بيت / Romansa / Sembunyi, Duke! Suamiku Datang / 5- Balas Dengan Cara Yang Sama.

مشاركة

5- Balas Dengan Cara Yang Sama.

مؤلف: A Yunisa
last update تاريخ النشر: 2026-07-14 09:45:40

Anastasia berdiri membeku ketika Jasper kembali membuka suara. Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti berputar. Anastasia menatap Jasper tanpa berkedip, ia bahkan merasa pendengarannya bermasalah.

Menjadi... ibu bagi bayi itu?

Bayi hasil perselingkuhan suaminya sendiri?

"Apa..." Suaranya tercekat. "Apa maksudmu?"

Jasper menghela napas panjang, seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang sangat masuk akal.

"Ana, dengarkan aku."

Ia melangkah mendekat.

"Aku mengakui aku salah. Aku memang menyembunyikan hubungan ini darimu." Nada suaranya terdengar tenang, nyaris tanpa penyesalan. "Tapi kau juga harus mengerti..."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Aku seorang pria."

Anastasia hanya memandangnya. Matanya mulai memerah, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk mendengarkan.

"Di dunia ini," lanjut Jasper, "lelaki mana yang hanya memiliki satu wanita? Terlebih seorang bangsawan."

Ia tersenyum tipis, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang wajar.

"Memiliki lebih dari satu wanita bukanlah hal yang aneh."

Setetes air mata akhirnya jatuh di pipi Anastasia. Jadi selama ini, beginikah cara Jasper memandang kesetiaan?

Jasper kembali mendekat, berusaha meraih kedua tangan Anastasia.

"Yang kuminta hanya satu. Bersabarlah. Sampai Mary melahirkan."

Anastasia tidak bisa mengatakan apapun lagi.

"Ibu juga sudah mengetahui semuanya." Suaranya tetap tenang. "Aku tidak ingin membuat masalah baru di keluarga ini."

Anastasia perlahan menarik tangannya sebelum sempat disentuh Jasper. Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan.

"Jadi..." bibirnya bergetar. "Kau mengorbankanku demi dia?"

Jasper tidak segera menjawab. Keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup.

Anastasia tertawa lirih yang terdengar begitu rapuh.

"Aku masih bisa melahirkan anakmu sendiri, Jasper." Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ia bendung. "Lalu kenapa aku harus menjadi ibu bagi anak dari wanita lain?"

"Itu keputusanku." Jawaban Jasper terdengar singkat.

Anastasia mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan sakit yang memenuhi dadanya.

Kalau begitu tak ada lagi yang perlu dipertahankan. Ia mengangkat wajahnya perlahan.

"Kalau begitu..." suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Mari kita bercerai."

Ruangan mendadak sunyi.

Jasper menatap Anastasia beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa. Tawa pendek yang terdengar penuh ejekan.

Anastasia menggigit bibirnya. Ia tidak mengerti apa yang lucu dari permintaannya. Setelah tawanya mereda, Jasper kembali menatapnya.

"Ana..."

Nada suaranya berubah, seolah sedang berbicara kepada anak kecil yang tidak memahami keadaan.

"Kau serius meminta cerai dariku?"

Anastasia tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus menatap pria yang selama ini menjadi pusat dunianya. Melihat kebisuan itu, Jasper menggeleng pelan.

"Sepertinya kau terlalu dikuasai emosi."

Ia mendekat beberapa langkah.

"Kau lupa satu hal. Kakakmu belum mendapatkan gelar bangsawan."

Mata Anastasia membelalak. Jasper melanjutkan tanpa belas kasihan.

"Seluruh kekayaan yang dikeluarkan keluargamu untuk pernikahan ini bukan semata-mata demi dirimu. Semua itu adalah bagian dari kesepakatan. Selama kau masih menjadi istriku, keluarga Korvath tetap memiliki hubungan dengan keluarga bangsawan."

Anastasia merasakan darah mengalir dari tanganya yang tergenggam.

"Tapi jika kau bercerai sekarang..." sudut bibir Jasper terangkat tipis. "Apa kau yakin kakakmu akan membiarkanmu menghancurkan semua usahanya begitu saja?"

Anastasia membeku. Kakaknya, pria yang menghabiskan begitu banyak harta demi memastikan keluarganya memperoleh gelar bangsawan dan pijakan di kalangan aristokrat.

Anastasia tahu betul berapa besar pengorbanan yang telah dilakukan keluarganya. Melihat perubahan raut wajah istrinya, Jasper merasa telah menemukan celah. Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut memegang kedua lengan Anastasia.

"Ana."

Kali ini suaranya dibuat selembut mungkin.

"Pikirkan baik-baik. Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu."

Ia menatap mata Anastasia, berharap wanita itu luluh seperti biasanya.

"Bersabarlah. Hanya sampai bayi itu lahir. Setelah itu... semuanya akan kembali seperti semula."

Jasper pergi tanpa menoleh, meninggalkan Anastasia seorang diri di kamar yang kembali sunyi. Begitu pintu tertutup, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia baru menyadari bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki jalan keluar.

Setelah berhasil menenangkan diri, Anastasia bangkit untuk menutup pintu kamar. Namun saat pintu terbuka, langkahnya langsung terhenti. Seorang pria berjubah hitam berdiri tepat di depan kamarnya. Anastasia segera mengusap sisa air matanya sebelum membungkukkan badan.

"Yang Mulia Duke..." suaranya masih terdengar serak. "Apa yang Anda lakukan di sini? Bukankah Anda seharusnya beristirahat?"

Lior tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu menyapu wajah Anastasia yang masih memerah akibat tangisan sebelum akhirnya berkata dengan nada datar,

"Suara kalian membangunkan hampir seluruh penghuni kastil."

Anastasia menegang. Barulah ia menyadari beberapa pelayan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana buru-buru menundukkan kepala ketika menyadari keberadaannya. Begitu tatapan Lior beralih ke arah mereka, para pelayan itu segera membubarkan diri, meninggalkan koridor yang kembali lengang.

Rasa malu perlahan memenuhi wajah Anastasia. Ia kembali membungkuk.

"Maafkan saya, Yang Mulia."

Lior melangkah mendekat. Sepasang sepatu botnya berhenti hanya beberapa langkah di hadapan Anastasia.

"Sudah kukatakan sebelumnya."

Anastasia perlahan mengangkat wajah dan menatap pria itu. Ia teringat ucapan Lior beberapa jam sebelumnya bahwa ia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dengan seorang bajingan. Saat itu ia menganggap Lior hanya ikut campur, tetapi kini ia mulai memahami maksud perkataannya.

Anastasia memilih diam tanpa mengatakan apa pun. Sementara itu, Lior mengalihkan pandangannya ke langit malam di balik jendela koridor.

"Seorang lelaki memiliki lebih dari satu wanita."

Ucapannya terdengar begitu tenang, seolah hanya sedang menyampaikan sebuah fakta.

"Itu bukan sesuatu yang salah."

Anastasia menundukkan pandangan. Ia tahu memiliki lebih dari satu wanita bukan hal yang asing di kalangan bangsawan. Namun, yang paling menyakitkan baginya bukanlah kehadiran wanita lain, melainkan kebohongan dan pengkhianatan Jasper yang sama sekali tidak merasa bersalah.

Lior kembali menatapnya.

"Daripada menangis, mengapa kau tidak membalasnya dengan cara yang sama?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   81- Ingin Mendengar Semuanya.

    Lior turun dari kereta dan Anastasia hanya bisa menatap punggungnya beberapa saat. Ia kemudian menarik napas panjang dan mengikuti pria itu turun.Entah apa sebenarnya isi perjanjian antara Lior dan Ansel. Anastasia mulai merasa bahwa pernikahannya dengan Jasper mungkin hanyalah sebagian kecil dari permainan yang jauh lebih besar.Dan tanpa ia sadari, dirinya telah berdiri tepat di tengah-tengahnya.Pertemuan itu akhirnya terjadi di salah satu ruang pribadi milik keluarga Korvath yang berada tidak jauh dari pusat kota. Tempat tersebut sengaja dipilih Ansel karena lebih sepi dan tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Bahkan para pelayan yang berada di bangunan itu hanya orang-orang yang sudah lama bekerja untuk keluarga Korvath dan dapat dipercaya.Namun, begitu Anastasia membuka pintu dan masuk bersama Lior, suasana ruangan langsung berubah.Ansel yang sedang berdiri di belakang meja kerjanya mengangkat wajah. Ia awalnya hanya melihat Anastasia dan mengira adiknya datang s

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   80- Rencana Mendadak.

    Anastasia sudah lebih dulu berada di dalam kereta ketika Stevi akhirnya ikut naik. Karena kereta itu memang disiapkan untuk perjalanan Anastasia dan tidak mungkin menyiapkan kereta lain hanya untuk seorang pelayan, Stevi tidak punya pilihan selain ikut dalam kereta yang sama. Ia segera duduk di samping Anastasia, sementara Lior tetap berada di bangku yang berseberangan dengan mereka.Stevi sempat melirik Lior dengan canggung sebelum menundukkan kepala. Jelas gadis itu masih merasa aneh karena tiba-tiba harus berada dalam satu kereta dengan Duke yang selama ini hanya berani ia lihat dari jauh.Anastasia sendiri juga merasa sedikit tidak nyaman. Ia menatap Lior,"Yang Mulia, karena Anda tiba-tiba memutuskan untuk ikut, saya harap Anda tidak keberatan jika Stevi tetap berada di dalam kereta."Lior mengalihkan pandangan kepada Stevi yang duduk di samping Anastasia. Ia tidak menunjukkan keberatan sedikit pun."Tidak masalah."Jawabannya singkat dan tenang.Anastasia mengangguk. "Terima kas

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   79- Ikut Pergi.

    Jasper tidak menjawab. Anastasia pun berbalik dan pergi menuju ruang makan. Langkahnya tetap tenang, seolah percakapan mereka memang sudah selesai.Jasper masih berdiri di lorong, memperhatikan punggung Anastasia hingga menghilang. Tangannya mengepal, tetapi kali ini bukan karena marah. Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa khawatir.Selama ini, Jasper yakin Anastasia akan selalu bertahan. Namun wanita itu sudah tidak seperti dulu. Ia tidak lagi memohon, menangis, atau takut kehilangan pernikahan mereka. Bahkan ancaman perceraian tadi terdengar seperti keputusan yang benar-benar sudah dipikirkannya.Sementara itu, Anastasia duduk di ruang makan dan meminta teh seperti biasa. Tangannya memang sedikit dingin, tetapi wajahnya tetap tenang, ia merasa telah mengatakan apa yang seharusnya dikatakannya sejak awal. Jika Jasper kembali melewati batas, kali ini Anastasia tidak akan hanya mengancam.Ia benar-benar akan pergi.***Siang itu, setelah menyelesaikan beberapa urusan di dalam kastil,

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   78- Gugatan Perceraian.

    Setelah mengatakan itu, Anastasia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Ia tidak mempercepat langkah, juga tidak menoleh lagi. Seolah-olah percakapan dengan Jasper telah selesai dan tidak ada alasan baginya untuk berdiri lebih lama di lorong itu.Namun baru beberapa langkah, suara Jasper kembali terdengar dari belakang."Ana."Anastasia berhenti. Ia menutup mata sejenak sebelum berbalik. Wajahnya tetap tenang ketika menatap Jasper yang masih berdiri di tempat yang sama. Pria itu tampak jauh lebih tegang dibandingkan beberapa saat sebelumnya. Tangannya masih mengepal di sisi tubuhnya, sementara rahangnya mengeras menahan amarah."Apa lagi?""Kau benar-benar akan terus bersikap seperti ini kepadaku?"Anastasia menatapnya tanpa ekspresi."Seperti apa?""Seolah-olah aku bukan suamimu."Anastasia terdiam beberapa detik. Lalu ia menarik napas perlahan."Karena kau sendiri yang membuatku sulit menganggapmu sebagai suami."Jasper mengeraskan rahangnya."Aku sudah mengatakan bahwa a

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   77- Hubungan Di Atas Kertas.

    Stevi mengangguk."Baik."Anastasia kembali menatap surat dari Ansel yang masih berada di atas meja. Besok ia harus pergi, dan apa pun yang menunggunya di luar sana mungkin akan mengubah banyak hal, ia hanya bisa berharap rencana Stevi tidak berubah menjadi masalah baru sebelum ia sempat bertemu dengan kakaknya.Sementara di luar kamar, suara langkah pelayan masih terdengar samar di sepanjang koridor kastil. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik pintu itu, Anastasia sedang mempersiapkan sesuatu yang harus dilakukan secara diam-diam.I mulai merasa bahwa masalah yang dihadapinya tidak lagi hanya tentang Jasper dan Mary. Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di belakang semua ini.***Pagi itu, Anastasia baru saja keluar dari kamarnya ketika ia bertemu Jasper di lorong menuju ruang makan. Ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama berada di sana. Setelah malam yang melelahkan, ia hanya ingin sarapan dengan tenang lalu menjalani hari seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti keti

  • Sembunyi, Duke! Suamiku Datang   76- Sedikit Pelajaran.

    Anastasia akhirnya berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Lior. Ia hanya merapikan ujung gaunnya, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu meninggalkan meja makan. Malam itu, ia tidak peduli apakah Lior masih ingin berbicara dengannya atau tidak. Rasanya ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.Begitu keluar dari Paviliun Barat, Anastasia berjalan kembali menuju kastil dengan langkah pelan. Udara malam terasa dingin, tetapi kepalanya justru terasa semakin penuh. Perkataan Lior terus terngiang di benaknya, begitu pula kejadian beberapa jam sebelumnya. Jasper, perceraian, Mary, keluarganya, bahkan pertanyaan tentang Lior yang belum juga mampu ia jawab. Semuanya datang bersamaan hingga Anastasia tidak ingin memikirkan satu pun.Sesampainya di kamar, ia langsung masuk dan menutup pintu. Anastasia berdiri beberapa saat di tengah ruangan tanpa melakukan apa-apa. Tatapannya kosong, seolah tubuhnya sudah berada di sana, tetapi pikirannya masih tertinggal jauh di belaka

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status