Share

2. Bukan Mimpi

Penulis: Banyu Biru
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-06 10:11:51

Lidya hanya bisa menurut ketika petugas itu menuntunnya keluar ruangan. Kini ia kembali terduduk di kursi dengan tatapan kosong.Tanpa sadar, tangannya meremas formulir yang kini basah oleh air mata.

"Keluarga Bapak Danu?" Lidya segera berdiri dan melangkah ke arah bagian informasi.

"Kami perlu tanda tangan untuk tindakan!" Lidya mengangguk lalu membubuhkan tanda tangannya di formulir lain.

"Silakan di tunggu ya, Mbak. Kalau gak halangan, operasi akan dilaksanakan besok pagi!" Lidya tak menjawab. Melangkah gontai ke kursi kembali

Ia hanya bisa menarik napas panjang. Lidya ingin menyesali tapi sepertinya waktu tak bisa menunggu. Tak ada waktu untuk hancur. Tidak sekarang. Ia kembali menyusut air matanya. Masih ada yang harus ia lakukan.

Lidya berdiri, meraih ponselnya, dan menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal sejak kecil, nomor sopir ayahnya.

“Pak Pardi?” Suaranya bergetar.

“Halo, Mbak Lidya? Bapak dan Mas Lodra sudah sampai ya? Selamat ulang...!"

“Pak,” Lidya memotong cepat. Suaranya pecah. “Bang Lodra… kecelakaan. Bang Lodra… meninggal!" Nafasnya terasa berhenti di kerongkongan.

Tak ada percakapan lain karena kabar itu menjadi pukulan yang menyakitkan. Terdengar suara tarikan napas panjang dari seberang. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Astaghfirullah… Astaghfirullah…!" suaranya bergetar.

“Pak, saya butuh bantuan. Tolong segera siapkan tempat pemakaman di komplek keluarga. Siapkan segala sesuatu… penggali kubur, kain kafan, tenda pelayat… tolong hubungi pak RT juga ya Pak!"

“I.. iya, Mbak. Bapak siap. Sampeyan di mana sekarang?” Tanyanya pelan.

“RS Kariadi… Saya sebentar lagi pulang membawa jenazah Bang Lodra.”

Pak Pardi menarik napas berat. “Saya atur semua siang ini! Mbak Lidya.... hati-hati ya!"

Lidya menutup telepon dengan perlahan. Kini, jari lentiknya kembali menekan sebuah nomor, ia ingin menelpon Mbok Nah yang masih di rumah agar menemani papanya yang masih terbaring. Baginya, sang abang harus segera dikebumikan.

"Mbok...!" Suara Lidya sedikit tertahan. Hanya dengan Mbok Nah, ia tak pernah menutupi kerapuhannya.

"Nduk, gimana?" Mbok Nah terdengar cukup khawatir. Ia tahu betul bagaimana Lidya.

“Mbok, aku perlu ke Jogja untuk bawa jenazah Bang Lodra. Mbok Nah datang di sini, ya. Jagain Papa. Papa butuh seseorang. Aku akan pesankan grab buat Mbok Nah!"

Wanita tua itu menggenggam gagang telpon dengan erat seolah ia swdang menggenggam tangan majikan kecilnya.

“Iya Nduk… Mbok segera siap-siap. Tapi kamu ndak papa ke Jogja sendiri? Kamu kuat ya?" Tak ada jawaban.

Lidya menggigit bibir, kelu. Mata basahnya berbinar dengan tekad yang perih.

“Kalau aku nggak kuat, siapa lagi yang akan mengurus semua Mbok?” Lidya menutup telponnya setelah salam lalu berjalan ke bagian administrasi. Menyerahkan formulir yang telah diisinya. Kini, ia hanya perlu menunggu pihak rumah sakit membantu mengurus pengeluaran jenazah.

Lidya kembali duduk ketika Petugas forensik menanyakan beberapa detail untuk surat keterangan kematian dan untungnya pihak kepolisian memberikan penjelasan singkat mengenai kronologi kecelakaan.

“Kami juga akan siapkan ambulans untuk mengantar jenazah ke Jogja,” kata seorang perwira polisi yang mendampingi. “Karena ini kecelakaan lalu lintas, semua biaya transportasi jenazah akan dibantu oleh kepolisian dan BPJS. Nanti akan ada petugas yang ikut dalam perjalanan untuk dokumentasi dan serah terima di rumah duka.”

Lidya mengangguk. Ada lega kecil yang menyelusup. Setidaknya… ia tak benar-benar sendirian dalam hal teknis yang kini harus dia hadapi.

Saat petugas memandikan dan mengkafani Lodra, sementara Lidya memilih menunggu di luar. Ia merasa tak akan sanggup melihat tubuh saudaranya itu untuk terakhir kalinya dalam keadaan yang lebih menyakitkan.

Tapi ketika jenazah itu didorong keluar dalam brankar dan dinaikkan ke ambulans, Lidya berdiri, meraih sisi keranda dengan kedua tangan.

“Aku ikut!" Lidya berseru. "Ada kursi penumpang di depan, Mbak,” kata sopir ambulans. Lidya tak bergeming. Ia tetap membuka pintu belakang ambulans dan duduk di samping jenazah kakaknya.

“Aku duduk di sini saja, Pak. Saya mau menemani Abang saya di sini!" Lidya mulai memeluk peti jenazah kakaknya dengan sendu. "Bang Lodra, kita pulang ke Jogja ya. Kita rayakan ulang tahunku di rumah saja!"

Sopir itu tak membantah. Mungkin ia mengerti, karena ia sudah terlalu sering melihat hati yang sakit karena kepergian seseorang dan ia tahu bahwa beberapa hal tidak perlu dipaksakan.

Petugas itu mengangguk lalu membawa mobil sesuai dengan alamat yang Lidya berikan. Perlahan petugas membawa ambulans melaju dengan kecepatan sedang tanpa menyalakan sirine. Hanya suara mesin yang berdengung menghibur dalam kesunyian.

Lidya menunduk sambil memeluk peti tempat jenazah Lodra terbaring. “Bang… Lidya antar Abang pulang. Kita pulang ya Bang…” bisiknya lirih. "Sekarang, Lidya yang urus Abang. Biasanya abang yang urus Lidya. Maaf, hanya ini yang bisa Lidya lakukan!"

Lidya terisak pelan sambil terus mengenang sang abang. Laki-laki yang selama ini selalu menjaganya, selain ayahnya.

Tiga jam berlalu. Bagi Lidya waktu tiga jam terasa singkat baginya. Kalau ia bisa memilih, ia ingin seharian perjalanan menemani abangnya. Lidya mengangkat tubuhnya. Menatap halaman rumahnya yang telah penuh dengan lelayat.

Ketika pintu ambulans dibuka, orang-orang mulai merapat. Beberapa menahan napas. Sebagian menunduk sambil membaca kalimat *Innalillahi…*

Lidya turun terakhir, langkahnya goyah, tapi matanya tegar. Ia tenang saat Pak yang mengambil peran. Lidya tahu, ia bisa mengandalkan sopir ayahnya. Dan diantara para pelayat, seorang perempuan dengan gamis abu-abu dan kerudung hitam, masih menunggu di sisi pintu ambulance yang masih terbuka. Dengan wajah yang pucat dan bengkak karena terlalu banyak menangis.

Ia menyentuh tangan Lidya yang dingin. Tanpa ana-aba, mereka berpelukan Rosa memeluk Lidya begitu erat, tanpa kata-kata. Dan akhirnya, air mata mereka pecah bersama.

“Kita sama-sama kehilangan dia…” suara Rosa parau. Lidya mengangguk pelan, lalu lebih keras, sampai tubuhnya bergetar. Tak ada yang bisa dikatakan. Mereka berdua kini sama-sama berdiri di dunia yang tiba-tiba menjadi jauh lebih sepi. Sama-sama kehilangan laki-laki yang mereka cintai, dengan cara yang berbeda, tapi luka yang sama.

Mereka mengikuti prosesi pemakaman dengan diam. Hingga mereka berdiri di sisi liang kubur, tangan Lidya meremas kerah lengannya sendiri agar ia tak limbung di sisi makam abangnya.

Perlahan. tanah pertama dijatuhkan ke atas kafan putih. Dan sejak itu Lidya mengerti. Semuanya tak akan sama lagi. Tak akan ada lagi suara tawa Lodra. Tak ada lagi pelukan hangat yang sering membuatnya merasa aman.

Dan tiba-tiba saja, Lidya benci ulang tahunnya. Bahkan ia bersumpah, tak akan ada lagi hari itu. Air matanya kembali jatuh kala doa-doa mulai bergema. Lidya menutup mata saat Langit mulai memerah. Kakinya tak lagi mampu menopang bebannya saat ini. Lidya menyerah. Ia limbung diikuti dengan teriakan histeris ibu-ibu yang menemaninya di peristirahatan Lodra.

Rosa dengan sigap memapah Lidya lalu mendudukannya di sisi tanah yang telah tertutup sempurna.

"Kau lihat Lodra. Aku kuat. Aku akan ada di sini untuk Lidya, seperti yang kamu minta!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Semalam Untuk Selamanya    14. Ada yang Cemburu

    Mobil hitam yang dikendarai Kendra akhirnya melaju dengan stabil memasuki area depan sekolah. Di kursi penumpang, Lidya yang sejak tadi hanya menggenggam tasnya erat, menatap jendela dengan diam. Ia berusaha untuk tenang, tak ingin mengeluarkan suara sepatahpun, karena sepanjang perjalanan, Kendra juga bersikap sama. Sesekali Kendra memang melirik ke arah Lidya tapi ia lakukan tanpa benar-benar menoleh, dan setiap kali itu terjadi Lidya buru-buru mengalihkan pandangan ke kiri. Kini, ketika mobil yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Lidya dengan susah payah menegakkan tubuhnya. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya sopan. “Hmm.” Hanya gumaman pendek yang keluar dari bibir Kendra. Lidya baru hendak membuka pintu ketika suara deru motor terdengar keras dari arah belakang. Sebuah motor sport merah datang melaju, berhenti hanya beberapa meter dari mobil Kendra. Pengendaranya membuka helm dengan kedua tangannya. Azzam. Rambutnya sedikit berantakan

  • Semalam Untuk Selamanya    13. Awal Pagi yang Canggung

    Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Lidya yang sedikit terbuka. yang mau tak mau membuatnya mengerjap pelan. Tidurnya semalam memang tak terlalu nyenyak. Itu sebabnya, kepalanya masih terasa berat. Mungkin saja. karena ia belum terbiasa tidur di tempat yang baru. Ia bangkit perlahan, merapikan rambut panjangnya yang kusut lalu bersiap turun. Menyambar handuk yang ada di lipatan lemari, lalu menyiapkan seragam yang masih ada di koper pakaian. Tak ada yang istimewa. Semuanya masih sama dalam beberapa hal. Selesai mengepang rambutnya, ia mengenakan cardigan hitamnya. "Oke. Selesai!" Senyumnya mengembang meski samar. Dan perlahan, ia melangkah turun. “Kendra! Mama tuh gak habis pikir. Bisa-bisanya Melisa datang malam-malam begitu? Mama malu tahu!" Lidya otomatis berhenti melangkah. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang berbincang serius. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bersembunyi di balik dinding. Ia memang tak bermaksud menguping, tapi suara Rima terla

  • Semalam Untuk Selamanya    12. Wanita Lain

    Malam mulai datang dan Lidya mencoba untuk mulai membiasakan diri di tempat barunya. Setelah makan, ia segera memasuki kamar dan mandi, lalu duduk di kursi belajanya, kembali membuka buku-buku pelajaran. Ujian sudah di depan mata, ia tak bisa terus menerus diam dan menyesali keadaan. Hingga waktu berlalu tanpa terasa yang pada akhirnya Lidya mulai merasakan matanya yang perih dengan kepala yang mulai berdenyut pelan. Pelajaran-pelajaran yang biasanya mudah masuk dalam kepalanya, malam ini harus berlarian keluar tanpa bisa ia cegah. Matanya melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Pantas saja ia sudah merasa lelah. Lidya segera merapikan buku-bukunya. Sesaat ia menatap ranjang besar miliknya. Ia masih tak ingin merebahkan diri di sana. Udara malam yang menyapa membuat Lidya menoleh. pintu balkon masih terbuka. Hembusan angin membawa aroma melati memenuhi ruangannya. Dengan perlahan, Lidya bangkit. Menyambar cardigan tipis yang ada di sandaran kursi belajarnya lalu berjalan

  • Semalam Untuk Selamanya    11. Insiden Telur Dadar

    Setelahnya, Lidya sendirian di ruangan yang kini telah menjadi kamarnya. Perlahan, Lidya duduk di sisi ranjang sambil menatap sekitar. Semua isi kamarnya memang bagus dan mewah, tapi saat sendiri, semua terasa gak ada artinya lagi. Lidya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati semilir angin yang membawa harum melati di seluruh ruangan. Rima memang benar-benar memanjakannya. Ia tahu betul aroma wewangian yang Lidya suka. Itu sebabnya, di balkon kamar Lidya, ia penuhi dengan tanaman bunga melati yang telah berjajar rapi. Tanpa sadar Lidya memejamkan matanya. Hingga ia tak tahu jika Mbok Nah dan suaminya telah tiba dengan barang-barang mereka. "Sekarang, kalian tinggal di sini. Temani Lidya di sini, ya?" Rima menatap pasangan tua itu dengan haru. "Nggeh, Nyonya!" Sahut mereka bersamaan. Seketika membuat Rima tertawa. "Kalian kenal betul siapa aku bisa-bisanya panggil aku, nyonya!" Sahutnya setelah berhenti tertawa. "Ya sudah, kalian ke kamar dulu. Nanti Mbok Karti yang tunjuk

  • Semalam Untuk Selamanya    10. Keluarga Juga

    Lidya membalas senyum dengan tulus. Wanita itu tampak berkelas. Cantik dan anggun. Aura mahal terpancar dari wajahnya meski dengan tampilan yang cukup sederhana. "Tante ini Mamanya Kendra! Tante Rima!" Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul Lidya dan membawanya masuk. "Barang kamu mana?" Seperti tersadar, Rima berbalik menatap Kendra dan Lidya dengan bingung. Kendra tak menjawab. Berlalu dengan santai mendahului keduanya. "Dasar. Anak gak punya sopan!" Rima mendengus sambil menatap tajam anak semata wayangnya. "Kamu yang sabar ya kalau Kendra bikin ulah sama kamu. Tapi Tante bisa jamin, dia anak baik kok!" Lidya tersenyum samar. Baik katanya? Malah kayak preman gitu, batin Lidya gemas. "Ayo, duduk dulu!" Lidya menurut. Ia duduk tepat di sisi Rima lalu muncullah seseorang dengan seragam ART-nya. Ia meletakkan orange juice di meja sambil tersenyum hangat. "Silakan, Mbak!" Lidya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo diminum dulu!" Perintah Rima halus. Lidya

  • Semalam Untuk Selamanya    9. Awal yang Baru

    Satu minggu berlalu dan luka itu masih sama meski tak lagi kentara. "Sarapan dulu, ya Mbak. Mbok masak sayur gudeg kesukaan kamu!" Lidya tersenyum lalu duduk di meja makan. "Ayo, Pak. Mbak Lidya sudah siap!" Mbok Nah setengah berteriak memanggil suaminya. Tak lama Pardi berlari kecil dari arah belakang. "Hari ini gak usah diantar Pak. Aku berangkat sendiri aja. Lagian juga gak lama. Ada rapat di sekolah jadi kayaknya pulang pagi, deh!" Lidya memberi informasi sambil menyendok nasinya. "Beneran gak papa, Mbak?" Pak Pardi menatap wajah Lidya. Sejak Lidya pindah Semarang, praktis hanya menjadi sopir Danu karena Lodra juga jarang mau di antar oleh sopir. "Gak papa, Pak. Tenang aja! Lidya tersenyum sambil terus mengisi perutnya. "Rapat apa sih, Nduk?" Mbok Nah bertanya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Meskipun ketika di jawabpun, dia tak akan paham tapi dia tahu, perhatian kecil itu bisa membuat majikannya tak merasa sendirian. "Mau persiapan ujian kelulusan, Mb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status