mau kehilangan dia.
Jadi, ketika mengetahui Aza akan pergi, aku tidak bisa menerima itu.
Aku tidak siap, dan tidak akan pernah siap.
Dan aku menyesal bahwa ketika hari perpisahan kami benar-benar tiba, aku tidak mempersiapkan diri hanya untuk mengucap selamat tinggal dengan baik.
Aku terlelap sembari memeluk erat Fal. Tampaknya Fal sampai terbangun karena tiba-tiba aku memeluknya erat. Jemari Fal mendadak terulur ke pipiku dan dengan mata setengah terpejam, Fal berkata, “Forlan... tidur.”“Hm-mm.” Aku mengangguk. “Selamat tidur, Fal.”Di hari ulang tahun Ibu, aku pernah memberi selendang kuning padanya.Tentunya rajutan sendiri—meski bukan aku yang merajutnya. Aku sempat berniat merajut sendiri, tetapi untuk anak sangat kecil, itu hal paling mustahil. Bibi memergokiku memegang jarum dan menjerit-jerit seolah jarum bisa membunuh sampai ke lapisan paling dalam. Bibi menginterogasi mengapa aku sampai berani membongkar peralatan menjahit Ibu dan memegang jarum kecil. Kubilang aku ingin menghadiahkan Ibu selendang rajutan sederhana.“Anak empat tahun memangnya bisa merajut?” tuntut Bibi, nyaring.“Aku lima tahun!”“Buat Bibi, Forlan itu masih empat ta
Aku menjenguk Reila. Di ruangannya ada Tara, tetapi tidak ada Fal.Tara cemas padaku. Dia bertanya beberapa hal, dan aku menjawab semua. Itu membuatnya memutuskan bahwa aku lebih baik dari yang dia bayangkan. Aku tertawa, berkata, “Berarti kau membayangkan kondisiku sangat buruk.”Tara tidak terlalu tertawa. Biasanya dia tertawa. Dia memerhatikanku. Tara adalah penghuni yang lebih jujur dari Dokter Gelda. Diperhatikan seperti itu oleh Tara membuat dinding pelindung benakku hampir runtuh.“Aku baik-baik saja,” kataku. “Sejauh ini aku baik-baik saja.”“Aku tim medis, Forlan,” katanya.Aku menatapnya. Tara mungkin bukan pemilik kemampuan, tetapi aku tahu aura Tara berbeda dari darah campuran kebanyakan. Auranya cerah dan bersih. Dia menatapku dengan cara seperti saat kami di Telaga—saat Tara memberitahu semua tentang pembakaran pejuang yang telah tiada. Di hari yang sama, aku pertama kali merasakan
Ketika kami tiba, matahari sudah cukup tinggi dan kami ada di detik-detik terakhir sebelum titik berpindah. Tidak ada di antara kami yang berniat meleset dari titik ini, tetapi Lavi sepakat denganku. “Kita cari beberapa saat lagi.”“Tidak apa?” tanyaku.“Ini kesempatan paling bagus sebelum titiknya pergi.”Ketulusan Lavi dalam pencarian—seolah-olah dia yang kehilangan Ibu mau tidak mau membuatku tidak bisa protes. Kami benar-benar di alam liar hingga detik terakhir, meski—ya, nihil. Tidak ada petunjuk lain. Hanya alam liar normal yang bahkan tidak memiliki bekas pertempuran. Hanya pohon-pohon yang berdiri seperti biasa—pohon-pohon yang menjadi sarang hewan-hewan hutan. Lavi memutuskan untuk kembali, jadi kami memasuki Padang Anushka.Ketika berjalan di jembatan perbatasan, mendengar suara aliran air sungai yang berbenturan dengan batu, rasanya membuatku melayang. Lavi menuntun arah jalanku dengan mengg
Paginya, kami menahan sarapan karena akan kembali ke Padang Anushka.Kami di dalam kubus tanah persembunyian. Bedanya dengan yang kubuat di pemberhentian bersama geng idiot, kubus tanah ini dibuat dengan terburu-buru, aneh, dan tidak berbentuk kubus secara sempurna.Lavi tidak ingin membebaniku dengan pekerjaan membangun sesuatu. Dia mau dengan bentuk apa pun asalkan ditutupi sulur. Jadi, aku hanya membuat bentuk asal-asalan selama disetujui Lavi, lalu kami segera berbaring di dalamnya. Di dalam kubus hangat itu, aku memeluk erat Lavi, menenggelamkan diriku pada pundak dan dadanya, merasakan diriku berada di fase paling membutuhkan pelukan Lavi dari apa pun. Aroma Lavi memenuhiku. Aroma lemon dan lembut. Aroma yang bekerja sebagai terapeutik. Tanganku melilitnya. Lavi berbaring, mengusap dan menyugar rambutku di bawah dagunya.“Aku menemanimu,” gumam Lavi. “Libatkan aku di semuanya.”Aku hanya mengangguk. Di malam ketika Lavi menga
Pencarian timku dan Lavi berjalan dalam dua kutub berseberangan. Dilihat dari aspek kelancaran perjalanan, kami aman. Dilihat dari segala petunjuk yang bisa didapat tentang Ibu, kami nihil. Nol besar.Aku lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Lavi yang biasa mengoceh panjang lebar juga tidak banyak bicara. Kami hanya saling menggamit sepanjang melintasi alam liar. Trek ke titik Padang Anushka berikutnya menjauhi gunung, jadi kami semakin meninggalkan trek terjal. Tidak ada medan curam berarti yang harus diwaspadai. Dari pembagian area pencarian, kami kebagian menyusuri sungai—karena menurut Profesor Merla dan Nadir, aliran air adalah area paling sulit untuk dilacak. Mereka membebankan itu padaku.Lavi tidak menganggapnya sebagai beban. Dia bilang, “Kalau mereka yang di sini, mereka takkan mendapatkan apa-apa, tapi kalau kita—yang daya lacaknya lebih tajam, ada kemungkinan memiliki peluang lebih besar.”“Aku juga tidak menganggapny
Kami melakukan persiapan akhir sebelum pergi meninggalkan tebing. Yang bagi Lavi dan Reila adalah mandi, sementara bagi Leo adalah mengucap perpisahan pada tempat gelap yang bersedia menaungnya sekitar empat tahun. Dia mengajakku ke dapur, menunjukkan catatan persediaan. Aku agak lupa dengan tulisan Ibu, tetapi dia menunjukkan tulisan Ibu padaku.Aku merasakan gejolak yang sama seperti saat membaca surat Bibi.Goresan tinta yang tertulis di kertas itu seperti melayang naik, menembus lapisan kertas seolah tengah memancarkan aura kehadiran seseorang. Aura Ibu bak keluar dari lapisan kertas dan memenuhi benakku.“Makasih,” kataku, mengembalikannya. “Aku semakin yakin dia hidup.”“Bibi Meri suka sekali membicarakan ikat rambutnya. Dia juga punya cara berpakaian yang agak aneh—maksudku, selendangnya melilit tubuhnya, kan? Aku tidak pernah menyangka kalau itu ada artinya. Semua itu pemberianmu. Dia cerita kalau kau memberinya