เข้าสู่ระบบIring-iringan mobil duka itu akhirnya memasuki halaman luas rumah kediaman keluarga Wirajaya di Yogyakarta saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Rumah bergaya kolonial yang biasanya hangat dengan lampu-lampu temaram, kini tampak kontras dengan jejeran karangan bunga papan ucapan duka cita yang memenuhi trotoar hingga ke pintu gerbang.
Lampu-lampu sorot putih dipasang di beberapa sudut halaman, menerangi kerumunan pelayat yang sudah memenuhi kursi-kursi lipat di bawah tenda. Begitu roda mobil sedan hitam Kendra berhenti sempurna, suara isak tangis yang riuh dari dalam tenda langsung menyambut mereka. Lidya mencengkeram boneka beruang di pangkuannya lebih erat. Tubuhnya kembali gemetar melihat dua mobil ambulans di depan mereka mulai membuka pintu belakang. "Lidya, pakai pashminamu dengan benar. Pegang tangan Abang," instruksi Kendra lembut namun tegas. Lidya menurut tanpa suara. Ia membiarkan tangan besarnya yang hangat menangkup telapak tangannya yang sedingin es, menuntunnya keluar dari mobil. Di teras rumah, Mbok Nah langsung berlari tertatih-tatih menghampiri Lidya. Wanita tua itu menangis histeris, memeluk majikan kecilnya dengan erat. "Nduk... ya Allah, Nduk... yang tabah, Nduk..." ratap Mbok Nah. Di belakangnya, Siska berdiri dengan setelan hitam formal, memberikan anggukan hormat yang menenangkan pada Kendra. Siska rupanya bergerak cepat, ia sudah tiba lebih dulu bersama supir sewaan untuk mengurus kesiapan rumah duka. Namun, di antara kerumunan pelayat yang menatap Lidya dengan iba, mata Kendra yang tajam langsung menangkap keberadaan sepasang suami istri yang duduk di sofa utama ruang tamu. Paman Lidya, Damar Wirajaya, beserta istrinya, tampak berdiri dengan tergesa-gesa begitu melihat peti jenazah mulai digotong masuk. "Oh, Lidya! Anakku!" Damar langsung merangsek maju, merangkul pundak Lidya dengan dramatis. "Bagaimana bisa kejadian ini menimpa Papa dan kakakmu? Paman hancur sekali, Lid. Hancur!" Istri Damar ikut menyusut sudut matanya yang kering dengan tisu, mengeluarkan suara tangisan yang dibuat-buat. "Benar, Lidya. Kamu tenang saja, ada Paman dan Bibi di sini. Kami tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapi musibah ini." Lidya hanya terpaku, membiarkan dirinya dipeluk secara formalitas. Gadis itu terlalu polos untuk menyadari sesuatu, namun Kendra yang berdiri di samping Lidya bisa melihat dengan jelas: ada kilatan kepuasan dan kalkulasi yang dingin di balik mata Damar saat menatap rumah besar ini, lalu beralih menatap Lidya seolah-olah gadis tujuh belas tahun itu hanyalah kerikil kecil yang mudah disingkirkan. Kendra berdeham keras, melangkah maju hingga tubuh tingginya secara tidak langsung memblokir jarak antara Damar dan Lidya. "Selamat malam, Pak Damar. Saya Kendra Wijanarko." Damar melepaskan pelukannya dari Lidya, menatap Kendra dengan dahi berkerut, menilai setelan mahal yang melekat di tubuh pria dewasa di depannya. "Ah, nak Kendra... Sahabatnya mendiang Lodra, ya? Terima kasih sudah mengantar keponakan saya pulang." "Bukan sekadar mengantar," potong Kendra, suaranya terdengar dingin dan berwibawa, membuat beberapa pelayat di dekat mereka menoleh. "Lodra secara resmi menitipkan Lidya dan seluruh urusan keluarga Wirajaya kepada saya sebelum dia tiada. Jadi, saya yang bertanggung jawab penuh atas segala prosesi dari malam ini hingga pemakaman besok." Mendengar itu, rahang Damar sempat mengeras sedetik sebelum ia memaksakan senyum ramah. "Tentu, tentu. Tapi bagaimanapun, saya ini pamannya, darah dagingnya. Masalah keluarga dan... aset, biar nanti kami yang urus setelah pemakaman selesai." Kendra hanya menanggapi dengan senyuman tipis yang sarat akan intimidasi. "Kita bicarakan itu nanti, Pak Damar. Sekarang, biarkan Lidya menemani Papa dan kakaknya." Kendra menatap Siska. Pere.puan itu mengangguk paham. Ia segera membawa Lidya menuju kamar untuk beristirahat sementara Kendra segera menghubungi pengacara terbaiknya. Melihat itu, Asih, istri Damar hanya mengerucutkan bibirnya sesaat sebelum akhirnya ia menyusul sang suami di depan, menemui para pelayat. Keesokan harinya, prosesi pemakaman berlangsung di bawah rintik hujan gerimis yang seolah ikut menangis. Pemakaman keluarga di daerah pinggiran Jogja itu dipenuhi pelayat yang mengantarkan Danu dan Lodra Wirajaya ke peristirahatan terakhir mereka. Lidya berdiri di bawah payung hitam yang dipegangi oleh Kendra. Sepanjang proses pelantunan doa dan penimbunan tanah, Lidya tidak mengeluarkan suara. Air matanya terus mengalir dalam diam, membasahi pipinya yang kian pucat. Sifat cerianya seolah terkubur bersama dua kotak kayu di dalam liang lahat itu. Satu per satu pelayat mulai membubarkan diri setelah mengucapkan belasungkawa terakhir. Damar dan istrinya sempat mendekati Lidya kembali, berpura-pura menangis di depan kamera beberapa pelayat dan kolega bisnis Danu yang datang dari luar kota. "Lidya, Paman dan Bibi balik ke rumah dulu untuk ganti baju. Dengar, masih ada kami, jangan terlalu sedih ya." bisik Damar, menepuk bahu Lidya dengan tatapan yang kini tak lagi menyembunyikan ambisinya. Lidya hanya mengangguk samar, terlalu lelah untuk mencerna maksud terselubung sang paman. Satu jam berlalu semenjak tanah makam basah itu mengering. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa kelopak bunga mawar yang ditaburkan di atas gundukan tanah baru. Kini, area pemakaman yang luas itu telah sepi. Iring-iringan mobil pelayat telah lama menghilang dari jalanan setapak. Hanya tertinggal empat orang yang masih berdiri terpaku di depan dua nisan yang masih basah. Lidya perlahan berlutut di antara makam ayah dan kakaknya. Jemarinya yang kurus menyentuh kayu nisan Lodra. "Bang Lodra... Papa... Lidya pulang dulu ya. Kamar Lidya rasanya bakal sepi banget malam ini." Mbok Nah ikut bersimpuh di belakang Lidya, memeluk pundak gadis itu sambil terisak pelan. Sementara itu, beberapa langkah di belakang mereka, Kendra berdiri kokoh dengan payung hitam yang masih terbuka, matanya menatap tajam ke arah jalan raya, seolah bersiap menghadapi badai yang tahu akan segera datang sore nanti dari paman Lidya. Siska berdiri setia di sebelah bosnya, memegang beberapa dokumen administrasi pemakaman yang telah selesai diurus. "Mas Kendra," bisik Siska pelan agar tidak mengganggu Lidya. "Pak Damar tadi menelepon saya menggunakan nomor kantor. Dia meminta pertemuan darurat di rumah mendiang jam empat sore ini. Katanya, dia membawa pengacara keluarga." Kendra mencengkeram gagang payungnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya beralih menatap punggung rapuh Lidya yang masih menangis di atas makam. "Biarkan dia datang, Siska," jawab Kendra, suaranya begitu rendah dan berbahaya. "Kekosongan hukum karena Lidya belum dewasa adalah celah yang diincar tikus-tikus itu. Hubungi tim hukum Wijanarko Group sekarang juga. Suruh mereka bawa draf perlindungan aset." "Baik, Mas." Kendra melangkah maju, mendekati Lidya yang masih enggan beranjak. Pria itu mengulurkan tangannya, membantu Lidya untuk berdiri. "Ayo pulang, Lid. Anginnya makin dingin. Kamu belum makan dari semalam." Lidya mendongak, menatap Kendra dengan mata sembapnya. "Bang Kendra... Paman Damar mau rebut pabrik Papa, ya?" tanya Lidya tiba-tiba, suaranya bergetar ketakutan. Ternyata, gadis kecil itu tidak sebodoh yang Kendra kira. Dia mendengar bisikan pamannya tadi. Kendra menatap lekat manik mata Lidya, lalu menghapus sebutir air hujan yang menetes di dahi gadis itu. "Abang sudah bilang kemarin, kan? Selama Kendra Wijanarko masih bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh milikmu. Sekarang, percaya sama Abang. Kita hadapi mereka bersama." Di bawah langit Jogja yang mendung, di antara keheningan makam, janji itu kembali diikrarkan. Kendra tahu, perang melawan keserakahahan keluarga Wirajaya baru saja dimulai, dan dia siap menjadi perisai bagi gadis kecil yang diam-diam telah mengunci hatinya rapat-rapat.Mobil hitam yang dikendarai Kendra akhirnya melaju dengan stabil memasuki area depan sekolah. Di kursi penumpang, Lidya yang sejak tadi hanya menggenggam tasnya erat, menatap jendela dengan diam. Ia berusaha untuk tenang, tak ingin mengeluarkan suara sepatahpun, karena sepanjang perjalanan, Kendra juga bersikap sama. Sesekali Kendra memang melirik ke arah Lidya tapi ia lakukan tanpa benar-benar menoleh, dan setiap kali itu terjadi Lidya buru-buru mengalihkan pandangan ke kiri. Kini, ketika mobil yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Lidya dengan susah payah menegakkan tubuhnya. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya sopan. “Hmm.” Hanya gumaman pendek yang keluar dari bibir Kendra. Lidya baru hendak membuka pintu ketika suara deru motor terdengar keras dari arah belakang. Sebuah motor sport merah datang melaju, berhenti hanya beberapa meter dari mobil Kendra. Pengendaranya membuka helm dengan kedua tangannya. Azzam. Rambutnya sedikit berantakan
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Lidya yang sedikit terbuka. yang mau tak mau membuatnya mengerjap pelan. Tidurnya semalam memang tak terlalu nyenyak. Itu sebabnya, kepalanya masih terasa berat. Mungkin saja. karena ia belum terbiasa tidur di tempat yang baru. Ia bangkit perlahan, merapikan rambut panjangnya yang kusut lalu bersiap turun. Menyambar handuk yang ada di lipatan lemari, lalu menyiapkan seragam yang masih ada di koper pakaian. Tak ada yang istimewa. Semuanya masih sama dalam beberapa hal. Selesai mengepang rambutnya, ia mengenakan cardigan hitamnya. "Oke. Selesai!" Senyumnya mengembang meski samar. Dan perlahan, ia melangkah turun. “Kendra! Mama tuh gak habis pikir. Bisa-bisanya Melisa datang malam-malam begitu? Mama malu tahu!" Lidya otomatis berhenti melangkah. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang berbincang serius. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bersembunyi di balik dinding. Ia memang tak bermaksud menguping, tapi suara Rima terla
Malam mulai datang dan Lidya mencoba untuk mulai membiasakan diri di tempat barunya. Setelah makan, ia segera memasuki kamar dan mandi, lalu duduk di kursi belajanya, kembali membuka buku-buku pelajaran. Ujian sudah di depan mata, ia tak bisa terus menerus diam dan menyesali keadaan. Hingga waktu berlalu tanpa terasa yang pada akhirnya Lidya mulai merasakan matanya yang perih dengan kepala yang mulai berdenyut pelan. Pelajaran-pelajaran yang biasanya mudah masuk dalam kepalanya, malam ini harus berlarian keluar tanpa bisa ia cegah. Matanya melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Pantas saja ia sudah merasa lelah. Lidya segera merapikan buku-bukunya. Sesaat ia menatap ranjang besar miliknya. Ia masih tak ingin merebahkan diri di sana. Udara malam yang menyapa membuat Lidya menoleh. pintu balkon masih terbuka. Hembusan angin membawa aroma melati memenuhi ruangannya. Dengan perlahan, Lidya bangkit. Menyambar cardigan tipis yang ada di sandaran kursi belajarnya lalu berjalan
Setelahnya, Lidya sendirian di ruangan yang kini telah menjadi kamarnya. Perlahan, Lidya duduk di sisi ranjang sambil menatap sekitar. Semua isi kamarnya memang bagus dan mewah, tapi saat sendiri, semua terasa gak ada artinya lagi. Lidya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati semilir angin yang membawa harum melati di seluruh ruangan. Rima memang benar-benar memanjakannya. Ia tahu betul aroma wewangian yang Lidya suka. Itu sebabnya, di balkon kamar Lidya, ia penuhi dengan tanaman bunga melati yang telah berjajar rapi. Tanpa sadar Lidya memejamkan matanya. Hingga ia tak tahu jika Mbok Nah dan suaminya telah tiba dengan barang-barang mereka. "Sekarang, kalian tinggal di sini. Temani Lidya di sini, ya?" Rima menatap pasangan tua itu dengan haru. "Nggeh, Nyonya!" Sahut mereka bersamaan. Seketika membuat Rima tertawa. "Kalian kenal betul siapa aku bisa-bisanya panggil aku, nyonya!" Sahutnya setelah berhenti tertawa. "Ya sudah, kalian ke kamar dulu. Nanti Mbok Karti yang tunjuk
Lidya membalas senyum dengan tulus. Wanita itu tampak berkelas. Cantik dan anggun. Aura mahal terpancar dari wajahnya meski dengan tampilan yang cukup sederhana. "Tante ini Mamanya Kendra! Tante Rima!" Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul Lidya dan membawanya masuk. "Barang kamu mana?" Seperti tersadar, Rima berbalik menatap Kendra dan Lidya dengan bingung. Kendra tak menjawab. Berlalu dengan santai mendahului keduanya. "Dasar. Anak gak punya sopan!" Rima mendengus sambil menatap tajam anak semata wayangnya. "Kamu yang sabar ya kalau Kendra bikin ulah sama kamu. Tapi Tante bisa jamin, dia anak baik kok!" Lidya tersenyum samar. Baik katanya? Malah kayak preman gitu, batin Lidya gemas. "Ayo, duduk dulu!" Lidya menurut. Ia duduk tepat di sisi Rima lalu muncullah seseorang dengan seragam ART-nya. Ia meletakkan orange juice di meja sambil tersenyum hangat. "Silakan, Mbak!" Lidya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo diminum dulu!" Perintah Rima halus. Lidya
Satu minggu berlalu dan luka itu masih sama meski tak lagi kentara. "Sarapan dulu, ya Mbak. Mbok masak sayur gudeg kesukaan kamu!" Lidya tersenyum lalu duduk di meja makan. "Ayo, Pak. Mbak Lidya sudah siap!" Mbok Nah setengah berteriak memanggil suaminya. Tak lama Pardi berlari kecil dari arah belakang. "Hari ini gak usah diantar Pak. Aku berangkat sendiri aja. Lagian juga gak lama. Ada rapat di sekolah jadi kayaknya pulang pagi, deh!" Lidya memberi informasi sambil menyendok nasinya. "Beneran gak papa, Mbak?" Pak Pardi menatap wajah Lidya. Sejak Lidya pindah Semarang, praktis hanya menjadi sopir Danu karena Lodra juga jarang mau di antar oleh sopir. "Gak papa, Pak. Tenang aja! Lidya tersenyum sambil terus mengisi perutnya. "Rapat apa sih, Nduk?" Mbok Nah bertanya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Meskipun ketika di jawabpun, dia tak akan paham tapi dia tahu, perhatian kecil itu bisa membuat majikannya tak merasa sendirian. "Mau persiapan ujian kelulusan, Mb
Tepat pukul delapan malam, suasana di ruang tamu kediaman mendiang Danu Wirajaya terasa begitu mencekam. Damar dan istrinya sudah duduk dengan angkuh, didampingi seorang pria paruh baya berjas abu-abu yang memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga. Namun, ketenangan mereka terusik saat deru mob
Isak tangis Lidya perlahan mereda, menyisakan sesenggukan kecil yang masih memicu denyut perih di dada Kendra. Pelukan mereka terlepas perlahan. Kendra menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang begitu lembut, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya ka
"Mas Kendra, ini dasinya mau diganti warna apa? Dari tadi kok ditarik-tarik terus, lama-lama bisa brudul, Mas." Siska menatap bosnya dengan ekspresi antara ngeri dan ingin tertawa. Di dalam ruang kerja CEO Wijanarko Group yang super mewah itu, Kendra Wijanarko sudah seperti setrikaan kaku. Berjalan
Brak. Lidya terperanjat. Matanya menatap keluar kamar. Sepertinya ada yang tak beres. Lidya segera melempar pashminanya ke ranjang lalu berlari ke luar. Mbok Nah, pengasuhnya, kini terduduk bersandar di sisi lemari sambil memegang dadanya. Tangisnya semakin kencang saat melihat Lidya berlari me







