LOGINDi balik pintu, Anastasia menutup kedua matanya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa pernikahan mereka memang dingin karena Jasper sulit mengungkapkan perasaannya. Sekarang, ia akhirnya menyadari kenyataan yang selama ini enggan ia terima. Bukan Jasper yang tidak pandai mencintai. Hanya saja pria itu tidak pernah mencintainya.
Anastasia tidak sanggup mendengar satu kata pun lagi. Tangannya yang sejak tadi menggantung di udara akhirnya mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.
Brak!
Suara benturan kayu memenuhi ruangan, memutus percakapan hangat yang baru saja terjadi di antara Jasper dan Mary.
Kedua orang itu sontak menoleh. Mary tampak terkejut hingga refleks melepaskan pelukan dari tubuh Jasper, sementara Jasper membeku sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Anastasia.
Wanita itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Tatapannya menyapu keduanya perlahan sebelum berhenti pada Jasper.
"Jadi..." Suaranya begitu pelan hingga nyaris seperti bisikan. "Begitu rupanya."
Keheningan langsung memenuhi kamar. Jasper menghela napas kasar. Bukannya merasa bersalah, raut wajahnya justru dipenuhi rasa jengkel.
"Ana." Nada suaranya terdengar dingin. "Apa kau tidak diajari mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar orang lain?"
Anastasia tidak menjawab. Seolah ucapan Jasper sama sekali tidak terdengar olehnya. Tatapannya bergeser kepada Mary yang kini tanpa sadar berlindung di balik tubuh Jasper.
Refleks sederhana itu terasa begitu menyakitkan. Seolah Jasper memang tempat paling aman bagi wanita itu. Sedangkan dirinya hanyalah orang asing yang mengganggu.
"Jadi selama ini..." suara Anastasia akhirnya terdengar lagi, "Aku hanya seseorang yang kau manfaatkan?"
Jasper memijat pelipisnya dengan kesal.
"Anastasia, berhenti membuat masalah. Aku sedang tidak ingin berdebat. Kita bicara di luar."
Di luar.
Anastasia tersenyum kecil dan sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Kenapa harus di luar?" Tatapannya kembali menancap pada Jasper. "Sejak tadi kau tidak keberatan mempermalukanku di depan wanita ini."
Ia melirik Mary sekilas.
"Wanita yang dengan sadar menggoda suami orang."
Mary langsung menggeleng panik.
"Baroness... bukan seperti itu..."
"Cukup!"
Bentakan Jasper memotong ucapan Mary. Ia melangkah mendekati Anastasia hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.
"Aku bilang kita selesaikan di luar."
"Kenapa?" Anastasia balik bertanya tanpa sedikit pun mundur. "Apa karena kau takut dia mendengar kenyataan bahwa kau baru saja mengaku tidak pernah mencintaiku?"
Rahang Jasper mengeras.
"Atau..." lanjut Anastasia dengan senyum getir, "kau takut wanita kesayanganmu mengetahui bahwa selama ini kau hanya memanfaatkan keluargaku untuk menyelamatkan keluarga Silas dari kebangkrutan?"
Plak!
Suara tamparan menggema begitu keras. Tubuh Anastasia terdorong ke samping akibat kerasnya pukulan itu. Beberapa helai rambut jatuh menutupi wajahnya.
Mary menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jasper sendiri tampak terdiam beberapa detik, seolah baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.
Sementara Anastasia tidak bergerak. Perlahan tangannya terangkat menyentuh pipi kirinya yang terasa panas dan berdenyut dan matanya berkaca-kaca.
Bukan karena rasa sakit, tapi karena kenyataan bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah orang yang sama yang pernah berjanji akan melindunginya seumur hidup.
Selama empat tahun bersama, Jasper memang berubah, ia menjadi dingin dan sering membentaknya. Lalu mengabaikan keberadaannya. Tapi Jasper tidak akan pernah mengangkat tangan kepadanya.
Dan malam ini keyakinan itu ikut hancur. Jasper menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya yang mulai meledak.
"Jangan membuatku kehilangan kesabaran, Anastasia."
Suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
"Aku bilang kita bicara di luar."
Tanpa memberi kesempatan kepada Anastasia untuk menjawab, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan istrinya. Cengkeramannya begitu kuat hingga membuat Anastasia meringis.
"Jasper... lepaskan..."
Pria itu seolah tidak mendengar. Ia menyeret Anastasia keluar kamar begitu saja. Di saat tubuhnya melewati ambang pintu, Anastasia tanpa sengaja menoleh ke belakang.
Pandangannya bertemu dengan Mary. Wanita yang tadi menangis ketakutan itu kini tidak lagi terlihat rapuh dan sudut bibirnya perlahan terangkat dan penuh kemenangan. Seolah berkata bahwa ia telah berhasil merebut segalanya.
Melihat itu, Anastasia hanya bisa tertawa dalam hati.
Betapa bodohnya dirinya. Selama ini ia selalu memperlakukan Mary dengan baik. Ia memberinya pakaian yang layak, mengizinkannya belajar membaca, bahkan melindunginya ketika pelayan lain merendahkan statusnya.
Namun orang yang paling ia percaya sekarang menjadi orang pertama yang menikamnya dari belakang. Dan yang lebih menyakitkan lagi pria yang seharusnya menjadi tempatnya pulang memilih berdiri di sisi wanita itu, bukan di sisinya. Jasper mendorong pintu kamar mereka hingga terbuka, lalu menarik Anastasia masuk tanpa memberi kesempatan untuk melawan.
Brak.
Pintu ditutup dengan keras.
Anastasia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Pergelangan tangannya masih terasa nyeri akibat cengkeraman Jasper yang belum lama dilepaskan. Ia belum sempat mengucapkan apa pun ketika Jasper lebih dulu berbicara.
"Bisakah kau berhenti membuat masalah, Ana?" Nada suaranya terdengar lelah, seolah-olah dialah korban dalam semua kekacauan malam itu.
Anastasia menatapnya tidak percaya.
"Membuat masalah?" ulangnya lirih. "Jasper... kau sendiri yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi."
"Pelankan suaramu."
Jasper mengusap wajahnya kasar.
"Mary sedang hamil muda. Dokter bilang kandungannya lemah dan berisiko keguguran. Aku tidak ingin dia terganggu karena keributan yang kau buat."
Anastasia tersenyum getir. Bahkan sekarang yang dipikirkan Jasper tetap Mary. Bukan dirinya yang baru saja ditampar dan bukan rumah tangga mereka yang baru saja hancur.
"Jadi itu alasanmu?" tanyanya pelan. "Kau mengkhawatirkan dia, sementara aku harus menerima semua ini begitu saja?"
Jasper mengembuskan napas panjang.
"Ana, dengarkan aku baik-baik."
Ia melangkah mendekat, berusaha menenangkan situasi.
"Aku tahu kau marah. Siapa pun akan marah jika berada di posisimu. Tapi aku mohon, bersabarlah."
Anastasia hanya memandangnya dalam diam.
"Biarkan Mary melahirkan anak itu."
Setelah mengatakan itu, Jasper menatap Anastasia seolah merasa telah memberikan jalan keluar terbaik.
"Begitu anak itu lahir, aku akan mengatur semuanya."
"Maksudmu?"
"Aku akan mencarikannya tempat tinggal. Dia tidak akan mengganggu kehidupan kita lagi."
Anastasia mengerutkan kening. Jasper melanjutkan tanpa merasa ada yang salah dengan ucapannya.
"Setelah semuanya selesai... kita akan hidup seperti dulu."
"Apa maksdumu?"
"Kau akan menjadi ibu dari bayi itu."
Lior turun dari kereta dan Anastasia hanya bisa menatap punggungnya beberapa saat. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengikuti pria itu turun.Entah apa sebenarnya isi perjanjian antara Lior dan Ansel. Anastasia mulai merasa bahwa pernikahannya dengan Jasper mungkin hanyalah sebagian kecil dari permainan yang jauh lebih besar.Dan tanpa ia sadari, dirinya telah berdiri tepat di tengah-tengahnya.Pertemuan itu akhirnya terjadi di salah satu ruang pribadi milik keluarga Korvath yang berada tidak jauh dari pusat kota. Tempat tersebut sengaja dipilih Ansel karena lebih sepi dan tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Bahkan para pelayan yang berada di bangunan itu hanya orang-orang yang sudah lama bekerja untuk keluarga Korvath dan dapat dipercaya.Namun, begitu Anastasia membuka pintu dan masuk bersama Lior, suasana ruangan langsung berubah.Ansel yang sedang berdiri di belakang meja kerjanya mengangkat wajah. Ia awalnya hanya melihat Anastasia dan mengira adiknya datang s
Anastasia sudah lebih dulu berada di dalam kereta ketika Stevi akhirnya ikut naik. Karena kereta itu memang disiapkan untuk perjalanan Anastasia dan tidak mungkin menyiapkan kereta lain hanya untuk seorang pelayan, Stevi tidak punya pilihan selain ikut dalam kereta yang sama. Ia segera duduk di samping Anastasia, sementara Lior tetap berada di bangku yang berseberangan dengan mereka.Stevi sempat melirik Lior dengan canggung sebelum menundukkan kepala. Jelas gadis itu masih merasa aneh karena tiba-tiba harus berada dalam satu kereta dengan Duke yang selama ini hanya berani ia lihat dari jauh.Anastasia sendiri juga merasa sedikit tidak nyaman. Ia menatap Lior,"Yang Mulia, karena Anda tiba-tiba memutuskan untuk ikut, saya harap Anda tidak keberatan jika Stevi tetap berada di dalam kereta."Lior mengalihkan pandangan kepada Stevi yang duduk di samping Anastasia. Ia tidak menunjukkan keberatan sedikit pun."Tidak masalah."Jawabannya singkat dan tenang.Anastasia mengangguk. "Terima kas
Jasper tidak menjawab. Anastasia pun berbalik dan pergi menuju ruang makan. Langkahnya tetap tenang, seolah percakapan mereka memang sudah selesai.Jasper masih berdiri di lorong, memperhatikan punggung Anastasia hingga menghilang. Tangannya mengepal, tetapi kali ini bukan karena marah. Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa khawatir.Selama ini, Jasper yakin Anastasia akan selalu bertahan. Namun wanita itu sudah tidak seperti dulu. Ia tidak lagi memohon, menangis, atau takut kehilangan pernikahan mereka. Bahkan ancaman perceraian tadi terdengar seperti keputusan yang benar-benar sudah dipikirkannya.Sementara itu, Anastasia duduk di ruang makan dan meminta teh seperti biasa. Tangannya memang sedikit dingin, tetapi wajahnya tetap tenang, ia merasa telah mengatakan apa yang seharusnya dikatakannya sejak awal. Jika Jasper kembali melewati batas, kali ini Anastasia tidak akan hanya mengancam.Ia benar-benar akan pergi.***Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa urusan di dalam kastil,
Setelah mengatakan itu, Anastasia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia tidak mempercepat langkah, juga tidak menoleh lagi. Seolah-olah percakapan dengan Jasper telah selesai dan tidak ada alasan baginya untuk berdiri lebih lama di lorong itu.Namun baru beberapa langkah, suara Jasper kembali terdengar dari belakang."Ana."Anastasia berhenti. Ia menutup mata sejenak sebelum berbalik. Wajahnya tetap tenang ketika menatap Jasper yang masih berdiri di tempat yang sama. Pria itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan beberapa saat sebelumnya. Tangannya masih mengepal di sisi tubuhnya, sementara rahangnya mengeras menahan amarah."Apa lagi?""Kau benar-benar akan terus bersikap seperti ini kepadaku?"Anastasia menatapnya tanpa ekspresi."Seperti apa?""Seolah-olah aku bukan suamimu."Anastasia terdiam beberapa detik. Lalu ia menarik napas perlahan."Karena kau sendiri yang membuatku sulit menganggapmu sebagai suami."Jasper mengeraskan rahangnya."Aku sudah mengatakan bahwa a
Stevi mengangguk."Baik."Anastasia kembali menatap surat dari Ansel yang masih berada di atas meja. Besok ia harus pergi, dan apa pun yang menunggunya di luar sana mungkin akan mengubah banyak hal, ia hanya bisa berharap rencana Stevi tidak berubah menjadi masalah baru sebelum ia sempat bertemu dengan kakaknya.Sementara di luar kamar, suara langkah pelayan masih terdengar samar di sepanjang koridor kastil. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik pintu itu, Anastasia sedang mempersiapkan sesuatu yang harus dilakukan secara diam-diam.I mulai merasa bahwa masalah yang dihadapinya tidak lagi hanya tentang Jasper dan Mary. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di belakang semua ini.***Pagi itu, Anastasia baru saja keluar dari kamarnya ketika ia bertemu Jasper di lorong menuju ruang makan. Ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama berada di sana. Setelah malam yang melelahkan, ia hanya ingin sarapan dengan tenang lalu menjalani hari seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti keti
Anastasia akhirnya berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Lior. Ia hanya merapikan ujung gaunnya, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu meninggalkan meja makan. Malam itu, ia tidak peduli apakah Lior masih ingin berbicara dengannya atau tidak. Rasanya ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.Begitu keluar dari Paviliun Barat, Anastasia berjalan kembali menuju kastil dengan langkah pelan. Udara malam terasa dingin, tetapi kepalanya justru terasa semakin penuh. Perkataan Lior terus terngiang di benaknya, begitu pula kejadian beberapa jam sebelumnya. Jasper, perceraian, Mary, keluarganya, bahkan pertanyaan tentang Lior yang belum juga mampu ia jawab. Semuanya datang bersamaan hingga Anastasia tidak ingin memikirkan satu pun.Sesampainya di kamar, ia langsung masuk dan menutup pintu. Anastasia berdiri beberapa saat di tengah ruangan tanpa melakukan apa-apa. Tatapannya kosong, seolah tubuhnya sudah berada di sana, tetapi pikirannya masih tertinggal jauh di belaka







