Beranda / Romansa / Semalam Untuk Selamanya / 3. Yang Hilang dan Bertahan

Share

3. Yang Hilang dan Bertahan

Penulis: Banyu Biru
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-08 00:19:50

Rosa dengan sigap memapah Lidya lalu mendudukannya di sisi tanah yang telah tertutup sempurna.

"Kau lihat Lodra. Aku kuat. Aku akan ada di sini untuk Lidya, seperti yang kamu minta!" Rosa mengusap dahi Lidya yang pucat.

Pak Pardi mendekat. "Mari, Non. Kita bawa Mbak Lidya pulang!" Rosa mengangguk. Lalu berdiri dan bersama Pak Pardi memapah tubuh Lidya yang lemah ke arah mobil yang terparkir.

Beberapa mata menatap mereka dengan iba. Dua gadis yang merana. Meski banyak juga yang menatap mereka dengan sinis. Dua gadis pembawa sial.

Lidya mengerjap sesaat ketika hidungnya mencium aroma minyak kayu putih. "Kau sudah sadar?" Lidya menoleh. Menatap Rosa dengan tatapan sendu.

"Kak, Bang Lodra... Bang Lodra, Kak!" Lidya seketika histeris. Tangis yang ditahannya kini tumpah. Mereka saling memeluk kembali.

"Sabar Lidya. Abangmu gak mau kamu begini. Kamu tahu, kan?" Lidya masih tergugu. Ia tahu, abangnya tak pernah membiarkannya menangis. Laki-laki itu selalu mengalah untuknya. Menuruti apapun maunya. Sama seperti ayahnya.

Tangannya terulur meraih ponsel di saku. Ia menekan tombol dan dengan cepat, sebuah pertanyaan langsung menyergap. "Mas Lodra... sudah dimakamkan, Nduk?" Lidya tak segera menjawab. Dengan susah payah, ia duduk bersandar di bantu Rosa. "Sudah Mbok!" Terdengar helaan nafas berat diseberang. Lidya tahu, Mbok Nah pasti juga ingin mengantar abangnya ke peristirahatan terakhirnya tapi itu tak mungkin. Papanya juga harus di tunggu.

"Papa masih belum sadar Nduk. Kata dokter kita tunggu dulu beberapa jam!" Jelas Mbok Nah tanpa di minta. Lidya menjawab seperlunya lalu menutup sambungan.

"Kak....!" Lidya tak meneruskan kata-katanya. Matanya terpaku menatap Rosa yang juga masih sembab. "Maaf!" Lidya tak mengatakan apapun kecuali kata maaf. Sementara Rosa hanya menggeleng pelan. Seakan tahu rasa bersalah yang menghantui Lidya.

"Semua adalah takdir, Lidya. Tak ada yang bisa memajukan atau memundurkan ajal. Semua sudah diatur. Kita hanya bisa menerima dengan ikhlas!" Rosa membelai kepala Lidya. Perlahan, Lidya bersandar di bahu kecil Rosa.

"Mbak, mobilnya sudah datang!" Lidya beringsut duduk kembali saat Pak Pardi datang memberi informasi.

"Kak...!" Lidya menatap Rosa dengan tegar. "Aku harus ke Semarang lagi, Kak. Kemungkinan Papa akan operasi besok!" Rosa terdiam. Lidya sepertinya sudah tahu, apa saja yang akan dilakukannya. "Baiklah Lidya. Hati-hati ya! Kabari aku apapun!' Lidya mengangguk. Mereka saling peluk sesaat.

"Jaga kesehatan Lidya. Kau harus kuat!" Lidya hanya tersenyum samar. Dan menatap langkah Rosa yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu.

"Semua sudah Pak Pardi siapkan!" Lidya menerima tas kecil yang baru saja diserahkan Pak Pardi. "Semua ada di dalam. Semua surat berharga punya Papa Mbak!" Lidya memicingkan mata. "Kok diberikan aku, Pak?" Pak Pardi mengangguk. "Ini amanah Papa, Mbak. Kalau ada apa-apa dengan Papa, saya diminta menyerahkan tas ini. Baik ke Mas Lodra atau Mbak Lidya!"

Lidya susah payah menelan ludahnya. Harusnya ke Bang Lodra, batinnya.

"Bawa saja. Mbak. Papa pasti juga perlu bantuan Mbak Lidy untuk mengurusnya selesai operasi!" Lidya diam sesaat. Ia merenungkan kata-kata Pak Pardi. Sepertinya apa yang dikatakan Pak Pardi memang benar. Pasca operasi papanya nanti, dia pasti akan diminta papa untuk membantunya.

"Baiklah, Pak. Aku bawa tas Papa!" Pak Pardi tersenyum lega. Meski sebenarnya, ada hal yang aneh saat majikannya berpamitan kemaren. Memintanya baik-baik menjaga rumah dan Lidya, sepeninggalnya nanti. Dan juga mengingatkan tentang tas yang jauh-jauh hari telah dititipkan. Apa Bapak sudah merasa kalau akan pergi? Pak Pardi menyusut air matanya.

"Nanti yang antar Pak Ardi ya Mbak. Dia temen sopir Bapak!" Lidya mengangguk sambil memasang tali sepatunya. "Em... Mbak Lidya yakin mau pergi sendiri. Ini sudah malam lo mbak!" Lidya hanya mendesah pelan lalu menatap jam dinding yang tergantung di ruang tengah.

"Gak papa, Pak. Di sana udah ada Mbok Nah. Pak Pardi di rumah aja. Siapkan saja kamar Papa ya, Pak. Habis operasi, aku akan bawa Papa pulang!" Pak Pardi tak menjawab. Laki-laki yang kini telah berusia enam puluh tahun itu mengangguk lemah.

Andai saja ia bisa memilih, akan lebih baik jika dia saja yang menggantikan kemalangan majikannya.

"Sudah di bayar kan Pak, mobilnya?" Tanya Lidya, memasukkan tas papanya ke dalam tas ransel.

"Sudah Mbak. Sudah dibayar semua!" Pak Pardi tak salah mengatakannya karena majikannya selalu memberinya biaya untuk jaga-jaga.

"Ya udah, Pak. Aku berangkat dulu, biar bisa cepet-cepet nemenin Papa!"

"Ya Mbak. Hati-hati!"

Lidya beranjak dari kursinya dan berjalan ke depan diikuti Pak Pardi.

"Oh ya, Pak!" Langkah Lidya terhenti mendadak dan berbalik menatap Pak Pardi yang terkejut dengan ulahnya.

"Tante Dewi sama Om Bimo gak datang ya?" Pak Pardi termenung sebentar seperti berpikir. "Kayaknya si enggak, Mbak. Setahu saya, gak ada di antara para pelayat.

"Pak Pardi gak lupa ngabarin kan?" Lidya menelisik wajah tua Pak Pardi. Barangkali saja dia lupa mengabari. Tapi lagi-lagi, Pak Pardi menggeleng. "Enggak Mbak. Bapak gak lupa. Bapak langsung mengabari tetangga, Pak RT juga Bu Dewi dan Pak Johan!" Lidya terdiam.

"Aneh. Bukannya Tante Dewi dan Om Bimo itu saudara Papa?" Lidya memiringkan wajahnya beberapa saat. "Ya sudah, Pak. Aku berangkat dulu!" Pak Pardi mengangguk lagi lalu mengantar majikan kecilnya sampai ke halaman.

"Antar majikan kecilku ya To. Jangan ngebut. Hati-hati saja!" Pesan Pak Pardi.

"Beres Di!" Laki-laki yang dipanggil Pak Anto segera membukankan pintu belakang untuk Lidya. Gadis semampai itu hanya melambaikan tangan lalu menutup jendela mobil.

Pardi masih berdiri menatap mobil yang membawa Lidya hingga hilang di tikungan jalan. Dia mendesah pelan. "Kamu harus kuat, Mbak Lidya. Jangan mengandalkan siapapun selain Allah!" Laki-laki renta itu menyusut air matanya. Kakinya melangkah masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu gerbang.

Sementara itu, Lidya menatap rumah yang dulu hangat dan ramai. Bang Lodra memang baik sebagai kakak tapi usilnya juga gak ketulungan. Setiap kali mereka bertemu, ada saja yang dilakukan Lodra hingga membuatnya menangis karena jengkel. Kalau sudah begitu, maka Papanya akan mengejar Lodra dengan sapu. Kini, Lidya merindukannya. Lidya akan rela apapun yang Lodra lakukan.

"Maaf, Bang!" Lirih Lidya. Gadis itu, kembali menangis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Semalam Untuk Selamanya    14. Ada yang Cemburu

    Mobil hitam yang dikendarai Kendra akhirnya melaju dengan stabil memasuki area depan sekolah. Di kursi penumpang, Lidya yang sejak tadi hanya menggenggam tasnya erat, menatap jendela dengan diam. Ia berusaha untuk tenang, tak ingin mengeluarkan suara sepatahpun, karena sepanjang perjalanan, Kendra juga bersikap sama. Sesekali Kendra memang melirik ke arah Lidya tapi ia lakukan tanpa benar-benar menoleh, dan setiap kali itu terjadi Lidya buru-buru mengalihkan pandangan ke kiri. Kini, ketika mobil yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Lidya dengan susah payah menegakkan tubuhnya. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya sopan. “Hmm.” Hanya gumaman pendek yang keluar dari bibir Kendra. Lidya baru hendak membuka pintu ketika suara deru motor terdengar keras dari arah belakang. Sebuah motor sport merah datang melaju, berhenti hanya beberapa meter dari mobil Kendra. Pengendaranya membuka helm dengan kedua tangannya. Azzam. Rambutnya sedikit berantakan

  • Semalam Untuk Selamanya    13. Awal Pagi yang Canggung

    Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Lidya yang sedikit terbuka. yang mau tak mau membuatnya mengerjap pelan. Tidurnya semalam memang tak terlalu nyenyak. Itu sebabnya, kepalanya masih terasa berat. Mungkin saja. karena ia belum terbiasa tidur di tempat yang baru. Ia bangkit perlahan, merapikan rambut panjangnya yang kusut lalu bersiap turun. Menyambar handuk yang ada di lipatan lemari, lalu menyiapkan seragam yang masih ada di koper pakaian. Tak ada yang istimewa. Semuanya masih sama dalam beberapa hal. Selesai mengepang rambutnya, ia mengenakan cardigan hitamnya. "Oke. Selesai!" Senyumnya mengembang meski samar. Dan perlahan, ia melangkah turun. “Kendra! Mama tuh gak habis pikir. Bisa-bisanya Melisa datang malam-malam begitu? Mama malu tahu!" Lidya otomatis berhenti melangkah. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang berbincang serius. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bersembunyi di balik dinding. Ia memang tak bermaksud menguping, tapi suara Rima terla

  • Semalam Untuk Selamanya    12. Wanita Lain

    Malam mulai datang dan Lidya mencoba untuk mulai membiasakan diri di tempat barunya. Setelah makan, ia segera memasuki kamar dan mandi, lalu duduk di kursi belajanya, kembali membuka buku-buku pelajaran. Ujian sudah di depan mata, ia tak bisa terus menerus diam dan menyesali keadaan. Hingga waktu berlalu tanpa terasa yang pada akhirnya Lidya mulai merasakan matanya yang perih dengan kepala yang mulai berdenyut pelan. Pelajaran-pelajaran yang biasanya mudah masuk dalam kepalanya, malam ini harus berlarian keluar tanpa bisa ia cegah. Matanya melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Pantas saja ia sudah merasa lelah. Lidya segera merapikan buku-bukunya. Sesaat ia menatap ranjang besar miliknya. Ia masih tak ingin merebahkan diri di sana. Udara malam yang menyapa membuat Lidya menoleh. pintu balkon masih terbuka. Hembusan angin membawa aroma melati memenuhi ruangannya. Dengan perlahan, Lidya bangkit. Menyambar cardigan tipis yang ada di sandaran kursi belajarnya lalu berjalan

  • Semalam Untuk Selamanya    11. Insiden Telur Dadar

    Setelahnya, Lidya sendirian di ruangan yang kini telah menjadi kamarnya. Perlahan, Lidya duduk di sisi ranjang sambil menatap sekitar. Semua isi kamarnya memang bagus dan mewah, tapi saat sendiri, semua terasa gak ada artinya lagi. Lidya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati semilir angin yang membawa harum melati di seluruh ruangan. Rima memang benar-benar memanjakannya. Ia tahu betul aroma wewangian yang Lidya suka. Itu sebabnya, di balkon kamar Lidya, ia penuhi dengan tanaman bunga melati yang telah berjajar rapi. Tanpa sadar Lidya memejamkan matanya. Hingga ia tak tahu jika Mbok Nah dan suaminya telah tiba dengan barang-barang mereka. "Sekarang, kalian tinggal di sini. Temani Lidya di sini, ya?" Rima menatap pasangan tua itu dengan haru. "Nggeh, Nyonya!" Sahut mereka bersamaan. Seketika membuat Rima tertawa. "Kalian kenal betul siapa aku bisa-bisanya panggil aku, nyonya!" Sahutnya setelah berhenti tertawa. "Ya sudah, kalian ke kamar dulu. Nanti Mbok Karti yang tunjuk

  • Semalam Untuk Selamanya    10. Keluarga Juga

    Lidya membalas senyum dengan tulus. Wanita itu tampak berkelas. Cantik dan anggun. Aura mahal terpancar dari wajahnya meski dengan tampilan yang cukup sederhana. "Tante ini Mamanya Kendra! Tante Rima!" Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul Lidya dan membawanya masuk. "Barang kamu mana?" Seperti tersadar, Rima berbalik menatap Kendra dan Lidya dengan bingung. Kendra tak menjawab. Berlalu dengan santai mendahului keduanya. "Dasar. Anak gak punya sopan!" Rima mendengus sambil menatap tajam anak semata wayangnya. "Kamu yang sabar ya kalau Kendra bikin ulah sama kamu. Tapi Tante bisa jamin, dia anak baik kok!" Lidya tersenyum samar. Baik katanya? Malah kayak preman gitu, batin Lidya gemas. "Ayo, duduk dulu!" Lidya menurut. Ia duduk tepat di sisi Rima lalu muncullah seseorang dengan seragam ART-nya. Ia meletakkan orange juice di meja sambil tersenyum hangat. "Silakan, Mbak!" Lidya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo diminum dulu!" Perintah Rima halus. Lidya

  • Semalam Untuk Selamanya    9. Awal yang Baru

    Satu minggu berlalu dan luka itu masih sama meski tak lagi kentara. "Sarapan dulu, ya Mbak. Mbok masak sayur gudeg kesukaan kamu!" Lidya tersenyum lalu duduk di meja makan. "Ayo, Pak. Mbak Lidya sudah siap!" Mbok Nah setengah berteriak memanggil suaminya. Tak lama Pardi berlari kecil dari arah belakang. "Hari ini gak usah diantar Pak. Aku berangkat sendiri aja. Lagian juga gak lama. Ada rapat di sekolah jadi kayaknya pulang pagi, deh!" Lidya memberi informasi sambil menyendok nasinya. "Beneran gak papa, Mbak?" Pak Pardi menatap wajah Lidya. Sejak Lidya pindah Semarang, praktis hanya menjadi sopir Danu karena Lodra juga jarang mau di antar oleh sopir. "Gak papa, Pak. Tenang aja! Lidya tersenyum sambil terus mengisi perutnya. "Rapat apa sih, Nduk?" Mbok Nah bertanya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Meskipun ketika di jawabpun, dia tak akan paham tapi dia tahu, perhatian kecil itu bisa membuat majikannya tak merasa sendirian. "Mau persiapan ujian kelulusan, Mb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status