MasukLidya mengerjapkan mata. Perlahan menggeliat lalu membenahi duduknya dan bersandar.
"Udah sampai, Pak?" Lidya menatap keluar jendela. Menatapkan penglihatannya yang masih setengah kabur. "Sebentar lagi, Mbak!" Entah pukul berapa ia terpejam, yang pasti saat jam di dasbor mobil sewaannya menunjuk pukul tujuh, Lidya masih sempat menanyakan kabar papanya lewat Mbok Nah. "Belum ada perubahan, Nduk!" Lidya temangu diam, menangis pelan hingga terpejam. Lidya kini duduk kaku di kursi penumpang. Pak Anto, seorang pria paruh baya yang pendiam, mungkin sudah diberi tahu oleh Pak Pardi tentang kondisi yang Lidya alami. Lidya menatap jalanan saat mobil Avanza silver yang membawanya melaju menembus kegelapan malam. Mata Lidya menangkap rintik hujan gerimis yang mulai turun, membuat lampu-lampu jalan berpendar seperti bintang yang luruh. Setiap tetes airnya di kaca depan terasa seperti pukulan yang menyakitkan. "Mbak Lidya, mau mampir istirahat dulu? Minum teh hangat mungkin?" Suara Pak Anto memecah keheningan setelah satu jam perjalanan. Lidya hanya menatap lewat spion lalu menggeleng pelan. Dan kembali terpaku pada jalanan yang disapu bersih oleh lampu mobil. Matanya melirik jam, pukul sembilan lebih. Perjalanan dari Jogja ke Semarang biasanya memakan waktu empat jam kini hanya terlampaui tiga jam malam ini. Seolah alam semesta pun memberi jalan, meski Lidya tak tahu apakah ia sedang berlari menuju harapan atau menuju kembali pada kenyataan yang kembali menghancurkan. Seharusnya, malam ini penuh dengan kemeriahan. Kehadiran papa dan kakaknya menjadi obat rindu sekaligus bahagianya jelang dewasa. Tapi Tuhan membuatnya dewasa dengan cara yang tak terduga. Rasa bersalah kembali menghantuinya. Andai saja ia tak memaksa bertahan demi sebuah tugas tambahan, tentu mereka masih menunggunya di rumah. Merayakan ulang tahunnya penuh kehangatan. Perlahan mobil memasuki kawasan RSUP Dr. Kariadi, Semarang. "Mbak, kita ke IGD atau..." Pak Anto tak melanjutkan pertanyaan. "Langsung ke ruang ICU saja Pak!" suara Lidya serak, nyaris tak terdengar. Pak Anto mengangguk, mencari jalannya sendiri. Hingga Lidya melihatnya. Mbok Nah, yang sedang terduduk di kursi tunggu. Tak sendiri. Mungkin keluarga dari pasien lain. Mobil belum berhenti sempurna saat Lidya sudah membuka pintu dan menghambur keluar, mengabaikan gerimis. Mbok Nah mendongak. Wajahnya masih basah. Ia berdiri, dan langsung memeluk Lidya dengan erat. Di pelukan Mbok Nah, pertahanan Lidya akhirnya runtuh. Tangis yang ia kira telah kering kini kembali meledak tanpa bisa dibendung lagi. Ia terisak. "Nduk.. Mbak Lidya... sabar, Nduk..." Mbok Nah sendiri ikut menangis, menepuk-nepuk punggung majikan mudanya. "gimana kondisi Papa, Mbok? Ada perubahan?" Lidya bertanya di sela isaknya, menarik diri dari pelukan itu, mencengkeram lengan Mbok Nah. Ia butuh jawaban. Mbok Nah menelan ludah, air matanya kembali menggenang. Ia menuntun Lidya untuk duduk di kursi tunggu. "Mbok... Papa..." "Mbok Nah ndak berani bilang, Mbak. Tadi... tadi Mbok sempat di kasih tahu sama perawat yang jaga," Mbok Nah memulai dengan suara bergetar. "Kata perawat, kondisi Papa.... kita hanya bisa menunggu!" Jantung Lidya seolah berhenti berdetak. "Papa masih ndak sadar!" lanjut Mbok Nah, mengulang kata-kata perawat dengan susah payah. Mbok Nah berhenti sejenak, mengusap air matanya. Lidya membekap mulutnya. "Katanya Dokter bedah saraf juga sudah lihat hasilnya, Nduk. Tapi..." Mbok Nah menggigit bibirnya, tak sanggup melanjutkan. "Tapi apa, Mbok?" desak Lidya, suaranya naik satu oktaf. "Dokter bilang... sudah... sudah ndak bisa dioperasi," bisik Mbok Nah. "Nggak bisa dioperasi? Kenapa Mbok?" Lidya mulai lemah. Mbok Nah menggeleng. Tak bisa menjawab. Mbok Nah melanjutkan. "Mbok ndak ngerti itu apa, tapi perawat bilang, merek cuma bisa kasih obat-obatan terbaik." Lidya tahu apa artinya. Merekapun sudah menyerah. Mbok Nah memgelus lengannya sambil menatap Lidya, memegang kedua tangan gadis itu yang sedingin es. "Perawat bilang... perawat bilang kita harus siap... untuk kemungkinan terburuk." Lidya menatap pintu kaca ICU. Di baliknya, ayahnya kini sedang terbaring, dikelilingi mesin yang berbunyi monoton, berjuang dalam pertarungan yang ternyata sudah divonis kalah oleh para dokter. Abangnya telah pergi. Kini, Papanya akan menyusul. Lidya akhirnya diam. Tak ada lagi harapan. Ia hanya bisa beristighfar sambil menekan dadanya yang berdenyut sakit. Secepat ini mereka harus pergi meninggalkannya. Selamanya. Dan Lidya tak tahu, apakah dia bisa bertahan dalam kesendirian. Mbok Nah memahami perasaan Lidya. Ia pun tak lagi berkata-kata. Hanya menatap malam yang semakin pekat dengan misterinya. Sayangnya, keheningan di lorong tunggu itu tak berlangsung lama. Suara alarm dari balik pintu kaca ganda itu memecah kesunyian. Bunyinya nyaring, berulang, dan memburu. Suara yang selalu menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang menunggu di depan ruang intensif. Lidya tersentak, kepalanya langsung terangkat. Jantungnya berpacu lebih cepat dari bunyi alarm itu. Ia melihat bayangan putih berkelebat di balik kaca buram. Para perawat yang tadinya duduk tenang, kini berlarian menuju satu titik. "Dokter! Pasien bed 3! Saturasi turun drastis!" Teriakan samar itu menembus dinding kaca. Lidya gemetar. Pintu kaca otomatis terbuka lebar. Seorang perawat pria dengan wajah tegang keluar, matanya menyapu area ruang tunggu. "Keluarga Bapak Danu?" teriaknya, tak sempat berbasa-basi. Lidya langsung berdiri, kakinya goyah tapi ia memaksakan diri. "Saya! Saya anaknya!" "Masuk. Cepat!" Perawat itu memberi isyarat tangan yang mendesak. "Jantung Bapak henti mendadak. Kami sedang resusitasi." Dunia Lidya berputar. Ia setengah berlari melewati pintu kaca itu. Sosok gagah yang selalu memeluknya itu kini tergolek tak berdaya. Tubuhnya penuh selang. Wajahnya bengkak dan pucat, nyaris tak dikenali jika bukan karena tahi lalat di dagunya. Perban tebal melilit kepalanya yang kini botak sebagian. Situasi di sekeliling ranjang itu kacau balau namun terstruktur. Dua orang perawat sibuk menyuntikkan obat-obatan lewat selang infus yang berderet. Seorang dokter muda sedang menekan dada papanya dengan irama teratur dan kuat. Tubuh papanya terguncang setiap kali dokter itu menekan dadanya. "Papa..." panggil Lidya lirih, suaranya tenggelam oleh bunyi monitor yang masih menampilkan garis gelombang yang tak beraturan. Dokter itu berhenti sejenak, menatap monitor. Garis itu masih melandai, nyaris datar. Ia kembali memompa. "Siapkan defibrillator! Kita coba kejut jantung sekali lagi!" Dokter itu menghela napas panjang, bahunya turun. Ia menatap rekannya, lalu menggeleng pelan. Ia menoleh pada Lidya yang berdiri gemetar. Dokter itu menatap Lidya dengan pandangan iba. "Mbak, Bapak sudah tidak sakit lagi. Mendekatlah. Bisikkan doa. Ini saat terakhirnya. Tuntun beliau." Dengan langkah berat, Lidya mendekat ke sisi kepala ranjang. Ia memberanikan diri menyentuh tangan papanya yang dingin. "Pa..." bisik Lidya tepat di telinga papanya. Air matanya jatuh menetes ke pipi sang ayah. "Lidya di sini, Pa!" Monitor masih berbunyi panjang, konstan. "Papa yang tenang ya... Bang Lodra udah nunggu Papa..." Suara Lidya pecah, menjadi raungan kecil yang menyedihkan. Ia mencium kening ayahnya yang bau obat. "Lidya baik-baik saja! Papa jangan khawatir!" Lidya menuntun membacakan doa. Dokter melihat jam tangannya, lalu mencatat di status pasien dengan wajah muram. "Waktu kematian, pukul 21.45 WIB." Detik itu juga, Lidya merasa separuh jiwanya ikut mati. Ia ambruk, memeluk tubuh kaku ayahnya.Mobil hitam yang dikendarai Kendra akhirnya melaju dengan stabil memasuki area depan sekolah. Di kursi penumpang, Lidya yang sejak tadi hanya menggenggam tasnya erat, menatap jendela dengan diam. Ia berusaha untuk tenang, tak ingin mengeluarkan suara sepatahpun, karena sepanjang perjalanan, Kendra juga bersikap sama. Sesekali Kendra memang melirik ke arah Lidya tapi ia lakukan tanpa benar-benar menoleh, dan setiap kali itu terjadi Lidya buru-buru mengalihkan pandangan ke kiri. Kini, ketika mobil yang mereka tumpangi, berhenti tepat di depan gerbang sekolah, Lidya dengan susah payah menegakkan tubuhnya. “Terima kasih sudah mengantar,” ucapnya sopan. “Hmm.” Hanya gumaman pendek yang keluar dari bibir Kendra. Lidya baru hendak membuka pintu ketika suara deru motor terdengar keras dari arah belakang. Sebuah motor sport merah datang melaju, berhenti hanya beberapa meter dari mobil Kendra. Pengendaranya membuka helm dengan kedua tangannya. Azzam. Rambutnya sedikit berantakan
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar Lidya yang sedikit terbuka. yang mau tak mau membuatnya mengerjap pelan. Tidurnya semalam memang tak terlalu nyenyak. Itu sebabnya, kepalanya masih terasa berat. Mungkin saja. karena ia belum terbiasa tidur di tempat yang baru. Ia bangkit perlahan, merapikan rambut panjangnya yang kusut lalu bersiap turun. Menyambar handuk yang ada di lipatan lemari, lalu menyiapkan seragam yang masih ada di koper pakaian. Tak ada yang istimewa. Semuanya masih sama dalam beberapa hal. Selesai mengepang rambutnya, ia mengenakan cardigan hitamnya. "Oke. Selesai!" Senyumnya mengembang meski samar. Dan perlahan, ia melangkah turun. “Kendra! Mama tuh gak habis pikir. Bisa-bisanya Melisa datang malam-malam begitu? Mama malu tahu!" Lidya otomatis berhenti melangkah. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang berbincang serius. Ia menyandarkan tubuhnya dengan bersembunyi di balik dinding. Ia memang tak bermaksud menguping, tapi suara Rima terla
Malam mulai datang dan Lidya mencoba untuk mulai membiasakan diri di tempat barunya. Setelah makan, ia segera memasuki kamar dan mandi, lalu duduk di kursi belajanya, kembali membuka buku-buku pelajaran. Ujian sudah di depan mata, ia tak bisa terus menerus diam dan menyesali keadaan. Hingga waktu berlalu tanpa terasa yang pada akhirnya Lidya mulai merasakan matanya yang perih dengan kepala yang mulai berdenyut pelan. Pelajaran-pelajaran yang biasanya mudah masuk dalam kepalanya, malam ini harus berlarian keluar tanpa bisa ia cegah. Matanya melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Pantas saja ia sudah merasa lelah. Lidya segera merapikan buku-bukunya. Sesaat ia menatap ranjang besar miliknya. Ia masih tak ingin merebahkan diri di sana. Udara malam yang menyapa membuat Lidya menoleh. pintu balkon masih terbuka. Hembusan angin membawa aroma melati memenuhi ruangannya. Dengan perlahan, Lidya bangkit. Menyambar cardigan tipis yang ada di sandaran kursi belajarnya lalu berjalan
Setelahnya, Lidya sendirian di ruangan yang kini telah menjadi kamarnya. Perlahan, Lidya duduk di sisi ranjang sambil menatap sekitar. Semua isi kamarnya memang bagus dan mewah, tapi saat sendiri, semua terasa gak ada artinya lagi. Lidya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menikmati semilir angin yang membawa harum melati di seluruh ruangan. Rima memang benar-benar memanjakannya. Ia tahu betul aroma wewangian yang Lidya suka. Itu sebabnya, di balkon kamar Lidya, ia penuhi dengan tanaman bunga melati yang telah berjajar rapi. Tanpa sadar Lidya memejamkan matanya. Hingga ia tak tahu jika Mbok Nah dan suaminya telah tiba dengan barang-barang mereka. "Sekarang, kalian tinggal di sini. Temani Lidya di sini, ya?" Rima menatap pasangan tua itu dengan haru. "Nggeh, Nyonya!" Sahut mereka bersamaan. Seketika membuat Rima tertawa. "Kalian kenal betul siapa aku bisa-bisanya panggil aku, nyonya!" Sahutnya setelah berhenti tertawa. "Ya sudah, kalian ke kamar dulu. Nanti Mbok Karti yang tunjuk
Lidya membalas senyum dengan tulus. Wanita itu tampak berkelas. Cantik dan anggun. Aura mahal terpancar dari wajahnya meski dengan tampilan yang cukup sederhana. "Tante ini Mamanya Kendra! Tante Rima!" Ia memperkenalkan dirinya sambil merangkul Lidya dan membawanya masuk. "Barang kamu mana?" Seperti tersadar, Rima berbalik menatap Kendra dan Lidya dengan bingung. Kendra tak menjawab. Berlalu dengan santai mendahului keduanya. "Dasar. Anak gak punya sopan!" Rima mendengus sambil menatap tajam anak semata wayangnya. "Kamu yang sabar ya kalau Kendra bikin ulah sama kamu. Tapi Tante bisa jamin, dia anak baik kok!" Lidya tersenyum samar. Baik katanya? Malah kayak preman gitu, batin Lidya gemas. "Ayo, duduk dulu!" Lidya menurut. Ia duduk tepat di sisi Rima lalu muncullah seseorang dengan seragam ART-nya. Ia meletakkan orange juice di meja sambil tersenyum hangat. "Silakan, Mbak!" Lidya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo diminum dulu!" Perintah Rima halus. Lidya
Satu minggu berlalu dan luka itu masih sama meski tak lagi kentara. "Sarapan dulu, ya Mbak. Mbok masak sayur gudeg kesukaan kamu!" Lidya tersenyum lalu duduk di meja makan. "Ayo, Pak. Mbak Lidya sudah siap!" Mbok Nah setengah berteriak memanggil suaminya. Tak lama Pardi berlari kecil dari arah belakang. "Hari ini gak usah diantar Pak. Aku berangkat sendiri aja. Lagian juga gak lama. Ada rapat di sekolah jadi kayaknya pulang pagi, deh!" Lidya memberi informasi sambil menyendok nasinya. "Beneran gak papa, Mbak?" Pak Pardi menatap wajah Lidya. Sejak Lidya pindah Semarang, praktis hanya menjadi sopir Danu karena Lodra juga jarang mau di antar oleh sopir. "Gak papa, Pak. Tenang aja! Lidya tersenyum sambil terus mengisi perutnya. "Rapat apa sih, Nduk?" Mbok Nah bertanya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Meskipun ketika di jawabpun, dia tak akan paham tapi dia tahu, perhatian kecil itu bisa membuat majikannya tak merasa sendirian. "Mau persiapan ujian kelulusan, Mb







