Masuk
Brak.
Lidya terperanjat. Matanya menatap keluar kamar. Sepertinya ada yang tak beres. Lidya segera melempar pashminanya ke ranjang lalu berlari ke luar. Mbok Nah, pengasuhnya, kini terduduk bersandar di sisi lemari sambil memegang dadanya. Tangisnya semakin kencang saat melihat Lidya berlari menghampiri. "Ada apa, Mbok?" Lidya memapah tubuh Mbok Nah dan membantunya untuk duduk di sofa di sisi meja kecil. Kini matanya menangkap telepon yang menjuntai kebawah. Lidya menatap Mbok Nah dengan bingung. "Halo.. halo..!" Suara itu masih terdengar dari seberang telpon. Buru-buru Lidya menariknya dan memasangnya tepat di telinga. "Ya, halo. Lidya di sini!" Jawab Lidya sedikit gugup sambil melirik Mbok Nah yang mulai menangis terisak sambil menutuo wajahnya. Lidya bingung. Apa ysng membuat pengasuhnya itu menangis. "Selamat sore, Nona Lidya. Saya Aiptu Rahman dari Polsek Jambu Semarang. Mohon maaf mengganggu, apakah benar Anda keluarga dari Bapak Danu Wirajaya dan saudara Lodra Wirajaya?" Seketika keringat mulai membasahi dahi Lidya. Gadis cantik berlesung pipit itu mengangguk tanpa sadar. "Tim kami baru saja menangani kecelakaan lalu lintas di jalan raya Magelang Semarang. Di lokasi kejadian kami menemukan dua korban, dan dari kartu identitas yang kami temukan, keduanya atas nama Lodra Wirajaya dan Danu Wirajaya!" Lidya susah payah menelan salivanya. "Maksud Bapak… Bang Lodra? Papa saya....." Lidya tak mampu melanjutkan kata-katanya. "Mohon maaf, Mbak. Korban atas nama Lodra Wirajaya dinyatakan meninggal di tempat. Sedangkan satu korban lainnya, Bapak Danu Wirajaya, saat ini sedang dalam perawatan intensif di RSUP Dr. Kariadi. Kondisinya mengalami pendarahan di kepala dan belum sadarkan diri, Mbak!" "Gak... gak mungkin… Bang Lodra gak mungkin meninggal!" Lidya masih menggeleng. "Untuk saat ini, dokter sedang melakukan tindakan. Silakan segera datang ke rumah sakit. Pihak keluarga perlu melakukan proses identifikasi korban untuk memastikan secara resmi!" Lidya menahan menangis. Tubuhnya terasa lunglai tak bertulang. "Baik Pak. Saya segera ke sana!" Dengan sisa kekuatan yang ada Lidya, meletakkan gagang telponnya di tempatnya. "Nduk!" Mbok Nah mendekat. Seakan memberi kekuatan pada majikan kecilnya, meski ia juga tak mampu untuk berdiri dengan tegak. "Mbok!" Lidya tak mampu berkata-kata. Tangannya rapuh mencari genggaman Mbok Nah. Wanita tua itu mengangguk dengan terbata-bata. Dua perempuan beda generasi itu hanya bisa saling memandang dalam diam. Sepersekian detik, Lidya menyeka air matanya. Tak ada lagi tempatnya bertanya. Tak ada lagi ssndaran yang tersisa. "Mbok, aku ke rumah sakit dulu. Mbok Nah siapkan yang perlu di bawa. Kit akan balik Jogja sementara!" Lidya menyusun rencana. Perempuan tua itu mengangguk. Ia hanya bisa menurut, meskipun sebenarnya ia ingin ikut tapi ia sadar diri. Kehadirannya pasti akan tambah membebani Lidya. Dengan lunglai, Lidya kembali ke kamar, memasang pashminanya kemudian menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja telpon. "Aku pergi dulu, Mbok!" Mbok Nah mengangguk. Mengikuti langkah Lidya dengan hati yang remuk hingga ke teras. "Hati-hati. Nduk!" Lidya tak menjawab. Untuk apa hati-hati, toh tak ada lagi yang menemaninya untuk hidup. Lidya menuju garasi. Membawa brio kuningnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Matanya maasih meneteskan air mata, meski ia tak bisa terisak. Tangannya, kuat menggenggam stir mobil. Tak ada musik seperti biasanya. Lagunya telah sunyi di telan bumi. "Maaf, saya Lidya. Keluarga dari Lodra dan Danu Wirajaya!" Lidya mendekat dengan suara bergetar. Ruang informasi itu tak begitu penuh hingga Lidya bisa segera maju dan bertanya. Perempuan di seberang meja mengangguk. "Baik, Mbak. Mohon tunggu sebentar ya, saya cek dulu datanya… Bisa saya tahu hubungan keluarga dengan korban?" Perempuan di depan Lidya tampak fokus menatap layar monitor, sesekali ia menaikkan kaca matanya. "Saudara kandung dan ayah saya, Mbak… saya Lidya Wirajaya." Petugas itu berhenti mengetik, menatap Lidya sebentar, seolah ia sedang menimbang bagaimana harus menyampaikan sesuatu yang berat. "Baik, Mbak Lidya. Berdasarkan laporan yang masuk dari pihak kepolisian sekitar satu jam lalu, memang benar ada dua korban dengan nama tersebut. Satu… atas nama Lodra Wirajaya, laki-laki 27 tahun, dinyatakan meninggal di tempat saat dievakuasi. Sedangkan satu lagi, Bapak Danu Wirajaya, saat ini masih dirawat di ruang IGD Bedah karena mengalami pendarahan di kepala dan patah tulang di beberapa bagian tubuh." Lidya tak menjawab. Ia tak bisa menangis sekarang. Petugas itu kembali melanjutkan kalimatnya. "Kami butuh Anda untuk proses identifikasi jenazah dan pengisian formulir keluarga pasien. Apakah Mbak Lidya datang sendiri?" Lidya mengangguk lemah. "Iya… saya sendirian!" Petugas itu tak lagi bertanya. Ia biasa melihat kondisi berat para keluarga pasien. rasanya ia tak ingin lagi membebani mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang menguras tenaga. Ia hanya menyerahkan lembar formulir data pasien dengan senyum hangat. "Silakan isi dulu identitas Mbak dan tanda tangan di sini, ya. Setelah itu, kami akan dampingi ke ruang jenazah untuk konfirmasi. Jangan khawatir, kami akan bantu semua prosesnya." Lidya menatap lekat wanita di depannya, "Papa saya… boleh saya lihat? Tolong… saya ingin pastikan beliau masih hidup." Petugas itu tersenyum dan mengangguk. "Tentu. Tapi kami mohon sabar, ya, karena beliau masih dalam tindakan di ruang resusitasi. Setelah dokter selesai stabilisasi kondisi, nanti kami antar Mbak Lidya melihatnya." Lidya mencari kursi yang kosong lalu duduk dengan lesu. Tangannya tampak bergetar saat meraih pulpen di tas punggungnya dan segera mengisi lembar kertas yang diterimanya. Beberapa menit kemudian, seorang polisi berseragam datang menghampiri, membawa map cokelat. "Selamat siang, Mbak Lidya? Saya dari Polsek Jambu Semarang. Kami yang mengevakuasi korban dari lokasi. Mohon maaf atas kejadian ini. Kami perlu memastikan identitas korban sebelum melanjutkan ke bagian administrasi RS dan laporan resmi." Lidya mengusap air mata dengan punggung tangan yang turun tanpa bisa di tahan. "Iya, Pak… saya siap." Mereka berjalan ke ruang pendingin. Lidya mulai menahan nafas karena mencium bau formalin yang menusuk hidung. Di balik tirai putih, seorang petugas membuka kain putih yang menutupi wajah korban. Lidya menggigit bibirnya keras-keras agar tidak berteriak. Tubuh itu terbujur kaku. Tubuh yang selalu siap menggendongnya saat ia merengek lelah. Wajahnya tampak damai terlelap. Lidya tergugu, lalu berlutut pelan, setelah menyentuh tangan kakaknya. "Bang… kenapa kamu tinggalin aku secepat ini?" Petugas memberi waktu beberapa detik sebelum menutup kembali kain itu dengan hati-hati. "Terima kasih, Mbak Lidya. Proses identifikasi sudah kami catat. Selanjutnya, nanti pihak forensik dan kepolisian akan mengarahkan untuk surat kematian dan pengambilan jenazah!" Petugas itu menyentuh pundak Lidya dan membantunya untuk berdiri. "Kami juga akan bantu koordinasi untuk pemulangan jenazah ke rumah duka, Mbak. Tapi untuk sementara, sebaiknya Mbak menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi ayah Anda dulu." Lidya hanya bisa menurut ketika petugas itu menuntunnya keluar ruangan. Kini ia kembali terduduk di kursi dengan tatapan kosong.Tanpa sadar, tangannya meremas formulir yang kini basah oleh air mata.Mobil hitam yang dikendarai Kendra akhirnya melaju dengan stabil memasuki area depan sekolah. Di kursi penumpang, Lidya yang sejak tadi hanya menggenggam tasnya erat, menatap jendela dengan diam. Ia berusaha untuk tenang, tak ingin mengeluarkan suara sepatahpun, karena sepanjang perjalanan, Kendra juga bersikap sama. Sesekali Kendra memang melirik ke arah Lidya tapi ia lakukan tanpa benar-benar menoleh, dan setiap kali itu terjadi Lidya buru-buru mengalihkan pandangan ke kiri. Kini, ketika mobil yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Lidya dengan susah payah menegakkan tubuhnya. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya sopan. “Hmm.” Hanya gumaman pendek yang keluar dari bibir Kendra. Lidya baru hendak membuka pintu ketika suara deru motor terdengar keras dari arah belakang. Sebuah motor sport merah datang melaju, berhenti hanya beberapa meter dari mobil Kendra. Pengendaranya membuka helm dengan kedua tangannya. Azzam. Rambutnya sedikit berantakan
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Lidya yang sedikit terbuka. yang mau tak mau membuatnya mengerjap pelan. Tidurnya semalam memang tak terlalu nyenyak. Itu sebabnya, kepalanya masih terasa berat. Mungkin saja. karena ia belum terbiasa tidur di tempat yang baru. Ia bangkit perlahan, merapikan rambut panjangnya yang kusut lalu bersiap turun. Menyambar handuk yang ada di lipatan lemari, lalu menyiapkan seragam yang masih ada di koper pakaian. Tak ada yang istimewa. Semuanya masih sama dalam beberapa hal. Selesai mengepang rambutnya, ia mengenakan cardigan hitamnya. "Oke. Selesai!" Senyumnya mengembang meski samar. Dan perlahan, ia melangkah turun. “Kendra! Mama tuh gak habis pikir. Bisa-bisanya Melisa datang malam-malam begitu? Mama malu tahu!" Lidya otomatis berhenti melangkah. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang berbincang serius. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bersembunyi di balik dinding. Ia memang tak bermaksud menguping, tapi suara Rima terla
Malam mulai datang dan Lidya mencoba untuk mulai membiasakan diri di tempat barunya. Setelah makan, ia segera memasuki kamar dan mandi, lalu duduk di kursi belajanya, kembali membuka buku-buku pelajaran. Ujian sudah di depan mata, ia tak bisa terus menerus diam dan menyesali keadaan. Hingga waktu berlalu tanpa terasa yang pada akhirnya Lidya mulai merasakan matanya yang perih dengan kepala yang mulai berdenyut pelan. Pelajaran-pelajaran yang biasanya mudah masuk dalam kepalanya, malam ini harus berlarian keluar tanpa bisa ia cegah. Matanya melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Pantas saja ia sudah merasa lelah. Lidya segera merapikan buku-bukunya. Sesaat ia menatap ranjang besar miliknya. Ia masih tak ingin merebahkan diri di sana. Udara malam yang menyapa membuat Lidya menoleh. pintu balkon masih terbuka. Hembusan angin membawa aroma melati memenuhi ruangannya. Dengan perlahan, Lidya bangkit. Menyambar cardigan tipis yang ada di sandaran kursi belajarnya lalu berjalan
Setelahnya, Lidya sendirian di ruangan yang kini telah menjadi kamarnya. Perlahan, Lidya duduk di sisi ranjang sambil menatap sekitar. Semua isi kamarnya memang bagus dan mewah, tapi saat sendiri, semua terasa gak ada artinya lagi. Lidya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati semilir angin yang membawa harum melati di seluruh ruangan. Rima memang benar-benar memanjakannya. Ia tahu betul aroma wewangian yang Lidya suka. Itu sebabnya, di balkon kamar Lidya, ia penuhi dengan tanaman bunga melati yang telah berjajar rapi. Tanpa sadar Lidya memejamkan matanya. Hingga ia tak tahu jika Mbok Nah dan suaminya telah tiba dengan barang-barang mereka. "Sekarang, kalian tinggal di sini. Temani Lidya di sini, ya?" Rima menatap pasangan tua itu dengan haru. "Nggeh, Nyonya!" Sahut mereka bersamaan. Seketika membuat Rima tertawa. "Kalian kenal betul siapa aku bisa-bisanya panggil aku, nyonya!" Sahutnya setelah berhenti tertawa. "Ya sudah, kalian ke kamar dulu. Nanti Mbok Karti yang tunjuk
Lidya membalas senyum dengan tulus. Wanita itu tampak berkelas. Cantik dan anggun. Aura mahal terpancar dari wajahnya meski dengan tampilan yang cukup sederhana. "Tante ini Mamanya Kendra! Tante Rima!" Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul Lidya dan membawanya masuk. "Barang kamu mana?" Seperti tersadar, Rima berbalik menatap Kendra dan Lidya dengan bingung. Kendra tak menjawab. Berlalu dengan santai mendahului keduanya. "Dasar. Anak gak punya sopan!" Rima mendengus sambil menatap tajam anak semata wayangnya. "Kamu yang sabar ya kalau Kendra bikin ulah sama kamu. Tapi Tante bisa jamin, dia anak baik kok!" Lidya tersenyum samar. Baik katanya? Malah kayak preman gitu, batin Lidya gemas. "Ayo, duduk dulu!" Lidya menurut. Ia duduk tepat di sisi Rima lalu muncullah seseorang dengan seragam ART-nya. Ia meletakkan orange juice di meja sambil tersenyum hangat. "Silakan, Mbak!" Lidya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo diminum dulu!" Perintah Rima halus. Lidya
Satu minggu berlalu dan luka itu masih sama meski tak lagi kentara. "Sarapan dulu, ya Mbak. Mbok masak sayur gudeg kesukaan kamu!" Lidya tersenyum lalu duduk di meja makan. "Ayo, Pak. Mbak Lidya sudah siap!" Mbok Nah setengah berteriak memanggil suaminya. Tak lama Pardi berlari kecil dari arah belakang. "Hari ini gak usah diantar Pak. Aku berangkat sendiri aja. Lagian juga gak lama. Ada rapat di sekolah jadi kayaknya pulang pagi, deh!" Lidya memberi informasi sambil menyendok nasinya. "Beneran gak papa, Mbak?" Pak Pardi menatap wajah Lidya. Sejak Lidya pindah Semarang, praktis hanya menjadi sopir Danu karena Lodra juga jarang mau di antar oleh sopir. "Gak papa, Pak. Tenang aja! Lidya tersenyum sambil terus mengisi perutnya. "Rapat apa sih, Nduk?" Mbok Nah bertanya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Meskipun ketika di jawabpun, dia tak akan paham tapi dia tahu, perhatian kecil itu bisa membuat majikannya tak merasa sendirian. "Mau persiapan ujian kelulusan, Mb







