Mbok Nah berjongkok dan memeluk bahu Lidya, sementara Pak Pardi hanya berdiri di belakang, wajahnya keruh menahan marah. “Nduk… wes, ayo bangun dulu. Kamu masih punya kami.” Lidya mengangkat wajahnya perlahan. Mata sembab itu kini tak lagi hanya berisi duka, tapi juga tekad. “Mbok… Pak… kita balik ke Semarang lagi, ya!" Keduanya sontak menatap bersamaan lalu mengangguk sambil tersenyum. “Tentu. Rumah itu sudah atas namamu!" Mbok Nah berbinar. Ia menghapus air matanya dengan ujung kebayanya. Ia lega. Majikan kecilnya masih ada tempat untuk pulang. Lidya mengangguk. “Aku… nggak bisa tinggal di sini lagi. Papa sama Mas Lodra udah nggak ada. Rumah ini juga bukan milik kita lagi.” Suaranya tercekat. Lidya tahu, di Semarang, ia akan bisa menjalani hidup lebih baik, meskipun terseok sendiri. Pak Pardi menghela napas panjang, namun bukan tanda keberatan. “Kalau itu maumu, Nduk, kami ikut. Aku sama ibumu ini cuma punya kamu. Mau tinggal di manapun, insya Allah kami siap.” Mbok
Terakhir Diperbarui : 2025-12-01 Baca selengkapnya