แชร์

2. Janji yang Tiba-Tiba Datang

ผู้เขียน: Banyu Biru
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-06 10:11:51

"Mas Kendra, ini dasinya mau diganti warna apa? Dari tadi kok ditarik-tarik terus, lama-lama bisa brudul, Mas."

Siska menatap bosnya dengan ekspresi antara ngeri dan ingin tertawa. Di dalam ruang kerja CEO Wijanarko Group yang super mewah itu, Kendra Wijanarko sudah seperti setrikaan kaku. Berjalan bolak-balik, merapikan lengan kemeja, lalu berkaca di dinding kaca, memastikan tidak ada satu pun helai rambut klimisnya yang mencuat keluar.

"Siska, menurut kamu, warna navy ini buat aku kelihatan terlalu tua, gak?" Kendra berbalik, menatap sekretarisnya dengan wajah datar yang dibuat-seolah-tidak-peduli.

"Mas Kendra kan memang sudah dua puluh delapan tahun. Mau pakai warna apa saja, ya tetap kelihatan matang, Mas," jawab Siska jujur. "Tapi kalau maksud Mas Kendra kelihatan tua di depan anak umur tujuh belas tahun, warna navy ini justru membuat Mas jadi kayak om-om mapan idaman remaja itu. Alias gadun."

Kendra mendelik tajam. "Sembarangan!"

"Siska, sepupu dari pihak ayah Kendra itu hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.

Kendra berdeham keras, salah tingkah. Gengsinya yang setinggi langit menolak mengakui bahwa siang ini dia berniat bolos kerja demi mengintip wisuda kelulusan SMA Lidya Wirajaya. Adik perempuan sahabatnya, yang sialnya, sudah mencuri seluruh warasnya selama beberapa tahun terakhir.

Lidya itu berisik, manja, ceroboh, dan hobi sekali mengacaukan ketenangan Kendra dengan tawa lesung pipitnya. Namun, di mata Kendra, gadis yang hari ini resmi melepas seragam putih abu-abunya itu adalah segalanya. Kendra sengaja membelikan boneka beruang besar dan buket lili putih terbaik, yang sekarang sudah nangkring manis di jok belakang mobil sedan hitam miliknya. Dia hanya ingin melihat Lidya dari jauh. Memastikan tidak ada cowok ingusan yang berani mendekati gadisnya di hari kelulusan.

Siska baru saja keluar dari ruangan ketika ponsel di atas meja kayu ek milik Kendra berdering nyaring. Nama Lodra Wirajaya, terpampang di layar.

Kendra tersenyum tipis. Ia menyambar ponsel itu, bersiap meluncurkan ejekan andalannya. "Halo, Lod. Lu telat ya? Gua udah mau jalan ke aula sekolah adik lu."

Tapi tak ada sahutan jahil yang biasanya langsung memekakkan telinga. Yang terdengar di seberang telepon adalah deru angin yang kencang, bunyi klakson bersahut-shutan, dan suara napas Lodra yang memburu, berat, seperti orang yang sedang dikejar maut.

"Ken... Kendra..." Suara Lodra bergetar hebat, disusul suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak di latar belakang.

Jantung Kendra seperti berhenti berdetak detik itu juga. Seluruh sendi tubuhnya mendadak lemas, tapi instingnya langsung waspada. "Lod! Lu di mana?! Lodra!" Kendra berteriak histeris, meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kendra!" Suara Lodra kembali terdengar, kali ini terdengar sangat dekat di speaker, seolah itu adalah napas terakhir yang dia miliki. "Gua gak tahu... kami bisa selamat atau gak... Tapi gua mohon... Jaga Lidya, Ken. Jaga adek gua... Cuma lu yang gua percaya..."

"Lodra! Jangan bicara sembarangan! Lu harus survive, bajingan! Gua otw sekarang, kirim lokasi lu!" Kendra berteriak sekencang-kencangnya, air mata kepanikan mulai menggenang di pelupuk matanya. Setelah itu... sunyi. Hanya tersisa suara tut... tut... tut... yang monoton.

"Lodra? Lod?! JAWAB GUA, LODRA!" Kendra meraung. Ponselnya tergelincir dari tangannya, jatuh mengenaskan ke atas karpet.

Kendra tidak memedulikan ponselnya. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berpacu gila-gilaan, ia menyambar kunci mobilnya. Dia berlari keluar ruangan seperti orang kesurupan, mengabaikan tatapan syok Siska dan para karyawannya. Di dalam kepalanya hanya ada satu nama yang berputar: Lidya. Bagaimana dengan Lidya?

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Kendra mengemudikan mobilnya seperti orang gila. Dia mengerahkan seluruh jaringannya, menghubungi pihak kepolisian jalur pantura, hingga akhirnya mendapat konfirmasi pahit: kecelakaan beruntun di daerah Jambu. Korban atas nama keluarga Wirajaya dilarikan ke RSUD Kariadi.

Ketika Kendra menginjakkan kakinya di koridor rumah sakit, bau antiseptik dan formalin langsung menyambut penciumannya. Di sana, di salah satu kursi tunggu yang dingin di depan ruang IGD, ia melihatnya.

Sesosok gadis kecil dengan kebaya wisuda yang masih melekat di tubuhnya, dengan pashmina yang ala kadarnya. Tubuhnya tampak begitu kecil, rapuh, dan gemetar, dilingkupi oleh kesedihan yang teramat pekat. Lidya sedang meremas lembar formulir rumah sakit yang sudah basah oleh air matanya sendiri. Dia sendirian. Gadis tujuh belas tahun yang akan tersenyum cerah menerima ijazah, kini harus berdiri di ambang kehancuran.

Sakit yang luar biasa menghantam dada Kendra melihat pemandangan itu. Gengsinya, arogansinya, dan tembok pembatas sebelas tahun di antara mereka runtuh seketika. Pria dingin itu melangkah dengan cepat, memangkas jarak yang memisahkan mereka.

"Lidya," panggil Kendra, suaranya serak dan bergetar, kehilangan semua wibawa seorang CEO.

Lidya tersentak. Gadis itu mendongak dengan mata yang sembap, merah, dan bengkak karena terlalu banyak menangis. Begitu matanya menangkap sosok Kendra yang berdiri di depannya dengan setelan jas yang kusut dan napas yang belum teratur, pertahanan Lidya patah.

"Bang Kendra..." Lidya berbisik lirih. Suaranya terdengar seperti anak kecil yang tersesat.

Kendra tidak peduli lagi apakah tindakannya ini pantas atau tidak. Dia langsung berlutut di depan kursi Lidya, meraih kedua tangan gadis itu yang sedingin es, lalu menggenggamnya erat-erat. "Aku di sini, Lid. Aku di sini."

"Bang Lodra...Papa... mereka udah gak ada, Bang..." Lidya terisak, dadanya kembang kempis menahan sesak yang teramat sangat. "Aku sendirian. Mereka semua meninggal, Bang!"

Melihat air mata Lidya yang luruh, rasanya jantung Kendra seperti diremas hingga hancur. Pria itu langsung menarik tubuh rapuh Lidya ke dalam pelukannya. Dia mendekap kepala gadis itu erat-erat ke dadanya, membiarkan kebaya wisuda Lidya membasahi kemeja mahalnya.

"Kamu gak sendirian, Lidya. Dengar aku," bisik Kendra tegas di telinga Lidya, meskipun matanya sendiri sudah berkaca-kaca. Tangannya yang besar mengelus rambut Lidya dengan kelembutan yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun. "Ada aku di sini. Aku gak akan pergi ke mana-mana. Kamu punya aku."

Di dalam dekapannya, Lidya menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sakit dan ketakutan yang sejak tadi dia tahan sendirian. Dan di tengah ruang rumah sakit yang dingin itu, sambil mendekap erat gadis yang teramat dicintainya, Kendra menatap lurus ke pintu IGD dengan tatapan yang mengeras.

Lod, gua tepati janji gua, batin Kendra perih. Gua akan jaga adek lu. Taruhannya adalah nyawa gua sendiri.

Namun, Kendra belum tahu, bahwa janji untuk melindungi Lidya justru akan membawanya ke dalam pusaran ujian hidup yang penuh rahasia, gairah yang salah, dan kesalahpahaman yang akan memisahkan mereka selama bertahun-tahun di masa depan. Untuk saat ini, yang Kendra tahu hanyalah satu hal: dia tidak akan membiarkan Lidya menangis lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Semalam Untuk Selamanya    14. Ada yang Cemburu

    Mobil hitam yang dikendarai Kendra akhirnya melaju dengan stabil memasuki area depan sekolah. Di kursi penumpang, Lidya yang sejak tadi hanya menggenggam tasnya erat, menatap jendela dengan diam. Ia berusaha untuk tenang, tak ingin mengeluarkan suara sepatahpun, karena sepanjang perjalanan, Kendra juga bersikap sama. Sesekali Kendra memang melirik ke arah Lidya tapi ia lakukan tanpa benar-benar menoleh, dan setiap kali itu terjadi Lidya buru-buru mengalihkan pandangan ke kiri. Kini, ketika mobil yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Lidya dengan susah payah menegakkan tubuhnya. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya sopan. “Hmm.” Hanya gumaman pendek yang keluar dari bibir Kendra. Lidya baru hendak membuka pintu ketika suara deru motor terdengar keras dari arah belakang. Sebuah motor sport merah datang melaju, berhenti hanya beberapa meter dari mobil Kendra. Pengendaranya membuka helm dengan kedua tangannya. Azzam. Rambutnya sedikit berantakan

  • Semalam Untuk Selamanya    13. Awal Pagi yang Canggung

    Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Lidya yang sedikit terbuka. yang mau tak mau membuatnya mengerjap pelan. Tidurnya semalam memang tak terlalu nyenyak. Itu sebabnya, kepalanya masih terasa berat. Mungkin saja. karena ia belum terbiasa tidur di tempat yang baru. Ia bangkit perlahan, merapikan rambut panjangnya yang kusut lalu bersiap turun. Menyambar handuk yang ada di lipatan lemari, lalu menyiapkan seragam yang masih ada di koper pakaian. Tak ada yang istimewa. Semuanya masih sama dalam beberapa hal. Selesai mengepang rambutnya, ia mengenakan cardigan hitamnya. "Oke. Selesai!" Senyumnya mengembang meski samar. Dan perlahan, ia melangkah turun. “Kendra! Mama tuh gak habis pikir. Bisa-bisanya Melisa datang malam-malam begitu? Mama malu tahu!" Lidya otomatis berhenti melangkah. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang berbincang serius. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bersembunyi di balik dinding. Ia memang tak bermaksud menguping, tapi suara Rima terla

  • Semalam Untuk Selamanya    12. Wanita Lain

    Malam mulai datang dan Lidya mencoba untuk mulai membiasakan diri di tempat barunya. Setelah makan, ia segera memasuki kamar dan mandi, lalu duduk di kursi belajanya, kembali membuka buku-buku pelajaran. Ujian sudah di depan mata, ia tak bisa terus menerus diam dan menyesali keadaan. Hingga waktu berlalu tanpa terasa yang pada akhirnya Lidya mulai merasakan matanya yang perih dengan kepala yang mulai berdenyut pelan. Pelajaran-pelajaran yang biasanya mudah masuk dalam kepalanya, malam ini harus berlarian keluar tanpa bisa ia cegah. Matanya melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Pantas saja ia sudah merasa lelah. Lidya segera merapikan buku-bukunya. Sesaat ia menatap ranjang besar miliknya. Ia masih tak ingin merebahkan diri di sana. Udara malam yang menyapa membuat Lidya menoleh. pintu balkon masih terbuka. Hembusan angin membawa aroma melati memenuhi ruangannya. Dengan perlahan, Lidya bangkit. Menyambar cardigan tipis yang ada di sandaran kursi belajarnya lalu berjalan

  • Semalam Untuk Selamanya    11. Insiden Telur Dadar

    Setelahnya, Lidya sendirian di ruangan yang kini telah menjadi kamarnya. Perlahan, Lidya duduk di sisi ranjang sambil menatap sekitar. Semua isi kamarnya memang bagus dan mewah, tapi saat sendiri, semua terasa gak ada artinya lagi. Lidya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati semilir angin yang membawa harum melati di seluruh ruangan. Rima memang benar-benar memanjakannya. Ia tahu betul aroma wewangian yang Lidya suka. Itu sebabnya, di balkon kamar Lidya, ia penuhi dengan tanaman bunga melati yang telah berjajar rapi. Tanpa sadar Lidya memejamkan matanya. Hingga ia tak tahu jika Mbok Nah dan suaminya telah tiba dengan barang-barang mereka. "Sekarang, kalian tinggal di sini. Temani Lidya di sini, ya?" Rima menatap pasangan tua itu dengan haru. "Nggeh, Nyonya!" Sahut mereka bersamaan. Seketika membuat Rima tertawa. "Kalian kenal betul siapa aku bisa-bisanya panggil aku, nyonya!" Sahutnya setelah berhenti tertawa. "Ya sudah, kalian ke kamar dulu. Nanti Mbok Karti yang tunjuk

  • Semalam Untuk Selamanya    10. Keluarga Juga

    Lidya membalas senyum dengan tulus. Wanita itu tampak berkelas. Cantik dan anggun. Aura mahal terpancar dari wajahnya meski dengan tampilan yang cukup sederhana. "Tante ini Mamanya Kendra! Tante Rima!" Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul Lidya dan membawanya masuk. "Barang kamu mana?" Seperti tersadar, Rima berbalik menatap Kendra dan Lidya dengan bingung. Kendra tak menjawab. Berlalu dengan santai mendahului keduanya. "Dasar. Anak gak punya sopan!" Rima mendengus sambil menatap tajam anak semata wayangnya. "Kamu yang sabar ya kalau Kendra bikin ulah sama kamu. Tapi Tante bisa jamin, dia anak baik kok!" Lidya tersenyum samar. Baik katanya? Malah kayak preman gitu, batin Lidya gemas. "Ayo, duduk dulu!" Lidya menurut. Ia duduk tepat di sisi Rima lalu muncullah seseorang dengan seragam ART-nya. Ia meletakkan orange juice di meja sambil tersenyum hangat. "Silakan, Mbak!" Lidya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo diminum dulu!" Perintah Rima halus. Lidya

  • Semalam Untuk Selamanya    9. Awal yang Baru

    Satu minggu berlalu dan luka itu masih sama meski tak lagi kentara. "Sarapan dulu, ya Mbak. Mbok masak sayur gudeg kesukaan kamu!" Lidya tersenyum lalu duduk di meja makan. "Ayo, Pak. Mbak Lidya sudah siap!" Mbok Nah setengah berteriak memanggil suaminya. Tak lama Pardi berlari kecil dari arah belakang. "Hari ini gak usah diantar Pak. Aku berangkat sendiri aja. Lagian juga gak lama. Ada rapat di sekolah jadi kayaknya pulang pagi, deh!" Lidya memberi informasi sambil menyendok nasinya. "Beneran gak papa, Mbak?" Pak Pardi menatap wajah Lidya. Sejak Lidya pindah Semarang, praktis hanya menjadi sopir Danu karena Lodra juga jarang mau di antar oleh sopir. "Gak papa, Pak. Tenang aja! Lidya tersenyum sambil terus mengisi perutnya. "Rapat apa sih, Nduk?" Mbok Nah bertanya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Meskipun ketika di jawabpun, dia tak akan paham tapi dia tahu, perhatian kecil itu bisa membuat majikannya tak merasa sendirian. "Mau persiapan ujian kelulusan, Mb

  • Semalam Untuk Selamanya    5. Wajah yang Sesungguhnya

    Tepat pukul delapan malam, suasana di ruang tamu kediaman mendiang Danu Wirajaya terasa begitu mencekam. Damar dan istrinya sudah duduk dengan angkuh, didampingi seorang pria paruh baya berjas abu-abu yang memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga. Namun, ketenangan mereka terusik saat deru mob

  • Semalam Untuk Selamanya    4. Topeng di Balik Duka

    Iring-iringan mobil duka itu akhirnya memasuki halaman luas rumah kediaman keluarga Wirajaya di Yogyakarta saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Rumah bergaya kolonial yang biasanya hangat dengan lampu-lampu temaram, kini tampak kontras dengan jejeran karangan bunga papan ucapan duka cita yang m

  • Semalam Untuk Selamanya    3. Iringan Air Mata

    Isak tangis Lidya perlahan mereda, menyisakan sesenggukan kecil yang masih memicu denyut perih di dada Kendra. Pelukan mereka terlepas perlahan. Kendra menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang begitu lembut, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya ka

  • Semalam Untuk Selamanya    1. Hari yang Berduka

    Brak. Lidya terperanjat. Matanya menatap keluar kamar. Sepertinya ada yang tak beres. Lidya segera melempar pashminanya ke ranjang lalu berlari ke luar. Mbok Nah, pengasuhnya, kini terduduk bersandar di sisi lemari sambil memegang dadanya. Tangisnya semakin kencang saat melihat Lidya berlari me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status