로그인Anastasia berdiri membeku ketika Jasper kembali membuka suara. Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti berputar. Anastasia menatap Jasper tanpa berkedip, ia bahkan merasa pendengarannya bermasalah.
Menjadi... ibu bagi bayi itu?
Bayi hasil perselingkuhan suaminya sendiri?
"Apa..." Suaranya tercekat. "Apa maksudmu?"
Jasper menghela napas panjang, seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang sangat masuk akal.
"Ana, dengarkan aku."
Ia melangkah mendekat.
"Aku mengakui aku salah. Aku memang menyembunyikan hubungan ini darimu." Nada suaranya terdengar tenang, nyaris tanpa penyesalan. "Tapi kau juga harus mengerti..."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Aku seorang pria."
Anastasia hanya memandangnya. Matanya mulai memerah, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk mendengarkan.
"Di dunia ini," lanjut Jasper, "lelaki mana yang hanya memiliki satu wanita? Terlebih seorang bangsawan."
Ia tersenyum tipis, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang wajar.
"Memiliki lebih dari satu wanita bukanlah hal yang aneh."
Setetes air mata akhirnya jatuh di pipi Anastasia. Jadi selama ini, beginikah cara Jasper memandang kesetiaan?
Jasper kembali mendekat, berusaha meraih kedua tangan Anastasia.
"Yang kuminta hanya satu. Bersabarlah. Sampai Mary melahirkan."
Anastasia tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Ibu juga sudah mengetahui semuanya." Suaranya tetap tenang. "Aku tidak ingin membuat masalah baru di keluarga ini."
Anastasia perlahan menarik tangannya sebelum sempat disentuh Jasper. Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Jadi..." bibirnya bergetar. "Kau mengorbankanku demi dia?"
Jasper tidak segera menjawab. Keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup.
Anastasia tertawa lirih yang terdengar begitu rapuh.
"Aku masih bisa melahirkan anakmu sendiri, Jasper." Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ia bendung. "Lalu kenapa aku harus menjadi ibu bagi anak dari wanita lain?"
"Itu keputusanku." Jawaban Jasper terdengar singkat.
Anastasia mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan sakit yang memenuhi dadanya.
Kalau begitu tak ada lagi yang perlu dipertahankan. Ia mengangkat wajahnya perlahan.
"Kalau begitu..." suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Mari kita bercerai."
Ruangan mendadak sunyi.
Jasper menatap Anastasia beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa. Tawa pendek yang terdengar penuh ejekan.
Anastasia menggigit bibirnya. Ia tidak mengerti apa yang lucu dari permintaannya. Setelah tawanya mereda, Jasper kembali menatapnya.
"Ana..."
Nada suaranya berubah, seolah sedang berbicara kepada anak kecil yang tidak memahami keadaan.
"Kau serius meminta cerai dariku?"
Anastasia tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus menatap pria yang selama ini menjadi pusat dunianya. Melihat kebisuan itu, Jasper menggeleng pelan.
"Sepertinya kau terlalu dikuasai emosi."
Ia mendekat beberapa langkah.
"Kau lupa satu hal. Kakakmu belum mendapatkan gelar bangsawan."
Mata Anastasia membelalak. Jasper melanjutkan tanpa belas kasihan.
"Seluruh kekayaan yang dikeluarkan keluargamu untuk pernikahan ini bukan semata-mata demi dirimu. Semua itu adalah bagian dari kesepakatan. Selama kau masih menjadi istriku, keluarga Korvath tetap memiliki hubungan dengan keluarga bangsawan."
Anastasia merasakan darah mengalir dari tanganya yang tergenggam.
"Tapi jika kau bercerai sekarang..." sudut bibir Jasper terangkat tipis. "Apa kau yakin kakakmu akan membiarkanmu menghancurkan semua usahanya begitu saja?"
Anastasia membeku. Kakaknya, pria yang menghabiskan begitu banyak harta demi memastikan keluarganya memperoleh gelar bangsawan dan pijakan di kalangan aristokrat.
Anastasia tahu betul berapa besar pengorbanan yang telah dilakukan keluarganya. Melihat perubahan raut wajah istrinya, Jasper merasa telah menemukan celah. Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut memegang kedua lengan Anastasia.
"Ana."
Kali ini suaranya dibuat selembut mungkin.
"Pikirkan baik-baik. Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu."
Ia menatap mata Anastasia, berharap wanita itu luluh seperti biasanya.
"Bersabarlah. Hanya sampai bayi itu lahir. Setelah itu... semuanya akan kembali seperti semula."
Jasper pergi tanpa menoleh, meninggalkan Anastasia seorang diri di kamar yang kembali sunyi. Begitu pintu tertutup, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia baru menyadari bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki jalan keluar.
Setelah berhasil menenangkan diri, Anastasia bangkit untuk menutup pintu kamar. Namun saat pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Seorang pria berjubah hitam berdiri tepat di depan kamarnya. Anastasia segera mengusap sisa air matanya sebelum membungkukkan badan.
"Yang Mulia Duke..." suaranya masih terdengar serak. "Apa yang Anda lakukan di sini? Bukankah Anda seharusnya beristirahat?"
Lior tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu menyapu wajah Anastasia yang masih memerah akibat tangisan sebelum akhirnya berkata dengan nada datar,
"Suara kalian membangunkan hampir seluruh penghuni kastil."
Anastasia menegang. Barulah ia menyadari beberapa pelayan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana buru-buru menundukkan kepala ketika menyadari keberadaannya. Begitu tatapan Lior beralih ke arah mereka, para pelayan itu segera membubarkan diri, meninggalkan koridor yang kembali lengang.
Rasa malu perlahan memenuhi wajah Anastasia. Ia kembali membungkuk.
"Maafkan saya, Yang Mulia."
Lior melangkah mendekat. Sepasang sepatu botnya berhenti hanya beberapa langkah di hadapan Anastasia.
"Sudah kukatakan sebelumnya."
Anastasia perlahan mengangkat wajah dan menatap pria itu. Ia teringat ucapan Lior beberapa jam sebelumnya bahwa ia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dengan seorang bajingan. Saat itu ia menganggap Lior hanya ikut campur, tetapi kini ia mulai memahami maksud perkataannya.
Anastasia memilih diam tanpa mengatakan apa pun. Sementara itu, Lior mengalihkan pandangannya ke langit malam di balik jendela koridor.
"Seorang lelaki memiliki lebih dari satu wanita."
Ucapannya terdengar begitu tenang, seolah hanya sedang menyampaikan sebuah fakta.
"Itu bukan sesuatu yang salah."
Anastasia menundukkan pandangan. Ia tahu memiliki lebih dari satu wanita bukan hal yang asing di kalangan bangsawan. Namun, yang paling menyakitkan baginya bukanlah kehadiran wanita lain, melainkan kebohongan dan pengkhianatan Jasper yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Lior kembali menatapnya.
"Daripada menangis, mengapa kau tidak membalasnya dengan cara yang sama?"
Kalimat Anastasia menggantung di udara. Ruangan yang semula dipenuhi suara dentingan peralatan makan mendadak sunyi. Bahkan para pelayan yang berdiri di sisi ruangan saling melirik, tidak berani mengangkat kepala.Jasper perlahan meletakkan sendok yang berada di tangannya, tatapannya mengeras."Ana."Nada suaranya rendah, tetapi cukup membuat siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa kesabarannya mulai habis."Aku sudah memperingatkanmu semalam."Anastasia tidak menjawab. Ia hanya memandang pria di hadapannya tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun."Jangan membuat masalah."Mendengar kalimat itu, Anastasia hampir tertawa. Membuat masalah?Sejak ia memasuki ruang makan, ia bahkan belum melakukan apa pun. Ia hanya berdiri beberapa saat, lalu mengucapkan satu kalimat yang bahkan tidak mengandung makian.Di mata Jasper dirinyalah yang selalu menjadi sumber masalah. Sebelum Anastasia sempat membuka mulut, Mary lebih dulu menarik pelan lengan baju Jasper."Baron..." Suara wanita itu begitu lem
Anastasia menatap Lior dengan wajah yang dipenuhi kebingungan. Beberapa saat ia hanya terdiam, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Namun semakin dipikirkan, semakin ia merasa tidak mengerti."Yang Mulia..." Suaranya terdengar pelan, hampir seperti bisikan. "Apa maksud ucapan Anda?"Lior mengalihkan pandangannya kepadanya. Tatapan abu-abu itu tetap tenang, nyaris tanpa riak, seolah pertanyaan Anastasia adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan."Aku rasa," ucapnya datar, "kau tidak cukup bodoh untuk tidak memahami apa yang baru saja kukatakan."Anastasia menggigit bibir bawahnya."Bukan begitu." Ia menggeleng pelan. "Saya benar-benar tidak mengerti."Tatapannya dipenuhi kebingungan yang tulus."Yang Mulia mengatakan saya harus membalasnya dengan cara yang sama." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih. "Tapi... saya tidak tahu apa maksudnya."Keheningan menyelimuti koridor.Lior memandang wanita di hadapannya beberapa saat. Tak
Anastasia berdiri membeku ketika Jasper kembali membuka suara. Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti berputar. Anastasia menatap Jasper tanpa berkedip, ia bahkan merasa pendengarannya bermasalah.Menjadi... ibu bagi bayi itu?Bayi hasil perselingkuhan suaminya sendiri?"Apa..." Suaranya tercekat. "Apa maksudmu?"Jasper menghela napas panjang, seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang sangat masuk akal."Ana, dengarkan aku."Ia melangkah mendekat."Aku mengakui aku salah. Aku memang menyembunyikan hubungan ini darimu." Nada suaranya terdengar tenang, nyaris tanpa penyesalan. "Tapi kau juga harus mengerti..."Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Aku seorang pria."Anastasia hanya memandangnya. Matanya mulai memerah, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk mendengarkan."Di dunia ini," lanjut Jasper, "lelaki mana yang hanya memiliki satu wanita? Terlebih seorang bangsawan."Ia tersenyum tipis, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang wajar."Memiliki lebih dari satu
Di balik pintu, Anastasia menutup kedua matanya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa pernikahan mereka memang dingin karena Jasper sulit mengungkapkan perasaannya. Sekarang, ia akhirnya menyadari kenyataan yang selama ini enggan ia terima. Bukan Jasper yang tidak pandai mencintai. Hanya saja pria itu tidak pernah mencintainya.Anastasia tidak sanggup mendengar satu kata pun lagi. Tangannya yang sejak tadi menggantung di udara akhirnya mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.Brak!Suara benturan kayu memenuhi ruangan, memutus percakapan hangat yang baru saja terjadi di antara Jasper dan Mary.Kedua orang itu sontak menoleh. Mary tampak terkejut hingga refleks melepaskan pelukan dari tubuh Jasper, sementara Jasper membeku sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.Anastasia.Wanita itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Tatapannya menyapu keduanya perlahan sebelum berhenti pada Jasper."Jadi..." Suaranya begitu pelan hingga nyaris seperti bisikan. "Begitu rupanya."Kehe
Malam telah turun saat Anastasia keluar dari ruangan itu. Koridor-koridor panjang kini diterangi cahaya yang berkelip tenang, sementara seluruh penghuni kastil mulai kembali ke kamar masing-masing.Hanya satu orang yang masih berjalan tanpa tujuan yang pasti.Anastasia.Gaun panjangnya bergesekan pelan dengan lantai marmer setiap kali ia melangkah menuju Paviliun Timur. Wajahnya masih terlihat pucat sejak kejadian sore tadi, tetapi ia terus memaksakan dirinya untuk berjalan walaupun ucapan Lior masih terngiang di telinganya.Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir suara itu dari kepalanya.Tidak.Bagaimanapun juga Jasper adalah suaminya. Pria yang telah ia cintai selama empat tahun. Mungkin... semua ini hanyalah kesalahpahaman. Mungkin masih ada penjelasan yang belum sempat ia dengarkan. Dengan keyakinan itulah Anastasia akhirnya berdiri di depan kamar yang berada di ujung Paviliun Timur.Ia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Berbicara baik-baik dengan Jasper. Namun, sebelum b
Anastasia mematung, tatapannya beralih kepada Jasper yang kini kembali merangkul Mary, seolah tidak terjadi apa-apa."Ana," ucap Jasper santai. "Kalau sudah selesai melayani Duke, temui aku di Paviliun Timur."Anastasia mengerutkan kening.Melayani?Ia ingin membantah, tetapi tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Lior. Wajah pria itu tetap datar, namun sorot matanya yang dingin memperlihatkan bahwa kesabarannya sudah hampir habis.Jasper sama sekali tidak memedulikan kebingungan istrinya. Ia justru menoleh kepada Lior."Dia akan melayani Anda dengan baik. Katakan saja apa pun yang Anda butuhkan, Sepupu.""Baron." Suara tegas dari seorang pria di belakang Lior memotong ucapannya. "Jagalah ucapan Anda di hadapan Yang Mulia Duke."Jasper terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya."Ah, aku lupa." Ia membungkukkan badan sekadarnya. "Maaf, Yang Mulia Duke."Lior bahkan tidak menoleh dan Jasper kembali tersenyum tipis."Tapi karena sekarang Anda seorang buronan, kurasa tidak perlu terlalu







